My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Taruhan mengerikan!



Mereka terbelalak saat pukulan panas itu menghantam rahang Martinez yang langsung tersungkur ke atas rerumputan basah sana.


Amarah yang terkobar dari manik coklat tajam itu melahap habis semua kesadaran Axton yang sangat panas kala Martinez berani memukul Kellen bahkan menyentuh wanita itu.


"Tuaan!!"


Suara penjaga saling terhenyak melihat Axton meninju wajah dan perut Martinez membabi-buta. Tubuh jangkung Martinez tak bisa bergerak bahkan membalas pukulan yang dilayangkan Axton-pun ia tak bisa.


"Sialan!!!" geram Martinez berusaha membalas Axton tapi pria ini tak membiarkannya bernafas lega.


Satu tangan Axton yang di balut kain itu mencekik leher Martinez dan satunya lagi menghujami buku tinju ke wajah pria itu.


"Tuan!! Tuan sudah!!"


"Bantu lepaskan Tuan Martin!!"


Suara Groel mengkerahkan 5 penjaga di belakangnya untuk memukuli Axton tapi sebelum berjuang, tungkai mereka lebih dulu mengigil tak berani mendekat.


"APA YANG KALIAN TUNGGU. HA??"


"D..Dia bisa berbalik menyerang kami." jawab mereka gemetar tapi Groel segera mendorongnya ke arah Axton.


Mau tak mau mereka mulai mengayun tungkai menerjang punggung Axton yang sama sekali tak goyah. Pria itu bahkan beralih melempar pandangan membunuh yang mengerikan.


"T..Tuan.." gugup mereka takut.


"Kelll!!!" gema suara Axton bak singa ganas menarik kerah kemeja Martinez hingga koyak lalu beralih mendekati 5 penjaga yang di desak Groel untuk melawan.


Tanpa butuh waktu lama. Axton sangat mudah menghantam tubuh mereka dengan ayunan kaki jenjang itu membuat Martinez yang sudah babak-belur memucat.


"T..Tahan dia!! Rantai.. cari rantai!"


"Siall!" umpat Groel beralih mendekati Martinez yang masih tergorok diatas rumput sana.


Kellen hanya diam memandangi semua itu karna Martinez memang pantas di beri pelajaran seperti ini.


"Tuan!"


"Cepat rantai dia!! Apa lagi yang kalian tunggu. Ha???" bentakan keras Martinez yang panik melihat para penjaga itu bernasib sama dengannya.


"Berhenti!!!"


Titahan keras dari samping sana membuat perhatian teralihkan. Mata mereka melebar kala melihat siapa yang tengah berdiri dengan pandangan marah yang nyata.


Namun. Axton tak perduli atas kehadiran wanita itu, ia masih meluapkan amarahnya dengan membanting satu persatu tubuh para penjaga itu ke arah Keramik kolam.


"Berhenti!!! Apa kau tak mendengarku???"


"Kelll!!!" geram Axton terus melakukan penyiksaan ini.


Melihat kesadaran Axton yang mulai lenyap, Kellen langsung memberanikan diri keluar dari kolam dengan cepat menahan lengan kekar itu.


"Ax!" lirih Kellen dengan satu tangan menutupi bagian dadanya.


Tatapan mengigil Axton bertaut dengan netra ember Kellen yang menyalurkan kehangatan. Keduanya memiliki hubungan batin yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


"Tenanglah. Aku baik-baik saja."


"Kell!" masih dengan geraman murkanya. Tapi, Kellen segera menyela di hadapan Axton menutupi tubuhnya yang agak menerawang di balik kaos ini.


"Dingin."


"K..Kell!"


"Aku kedinginan." gumam Kellen mengalihkan pikiran Axton agar tak tenggelam dalam amarah itu lagi.


Tanpa banyak bicara. Axton membuka kaos yang ia pakai hingga tubuh kekar itu mampu membuat jiwa lelaki Martinez kalah telak. Shitt, tubuhnya memang jantan.


"G..Ganti.."


"Ayo ke kamar!"


"Tunggu!!" Nyonya Verena menghentikan langkah Kellen yang beralih menggenggam tangan Axton erat.


"Ada apa?"


"Kau berani membebaskannya." tekan Nyonya Verena menahan amarah yang besar. ia tak menyangka Kellen akan seberani ini mendekati Axton apalagi sampai melatih pria itu untuk berbicara.


"Aku rasa dia akan lebih baik jika di luar."


"Ini yang kau sebut lebih baik?!" hardik Nyonya Verena mendekat memperlihatkan bagaimana keangkuhannya kekeh menahan Axton untuk tetap di kurung.


"Mereka yang lebih dulu mengusiknya."


"Mom!" Martinez di bantu berdiri oleh Groel lalu mendekati Nyonya Verena yang menatap geram semua luka di wajah dan kemeja Martinez yang koyak.


"Axton mengamuk. Dia memukuli kami semua."


"Jelas-jelas kau yang mencoba melecehkan aku!!!" bantah Kellen keras bercampur amarah menatap jijik Martinez yang melempar seringaian culas.


"Kau pikir aku bernafsu dengan wanita sepertimu. Ha? Itu sangat menjijikan."


"Benarkah? Cih, pria penjilat." maki Kellen membuat kebencian Martinez semakin berkobar.


"Mom. Dia sengaja mengeluarkan Axton agar menghancurkan reputasi Miller, lihat. Para penjaga ikut di habisi olehnya."


Timpal Groel membantu Martinez untuk mempengaruhi Nyonya Verena yang masih menatap tak suka Kellen.


"Bawa dia kembali ke tahanan!"


"Tidaak!!" bantah Kellen menggenggam tangan Axton erat. Axton hanya diam lebih memilih memerah air di kaos Kellen lalu mengusap leher dan tangan wanita itu dengan baju di tangannya.


"Jika dia menghancurkan Kediaman ini. Kau tak akan bisa mencegahnya."


"Bisa! Aku bisa!"


Jawaban Kellen yang tegas dan pasti membuat mereka semua saling pandang. Wanita ini sangat berani mengambil resiko.


"Dia itu seorang pecandu."


"Aku tahu. Dan sangat paham." ujar Kellen melawan setiap kalimat yang Nyonya Verena lontarkan.


Jelas jika Kellen punya potensi untuk itu tapi senyum licik Nyonya Verena seketika membuat mereka merinding. Castor sangat tahu jika wanita ini begitu pandai bermain taktik.


"Apa yang akan kau pertaruhkan!"


"Diriku sendiri."


"Kellen!" sambar Castor terkejut tapi raut wajah Kellen serius. Ia tak ingin Axton masuk dalam ruangan gelap dan lembab itu lagi.


"Kau yakin?" tanya Nyonya Verena menarik sudut bibirnya.


"Yah. Aku yakin dia bisa sembuh, jika dia masih mengonsumsi itu aku siap menerima apapun konsekuensinya."


"Dia hanya bercanda. Nyonya!" sambar Castor tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini.


Tapi, Kellen sudah terlanjur dengan rencananya. Ia ingin menyelesaikan ini dengan cepat.


"Tidak. Aku sangat-sangat serius."


"Baik! Kau sangat berani." desis Nyonya Verena melempar pandangan penuh arti pada Martinez yang juga ikut tersenyum licik.


"Lihat bagaimana wanita ini mendulang kehancurannya sendiri."


"Yes. Mom!" jawab Martinez lalu mengikuti Momynya yang melangkah kembali menuju Kediaman.


Groel membantu Martinez berjalan sedangkan penjaga lain membantu para mangsa empuk Axton tadi untuk di obati.


Sekarang. Tinggallah mereka bertiga dengan Axton yang masih asik mengeringkan pakaian Kellen.


"Kau tahu apa yang baru saja kau ucapkan. Ha?" sarkas Castor tak menyangka.


"Tahu."


"Kellen! Ini bukan main-main, mereka punya banyak cara untuk mengalahkan-mu dan kau hanya punya keberuntungan untuk menghindarinya." peringat Castor tapi respon Kellen sama tegasnya. Wanita ini tak main-main dengan keputusannya.


"Aku yakin Axton bisa sembuh. Sekuat apapun mereka mencoba tapi aku akan tetap berusaha, aku ingin segera keluar dari semua ini."


"Jika sampai mereka menang. Kau akan habis, Kellen!"


Kellen hanya diam menghela nafas tenang. Ia beralih memandang wajah tampan Axton yang ia harap tak akan mengecewakannya.


"Jika itu terjadi, berarti aku bukan orang yang tepat untuk membantu Tuan-mu."


"Kell!" gumam Axton tertegun mendengar ucapan Kellen yang tak ia mengerti, tapi ia tak suka itu.


"Aku hanya berusaha, jika memang tak bisa. Akan ku serahkan pada dirinya sendiri."


Ucap Kellen mengusap kepala Axton lembut. Itu semua membuat Axton melemah beralih memeluk Kellen yang mengulum senyum.


"Kell!"


"Terimakasih. Tadi kau sangat berani." bisik Kellen spontan memberi kecupan ke rahang tegas itu membuat Axton terdiam.


Castor memilih pergi karna ia tak mau menyaksikan hubungan aneh itu secara langsung.


"K..Kell!"


"Hm? Kau menyukainya?" tanya Kellen tanpa mengurai pelukan.


Dengan cepat Axton mengangguk mendekap Kellen kuat dan sangat erat. Walau kesulitan bernafas, Kellen masih berusaha agar Axton bisa lebih lembut.


"Ayo kembali ke kamar. Kita bisa masuk angin."


"M..Masuk angin?"


"Yah. Nanti perut ini besar, lalu kau jadi balon." kelakar Kellen tapi dari senyumannya bisa menular pada Axton yang ikut menipiskan bibir walau tak tahu apa itu Balon.


"K..Kell!"


"Hm?"


Mengiring Axton ke arah bangunan kecil di dekat sini.


Axton masih memeluk Kellen karna ia ingin Kellen kembali menciumnya seperti tadi. Tapi, Kellen tak melakukannya lagi hingga membuat Axton terpaksa memendam perasaanya.


....


Vote and Like Sayang..