
Mobil yang semalam membawa wanita itu menuju Markas, nyatanya memasuki Jurang yang ada di pinggiran hutan. Untung saja para anggota sigap keluar lebih cepat tetapi sialnya, wanita itu menghilang detik dimana Mobil meledak di bawah sana.
Tentu Vacto sangat geram karna wanita itu benar-benar bisa beladiri. Tak bisa di remehkan begitu saja.
"Siaal!! Dia melarikan diri dan sampai sekarang belum di temukan."
"Wanita yang bagaimana?" tanya Nicky yang baru keluar dari Markas. Ia tak tahu menahu soal wanita yang Vacto sebutkan.
"Dia sudah membuat seisi Bandara hampir tahu siapa Tuan sebenarnya. Dia juga hampir saja melukai orang-orang disana."
"Kedengarannya begitu serius." gumam Nicky melihat anggota yang mengurus pencarian wanita itu.
Sepertinya ia harus pergi menemui Castor. Apalagi disini juga tak ada yang mau dikerjakan.
"Aku akan mencarinya. Kalian urus disini!"
"Aku mengerti." jawab Vacto memandangi Nicky yang masuk ke mobil. Mereka tengah ada di tepian hutan dan hal ini mempermudah Nicky untuk melaju ke jalan utama menuju Kota.
"Aku penasaran dengan wanita itu. bisa-bisanya dia lolos."
Gumam Nicky menambah laju kecepatan mobil. Ia memilih jalan pintas yang tak memakai jalur utama kota karna pasti akan sangat menyebalkan berurusan dengan pihak kepolisian Negara ini.
Lama Nicky berkendara hingga ia berpapasan dengan beberapa Mobil yang sepertinya bukan dari kota ini. Biasanya setiap Mobil yang melaju akan ada logo kepemilikan kota dan ini bukan dari Barcelona.
"Sangat mencurigakan." gumam Nicky mengamati mobil itu dari kaca spion. Jalan disini cukup sunyi apalagi melewati pantai yang tak berpenghuni.
Kala mata tajam Nicky terus bergantian mengamati kaca spion dan jalan. Seketika ia tersentak kala 1 mobil sudah melesat menghadang jalannya.
"Shiit!"
Nicky membanting stir segera menginjak rem melakukan sedikit atraksi memutar yang sangat diandalkan.
Debu dari aspal berterbangan ke mana tempat dan sekarang. Mobil Nicky di kepung dari berbagai arah.
"Siapa mereka?"
Batin Nicky heran. Tak biasanya pihak musuh mengepung terlalu terang-terangan apalagi dia tahu ia tengah sendirian.
Tak lama berselang. Para pria berbadan kekar dengan jas lengkap itu keluar dari Mobilnya masing-masing. Tampilan mereka persis seperti seorang ajudan dan ini mirip dengan yang di bawa Johar.
"Keluaaarr!!!"
Cup depan Mobilnya di tendang hingga lecet membuat Nicky diam mengamati 5 pria yang tengah mengerumuni mobilnya. Apa ini salah satu suruhan Masimo?
"Keluaaar!! Atau kau akan berakhir disini!!"
"Merepotkan." umpat Nicky memasang kacamata hitamnya lalu membuka pintu mobil.
"Ada apa? Aku tak berminat memberi sumbangan." desis Nicky bersandar ke badan mobil dengan gaya angkuh nan santainya.
Para pria berbadan kekar ini saling pandang dengan raut marah. Mereka semua berkepala botak seakan memang ingin seragam.
"Ikut kami!"
"Untuk?" tanya Nicky masih belum membuat pergerakan.
"Kau hanya sendirian. Jangan belagak hebat."
Seketika tawa kecil Nicky pecah bertepuk tangan dengan sangat girang. Semua itu menghadirkan rasa kesal sekaligus emosi yang tengah berkobar di dada mereka.
"Kalian menunggu aku sendiri. Hm? Suuttt .... Sangat menggelikan."
"Bantai dia!" desis salah satunya langsung menyerang Nicky yang dengan sigap menangkis pukulan tangan-tangan kekar ini.
Mereka berlima mengerumuni Nicky yang beberapa kali melepas tendangan kaki jenjangnya ke dada mereka yang juga terpental ke arah samping.
Pergerakan Nicky tengah di pantau seseorang di dalam Mobil sana. Seringainya muncul dengan sangat puas melihat bagaimana lincahnya pria ini bermain.
"Kau memang sangat terlatih." gumamnya segera mengisyaratkan para anggotanya yang sudah menunggu di beberapa tempat untuk segera menembakan sesuatu ke arah Nicky.
Jelas Nicky melihat itu dan sialnya sekarang posisinya tengah terdesak. Dimana-mana ada anggota musuh dan ia tak sempat untuk menghubungi yang lainnya.
"Aku rasa ini juga tak buruk."
Batin Nicky memencet sesuatu di balik kacamatanya lalu melepaskan tendangan keras ke tubuh seorang pria yang memanfaatkan itu untuk menancapkan sesuatu ke paha Nicky.
"Shittt!"
Umpat Nicky terhenti kala pahanya terasa keram. Sialnya sekarang pasukan musuh sudah mengepung dan ia tak bisa diam saja.
..........
Sementara di Bandara sana. Pesawat sudah mau berangkat dan beberapa penumpang sudah digiring ke arah tangga masuk.
"Semuanya sudah siap!" ucap Castor mendekat ke arah Kellen yang masih belum mau melepas pelukannya dari Axton.
Keduanya sedari tadi enggan untuk bergerak padahal Staf pesawat sudah menginterupsi agar segera naik ke dalam pesawat.
"Ax! Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa untuk mengunjungi aku."
"Aku mengerti." jawab Axton mengusap kepala Kellen yang tampak pucat tapi itu tak masalah karna ia hanya tidur beberapa menit saja tadi.
"Cepatlah!! Nanti kau ketinggalan pesawat." sangga Castor kesal.
"Aku pergi dulu."
Axton mengangguk mengantar Kellen sampai ke tangga dan lagi-lagi ia ikut menemani wanita itu naik menaiki tangga karna cemas jika nanti Kellen jatuh.
"Biarkan kami saja. Tuan!" beberapa Staf dari atas yang segan.
Axton tak menjawab sampai ia mengantar Kellen ke atas dimana beberapa Pramugari disini tampak menatap mereka kagum.
"Jika sudah sampai, hubungi aku."
"Hm." Kellen mengangguk masih memandang Axton yang juga menatap lama wajah cantik ini.
Ia tak sanggup berpisah sedetik saja tapi, ia tak mau mengekang Kellen apalagi di kondisi kota yang tak stabil.
"A..aku .."
"Jaga diri baik-baik." sela Axton melayangkan kecupan hangat ke bibir Kellen membuat mereka semua memerah. Tapi, Kellen tak lagi malu karna ini hal yang ia inginkan.
"Kau juga. Ax!"
"Hm. Masuklah!"
Kellen mengangguk masuk kedalam tapi genggaman mereka masih belum mau putus. Terlihat sangat berat dan tak ingin usai.
"Cepatlaaah!!!" tegur Castor dari bawah.
Akhirnya keduanya saling pandang lalu menghela nafas halus meringankan beban. Axton memberi pandangan yakin jika semuanya akan baik-baik saja.
"Tidurlah. aku akan terus memantau mu."
"Aku menunggumu." gumam Kellen melepas genggamannya.
Ia di giring ke kursi penumpang dan menghilang di pandangan Axton. Kala memastikan wanita itu baik-baik saja, barulah Axton turun kembali ke bawah.
Wajahnya terlihat membeku datar menatap pintu pesawat yang tertutup rapat dan akan siap terbang pagi ini.
"Tenang saja. Kalian akan segera bertemu." ucap Castor mengerti perasaan Axton.
Ia menepuk bahu Axton jantan dengan mata masih melihat Pesawat yang bergerak menuju landasan terbang.
Mata elang Axton tak beralih kemanapun sampai benda itu meluncur ke atas sana dengan angin yang berhembus kencang menerbangkan jaketnya.
Axton tak berpaling sedikitpun sampai benda itu benar-benar membawa separuh semangat dan jiwanya yang tengah kosong.
"Ayo!"
"Hm."
Axton masih belum bergeming. Ia beralih menatap tangannya dan nyatanya ia akan kesepian lagi.
"Ayolah. Ax! Ini baru beberapa menit, kau jangan tak bersemangat begini."
"Hm."
Akhirnya setelah beberapa lama berdiri disini. Barulah Axton melangkah ke mobil dimana para anggota tampak baru saja mendapat pesan.
Castor juga terkejut kala Jam tangannya menyala dan ini berarti ada pertanda dari Nicky.
"Aax!!"
"Ada apa?" tanya Axton melihat wajah tegang Castor yang menunjukan jam tangannya.
"Nicky dalam bahaya."
Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua masuk ke mobil dengan lokasi yang sudah di lacak dari sinyal yang di kirim oleh Nicky.
Untungnya program keamanan ini sudah di steel Nicky sedari awal agar mempermudah komunikasi darurat.
Vote and Like Sayang