My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Merasa canggung!



Teriakan keras itu mengundang perhatian semua orang. Para penjaga berlarian mendekat dengan Johar yang menatap datar ke arah atap itu.


Tubuh Kellen menggelinding diatas Atap dan terjatuh ke bawah dengan ketinggian yang bisa di pastikan akan menyebabkan patah tulang atau lebih bisa di bayangkan pendarahan otak.


"Dia..."


Johar tak bisa berkata karna sekilat kemudian tubuh kekar Axton melesat mengejar ke arah Bangunan sana.


pergerakan Axton sangat cepat bak kilat segera menangkap tubuh Kellen yang hampir mencium dinginnya tanah di sini.


Mereka menahan nafas dengan sangat susah payah. Sebagian anggota yang sudah tahu bagaimana jika Axton bertindak-pun hanya bisa membeku di tempat.


"Shitt." umpat Castor kala melihat Johar memandang Axton dengan tatapan sulit diartikan. Ia cemas jika pria ini sadar jika Axton tak hilang ingatan sama sekali.


Sementara Kellen. Jantungnya sudah mau meloncat keluar, rasa takut dan gugup itu menjalar di permukaan kulitnya hingga memeluk erat tubuh kekar Axton yang tengah memejamkan matanya.


"A..Ax."


Gumam Kellen masih terkurung akan rasa itu. Axton lega karna ia masih bisa cepat menangkap Kellen atau terlambat sedetik saja sudah di pastikan ia akan menggila disini.


Untuk sesaat keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing. Kellen yang tengah di landa rasa takut dan Axton yang mencoba menenagkan dirinya.


"Wowww!!!"


Mata Axton langsung terbuka kala mendengar suara Johar tengah bertepuk tangan. Pelukannya ke tubuh Kellen menguat dengan wajah mengeras dan aura waspada yang besar.


Kellen-pun sama. Ia baru sadar jika disini ada Johar yang tengah memperhatikan mereka.


"Luar biasaaaa!!!! Aku sangat terkejuuut!!"


"D..Dia..."


Kellen beralih memandang wajah tampan Axton yang hanya menyimpan kebekuan. Seketika mereka merasa ini akan berakhir, semuanya akan berakhir detik ini juga.


"A..Ax."


"Diamlah." gumam Axton tahu jika Johar tengah melangkah kesini. Mata elang Axton bisa menangkap dan merasakan pergerakan Johar walau mereka tak saling berhadapan.


Sementara Castor. Ia sudah menggenggam peggangan pistolnya di balik jaket itu, ia memperhatikan Johar dan bersiap untuk menembak jika terjadi pergerakan berbahaya.


"Nicky! Kau harus siap."


"Cih! Aku mengerti."


Jawaban Nicky dari seberang sana melalui alat komunikasi di telinga mereka yang di tutupi oleh kerah Jaket masing-masing.


Castor mengisyaratkan para anggota mereka yang sudah berhasil diajak berkonspirasi untuk bersedia di tempat.


Kala Johar sudah berdiri di belakang Axton. Mereka segera ingin menembak tapi ..


"Dia begitu berharga bagimu. Hm?"


Pertanyaan Johar mengalihkan sebuah kemungkinan. Castor menahan agar tak ada yang bergerak sampai pada Axton memberikan isyarat menyerang.


"Kau sudah begitu sempurna. Tak perlu ada ujian apapun lagi."


"M..Maksudnya?"


Batin Kellen mendengar ucapan Johar yang tampak menatap puas Axton yang terdiam membisu dengan pikirannya sendiri.


Apa Johar sudah yakin untuk mengangkat Axton menjadi pimpinan Klan selanjutnya?


"Axton! Kau akan tetap bersamanya jika kau bisa memimpin Klan ini dengan sangat baik."


"Aku bisa melakukan segalanya." suara berat Axton menanggapi dengan tenang.


"Yah. Itu yang-ku mau, kau sangat cepat mengingat semua perkataanku."


"Aku bisa." gumam Axton lagi dengan mata menatap lurus kedepan. Ia seakan menurut pada Johar dan Kellen sungguh mematung melihat bagaimana Axton merespon pertanyaan Johar.


"Tapi ingat, kau yang menguasai dia. bukan SEBALIKNYA." tekan Johar menatap Kellen seakan mengatakan jangan bermain-main.


"Hm."


"Baiklah. jangan terlalu tunduk pada wanita, dia hanya memanfaatkan-mu." desis Johar lalu melangkah pergi dengan para ajudan pribadinya.


Castor lega kala Johar tak curiga sama sekali. Ia berlari mendekati Axton yang masih diam di tempat tak ada pergerakan.


"Axton! Kau harus lebih berhati-hati."


Axton hanya diam. Exspresi wajahnya sama sekali tak bisa di tebak apa ia akan melakukan sesuatu atau tidak.


"Aku akan mengurus Kellen! Kau bisa susul Johar."


"A..Aku.."


Axton melangkah pergi kembali ke arah pintu masuk Markas. Kalimat Kellen yang terpotong tertinggal di kerongkongannya.


Kellen takut jika Axton marah apalagi sampai mencekiknya seperti waktu itu.


Vacto yang tadi melihat dari arah pintu hanya bisa diam kala Axton melewatinya. Suhu dingin ini terasa semakin beku dan tak bisa di kondisikan.


"Apa dia akan membunuh lagi?"


"Aku tak mau jadi korban selanjutnya."


Gumam para anggota yang kemaren Axton bungkam. Mendengar itu Vacto merasa jika Axton memang tak bisa di perintah, seperti sekarang, dia melakukan apapun yang ia inginkan.


"Aku harus berbicara dengan Castor." gumam Vacto melangkah mendekati Castor yang tampak melihat para anak buah menyingkirkan tumpukan salju yang menghalangi jalan.


Angin disini juga terasa semakin kuat membuatnya ingin bertolak pergi.


"Castor!!"


Langkahnya terhenti kala Vacto sudah ada di depan. Castor mengisyaratkan agar jangan terlihat seperti mengobrol santai hingga Vacto memilih membantu menyingkirkan salju menjauh dari petugas di sampingnya.


"Cuaca sangat tak menentu." ia bicara seraya memunggungi Castor yang tampak masih memantau.


"Yah. Kita tak tahu besok apalagi yang akan menimpa tempat ini."


"Kau punya prediksi?" tanya Vacto dengan gayanya yang pandai untuk mengkondisikan suara dan kiasan bahasa.


"Menurutmu?"


"Katakan pada yang berkuasa! Jangan gegabah menurunkan badai, disini tak ada yang tahu apakah akan hancur atau tidak."


Castor terdiam sejenak. Pria paruh baya ini memang sukar untuk di tepis, ucapannya memang benar tapi akan sulit di sampaikan pada Axton.


"Aku mengerti."


"Aku harap begitu." jawab Vatco mulai menjauh dari Castor kala melihat ada Ajudan Johar yang tampak tengah memantau disini.


.........


Tak ada pembicaraan atau satu katapun yang keluar dari bibir keduanya. Seakan membisu dan menuli, dua mahluk manusia itu masih terkurung dalam perasaannya sendiri.


Kellen diam tak mau menanggapi kala Axton membaringkannya diatas ranjang tempat tidur.


Mata elang Axton melihat Nampan yang tadi ia siapkan masih utuh. Dan seketika ia benar-benar mendidih mencengkram selimut tebal ini kuat.


"K..kau..."


Mata Axton terpejam tampak menahan emosi. Ia tak mau Kellen menghindar atau merasa takut padanya.


Dirasa sudah cukup tenang. barulah Axton mengambil kotak obat di laci lalu duduk di samping Kellen yang diam antara gugup dan takut.


"Apa..apa dia akan mencekikku lagi?"


Batin Kellen mulai berkeringat dingin. Ia menunduk meremas kedua sisi Mantelnya dengan wajah pucat pasih.


Mata amber Kellen memperhatikan tangan Axton yang membuka Kotak obat. Pria itu mengambil gunting laku ingin memeggang lengan Kellen yang terperanjat.


"J..Jangan!!"


Axton terdiam. Ia melihat ada memar cengkeramannya kemaren dan ini semua yang membuatnya membenci dirinya sendiri.


"A..aku..aku tak apa. I..ini hanya l..luka.."


Kalimat Kellen terhenti kala Axton menyentuh memar itu dengan jemari besarnya yang dulu melukai ini.


Kenapa rasanya berbeda?


Kellen benar-benar merasa gugup. Ia tak pernah merasakan hal seperti ini jika bersama Axton yang dulu tak tahu apapun.


"A..aku.. Aku bisa." Kellen menjauhkan lengannya ia tak nyaman begini, ntahlah. Apa itu hanya sekedar rasa cemas karna sekarang mereka bertemu dalam pandangan Pria dan Wanita.


"Berikan."


"Ini.. Ini tak apa. Kau..kau keluar saja dan.."


"Hm."


Axton menarik tangan Kellen ke atas pahanya. Ia dengan pelan mengoleskan salep ke memar di lengan Kellen yang menahan nafas kala sentuhan Axton sangat lembut.


"Dia..dia tak seperti Axton."


Batin Kellen tegang. melihat wajah takut-takut Kellen memancing rasa bersalah Axton padanya.


"Apa sakit?"


"A.. Ha?"


"Tubuhmu!"


Kellen diam tak tahu menjawab apa. Ia hanya menggeleng walau Axton tahu itu hanya sebuah kepalsuan.


"T..tidak."


"Berbaring yang benar!" titah Axton kembali melegakan salep itu. Ia ingin menaikan baju kaos Kellen keatas tapi wanita itu segera menahan tangannya.


"Jangaaan!!"


Dahi Axton mengkerut menatap Kellen dengan pandangan yang jantan dan tak sepolos sebelumnya. Hal inilah yang membuat Kellen gugup dan canggung.


"M..maksudku, aku..aku bisa.. Y..yah aku bisa."


"Bisa?"


"Y..Yah.. Aku bisa, kau pergilah." gumam Kellen tampak menghindar dan lebih tak terbiasa dengan suasana ini. Kellen tak pandai duduk berdua dengan seorang Pria normal.


"Biarkan aku mengganti perbanmu!"


"I..ini baik-baik saja. Kau.."


Kellen tak bisa menolak Axton yang dengan cepat menaikan kaos Kellen keatas dada hingga perut ramping nan di balut perban ini terlihat di netra elang Axton.


Darah itu tampak keluar membuat Axton di landa kecemasan yang ia pendam.


"Ini hanya tertekan sedikit aku bisa mengatasinya."


"Kau bisa diam?" tekan Axton membungkam Kellen yang tercekat.


Mata Ambernya memperhatikan Axton dan semua gerak-gerik pria ini. Axton sangat serius menggunting belitan Perbannya yang sudah basah karna air dan tentu itu sakit.


"Asss, Ax Sakittt!" desis Kellen spontan menahan tangan Axton yang ingin melepas perban yang lengket karna darah itu.


"Tahanlah sebentar."


"T..tapi..."


Axton langsung menarik bagian yang lengket itu cepat membuat Kellen menjerit mencengkram lengan Axton yang segera menggenggam tangan lentik ini.


"Aaaaxxxsss sakiitt!"


"Pelan. Akan menyiksamu." ucap Axton datar tapi ia benar. Jika pelan-pelan akan terasa sangat sakit tapi jika di percepat walau memekik tapi hanya sesaat.


"T..tapi sakitt. Aax!" lirih Kellen tanpa sadar mengucapkan nama Axton dengan sangat manis.


Axton merindukan momen ini tapi ia tak bisa senang hanya sesaat. ia ingin Kellen nyaman dengannya dan tak mencari yang lain.


"Aku.. Shittt, sakiitt!!"


Kellen menarik leher Axton karna mengoleskan obat ke luka cakaran di perutnya.


Axton hanya diam kala tengkuknya di cengkram Kellen menahan rasa perih. Melihat wajah tersiksa Kellen tentu Axton tak tega.


"Kenapa di buka? ini perih aku.."


Axton meniup lembut luka cakaran itu membuat Kellen terdiam kaku. Tubuhnya seakan berubah menjadi patung dengan mata kosong melihat pria ini.


"Masih sakit?" tanya Axton dengan wajah yang sangat mempesona menggoyahkan keimanan Kellen yang berusaha jangan terlihat menjijikan.


"D...dia lebih tampan dari sebelumnya. Aku.. Aku tak bisa.."


Kellen segera memalingkan wajah merahnya. Ia tak percaya jika Axton akan seperti pria sejati di hadapannya.


........


Vote and Like Sayang..