My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Pelajaran!



Langit sudah berubah gelap. Semua cahaya yang tadi bersinar terlihat kembali redup di telan sang bulan.


Suara jangkrik di rerumputan itu terdengar nyaring dengan sahutan angin malam melambai beku tak menghiraukan seorang pria yang tengah berdiri di dekat Koridor samping Kediaman. berbicara dengan seorang pria bertubuh Jangkung yang terlihat murka.


"Kenapa dia bisa keluar? Aku sudah bilang tunggu dulu keputusanku." geram Martinez pada Castor yang diam.


Disini ada Groel yang tengah menyeringai licik di balik tubuh jangkung Martinez yang tengah cemas jika Momynya pulang cepat nanti akan menjadi masalah besar.


"Tuan! Tadi dia kambuh dan mencari Kellen, mau tak mau dia mengikuti wanita itu."


"Tapi, bisa saja dia yang mengikuti Axton ke dalam lorong. Tak perlu kau mengeluarkannya." sarkas Martinez sungguh tak tahu lagi cara meyakinkan Momynya nanti.


"Castor! Kau sangat lancang melakukan ini."


"Ini bukan urusanmu." jawab Castor menatap membunuh Groel yang hanya menarik senyum culas. Pria paruh baya tua ini selalu memperpanas suasana.


"Aku hanya cemas. Tuan!"


"Apa?" tanya Martinez menyela.


"Saat dia kambuh. Maka semuanya akan habis, anda tentu tahu bagaimana jika dia sudah lepas kendali. Bukan?"


"Siall!!! Bagaimana ini?!" gumam Martinez mengusap wajahnya kasar.


Groel memanfaatkan ini untuk mendesak Martinez agar kembali memasukan Axton ke dalam ruang bawah tanah.


"Kau benar!"


"Tuan! Tapi.."


"Apa kau menjamin dia akan tetap tenang? Jika iya-pun, Nyonya akan tetap tak setuju." sela Groel menghentikan kalimat Castor yang mengepal.


Martinez mengangguki saran Groel yang bisa ia andalkan di mana tempat.


"Sekarang. Jemput dia dan masukan ke ruang bawah tanah."


"Baik!"


Jawab Groel melempar senyum kemenagan pada Castor yang tak akan diam saja.


"Dia tak akan mudah di seret ke sana."


"Yah. Tapi kita punya cara lama."


Groel memperpanas keadaan dengan memimpin para penjaga untuk ke arah bangunan belakang tempat Kellen berada.


Castor mengikuti mereka bersama Martinez yang sudah lebih dulu kesana.


"Tuan!! Tuan dengarkan aku!"


"Kau sudah membuatku pusing. Rencana mu itu sangat buruk." umpat Martinez membuat Castor gelisah mengejar Martinez yang tampak gagah memboyong para penjaga ke bangunan itu.


"Tuan! Tadi ada yang menembak ke arah bangunan itu."


Langkah Martinez langsung terhenti saat mendengar sanggahan Castor. Pria itu berbalik dengan dahi menyeringit diantara sinaran lampu samping.


"Maksudmu?"


"Tadi ada yang menembak di bangunan itu. Sepertinya mereka memang mengincar Kediaman Miller." jawab Castor mendekat.


Groel yang sudah ada di depan pintu Bangunan kecil Kellen segera menoleh dengan pandangan geramnya.


"Dia selalu saja mencoba menghentikan-ku." umpat Groel kembali mendekati Martinez yang terlihat serius.


"Sebaiknya kita jangan banyak membuat pergerakan. Mereka akan mengetahui semua gerak-gerik di dalam Kediaman."


"Kapan penembakannya?"


"Sore tadi. Tuan!"


Martinez terdiam memandangi bangunan tak terlalu besar ini. Untuk pertama kalinya ada musuh yang lolos di pekarangan Miller, sangat aneh bukan?


"Tuan! Karna itu kita harus mengamankan Axton."


"Jika kalian membuat Axton kembali mengamuk, maka akan jadi pertanda besar kelemahan Miller di sini." sambar Castor kembali melawan debat Groel.


Keduanya kekeh dengan pendapat dan tujuannya masing-masing membuat Martinez harus mengambil keputusan sendiri.


"Kau tahu apa tentang dia?"


"Kau begitu tahu sampai.."


"Cukuppp!!" suara keras Martinez bercampur amarah menatap tajam Castor dan Groel yang kembali menunduk.


"Berani kalian berdebat di hadapanku??"


"Maaf! Maafkan kami!"


"Wanita sialan!!!"


Ia menggedor pintu itu kasar dengan suara umpatan yang menjijikan. Saat bunyi gedoran Martinez bertambah kuat, pintu itu langsung terbuka pelan.


"Kauu?" gumam Kellen yang terlihat baru bangun dari tidurnya. Terbukti dengan rambut pirang kecokelatannya yang agak berantakan tapi masih mampu menyihir mata mereka terutama Martinez yang menatap wajah bening Kellen dari dekat.


Semuanya terdiam. Kellen mengernyitkan dahinya seraya melangkah keluar masih dengan Hotpants yang terlihat sangat seksi tapi Kellen belum menyadarinya.


"Ada apa kau di depan kamarku? Tak punya pekerjaan lain. Ha??"


"Ouhh.. Sayangku." gumam Martinez ingin menyentuh pipi Kellen tapi di tepis kasar wanita itu.


"Jaga sikapmu. Cabull!"


"Hey! Kenapa saat bersamaku kau begitu pedas. Hm? Cobalah menjadi kucing manis. Aku akan mempertimbangkan posisimu. Sayang."


Kellen hanya menatap dingin Martinez yang sangat terpana akan setiap visual indah ini. Sayangnya Kellen sangat susah ia dapatkan.


"Enyahlah dari hadapanku."


"Ssss kau ini.. Aku sangat menyukai wanita cantik dan berani sepertimu." desis Martinez gemas sendiri tapi itu tampak menjijikan di netra ember Kellen.


Pria ini lebih tak waras dari Axton yang tak pernah lancang menggodanya nakal.


"Apa kau sudah berubah pikiran. Hm?"


"DALAM MIMPIMU." Tekan Kellen membuat kepalan tangan Martinez menguat. Ia tak pernah di katakan serendah ini oleh seorang wanita seumur hidupnya.


"Baik. Kau memang ingin mati."


"Jika aku mati. Aku akan menjemputmu." balas Kellen menambah bara api di dalam tubuh Martinez yang sudah mendidih panas.


"Seret wanita sialan ini dan Binatang liar itu!!!"


"Baik!!"


Mereka masuk ke dalam dengan Martinez yang menarik lengan Kellen keluar.


"Lepasss!!!"


"Kau sepertinya harus di beri pelajaran." geram Martinez menyeret Kellen ke arah taman di belakang.


Kellen memberontak memukul lengan Martinez tapi kekuatannya tak sebanding. Pria mesum ini menarik Kellen ke arah pancuran air karna ia ingin lihat betapa seksinya wanita ini dengan tubuh basahnya.


"Lepas!!! Lepass bajingan!!"


"Sutt! Jangan terlalu liar, aku bisa jatuh cinta padamu." desis Martinez menyeringai.


Kellen menoleh kebelakang dimana Castor tak bisa berbuat banyak. Ia tengah mencoba untuk menahan para penjaga di pintu kamar.


"Lepas!!! Kau..kau memang sialan!!!"


"Terserah padamu. Aku tak perduli." jawab Martinez dengan cepat mendorong Kellen ke dalam kolam ikan pancuran yang cukup luas.


"Aaaaxxx!!!" pekikan Kellen keras kala tubuhnya tercebur ke dalam kolam keramik mahal ini.


Tawa Martinez pecah menyaksikan Kellen terbenam ke sana dikerumuni Koi-Koi yang terganggu.


"Lihat!! Kau masih berani memakiku. Ha??"


Kellen diam menutupi bagian dadanya. Baju kaos warna putih pendek ini membuat lekuk tubuh Kellen menerawang dan terbentuk.


"Ayolah. Jangan di tutupi."


Kellen diam menekuk tubuhnya berlindung di balik keramik air ini. Ia menutupi bagian dadanya yang nyaris di lihat oleh Martinez yang mencari ranting kayu di sekitar tempat ini.


"K..kau mau apa?" gumam Kellen gugup kala Martinez menyeringai membawa ranting kecil sepanjang lengan.


"Kau harus menunjukan semua ini juga padaku. Hm?"


"K..kau.. Jangan.. kau.."


Martinez menyeringai memukul bahu Kellen dengan ranting itu membuat Kellen terpekik.


"Berhenti sialan!!!"


"Sutt! tunjukan padaku baru ku.."


Bughhh...


.....


Vote and Like Sayang..