My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Mabuk-mabukan!



Kediaman Miller..


Bangunan megah dengan desain Roma yang moderen itu terlihat semakin bersinar dari sebelumnya. Aura misteri dan kekelaman yang semula identik di tampakan sekarang terlihat sudah menghilang bahkan, aura ceria dan berwarna itu semakin terlihat jelas.


Hari ini semuanya berkumpul. Tuan Benet yang tadinya sudah pulang ke Negara asalnya sudah kembali datang menjenguk Putri dan cucu kesayangannya.


Ia duduk diatas sofa sembari memangku Baby San yang tengah mengawasi Mommynya di dekat Meja makan.


Tatapan datar dan sangat dingin menghunus Axton bagai musuh bebuyutannya. Bukan tanpa alasan Baby San tak mengalihkan pandangan membunuh itu, pasalnya Axton tak berhenti memeluk Kellen dari belakang sampai wanita itu harus pasrah menata makanan dipelukan erat ini.


Tuan Fander yang ada di hadapan Tuan Benet paham akan tatapan mematikan Baby San. Ia juga tak ingin membuat ayah dan anak ini semakin berperang dingin.


"Bagaimana kabarmu? Tuan!"


"Baik. Seringlah berkunjung kesini." jawab Tuan Fander dengan gayanya yang tetap datar tetapi hangat.


Tuan Benet juga pandai membawa suasana hingga lebih cepat berbaur dengan Keluarga Axton.


"Ax!"


"Hm?" gumam Axton bertopang dagu ke bahu Kellen yang hari ini memakai Daster santainya tetapi tampak cantik dan selalu sempurna di mata Axton.


"Duduk! Kau tak malu di pandangi semua orang. Ha?"


"Biarkan saja." acuh Axton masa bodoh semakin mengeratkan belitannya ke perut Kellen. Ia mengabaikan tatapan malu para pelayan khususnya Yagatri yang membantu Kellen menata makanan.


"Yagatri!"


"Iya. Nona?"


"Tolong, Panggilkan Mommy turun untuk makan." pinta Kellen yang diangguki Yagatri. Ia segera melangkah ke Lift di dekat tangga tetapi pintu Lift sudah dulu terbuka memperlihatkan Nyonya Verena yang tampak cemas.


"Nyonya!"


"Apa kau melihat Martinez?" tanya Nyonya Verena tetapi Yagatri menggeleng tak tahu.


"Saya tak melihat Tuan sedari semalam."


"Ya Tuhan, kemana dia?" cemas Nyonya Verena menatap disekelilingnya tempat ini. Tak ada penampakan batang hidung pria itu sejak menelfon semalam.


Melihat wajah gusar Nyonya Verena didekat Lift. Kellen jadi heran apa yang terjadi sebenarnya?


"Mom!"


"Kell! Apa kau melihat Martin? Sedari semalam dia tak pulang. Ntah kemana otak pendek itu."


Umpat Nyonya Verena mendekat ke arah meja makan. ia menggeleng saja melihat Axton yang tampak enggan melepas Kellen.


"Ax! Duduk!"


"Aku mau begini. Sayang!"


"Duduk!" tekan Kellen mencubit lengan kekar Axton yang segera menurut duduk di kursinya. Kellen menghidangkan makanan seraya memanggil semua orang untuk makan.


"Dad! Ayo makan dulu, nanti lanjutkan lagi!"


"Kau duluan saja. Kell!" jawab Tuan Benet masih ingin bermain dengan Baby San yang tampak ingin memeluk Kellen.


"No! Ayo Daddy kesini, Daddy Fander juga. Nanti lanjutkan bincang-bincang kalian."


"Beginilah jika di rumahku. Mengomel menggantikan Mommynya." ujar Tuan Benet berdiri menjawab suara Kellen tengah memanggil semuanya makan.


Tuan Fander hanya diam menurut saja. Tatapan matanya begitu teduh pada Kellen yang sangat mirip dengan sifat istrinya.


Melihat tatapan aneh Tuan Fander. Axton langsung melempar garpu di tangannya ke arah wajah Tuan Fander yang sigap menangkapnya.


Hal itu membuat mereka syok terutama Kellen yang geram.


"Ax! Jangan mulai lagi. Daddy mau makan."


"Hm."


Gumam Axton melayangkan tatapan membunuhnya pada Tuan Fander. Ia tahu pria ini tengah mengagumi istrinya dan itu sangat menjengkelkan.


"Daddy! Ayo duduk, ini makanan kalian!"


"Kau juga makan." ucap Tuan Fander duduk tepat di samping Nyonya Verena yang ada di tengah-tengah pria berumur ini. Ia mengulum senyum melihat exspresi dingin Axton yang berlebihan.


"Dia istriku. Tentu dia akan makan."


"Aku percaya." jawab Tuan Fander memancing amarah Axton.


"Maksudmu apa mengatakan itu. ha??"


"MAKAN!!!" Tekan Kellen membuat Axton pasrah. Ia kembali fokus pada sarapan paginya tak membiarkan Baby San punya kesempatan untuk merengek.


"Aku mau di suapi!"


"Ax! Makan sendiri. Baby.."


Kalimat Kellen terhenti sejenak kala melihat tatapan tajam Axton padanya. Benar-benar membuatnya tak bisa berkutik.


"Baiklah. Mau apa?"


"Terserah. Yang penting suapi aku." pinta Axton menyeringai pada Baby San untuk kesekian kalinya membuat suasana meja makan menjadi beku.


Hal itu sudah biasa bagi mereka bahkan tak asing lagi di perlihatkan.


"Ax! Bagaimana perusahaan?"


"Biasa saja." jawab Axton pada Nyonya Verena yang mengangguk. Ia rasa perkembangan Perusahaan semenjak di pimpin Axton sangatlah pesat dan mendominasi.


"Kalau tidak salah, Perusahaan akan selalu mengadakan Perayaan setiap Tahunnya. Apa kau juga ingin mengadakan acara itu nanti?"


"Hm. Masih ku pikirkan." ucap Axton seraya mengunyah makananya. Tuan Fander menghela nafas dalam menginginkan Axton melakukan sesuatu.


"Memangnya kenapa?" tanya Axton pada Tuan Fander yang terlihat berfikir melempar pandangan ke arah Baby San dan Kellen secara bergantian.


"Kau tak ingin memperkenalkan anak istrimu?"


"Apa harus?" gumam Axton melirik Kellen yang hanya diam. Ia tak terlalu mementingkan soal itu, hidup bahagia bersama Axton dan putranya saja sudah lebih dari cukup.


"Kau mau menjadikan istrimu bayangan?"


Spontan Axton diam berfikir panjang. rasanya sangat malas untuk mencuat ke publik tetapi Kellen juga butuh status jelas.


"Aku tak apa, begini juga baik."


"Dengan menyembunyikan identitas Istrimu kau membuka peluang bagi pria lain untuk masuk ke kehidupan kalian." ujar Tuan Fander tegas. Ia tak mau Axton bernasib buruk sepertinya yang sudah tak memiliki sosok Dezee dalam hidupnya.


Membayangkannya saja sudah membuat Axton naik pitam. Ia akan melakukan apapun agar semua orang tahu Kellen adalah istrinya. Istri seorang AXTON DEZEE MILLER.


"Baiklah. 3 hari lagi, kau tunggu saja. Hm?"


"Apa tak masalah?" tanya Kellen enggan membuat Axton susah. Ia lebih suka hidup damai dan tak ingin bermegah-megah seperti itu.


"Tidak. Akan-ku lakukan apapun untukmu."


"Ax!" gumam Kellen meleleh dengan jawaban manis ini.


Melihat itu Nyonya Verena hanya tersenyum hangat tetapi ia sangat gelisah, bahkan enggan untuk menyentuh makananya.


"Mom!"


"Kell! Apa kau melihat Martinez?" tanya Nyonya Verena memastikan kekhawatirannya. Tapi, setahu Kellen semalam Martinez masih ada di sekitar Taman.


"Tidak Mom. Tapi, Mommy tak perlu cemas. Dia pasti akan baik-baik saja."


"Aku harap begitu." gumam Nyonya Verena lesu menegguk segelas air putih di dekatnya. Tak lama berselang, tiba-tiba suara ramai di depan sana mengundang perhatian.


"Berat! Dia sangat menyusahkan."


"Angkat saja."


Suara Nicky dan Castor yang masuk ke Kediaman seraya membopong tubuh seorang pria yang mereka temukan di Club bermabuk-mabukan.


Sampai pagi ini dia masih minum sampai tak sadarkan diri begini. Hoodie yang ia pakai tampak berantakan dengan rambut kusut berbau minuman.


"K..Kenapa.. Ehmm.."


"Cih. baunya sudah pekat dengan Alkohol." umpat Nicky menahan nafas seraya membopong Martinez ke arah sofa di sudut ruangan.


"Martiiiin!!!"


Suara Nyonya Verena yang terkejut melihat Martinez di atas sofa. Ia berlari mendekat membuat Castor dan Nicky menyingkir.


"Ya Tuhan, ada apa denganmu?"


"Dia mabuk-mabukan di Club. Aku menemukannya pagi ini." jawab Nicky beralih duduk di sofa tak jauh dari tempat Martinez.


Sedangkan Castor terlihat mencari Axton untuk memberikan data yang dia pinta semalam.


"Hey! Bangun, bangun sialan!!"


"Dia masih dalam pengaruh alkohol, percikan air ke wajahnya dan biarkan dia istirahat. Nyonya!" saran Nicky membuat Nyonya Verena langsung memerintahkan pelayan mengambil air.


Kellen yang tadi ada di ruang makan segera pergi ke lantai dasar melihat apa yang terjadi. Tentu Axton juga ikut dengannya.


"Ada apa?"


"Dia mabuk." gumam Axton datar kala Castor mendekat ke arahnya.


"Yah, dia mabuk semalaman di Club. Itu hal biasa untuk dia, bukan?"


"Tapi, beberapa bulan ini Martinez tak pernah ke Club lagi. Dia selalu bermain dengan Baby San." bantah Kellen cemas. Tampang Martinez begitu kusut dan terlihat sangat putus asa. Baru kali ini ia melihat Martinez tak mengurus dirinya sendiri.


"Dia.. Dia semalam menelfonku. Anak bodoh ini pasti sudah bertemu dengan Barbie." gumam Nyonya Verena dengan mata berkaca-kaca menjipratkan air didalam gelas yang ia genggam ke wajah kusut Martinez.


"Bodoh. Kau ini memang tak berguna."


"Mom!" gumam Kellen mendekat ke arah Nyonya Verena yang terlihat sangat terpukul. Ia paham bagaimana keadaan Martinez saat ini.


"Apa tak ada wanita lain diatas dunia ini. Ha? Aku bisa mencarikannya untukmu."


"K..Kenapa.. K..kenapa.. Ehmm.." racau Martinez melantur. Matanya tampak sembab membuktikan jika ia menangis menahan kekecewaan dan keputusasaan untuknya.


Melihat itu Axton hanya diam setia dengan wajah datarnya. Ia memang tak dekat dengan Martinez tetapi, Kellen sudah membuat persepsinya sedikit berubah.


"Kau mendapatkannya?"


"Yah. Tapi, sudah terlambat! Mereka sudah mencetak undangan. Ntahlah, ini rumit." jawab Castor menaikan bahunya melihat Martinez dari sini.


Axton menghela nafas dalam. Haruskah ia turun tangan? Tapi, tidak. Biarkan Martinez merasakan buah dari kesalahannya selama ini.


"Ax!"


"Hm."


"Kau mau membantunya?"


"Lihat sampai mana mereka bertindak." jawab Axton tak mau ikut campur dulu. Ia ingin tahu apa Motif Keluarga Miss Barbie melakukan ini. Jika sampai menyalahi prinsipnya, maka Axton tak akan segan memberi balasan.


....


Vote and Like Sayang..


Kita menuju Taman ya.. Paling beberapa Bab lagi. Sabar yak🄰