
Suara deru salju yang turun di luar sana terdengar sangat mengerikan. Serbuk ringan dan tumpukan beku di sekitar tempat ini terlihat semakin tebal kala perkiraan badai Salju memang akan datang dan sudah menimbun bagian atap beton.
Suhu udara yang semakin minus membuat mereka tak bisa terlalu lama beraktifitas di luar Markas. Hanya anggota-anggota tertentu yang berdiri di luar sana.
Namun. Sedari kemaren pria jankung dengan wajah pucat itu terjebak di tumpukan jerami kandang kuda yang terletak di belakang tempat ini.
"Fucking shitt." umpat Martinez membekap dadanya sendiri. Sungguh ini sangat dingin, ia tak bisa bersembunyi disini terlalu lama tanpa makanan sama sekali.
Ia hanya minum air yang ada di Kran samping. Ia tak tahu kemana tembusnya lekukan tempat ini hingga alhasil ia bersembunyi semalaman.
"Mereka memang sialan!! Meninggalkanku sendirian, dan lihat.. Dia sama sekali tak mencariku." umpat Martinez mengais jerami lembab dengan kakinya.
Kuda-kuda yang di kurung disini tampak menatapnya kesal seakan mengatakan 'KAU LEBIH MENJIJIKAN.'
"Apaa?? Kalian pikir aku sudi disini. Cih."
Umpat Martinez melangkah ke pagar Kandang. Namun, ia tak menyadari jika ada tumpukan kotoran Kuda yang masih belum sempat di bersihkan di hadapannya.
"Ini sangat dingin. Aku berharap kalian membeku di.."
Kalimat Martinez terhenti kala kakinya menginjak sesuatu yang bertekstur lembek dan sangat lengket.
"Ini..."
Mata Martinez terbelalak lebar dengan wajah pias antara menyimpan kemurkaan dan jijik yang mendalam.
"SIALAAAAANNN!!!!"
Suara Martinez bagaikan terompet mengundang para penjaga yang tengah berpatroli di belakang.
Martinez benar-benar lemas menutup hidungnya seraya bersandar lesu tak berdaya di ambang pagar Kandang.
"Ya Tuhan. Ujian apalagi ini?"
"Penyusuuuuppp!!!"
Martinez spontan mengangkat tangannya. Wajah berubah pucat kala orang-orang bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan tato tengkorak di punggung tangan itu tengah mengacungkan senjata laser ke kepalanya.
"A..aku bukan.."
"Tembak dia!!!"
"Jangaaaan!!! Jangaaan!!!" Martinez histeris segera berlindung di balik pagar Kandang dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Ia benar-benar menyesal ikut kesini membuat penderitaan hidupnya bertambah menggila.
"Sialll! Awas kalian!! Aku tak akan membiarkan kalian lolos."
........
Ranjang yang cukup besar itu tampak sudah menampung sesosok wanita yang masih terbaring lemas di atasnya.
Selimut tebal dibalutkan dengan suhu ruangan di buat sehangat mungkin. Lampu sengaja di buat remang tetapi masih bisa memperjelas pemandangan di sekitarnya.
Termasuk sesosok tubuh kekar yang dibaluti kaos santai itu. Ia berdiri tegap di dekat jendela menatap keluar dimana cahaya akan segera menghilang dari sini, langit-pun akan murung sebentar lagi.
Setidaknya itu sejalan dengan apa yang tengah ia pikirkan. Kedua tangan masuk ke kedua sisi saku celana tak lagi bersembunyi di balik sikap polosnya.
"Ehmm."
Ia tersadar kala suara geraman sakit itu terdengar. Tubuh kekarnya berbalik segera melangkah mendekati ranjang dengan wajah datar menyimpan kebekuan.
"A..Asss.."
"Mana yang sakit?" suara berat datar tetapi menyimpan kecemasan.
Kellen memeggangi perutnya dan sekarang kepala itu juga tengah di guncang denyutan pusing.
"S..Sakitt.."
Tanpa pikir panjang. Axton menaikan baju kaos baru yang Kellen pakai sampai ke dada wanita itu. Seketika perban yang membalut perut datar ini tampak masih rapi.
"Jangan banyak bergerak."
"K..kau..."
Kellen membuka matanya menembus remangan lampu tidur yang membawanya melihat pahatan seseorang yang sangat membuatnya terkejut.
Seketika mata Kellen memanas melihat Axton memeriksa perban di perutnya. Rasanya sakit di perlakukan dengan kebohongan seperti ini.
"Kepalamu masih pusing?"
Kellen hanya diam. Kedua tangannya meremas selimut tebalnya kuat dengan wajah tak berpaling memandang pahatan datar ini.
"Kau..."
"Lepas!"
Kellen menepis tangan Axton yang memeggang perutnya. Seketika pria itu terdiam dengan raut wajah di limpahkan kegelapan yang suram.
Tak ada suara apapun yang keluar dari sela bibir Axton yang benar-benar sudah membuat Kellen terluka. Ia bahkan tak menyangka Axton akan melakukan ini padanya.
"Berbaringlah!"
Kellen mengigit bibir bawahnya menahan isakan. Ntah kenapa di bohongi oleh Axton rasanya sangat sakit dan seharusnya ia senang karna ia akan pergi dari sini.
"Lepas!"
"Berbaring!"
"Lepassss!!!!" bentak Kellen mendorong bahu Axton agar menjauhinya tapi ia tak cukup kuat hingga hampir mau jatuh tapi Axton sigap menahan bahunya.
Melihat ini semua. Kellen semakin merasa muak, ia tak ingin terjebak disini lagi dan tak akan pernah lagi.
"L..Lepas!"
"Berbaring!"
"L..Lepaskaan aku!!! Kau tuli. Ha???" maki Kellen memberontak tapi kekuatan Axton menahan pergerakannya membuat Kellen hanya ingin berteriak.
"Lepaaaaas!!! Lepaskan aku. Hiks!"
Axton hanya diam. Ia tahu kenapa Kellen begini dan ia tak akan pernah melepaskannya. Akan ia peluk erat walau hanya tersisa satu tangan atau tidak sama sekali.
Merasakan Axton tak ada niatan melepasnya. Kellen menunduk dengan air mata turun merembes keluar, ia kecewa dan sangat kecewa dengan semua ini.
"K..Kenapa?"
"Kell!"
"Kenapa kau...kau melakukan ini padaku?" tanya Kellen dengan kalimat bergetar. tubuhnya mulai bergetar menghadirkan rasa sesak dan sangat sakit di dada Axton yang tak tahu harus apa.
Ia tak menduga Kellen akan tahu secepat ini dan bahkan tak ada persiapan apapun.
"K..Kenapa Ax?"
Lidah Axton berat mengatakannya. Ia tak pernah berpengalaman dengan yang namanya Percintaan. Selama ini Axton hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Mendapati kebisuan Axton. Kellen merasa benar-benar sakit hati, Axton hanya mempermainkannya dan tak pernah ada niatan baik untuk mengatakan kenyataan itu.
"Kau membohongiku selama ini. Aaax!!! Kau membuatku seperti orang bodohhhh!!!" bentak Kellen memukul-mukul bahu kekar Axton yang hanya diam beralih memeluk Kellen yang meluapkan perasaanya.
"Kau bohong!!! Kau menipuku!!!"
Axton hanya menerima dengan mata terpejam menetralkan suasana hatinya. Ia tak bisa menjelaskan apapun pada Kellen karna saat ini ia tak puma rencana yang lain.
"K..kau bohong. Hiks! Aku..aku sudah percaya jika kau..kau memang tak mengingat apapun. Ax. Aku.."
"Kau tak akan bisa pergi." gumam Axton menguatkan dekapannya.
Kellen semakin merasa kelap. Ia berfikir jika Axton hanya akan mempermainkan perasaanya, ia tak mau masuk dalam rencana besar ini lagi.
"D..Daddyku. Aku...aku harus pulang."
"Diam."
"Lepasss!! Aku...aku harus pulang. Kau..kau sudah ingat semuanya. Aku harus pulang aku..."
"DIAMMMM!!! DAN TUTUP MULUTMU!!!"
Bentak Axton langsung mencekik leher Kellen yang tercekat kuat mencengkram lengan kekar Axton yang tengah tak bisa menahan gejolak rasa di dadanya.
"K..kau..."
"D...I...AM.." Tekan Axton dengan sorot mata membunuh yang nyata. Wajah Kellen berubah pias dengan nafas tersendat tak normal.
"Aku tak selembut Daddymu. Jangan mencoba mengujiku."
Bibir Kellen bergetar menahan isakan hingga air matanya jatuh ke tangan Axton. dengan kasar cekikan di lehernya terlepas tapi bukan berarti Kellen bisa bergerak.
"D..Daddy. Hiks!" isak Kellen dengan nafas memburu dan sendat karna sesak.
Axton tak suka mendengar suara itu. Darahnya mendidih panas dengan gertakan gigi nyaring seakan ingin mengoyak apapun.
"Diam."
"D..Daddy. Hiks!"
"DIAAAAM!! KAU BISA DIAAAM. Haa?!!!" geram Axton merasa sakit sendiri. Ia merasakan apa yang Kellen rasakan sekarang? ia bukan tipe yang akan bermanis mulut tapi Axton hanya bisa melakukan apapun yang menurutnya benar dan harus di lakukan.
"D..Daddy. Hiks! Daddy!"
"Hey! Diam. Dia tak ada disini? Tidak ada." bujuk Axton tak begitu bisa. biasanya Kellen lah yang memanjakannya dan ia tak bisa melakukan apapun dengan baik.
Axton ingin mengatakan jika semuanya tak akan berubah. Baik ia ingat atau tidak, Kellen masih akan tegap di sampingnya.
Pikiran Axton dan Kellen tidaklah sama. Axton memastikan takdirnya sendiri tapi Kellen, banyak kecemasan yang tengah mempengaruhi pikirannya.
Vote and Like Sayang..