My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Masimo kembali?



Seiring berjalannya waktu yang berputar begitu cepat dengan perubahan demi perubahan yang terjadi kian menunjukan hal yang baru.


Kota New York mulai menjadi salah satu kota yang terus di kunjungi oleh Axton yang sering kali terbang ke Spanyol secara mendadak karna urusan tertentu. Ia sekarang mulai sibuk mengurus Johar yang bertambah kritis dan mendapatkan laporan dari Vacto.


Tetapi. Di samping itu, Axton harus sigap membagi waktunya karna sekarang Kellen sudah hamil tua dan ia tak sempat untuk berleha-leha di Markas besar.


Seperti sekarang ini. Axton tengah ada Markas besar memantau apa yang tengah Hugo katakan padanya.


"Dia sudah mulai tak aman dan beberapa Team medis menemukan kejanggalan di tubuh Johar."


"Maksudmu?" tanya Axton melihat dari balik kaca tebal ini. Johar tengah terbaring di atas Bangkar besi dengan alat-alat medis yang menancap di tubuhnya.


"Luka di lehernya yang dulu sudah ku tangani tiba-tiba kembali membuka. Sepertinya ada sesuatu yang membuat lukanya semakin parah dan seluruh tubuhnya terus melepuh. Tuan!" jelas Hugo mencoba mengungkap hasil yang ia dapatkan.


Selama beberapa bulan ini Tubuh Johar terus mengalami penurunan padahal, informasi yang harus mereka dapatkan itu terkunci di mulut pria ini.


"Padahal beberapa hari setelah dia mencoba membunuh-dirinya sendiri. Dia sudah bisa membuka mata dan berbicara agak normal, tetapi. Selama beberapa bulan ini dia mulai seperti tak merespon kami."


"Kau tahu penyebabnya?" tanya Axton masih belum mengalihkan pandangan ke dalam kaca sana. Di Markas ini ruang medis yang tersedia tak cukup untuk menguji lebih lanjut.


"Dari yang ku temukan. Sepertinya ada sesuatu yang membuat obat-obatan yang kita berikan itu di tolak oleh tubuhnya. Ini seperti racun!"


"Bagaimana dengan Nicky?"


"Untuk cairan pelumpuh yang dulu mengenai tubuh Tuan Nicky ternyata mengandung efek yang cukup besar." jawab Hugo menghela nafas dalam.


Axton terdiam sejenak merasa Masimo itu benar-benar tahu setiap gerak-geriknya.


"Tuan Nicky belum mengeluh apa ada bagian tubuhnya yang mengalami kejanggalan. Tapi, yang saya temukan adalah, racun itu perlahan-lahan akan membuat sistem syaraf Tuan Nicky rusak."


Axton tak menjawab atau menyangga apapun. Ia mendengarkan dengan baik mencoba untuk mencari jalan keluar.


"Lanjutkan!"


"Saya siap!"


Axton melangkah keluar dari ruangan Medis ini di iringi tatapan Hugo yang merasa juga begitu heran. Sejak masa keemasan Tuan Fander ia juga tak mengerti sebenarnya siapa itu Masimo dan apa tujuan sebenarnya?!


"Aku harap kau bisa menyelesaikan masalah rumit ini. Tuan!" gumam Hugo memandangi Axton yang tampak sudah menghilang dari lantai ini.


Pria itu sudah ada di luar ruangan bawah tanah dimana Vacto terlihat berbicara dengan Castor yang serius.


"Kau yakin?"


"Yah. Aku melihat jika wanita itu masuk ke ruangan bawah." jawab Vacto serius dan terlihat sangat mencurigainya.


Melihat Axton yang datang kesini. Castor segera mendekat bersama Vacto yang kembali mengungkapkan kesaksiannya


"Tuan!"


"Hm."


"Beberapa bulan lalu saat kau masih di Markas dan Johar di rawat di ruang Medis bawah tanah. Aku melihat ada seorang wanita yang mengendap masuk ke Ruangan Johar." tutur Vacto menghela nafas dengan berat. Ia begitu sangat yakin dan percaya jika wanita itu yang membuat keadaan Johar semakin terpuruk.


"Wanita."


"Yah. aku rasa dia yang melakukannya." tegas Vacto tetapi respon Axton seperti biasa hanya diam dengan tatapan sulit untuk di artikan.


"Ax! Aku rasa Isyana.."


"Wanita itu lagi." gumam Axton terlihat menggeram. Tatapan tajam Axton mencekik Castor yang paham jika Axton marah karna selama ini ia selalu membela Isyana.


"Ax! Tapi, apa untungnya Isyana melakukan ini? Dia itu mencintaimu, Ax."


"Benar juga." gumam Vacto ikut menerka itu. Tetapi, sedetik kemudian ia ingat jika Isyana itu wanita yang begitu terobsesi dan sangat bengis dan nekat.


"Tapi, bisa saja dia melakukan ini karna marah akan hubungan Tuan dan Nona yang semakin membaik, bahkan. Dia pasti merasa cemburu karna Tuan akan menjadi seorang Ayah."


Axton memandang Vacto dengan intens membuat Vacto terdiam merasa ia sangat lancang ikut campur dengan atasannya.


"Maaf jika aku lancang. Tuan!"


"Tidak." jawab Axton dengan spontan menepuk bahu Vacto yang notabennya lebih tua darinya dan seumuran dengan Tuan Fander.


"Analisismu cukup baik dan begitu teliti."


"Aku rasa Vacto bisa membantuku."


"Ax! Kau.."


"Tak ada bantahan" tegas Axton mengangkat tangannya tak menerima bantahan Castor yang pasrah mengikuti Axton bersama Vacto.


"Apa rencanamu. Tuan?"


"Aku butuh rencana baru." gumam Axton terus melangkah melewati beberapa anggota yang berjaga. Ia melewati lorong besi dingin diantara susunan raungan balok Markas yang berbentuk Rubik.


"Bagaimana jika kita sembunyikan Johar ke tempat yang tak pernah di duga setiap orang?"


"Suatu tempat?!" gumam Axton berfikir. Castor merasa masih cemas akan apa yang akan Axton lakukan pada Isyana nantinya jadi ia tak fokus.


"Ax! Isyana itu.."


"Ambilkan Mantelku!" titah Axton memotong suara Castor yang akhirnya sadar ia terlalu menekan.


"Baiklah! Aku akan menyiapkannya."


"Hm."


Castor berbelok ke arah lantai kamar Axton mengambil Mantel dan sarung tangan. Sementara Axton, ia pergi ke arah depan dimana para anggota masih seperti Manekin hidup di luar menerjang hujan salju yang tak pernah berhenti.


Bahkan, nafas mereka sudah berasap tapi masih tahan di luar. Tentu itu karna latihan yang selalu Axton tempa setiap saat.


"Tuan! Di luar dingin, tunggulah Castor sebentar."


"Aku ingin tahu sesuatu."


"Katakan. Tuan!" pinta Vacto menunggu di belakang Axton yang sudah lama ingin menanyakan ini.


"Siapa yang selamat selain kau dan Hugo?" tanya Axton tanpa ada raut sedih atau murung. Tetapi, ia sangat pandai untuk mengendalikan perasaanya mengingat kejadian pembantaian itu.


Vacto diam memandang ke arah luar. Ia mengeratkan Mantelnya kala suasana dingin ini terlalu menusuk tetapi Axton tampak masih baik-baik saja.


"Aku tak tahu. Tuan! Saat aku sadar, aku sudah di rawat disini dan mereka menyeleksi anggota-anggota kita yang masih hidup untuk di ajak bekerja sama. Aku menurut karna ingin membalas dendam." .


"Johar tak curiga padamu?" tanya Axton memasukan kedua tangannya ke kedua sisi saku celana Jogger panjangnya. Wajah tegas nan tampan selalu menyimpan bencana.


"Awalnya dia tak percaya padaku. Tetapi, aku membuktikan jika aku patuh padanya dengan ikut dalam rencana mengubahmu yang kala itu masih dalam masa Trauma. Tuan!"


Axton mangut-mangut mengerti seraya tetap menatap kedepan dengan suara detakan sepatu Castor yang baru turun membawa Mantel dan Sarung tangan Axton.


"Ini! Kau bisa beku memakai jaket terus."


Castor memberikan benda-benda itu ke tangan Axton yang mengambilnya. Ia memakai benda itu sementara Vacto dan Castor menunggu apa tugas mereka selanjutnya.


Namun. Tiba-tiba ada suara di lorong yang tadi mereka lalui dan itu berasal dari ruang bawah tanah.


"Itu Alarm bahaya. Bukan?" gumam Vacto melihat para anggota berderu kesana. Ia pamit segera ikut dalam pengejaran membuat Castor terkejut.


Castor berjaga di samping Axton yang memandang satu anggota datang kesini membawa laporan dari ruang medis.


"Ada apa? kenapa Alarmnya berbunyi?"


"Tiba-tiba saja tubuh Johar mengeluarkan Gas beracun. Dia memintaku untuk membunyikan Alarm agar Tuan tak ke ruangan bawah untuk sementara."


"Apaa???" syok Castor merasa sangat tak percaya Sekejam itu sampai membuat tubuh saksi kunci mereka menjadi membusuk hidup-hidup?


Melihat keadaan yang semakin ambigu dan diluar kendali. Axton segera keluar untuk meminta seseorang menjelaskan ini.


"Ax!"


"Ke Kediaman sekarang!"


"Aku mengerti." jawab Castor masuk ke Mobil. Ia tak bisa menunggu diam saja ketika Musuh yang bebrapa bulan lalu menghilang sekarang mulai kembali menunjukan keberadaanya.


...


Vote and Like Sayang..