
Sudah hampir 3 minggu berlalu. Hari-hari yang di jalani mulai terasa berubah sesuai dengan keadaan yang mulai membaik. Tak ada lagi tanda-tanda penyerangan dari Masimo semenjak kejadian penculikan Nicky hari itu.
Setidaknya Axton bisa bernafas lega karna belum ada masalah yang datang seperti sebelumnya. Tapi, bukan berarti musuh menghilang, Axton terus mengantisipasi keadaan dengan selalu membuat anggotanya waspada akan ancaman.
Namun. Yang sekarang jadi buah pikiran Axton adalah Kellen yang sudah beberapa hari ini sulit di hubungi. Ia juga mendapat laporan jika Kellen jarang keluar rumah.
"Ax!"
Panggil Castor membuyarkan lamunan Axton yang tengah menatap para anggota tengah berlatih di tumpukan salju sana.
"Hm."
"Kelihatannya beberapa minggu ini kau mulai tak tenang."
Axton menghela nafas halus. Ia memperhatikan serbuk-serbuk putih yang masih berjatuhan disini.
Pikirannya menerawang jauh menembus galaksi yang tengah mengukir nama istrinya. Ia merasa cemas jika Kellen tak bisa berbicara lama dengannya.
"Apa ada masalah?"
"Dia sering mematikan sambungan sepihak."
Castor terdiam. Wajah Axton terlihat muram dan sangat kepikiran, akhir-akhir ini Axton jarang berbicara lama dengan Kellen dan Kellen juga sering tak mengangkat telfonnya.
"Mungkin dia sibuk."
"Laporan mereka mengatakan jika, Istriku jarang keluar dan itu tak biasanya." jawab Axton dengan suara yang datar dan rendah. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak karna tak biasanya Kellen mengabaikannya begini.
"Coba hubungi dia lagi. Sekarang sudah pagi, dia pasti tengah makan."
"Hm."
Axton menuruti saran Castor. Ia menghubungi nomer Kellen dan lagi-lagi hanya suara operator yang menjawab. Ini sangat membuatnya gelisah.
"Aku akan menghubungi anggota disana."
"Coba saja!"
Gumam Axton masih belum puas terus memulai panggilan. Sementara Castor sudah terhubung dengan salah satu anggota mereka.
"Hello, Tuan!"
"Apa yang terjadi hingga Kellen tak mengangkat panggilan?"
"Sedari kemaren Nona hanya mengurung diri di kamarnya. Dia bahkan menutup tirai kamar dan kami kesulitan masuk ke dalam. Tuan!"
Mendengar itu Castor dan Axton saling pandang. Tanpa menunggu lama, Axton melangkah masuk ke dalam Markas melewati beberapa anggota penjaga yang membungkuk tetapi mereka ngeri dengan raut kelam wajah tampan Axton.
"Kenapa Tuan akhir-akhir ini tampak tak baik-baik saja?"
"Ini pasti karna Nona tak ada. Biasanya Tuan tak semengerikan itu."
Bisik-bisik para anggota sampai ke telinga Isyana yang memang sudah sering kesini. Walau Axton selalu menunjukan ketidak-sukaannya tapi Isyana selalu membuat masalah.
Alhasil Castor meminta jika Isyana bisa dimanfaatkan untuk menjadi suruhan mereka.
"Cih. Hanya karna wanita itu kau mengajak perang semua Markas. Sebenarnya kau punya rencana apa. Ha?" gumam Isyana membuntuti Axton.
Castor melihat itu dari belakang sana hingga ia segera mencengkal lengan Isyana yang terkejut.
"Kauu.."
"Satu kali lagi, kau ku pastikan tak selamat." geram Castor menarik Isyana turun dari tangga ini.
Isyana menepis tangan Castor yang benar-benar tak mengerti akan pikiran wanita ini. Sudah jelas jika Axton begitu ingin membunuhnya tapi kalau bukan Castor yang meminta jangan, maka umur wanita ini sudah lama habis.
"Dia itu sudah di jodohkan denganku."
"Kau jangan gila!! Saat itu Tuan Fander hanya meminta kau menjaga Axton, bukan untuk menikahinya." tekan Castor tapi Isyana tampak kekeh.
"Aku tak lupa. Hari itu Tuan Fander mempercayakan Axton padaku, dia juga mengatakan jika hanya aku yang pantas mendampingi Axton."
"Tapi, sekarang berbeda. Axton sudah .."
Kalimat Castor terhenti kala melihat Axton sudah turun dengan pakaian rapi dan Mantel tebalnya. Ia tak membawa Koper atau hal lain tapi Stelan lengkap begini di pastikan Axton ingin bepergian.
"Axton!"
"Kau ikut denganku!"
Titah Axton terus melakukan panggilan pada Kellen. Ia tak bisa bernafas tenang disini sementara jantung hatinya tengah mengurung diri disana.
Melihat itu Isyana langsung menghadang langkah Axton yang seketika menunjukan sorot mata membunuhnya.
"Kau mau kemana?"
Para anggota yang melihat itu tampak memucat. Raut wajah Axton tengah tak bisa di ajak berdiskusi.
"Axton! Kau tak bisa sembarangan pergi, aku.."
"Aku akan ikut denganmu."
"Hm."
Axton melanjutkan langkahnya ke luar Markas dengan Vacto yang segera mendekat melihat Axton sudah rapi ke arah Mobil.
"Tuan! Kau mau kemana?"
Langkah Axton terhenti di samping Mobil. Ia masih memperhatikan layar ponselnya yang tak kunjung tersambung dengan wanita itu.
"Kau urus disini."
"Saya siap. Tuan!"
"Hm."
Axton masuk ke dalam mobil seraya terus memulai panggilan. Ingin rasanya ia melempar ponsel ini keluar tapi ia masih berharap Kellen mau mengangkatnya.
"Castooor!!" bentak Axton sudah tak sabaran dan emosi.
Vacto yang melihat itu hanya bisa diam tahu jika Axton tengah cemas.
"Castooor!!"
"Tuan. Tunggulah sebentar."
"Bagaimana bisa aku menunggu? Dia belum juga menjawab panggilanku!!"
Brakkk..
Axton melepaskan emosinya dengan menendang pintu Mobil sampai terpental keluar. Vacto yang melihat itu langsung mundur merasa ini tak aman lagi.
"Siaaal!!!" umpat Axton mengusap wajahnya frustasi. Ia keluar dari Mobil seraya menunggu jawaban dari panggilan ini.
"Axton!"
"Ayolah. Kau tak bisa begini." gumam Axton berbicara sendiri. Castor yang baru sampai terhenyak melihat pintu mobil sudah terpental sejauh ini. Ia melempar pandangan pada Vacto yang menggeleng tak mengerti.
"Axton! Aku akan ambil Mobil yang lain."
"Kau tak bisa lebih cepat bergerak. Ha??? Aku.."
"Emm.. Apa?"
Suara serak malas itu membuat Axton seakan kesurupan.
"Kau kemana saja? Aku memanggilmu ratusan kali. Ada apa sebenarnya?"
"Emm."
"Kellen!! Aku SERIUS." geram Axton sudah begitu khawatir. Ia merasa Kellen marah padanya dan ia tak tahu apa sebabnya.
"Aku mau tidur."
"Kenapa kau mengurung diri di kamar? Apa kau sakit?"
"Sedikit."
Axton mengambil nafas dalam melihat Castor yang sudah mengeluarkan Mobil dari Garasi bawah tanah. Ia tak memperdulikan Isyana yang menatap geram Axton dari kejahuan.
"Kenapa kau tak menerima panggilanku? apa yang terjadi?"
"Haiss.. Ax! Kau terlalu cerewet."
"Kellen aku.."
Tutt..
Panggilan langsung terputus sepihak membuat Axton mengumpat kasar seraya menendang tumpukan salju di bawah kakinya.
"Kau memang menguji kesabaranku." gumam Axton masuk ke dalam Mobil yang sudah di bukakan Castor.
Dalam suasana hati yang tak baik begini. Castor tak mau memancing amarah Axton yang bisa saja membakar Mobil ini.
"Cepatlaah!!"
"Kenapa dia melampiaskannya padaku? Salahkan saja istrimu."
Batin Castor begitu kesal. Ia kembali masuk ke Mobil yang segera melaju cepat keluar dari Gerbang yang tengah di jaga Anggota.
Sedangkan Isyana. Ia juga buru-buru pergi ingin membuntuti Axton. Ia begitu penasaran kenapa Axton bisa segila itu pada wanita yang sudah mengabaikannya beberapa minggu ini.
"Memangnya apa hebatnya dia?! Cih!"
.....
Vote and Like Sayang..