My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kenyataan pahit



Karena permintaan dari Nyonya Verena yang ingin mencari Miss Barbie. Akhirnya Kellen meminta bantuan pada Axton agar mencari informasi tentang keberadaan wanita itu.


Atas permintaan Kellen tentu saja tak ada kalimat bantahan dari Axton. Pria itu menjanjikannya dalam waktu yang cepat dan hari ini anggota Pengintai datang memberikan laporan akan penyelidikan mereka.


"Nona!"


Kellen yang tengah duduk di atas sofa ruang keluarga bersama Tuan Fander-pun seketika menoleh. Baby San yang tampak merangkak ke dekat paha Kakeknya itu juga ikut memandang dengan datar.


"Dad! Aku kesana dulu."


"Hm." Tuan Fander menganggukinya seraya membawa Baby San keatas pangkuannya. Tatapan Iblis kecil ini tak lekas dari Kellen bagai CCTV berjalan.


"Nona! Saya membawa pesan dari Tuan."


"Dia belum mau pulang?" tanya Kellen melihat ke arah pintu utama. Sayangnya Axton masih belum datang.


"Tuan bilang dia akan pulang secepatnya. Anda tak perlu khawatir."


"Baiklah. bagaimana tugasmu?"


Pria berpakaian serba hitam itu menghela nafas seraya memberikan Amplop ke hadapan Kellen.


"Dia ada di Kediamannya. Beberapa bulan ini dia tak lagi aktif dalam Industri permodelan dan bahkan, ada data kunjungan ke tempat-tempat tertentu yang ada di luar Negara asalnya."


"Apa dia baik- baik saja?" tanya Kellen seraya membuka Amplop itu. Seketika matanya di pertemukan dengan foto-foto Miss Barbie dengan seorang pria di sebuah Taman dan di dalam Restoran yang mewah.


Dahi Kellen menyeringit merasa heran dan tak mengerti. Tahu akan hal itu, anggota Axton segera menunduk.


"Nona! Itu adalah Tuan Muda Keluarga Hancock. menurut informasi yang kami dapatkan, Miss Barbie telah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan. Malam ini adalah Festival besar kemungkinan dia akan datang."


"APAAA???" pekik Kellen membuat pandangan semua orang tertuju padanya.


Ia benar-benar terkejut dan tak menyangka jika hal ini akan terjadi bahkan, disaat Martinez sudah menerimanya.


Mendengar suara Kellen dari arah tangga atas. Nyonya Verena segera turun dengan raut wajah cemas bukan main.


"Ada apa?"


"Nona!!"


Para pelayan khususnya Yagatri juga cemas mendekat ke arah Kellen yang tampak linglung. Bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Nyonya Verena yang sudah berjanji pada Martinez.


"Nona! Apa anda baik- baik saja?"


"Y..yah. Aku baik-baik saja, maaf mengejutkan kalian." ucap Kellen membuat mereka saling pandang lalu pamit untuk kembali mengerjakan tugas yang tadi tertunda.


Sekarang. Hanya Nyonya Verena yang menghadang Kellen dengan tatapan penuh tanya itu.


"Ada apa?"


"M..Mom! Dimana Martinez?" tanya Kellen melihat kiri-kanan. Nyonya Verena tersenyum memeggang bahu Kellen lembut.


"Sejak aku bersedia membantunya. Dia jadi rajin untuk bekerja. Aku menyuruhnya untuk mengambil alih Bisnisku."


"Dia.."


Kellen menjeda kalimatnya. Ia segan mengatakan ini karna pasti akan membuat Martinez kembali terpukul.


"Ada apa? Kenapa kau menakutiku seperti ini?"


"Mom! Ini sangat buruk." gumam Kellen menarik kerutan di dahi Nyonya Verena. Tatapan mata wanita itu bergulir turun ke arah Amplop yang Kellen peggang.


Tanpa banyak bicara, ia segera mengambilnya dan sedetik kemudian mata Nyonya Verena melebar melihat foto-foto ini.


"Ini.."


"Miss Barbie sudah bertunangan dan akan segera menikah."


Degg..


Nyonya Verena terkejut bukan main. Tatapan nanarnya menghunus lembaran ini sampai ia benar-benar merasa iba.


"Aku memikirkan Martinez. Walau dia terlihat arogan tetapi, aku tahu dia orang baik."


"M..Menikah?" gumam Nyonya Verena tak bisa membayangkan bagaimana hancurkan Martinez. Pria itu sudah cukup hampa akhir-akhir ini.


Kellen mengerti kekhawatiran Nyonya Verena. Tetapi, jika sudah begini maka semuanya terlambat.


"Mom! Apa Martinez harus.."


Suara seseorang di depan pintu utama sana membuat Nyonya Verena langsung menyembunyikan foto-foto itu di balik punggungnya. Ia menatap Kellen yang mengangguk akan menyembunyikan ini.


"Mom! Aku..aku berhasil mendapat Investor baru!!"


Martinez tampak masuk dengan pakaian sudah rapi menenteng Map dengan senyuman darinya. Melihat semangat hidup ini, hati Nyonya Verena tiba-tiba sangat perih tak bisa lagi melihat putranya merenggu sakit.


"Mom! Aku sudah menemukan masalah terbesar kita, dan mereka siap untuk bekerja sama dengan keuntungan yang lebih condong pada Bisnis Mommy. Aku hebatkan?"


"A.. Baguslah! Aku pikir kau hanya bisa membuat kekacauan." jawab Nyonya Verena tersenyum meremas Amplop itu di tangannya.


Tatapan Martinez agak aneh pada Kellen yang tampak tak seperti biasanya.


"Kenapa? Kau iri padaku?"


"Cih. Aku punya segalanya. Untuk apa aku iri?" ketus Kellen beralih mendekat ke arah sofa dimana Baby San sudah merangkak menggapai betisnya.


Si tampan itu benar-benar membuat Martinez merasa iri. Ia mendekat dengan semangat mengambil Baby San masuk ke gendongannya.


"Hey, jagoan! Kau tunggu teman bermainmu. Hm?"


"Mymy!" gumam Baby San menggapai-gapai wajah Kellen dengan tatapan malas dan tak suka di gendong orang lain.


Umurnya sudah 6 bulan lebih dan sikap dingin dan acuhnya sudah tampak sejak lahir.


"Kau jangan sombong dulu. Aku akan membuat kau tersaingi dengan benihku."


"Kau sungguh malang."


Batin Nyonya Verena saling pandang dengan Kellen yang hanya menanggapi dengan senyuman.


"Mmmymyy.. Mmyy!!"


"Dengan Uncle saja." gemas Martinez mengunyel pipi gembul itu sampai merah membuat Baby San langsung menjauhkan wajah Martinez darinya seraya terus menatap polos Kellen dengan iba.


"Mymymy."


"Ouhh.. Sini, Sayang!" Kellen tak tahan akan raut wajah tersiksa putranya. Alhasil Martinez harus melepas Iblis kecil itu ke dalam gendongan hangat Kellen yang menghujami wajah putranya dengan kecupan kasih sayang.


Martinez menatapnya dengan dalam. Ia membayangkan jika Miss Barbie yang menggendong anaknya dan terlihat sangat menyenangkan.


"Kau tunggu saja, aku akan membuatmu melahirkan sebanyak mungkin."


Batin Martinez optimis dengan keputusannya. Tak mau melihat kebahagiaan putranya sia-sia seperti ini, Nyonya Verena segera bertolak pergi kembali ke arah kamarnya.


"Kellen!"


"Hm?"


"Nanti malam ada Pesta kembang api di pusat kota. Kau mau ikut?"


Kellen menggeleng. Ia tak berniat kemanapun karna sudah bosan keluar apalagi Axton tak ada.


"Tidak. Aku di Kediaman saja."


"Ayolah. Axton tak ada, jadi kita bebas bersenang-senang." jawab Martinez menaik-turunkan alisnya.


Memang terdengar menjengkelkan tetapi, Kellen berfikir jika ini adalah Festival besar dan sesuai informasi anggota tadi. Miss Barbie akan datang bersama tunangannya.


"Sebaiknya aku memanfaatkan ini untuk bertemu Miss Barbie. Apalagi Axton juga tak ada, dia juga sibuk."


Batin Kellen menyusun rencana. Ia ingin Miss Barbie memperjelas maksud dari semua ini apa sedangkan malam itu dia terlihat berat meninggalkan Martinez.


"Sudahlah. sesekali membuat Axton kelimpungan, apalagi kau bertambah cantik setelah melahirkan. Dia pasti akan gelagapan."


"Cih. Terserah padamu." umpat Kellen lalu pamit pada Tuan Fander yang mengangguk datar. Ia tak mau ikut campur urusan anak-anak muda ini walau ia tahu apa yang di sembunyikan Kellen.


"Uncle! Kau mau pergi?"


"Tidak."


Jawaban datar yang begitu menyebalkan. Tetapi, Martinez sudah mengerti dan terbiasa akan sikap Tuan Fander yang tak dengan Axton atau yang lain juga begitu.


"Ayah dan Anak sama saja."


....


Vote and Like Sayang..