
Pagi ini terlihat sangat berbeda. Tiba-tiba saja Nyonya Verena memerintahkan para penjaga untuk mengepung dan memperketat pengawalan di Bangunan kecil milik Kellen dengan perintah jangan sampai Axton keluar dari kamarnya.
Para pelayan juga di ancam tutup mulut tak boleh membahas tentang Axton atau hal yang berhubungan dengan Keluarga Miller.
"Apa mereka sudah datang?"
"Belum. Tuan masih menjemputnya di Bandara."
Percakapan para penjaga di depan pintu kamar membuat Kellen yang baru saja selesai memandikan Axton terdiam.
Ia mencoba tetap tenang mengeringkan rambut Axton dengan handuk kecil di tangannya.
"Kell!" gumam Axton dengan tatapan sayu. Wajah pria ini masih pucat dengan tubuh lemahnya.
"Istirahatlah. Jangan terlalu banyak bergerak." ucap Kellen lembut mengusap kepala Axton yang bersandar ke perutnya.
Tubuh Kellen hanya di lapisi handuk lembut keabuan yang kontras dengan kulit putih miliknya. Benda lembut itu hanya bisa menutupi dari dada sampai ke setengah paha putih Kellen yang terpampang nyata.
"Kell!"
"Masih pusing?"
Axton mengangguk membelitkan tangannya ke pinggang seksi Kellen. Aroma Vanilla ini terasa begitu kental dan hangat, tentu Kellen mengganti Shampo dan Sabun nya atas permintaan Axton yang tak nyaman dengan aroma lain.
"Sebentar. Aku akan memijat kepalamu."
"Hm?" mengadah menatap manik ember itu.
"Pijat. Aku bisa melakukannya."
Axton hanya diam membiarkan Kellen mengayun jemari lentik itu menekan pelipisnya lembut dengan tekanan yang pas.
Kellen bisa memijat seperti ini karna ia sering melakukannya pada Tuan Benet kala pria itu demam atau pusing.
"Enak?" tanya Kellen melihat Axton memejamkan matanya menikmati pijatan lembut ini.
"Hm."
"Kau mau tidur?"
Axton tak menjawab. Ia memilih menarik Kellen keatas tempat tidur ini dengan rasa lelah yang memang tak bisa ia lawan.
"Tidur?"
"Kell!"
Gumam Axton meletakan kepalanya ke paha Kellen yang bersandar di kepala ranjang. Kellen tak menepis tangan Axton yang membelit pinggangnya karna ia tahu Axton tengah mencoba melawan reaksi obat itu.
"Tidurlah. Kau akan baik-baik saja."
"Hm."
Gumaman itu mengakhiri percakapan keduanya. Kellen memilih diam kembali memijat kepala Axton yang sangat nyaman dengan ini.
Namun, sekuat apapun Axton mencoba menahan hasrat pemakai ini. Ia tetap akan di landa rasa sakit yang begitu besar di tubuhnya.
Kepala seakan mau pecah dengan degup jantung yang kuat.
"Ax!" gumam Kellen kala keringat itu kembali muncul di kening pria ini.
Axton mencengkram pinggang Kellen kuat menahan sakit dan Kellen pun sama, ia menahan tekanan Axton yang meremas pinggangnya tanpa ampun.
"A..Ax! P..pinggangku sakit."
Axton langsung melepasnya. Ia memaksakan diri duduk sempoyongan dengan wajah pucat pasih dan lunglai.
"B..Berikan..." gumam Axton bergetar karna nafasnya mulai tak beraturan.
"Apa?"
"I..itu.. K..Kell."
Axton memintanya dengan sangat berharap dan menginginkan itu. Kellen mengigit bibir bawahnya tak tahu lagi harus bagaimana.
"Be..Berikan.."
"Tidak. Kau tak boleh memakai itu lagi. Ax!"
"Berikan!!!! Berikan padaku!!!"
Bentak Axton memukul kepalanya yang seakan mau pecah. Ia hanya ingin sedikit saja, hanya sedikit itu sudah cukup.
"Ax! Sudah!"
"Beri..Berikan! Aku.. Kell!!"
Axton memaksa mencengkram bahu Kellen yang meringis sakit. Bekas jemari pria ini sudah mewarnai kulit Kellen yang terus menerima sikap tempramen dan kasar Axton dikala kambuh.
"Aa..Axx Sakitt!!!"
"Berikan!!!" teriak Axton mendorong Kellen menjauh darinya. Ia menatap ruangan ini dengan pandangan mencari dan hasrat pecandu yang besar.
"Berikan! Aku.. Kell!"
"Aax!" panggil Kellen kala Axton pergi ke Lemarinya.
Pria itu menarik pintu Lemari kasar dengan deru nafas memburu dan mengigil. Ia mengeluarkan semua barang-barang Kellen mencari benda yang dia inginkan.
"B..Berikan!! Berikan!!"
"Ax! Sudah, benda itu tak ada di sini."
Kellen mendekat dengan cepat mencengkal tangan Axton tapi pria ini di pengaruhi oleh reaksi pemakai obat itu.
"Tak ada disini. Berhenti merusak semuanya!!"
"B..Berikan! Berikan!" paksa Axton beralih mencengkram kedua pipi Kellen yang terkejut saat tindakan Axton semakin kasar dan tak terkendali.
"A..Ax!"
"B..Berikan.." nafas semakin memburu dengan tatapan yang penuh keinginan itu.
"A..Ax sssakitt!!"
"Berikaaaan!!!"
Brughh..
Kellen di dorong hingga membentur lemari. Bahunya memar dengan handuk yang tersingkap di pahanya memperlihatkan bekas luka yang terus Kellen terima saat Axton mengamuk.
Tentu Axton terdiam. Ia melangkah mundur menatap nanar Kellen lalu tanpa banyak bicara Axton masuk ke dalam kamar mandi menutup pintu itu kuat.
"Aax!" gumam Kellen mendekat ke pintu kamar mandi. Suara gemericik air mulai terdengar deras membuat Kellen cemas akan aksi nekat Axton nantinya.
"Ax! Buka pintunya."
"Apa yang terjadi?"
Kellen tersigap saat ada dua penjaga yang masuk. mereka segera memalingkan wajah saat melihat Kellen hanya memakai handuk dan pemandangan itu sangat luar biasa.
"K..kalian pergilah!"
"Kami mendengar ada suara keras dari sini. Apa dia kembali berulah?"
Tanya Mereka berbalik ke belakang. Kellen hanya diam melihat ada permen yang di genggam oleh salah satu pria yang bertopi itu.
Seketika timbul ide gila yang Kellen rasa ini agak ekstrem tapi ia tak mungkin terus diam saja disini.
"Berikan Permen di tanganmu!"
"Apa?"
"Jangan berbalik. Lempar saja ke belakang." ucap Kellen hingga segera menangkap permen yang di lempar ke arahnya.
Benda kecil ini mempunyai rasa Apple yang manis membuat Kellen agak gugup mencoba ini.
"Aku harap dia tak akan menyalah artikan maksudku."
"Kau mau apa?"
"Pergilah. Tak ada yang terjadi disini." perintah Kellen mengeratkan simpulan handuknya.
Saat pintu sudah di tutup dengan dua pria itu kembali keluar barulah Kellen kembali menghadap pintu kamar mandi.
"Aaxx!!! Buka pintunya!!"
Menggedor dengan keras tapi tak ada sahutan. Hanya suara aliran air yang begitu deras membuat Kellen bertambah khawatir.
"Aax!!"
Lagi-lagi tak ada jawaban. Kellen mulai berfikir untuk membobol pintu yang di pasang tak terlalu kuat kemaren.
"Aax! Buka pintunya!!!"
Kellen berusaha merusak gagang pintu dengan menariknya kuat. Ia tahu engsel di dalam masih longgar dan bisa di copot.
Setelah beberapa lama berusaha. Akhirnya Kellen berbinar kala pintu ini terbuka. Tanpa pikir panjang ia segera masuk kedalam dan..
Degg..
Mata Kellen melebar melihat Axton yang mengguyur tubuhnya dengan air yang terciprat sangat dingin, ini tidak normal untuk dialiri di tubuh manusia.
"Aax!!"
"P..Pergi!!"
Kellen menepis suara itu. Ia segera mematikan Shower di atas sana lalu berjongkok memeggangi pipi Axton yang memucat.
"Kau ingin mati disini. Ha??"
"P...Pergi!" gumam Axton masih berusaha agar tak mengikuti hasratnya. sedari kemaren ia terus menyakiti wanita ini sampai sekarang-pun Kellen masih menahan semua sikapnya.
"Ax! Kau jangan keras kepala dan.."
"Pergi!!! Aku..a..aku akan m..membunuhmu. Kell!!" geram Axton mendorong bahu Kellen agar menjauhinya. Otaknya sekarang hanya terfikir benda itu dan hasrat ingin mendapatkannya akan terus berkeliaran di benak Axton.
"Ax!"
"Pergiii!!!"
Bentak Axton sudah kelut. Kellen tak punya pilihan lain, ia membuka permen yang ia genggam lalu menatap Axton.
"Pe.. Pergii."
"Ax! Lihat aku."
"P..Pergi. K..kau.."
Grepp..
Tubuh Kellen langsung mengapit Axton ke dinding dengan cepat menangkup kedua pipi Axton lalu menyambar bibir pria itu cepat.
"Ehmm!!"
Axton terkejut saat lidah Kellen masuk ke dalam mulutnya mengaitkan permen manis menciptakan cita rasa luar biasa.
Untuk pertama kali Axton merasa kaku untuk bergerak atau sekedar bernafas. Ciuman Kellen menuntunnya agar menghisap permen itu tapi sensasi ini mengalihkan rasa yang tengah bergejolak di batin Axton.
"Ehmm!"
Kellen mengumpat kala ciuman pertamanya selalu di dapatkan Axton yang mulai mencandu dengan ini semua.
Sensasi aneh tapi nikmat itu Axton rasakan hingga tanpa sadar Axton terbuai menuruti permainan lidah Kellen yang membiarkan Axton mencengkram pinggangnya.
Keduanya asik dengan cumbuan bibir itu. Kellen berharap Axton bisa tenang karna bermain permen seperti ini.
.......
Mobil mewah keluaran terbaru Spanyol itu sudah terparkir di depan Kediaman Miller dimana seorang wanita dengan pakaian glamor musim seminya tampak cantik menatap bangunan mewah ini.
"Woww. Kau luar biasa, Martin!" decah Miss Babie kala menyukai bagaimana megah dan mendominasinya Kediaman Miller.
Martinez yang ada di samping Miss Barbie hanya diam dengan wajah terpaksa menunjukan senyuman.
"Yah. Ini kerja kerasku."
"Aku bangga memiliki kekasih sepertimu." ucap Miss Barbie menggandeng lengan Martinez yang melempar tatapan pada Groel untuk mengamankan situasi di belakang.
"Emm.. Apa Momymu ada?"
"Yeah. Dia yang bersemangat memanggilmu untuk berkunjung." jawab Martinez mengiring Miss Barbie masuk ke arah pintu besar Kediaman.
Castor yang ada di dalam menatap datar Miss Barbie yang ia tahu wanita ini adalah teman dan rekan kerjanya Kellen.
"Bagaimana responnya melihat Kellen ada disini?"
.....
Vote and Like Sayang..