
Setelah melihat kondisi Axton yang cukup tenang untuk di bawa santai. Nicky akhirnya memilih berbincang hangat di ruangan ini.
Ia ingin membuat Axton sedikit demi perlahan mengingat dan pria ini bisa mencerna setiap perkataannya.
Tentu peran Kellen sangat di butuhkan. Apalagi sedari tadi bukannya mendengar cerita Nicky, Axton lebih asik memelintir rambut panjang Kellen yang di kuncir kuda di dalam Topi Sweaternya.
"Sebenarnya agak sulit menebak apa susu itu manis atau tidak."
"Maksudnya?" tanya Kellen tak mengerti tapi yang di maksud Nicky itu Axton yang tak mendengar kiasan kalimat itu.
"Emm.. Hay!"
"Ax!" panggil Kellen menyikut ringan perut Axton yang segera memandangnya. Tatapan manik elang ini terkesan datar tapi bertanya.
"Hm."
"Dia bertanya padamu!"
"D..Dia.."
Kellen mengangguk kembali membiarkan Nicky untuk mengambil alih suasana. Sedari tadi ia tahu Axton sulit diajak fokus dan berkomunikasi. Pikiran pria ini selalu tertuju pada Kellen yang syukurnya tak terganggu akan hal itu.
"Ax! Bicaralah dengannya."
"Hm." Menggeleng tak suka dengan Nicky atau Castor yang sedari tadi menatapnya penuh harap.
"Hey! Apa kau kenal aku?"
"S..Siapa?" tanya Axton tak mengerti.
Nicky tak langsung pada inti pengobatan. Ia ingin membuat Axton nyaman dengannya hingga mudah untuk mengajak kearah yang positif.
"Perkenalkan namaku Nicky. Bukankah aku tampan?"
"Tidak."
Lugas Axton dingin terkesan malas. Sudut bibir Nicky terangkat kala sifat asli pria ini sedari kecil memang tak pernah berubah.
"Ayolah aku sudah merasa sangat segar malam ini."
"Dia tak meresponmu." bisik Castor kala Axton kembali fokus memainkan jemari lentik Kellen di pahanya.
Melihat ini semua. Nicky rasa ia harus sedikit emosional dan hangat.
"Apa dia kekasihmu. Ax?"
"Ax!" panggil Kellen kala Axton tak menjawab pertanyaan Nicky yang hanya tersenyum saja.
"Hm."
"Cobalah untuk diam. Apa tak bisa?" bisik Kellen membuat Axton tertegun. Tak ada yang memastikan jika pria ini mengerti atau tidak akan pembicaraan mereka ini.
"B..Bisa.."
"Diam dan dengarkan. Jangan aneh-aneh."
Axton mengangguk dengan serius memandang Nicky. Ia menuruti semua perintah Kellen bahkan tak ada kedipan yang tercipta.
"Tak usah terlalu kaku. Aku hanya ingin berkenalan."
"Ayo. Kenalkan dirimu, Ax!" lembut Kellen mengusap kepala Axton menarik kekosongan Nicky. Agak aneh saat sosok seperti ini bisa di sentuh kepalanya oleh seseorang apalagi itu wanita.
"Namaku Nicky! Kau siapa?"
"Ayo!" gumam Kellen mengarahkan Axton menjabat tangan Nicky.
"A..Apa?"
"Namamu. Siapa?"
Axton terdiam sejenak lalu dengan ragu ia mengangkat tangan kekarnya menjabat tangan Nicky yang terasa merindukan semua ini.
"A..Axton!"
"Apa kau masih suka bermain Catur. Ha?"
Axton diam. Pandangannya mendalam ke arah wajah Nicky yang mencoba meraih semua emosional yang Axton rasakan.
Dahi pria itu mulai menyeringit kala mata Nicky seakan menggambarkan sesuatu. Ia tak asing dengan netra sipit ini tapi rasanya ia pernah melihatnya.
"Kita teman, walau di payah tapi cukup menyenangkan."
"P...Payah?" gumam Axton linglung. Nicky mengisyaratkan Kellen agar membantu Axton tetap tenang sementara ia melakukan terapi ini.
"Ax! Payah itu artinya lemah, tapi tergantung tujuan mengatakannya."
"P..Payah.." gumam Axton spontan melepas jabatan tangan itu. Ia beralih menggenggam tangan Kellen erat dengan pikiran membayang.
*Aku tak bisa melakukannya! Itu terlalu sulit."
"PAYAH*!"
Suara itu kembali berputar tapi hanya suara anak-anak. Axton kebingungan ntah dari mana itu muncul selalu menghantui benaknya.
"P..Payah.."
"Yah. Kau serang menyebutku Payah, tapi tenang saja. Aku tak sepayah itu sekarang." jawab Nicky memberi suasana santai.
Ia menyodorkan sebotol air putih ke hadapan Kellen agar memberikannya pada Axton yang butuh tenaga dan ketenagan.
"Ax! Minum dulu."
"P..Payah.."
"Minum, ini akan lebih baik."
Axton menurut menegguk botol yang Kellen sodorkan ke bibirnya. Beberapa tegukan membuat jakun Axton naik turun dengan jantan tak mengurangi pesonanya.
"Sudah?"
"Hm."
"Sekarang lebih baik?" tanya Kellen mengusap keringat di kening Axton. Tatapan Nicky beralih ke bagian jempol Kellen yang ada bekas luka dan di rahang wanita ini juga.
"Bisa kau buatkan dia air teh di belakang?"
"Ha?" Kellen menoleh.
"Pergilah ke dapur. Buatkan dia air hangat dan rebusan lemon."
Tanpa bantahan Kellen mengangguk. Tentu saat ia berdiri Axton ikut melakukan hal yang sama.
"Kell!" geram Axton menolak keras. Tentu ini sangat sulit untuk di atasi.
"Axton! aku ada sesuatu untukmu!"
"Itu, ada kejutan." bisik Kellen mengalihkan perhatian Axton yang masih kekeh dan enggan.
"T..Tidak."
"Ax.. Kau.."
"Tak usah di paksa. Duduklah lagi."
Kellen langsung menghela nafas kasar dan duduk kembali. Agak kesal memang tapi beginilah Axton.
"Jika kau memang tak mau jauh dari Kellen. Cobalah bersikap baik dengannya."
"B..Baik.."
"Yah." Nicky menyilang kaki santai. Ia menaikan kedua lengan kemejanya pertanda pembahasan ini mulai serius.
"Lihat memar di semua tubuhnya. Apa kau yang melakukan itu?"
Axton menatap bekas luka gigitan di jempol Kellen dengan nanar. Ia selalu merasa takut dan cemas kala luka itu akan tercipta kembali.
"Kau tak mau membuat itu lagi. Kan?"
"Kell!" gumam Axton mengelus bekas luka itu dengan jempolnya. Ia tak sadar melakukan ini dan tak pernah berniat.
"Kau ingin membuatnya lagi?"
"T..Tidak.. Kell.. Aku.."
Kellen menggeleng. Ia tak masalah dengan ini, semuanya memang menjadi konsekuensinya.
"Cobalah tenang, jika kau bisa mengontrol amarah, rasa ingin melukai itu akan bisa kau kendalikan. Jangan kecewakan dia."
Ucap Nicky perlahan memberi pengertian. Axton adalah salah satu Pasiennya yang spesial. Butuh kesabaran akan hal ini.
"Jika kau ingin melukainya. Coba teriak lebih keras dan tatap matanya.."
Seakan hanyut akan permainan Hipnoterapi Nicky. Axton benar-benar mendalami kalimat itu.
"Kell!"
"Jangan mengangkat tanganmu, Ax! Jangan buat luka itu lagi, cobalah tenang dan selalu memeluknya erat. Lakukan apapun yang bisa membuatnya bahagia, jangan biarkan dia di sakiti oleh orang lain dan.."
Kalimat Nicky terhenti kala Axton sepertinya sudah jatuh ke dalam ilusi itu. Terbukti dengan pandanganya yang lembut dan menurut.
"Dan jangan lagi membuatnya menangis. Kau ingat belaian tangannya bukan?"
Kellen hanya diam merengkuh bahu Axton yang bersandar padanya. Ntah beban apa yang bisa membuat Axton seperti ini.
"M..Momy!"
"Yah. Dia sama dengan itu, kau sangat menyayanginya bukan? Benar bukan?"
Castor mencoba tetap menahan rasa di dadanya. Ia harus bisa membawa Axton kembali agar semuanya akan kembali ke tangan yang tepat.
"Saat dia bersenandung untukmu. Kau menyukainya, bukan?"
"M..Mom."
Nicky menepuk bahu Castor. Ketiganya sama-sama memiliki ikatan yang kuat dan merasakan apa yang kini Axton pendam.
"Jaga dia disana. Kita hanya bisa menyembunyikan ini tak beberapa lama, apapun yang terjadi. Jangan tinggalkan dia." pesan Nicky pada Castor yang mengangguk.
"Aku akan berusaha. dia akan sembuh."
"Thank's Brother!"
Castor menerima tepukan hangat Nicky di bahunya. Ia beralih menatap Axton yang terlihat diam di pelukan Kellen.
"Pergilah pulang. Bawa dia istirahat, jangan dulu tunjukan obat terlarang itu padanya. Ini masih rawan."
"Aku mengerti. Terimakasih." ucap Kellen pelan seraya mengusap punggung tangan Axton agar lebih tenang.
"Ax! Kita pulang?"
"Hm."
"Ayo!"
Kellen membantu Axton berdiri seraya membawa botol air itu. Ia pamit pada Nicky yang mengangguk kembali berbicara dengan Castor.
"Kell!"
"Ayo keluar!"
Axton menurut melangkah ke arah pintu keluar dimana Kellen terus menyangga keringat di keningnya.
"Momy!"
"Kau punya Momy?"
Axton diam. Tiba-tiba saja ia ingin mengucapkan itu dan Kellen terasa dengan dengan kata yang ia sebutkan.
"Momy!"
"Apa aku mirip dengan Momymu?" tanya Kellen bercanda. Tapi, ntah kenapa Axton mengangguk asal.
"Momy!"
"Aneh. Kau ini menggemaskan." gumam Kellen mengecup rahang Axton yang melemah kepelukannya.
Senyum Kellen tercipta lega karna setidaknya Axton perlahan bisa beradaptasi dengan masa lalu.
"Tenanglah. Aku akan selalu menemanimu."
Bisik Kellen tapi ia tersigap saat ada yang keluar dari Lift.
"Itu..."
"Masuuuk!!" tekan Castor menarik Kellen kembali masuk bersama Axton. Itu adalah anak buah Nyonya Verena yang pasti sudah menyebar anggotanya.
.....
Vote and Like Sayang.