
Kondisi tubuh yang lumayan Drop dengan kepala yang di hantam rasa pusing membuat Axton di paksa untuk istirahat oleh Castor yang tak ingin jika nanti hal itu akan memburuk.
Apalagi, Kellen tengah hamil besar dan jika wanita itu membutuhkan Axton maka dalam kondisi seperti ini akan sangat menyulitkan.
Namun, bukan Axton namanya jika menuruti itu, ia memikirkan kondisi Kellen yang ada di Negara orang sana sedangkan musuh sebenarnya belum juga bisa terungkap.
"Ax! Berbaringlah dulu!"
"Aku tak punya waktu." jawab Axton bangkit dari tempat tidur yang baru beberapa menit tadi ia duduki.
Tangan kekarnya menyambar Mantel di dekat sofa tapi, sekilat kemudian kepalanya kembali di hantam hebat.
"Shitt!!"
"Ax!" gumam Castor segera menahan bahu Axton yang terlihat belum bisa tenang.
"Istirahatlah. Kau juga harus perduli pada Nyawamu."
"Aku..aku memang lamban!! Dia melakukan apapun yang dia mau tanpa terkendala." umpat Axton merasa dirinya terlalu bodoh untuk mengerti ini.
Castor paham bagaimana perasaan Axton yang juga menyalahkan dirinya atas peristiwa ledakan hari itu dan rasa cemas Axton lebih besar. Jika sampai kejadian itu kembali terulang dimasa Kellen yang tengah hamil.
"Ax! Ini bukan masalahmu, Tuan Fander saja tak mengira ini akan terjadi. Bagaimana dengan kau yang belum tahu sepenuhnya?!"
Axton hanya membisu melenyapkan dirinya dalam pemikiran yang dalam. Ia tak pernah bernafas tenang sebelum semua ini selesai.
"Ayo! Istirahatlah."
"Aku harus ke suatu tempat."
"Kauu.."
Dreet..
Tiba-tiba saja ponsel Axton dari dalam saku Mantel itu menyala memecah perdebatan. Axton melihat benda pipih itu dan seketika ia menghela nafas.
"Itu Kellen?"
"Hm."
Axton memilih untuk duduk di atas sofa menyandarkan tubuhnya yang tengah lelah. Ia mengambil nafas dalam mencoba untuk tetap seperti biasa.
"Aku akan mengambil makanan untukmu."
"Aku tak lapar."
Jawaban Axton hanya di abaikan Castor yang segera keluar dari kamar. Saat Kellen tak ada, ia berhak untuk mengurus putra Fander yang keras kepala ini.
"Sayaaang!!!"
Suara yang begitu ceria dan terlihat senang. Mendengarnya saja membuat bongkahan batu yang tadi menimpa kepala Axton terasa lebih ringan.
"Kenapa kau tak menelfonku tadi pagi, siang dan sekarang sudah sore? Kau kenapa?"
"Tidak ada."
Jawab Axton mengalihkan panggilan suara ini ke vidio hingga ia bisa melihat wajah cantik seorang wanita dengan pipi agak berisi dan senyuman yang menggemaskan.
Hal inilah yang membuatnya terus merasa damai dan gelisah beriringan.
"Bagaimana harimu?"
"Tidak baik. Ax!"
"Kenapa?" tanya Axton mendengarkan dengan tatapan mata tak lepas bahkan sekedar berkedip saja terasa enggan merugi.
"Disini sunyi, Daddy pergi ke kebun anggur. Apalagi kau juga tak ada, aku kesepian."
Sudut bibir Axton terangkat pelit melihat Kellen tampak cemberut tetapi masih mengunyah potongan Apple dengan lancar. Kebiasaan si suka makan.
Namun. Axton sadar jika Tuan Benet pergi maka Martinez sendirian di rumah.
"Kau sendirian?"
"Iya. Kenapa?"
"Pria sialan itu dimana?"
Kellen terdiam melihat kanan-kiri. Posisinya yang tengah bersantai di ruang tamu bisa melihat ke semua penjuru.
"Ntahlah Ax! tapi, beberapa bulan ini Miss Barbie tak ada kabar dan Martinez-pun terlihat bosan. Dia hanya terus menggangguku."
"Kau jangan dekat-dekat dengannya. PAHAM?" tekan Axton menunjukan sikap posesifnya membuat Kellen mengulum senyum.
Kamera bergerak turun hingga perut besar dibaluti Daster Hamil itu bisa Axton lihat jelas.
"Say hello to Daddy!" ucap Kellen menirukan suara anak kecil.
Axton terdiam melihat itu dan rasanya ia ingin segera pulang lalu mengurung diri di kamar memanjakan Bumil cantik ini.
"Apa dia merepotkanmu?"
"Sedikit! Kau tahu sendiri kalau dia sudah menendang aku bisa terbangun tengah malam. Nakal bukan? Aku rasa menurun darimu."
"Aku tak seperti itu." bantah Axton mengusap layar ponselnya. rasa rindu yang tadi ia tahan semakin membeludak sekarang.
"Benarkah? Tapi kenakalanmu itu selalu membuatku berjaga setiap malam."
Mendengar itu keduanya terkekeh geli dengan candaan receh yang Kellen buat. wajah Axton yang tadi tak bisa tenang sekarang sudah lebih baik dan positif.
"Ax!"
"Hm?"
"Kapan kau pulang? Sayang! Ini sudah 1 minggu dan dokter bilang aku akan melahirkan 2 minggu kedepan."
Mendengar itu Axton tak langsung menjawab. Yang jelas ia harus segera mengambil keputusan untuk masalah ini.
"Ax! Kau mendengarku?"
"Aku mengerti. Tapi, untuk hari ini aku tak bisa. Mungkin beberapa hari kedepan."
Kellen tampak murung dengan wajah sendu dan mata amber sayu. Tapi, ia tetap mengangguk memberi senyuman biasa nan hangat.
"Baiklah! Aku menunggumu."
"Maaf."
"Tak apa, Sayang! Yang jelas kau harus sehat-sehat disana, jangan lupa makan, tidur yang cukup. Ya?"
"Hm. Yah."
Gumam Axton memandangi Kellen yang tampak terganggu dengan suara di dekatnya.
"Ada apa? Sayang!"
"Ini, Ponsel Daddy ketinggalan. Ax! Ada yang menelfon tetapi Daddy keluar."
Jawab Kellen memperlihatkan layar ponsel Tuan Benet yang masih ada foto kecil Kellen yang begitu cantik.
Kellen mengangkat sambungan itu seraya menyenderkan ponselnya di dekat Toples makanan diatas meja menghadap kearahnya.
Axton hanya diam melihat istrinya tengah berbicara dengan seseorang yang sepertinya sudah tua.
"Bukankah tadi Daddy ke tempat Uncle?"
Tanya Kellen dengan raut wajah yang serius. Terdengar suara penjelasan di seberang sampai akhirnya Kellen memutus sambungan.
"Ada apa? Sayang!"
"Ax! Daddy tak ada di Perkebunan. Uncel Peint bilang barusan."
"Jangan cemas dulu. Mungkin dia ada urusan lain." ucap Axton menenagkan Kellen yang mulai gelisah.
"Tak biasanya Daddy seperti itu."
"Tenanglah. Aku akan menyuruh Anggota mencarinya. Jangan cemas. Hm?" bujuk Axton tak ingin Kellen keram lagi. Wanita ini sering mengeluh sakit di perutnya karna tak mau diam.
"Ax! Kenapa wajahmu pucat?"
Tanya Kellen melihat wajah Axton seperti dulu saat sedang pusing. Ia hafal ini dan pasti Axton tadi sakit kepala dan berkeringat dingin.
"Tak apa. Aku.."
"Ax! Kau jangan mengelak padaku." bantah Kellen memotong ucapan Axton yang pasrah. Ia tak akan bisa berkilah dari wanita ini.
"Hanya pusing, aku merasa lebih baik sekarang."
"Kau sudah makan?"
"Su.."
"Beluumm!! Kau ini memang benar-benar. Ha?? Makan!! Makan sekarang!!"
Omelan Kellen membuat Axton mengusap telinganya. Wanita ini semakin cerewet dan menyebalkan tetapi ia sangat sayang.
"Iya. Sayang!"
"Awaas! Aku akan menanyai semua anggotamu sampai kau berbohong."
Axton mengangguk lalu ingin berdiri tetapi tiba-tiba ia melihat jika Tuan Benet masuk ke rumah dengan sendirinya dan begitu aneh.
"Dad!! Dady kemana saja? Tapi Uncle Peint menelfon."
Tuan Benet tak menjawab. Ia melempar pandangan aneh ke layar ponsel Kellen yang kebingungan.
Ia rasa Tuan Benet mulai mencair pada Axton tapi kenapa pandangan pria itu kali ini mulai agak aneh.
"Ax! Nanti-ku telfon lagi, Sayang!"
"Hm. jaga diri baik-baik."
Kellen mengangguk mematikan sambungan. Axton menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa dengan pikiran yang sudah pergi ke awang-awang.
........
Di dalam ruangan yang tampak redup dengan cahaya lampu minim itu memperlihatkan tubuh kekar seseorang yang tengah melihat penampakan dirinya di depan cermin yang sangat jujur.
Lihat bagaimana luka itu menggaris di wajahnya dan ini adalah kenangan terindah di masa lalu.
"Malam ini. Aku akan mengakhirinya." desis pria itu menarik sudut bibir licik. Ia sudah membuat sebuah permainan besar dan ia menjamin tak akan ada yang menduga jika ini akan terjadi.
"Fander! Putramu memang begitu kuat dan gigih, tetapi sayang. Dia masih berperang melindungi wanita yang begitu melemahkan KALIAN."
.....
Vote and Like Sayang..