
"Axton!!! Sudah!!"
Teriak Nyonya Verena tak bisa melerai Axton yang sudah memukuli Martinez membabi-buta.
Pria bertubuh kekar dan gagah itu terus melayangkan tendangan bahkan kemeja di tubuh Martinez sudah koyak lepas dari tubuh jangkung pria itu.
"Tolong!!! Tolong bantu lepaskan Martin. Apa yang kalian tunggu. Ha???"
"Baik. Nyonya!"
Para pengawal sana takut-takut mendekati Axton yang bak kesetanan membuat Martinez babak belur bahkan wajah pria itu sudah lebam dengan darah keluar dari mulut dan hidungnya.
Rahang Axton mengetat dengan sorot mata membunuh yang kental. Ia seakan ingin menghisap nyawa Martinez yang juga sudah takut bersemayam di jiwa pria itu.
"K..kau.."
Bughhh...
Lagi dan lagi bahkan berulang kali Martinez terbatuk darah. Miss Barbie mematung diam dengan wajah pucat menyaksikan kegilaan pria ini.
Sangat tak bisa di dekati atau mereka akan ikut merasakan panas dan kerasnya pukulan dari tangan kekar itu.
"Lepaskan. Tuan Martinez!!!"
Ucap 5 pengawal mengelilingi Axton yang mencekik Martinez merapat ke pilar di sampingnya.
Darah itu mengalir di lengan Axton berasal dari lelehan mulut Martinez yang sudah tak mampu bernafas dengan baik. Ia memukul lengan kekar itu tapi Axton tak bergeming atau sekedar bertolak mundur.
"K..kau... Uhuuk!"
"M..Martin." lirih Miss Barbie memberanikan diri mendekat kearah Axton yang mengigil marah. Nafas pria ini memburu dengan gertakan gigi beradu nyaring.
"Aku..aku mohon. Lepaskan.. Lepaskan dia.."
"Yah. Lepaskan Tuan Martin!" timpal para Pengawal sana juga berharap jangan sampai berkelahi. Axton sangat kuat dalam beradu pukulan.
"Aku..aku mohon. lepaskan dia! Dia bisa mati di tanganmu."
"S..S..siall!" umpat Martinez melihat Miss Barbie menangis memohon pada Axton yang tak mendengar apapun. Tatapan dinginnya masib abadi dengan hasrat membunuh yang kuat.
Bukannya melemahkan cekikikan-nya, Axton justru memperkuat sampai membuat Martinez menjerit tertahan merasakan tulang lehernya patah dan sulit bernafas.
"M..Mommy!!"
"Martin! Martin kau.." Miss Barbie kelut kala Axton tak bicara atau berhenti. Ia seakan ingin melihat wajah pucat Martinez yang memberontak keras di cengkramannya, ingin mati tepat di depan matanya.
"Aku mohon lepaskan! Lepaskan dia!!!"
"Axton! Sadarlah, dia adikmu!!" sambar Nyonya Verena mendekat ke arah Miss Barbie yang sudah ketakutan melihat Martinez sudah lemah dengan tubuh penuh luka dan lebam akibat hantaman kasar Axton.
Melihat Axton yang kekeh dan tak bergerak sama sekali. Nyonya Verena mengisyaratkan Groel agar memukul Axton agar melepaskan Martinez.
Pria paruh baya itu mengangguk perlahan mengambil sebuah Guci yang cukup ringan ia angkat perlahan seraya mendekati Axton.
"Axton! Lepaskan Adikmu, dia tak bersalah. Nak!"
"Iya. Dia..dia hanya tak tahu kalau.."
Miss Barbie terhenti bicara kala Groel sudah mengayunkan benda itu tepat ke arah kepala belakang Axton yang dengan cepat menghindar melesat di belakang Groel.
Prankkk..
"Martiiin!!!" pekik Miss Barbie hebat saat yang terkena benda itu adalah Martinez yang langsung tergeletak di lantai.
Groel memucat kala Axton sudah berdiri di belakangnya dengan pergerakan yang cepat dan tak bisa ia tebak.
"K..kau.."
Axton memiringkan kepalanya begitu sangat mengerikan. Tatapan yang datar tapi menyimpan kekejaman di dalamnya.
"K..kau mau.."
Kaki jenjang Axton dengan kejamnya menerjang punggung Groel yang spontan terpental ke pilar yang tadi menjadi gantungan Martinez.
Nyonya Verena tercekat kuat melihat Martinez yang berlumuran darah di lantai dan begitu juga Groel yang sudah tergorok bak kotoran pecundang.
"K..Kenapa... Ini.."
Batin Nyonya Verena terguncang. Ia beralih memandang Axton yang tiba-tiba memandangnya mengerikan membuat Nyonya Verena memucat.
"A..Ax! Ini..ini Mommy sayang!" gumamnya bergetar kala langkah Axton mendekat dengan aura berbeda. Pria ini benar-benar sangat menyeramkan bahkan melebihi kesan pertama saat Axton di rantai ruang bawah tanah.
"A...Ax! Ka..kau kenapa, Nak?"
Axton hanya diam membisu. Langkahnya terus maju tepat berdiri di hadapan Nyonya Verena yang bisa merasakan cara Axton berdiri begitu tegap dan terkesan sangat berkuasa menundukan semuanya.
"A..Ax!"
Gugupnya hebat kala Axton mengangkat tangan ke arahnya.
Namun. Tangan Axton terhenti kala sadar jika Kellen tadi pergi, wanita itu pasti tengah bersedih.
"Kell!"
Gumam Axton lalu dengan cepat pergi keluar Kediaman utama membuat Nyonya Verena lega.
"Syukurlah dia.."
"Mommy, hiks! Martin tak sadarkan diri." isak Miss Barbie memangku kepala Martinez yang sudah sekarat hebat.
Nyonya Verena membuang nafas kasar. Benar-benar tak berguna dan sangat menyusahkan.
....................
Kellen sungguh cemas. Ia takut jika Tuan Benet benar-benar terluka disana, ucapan Martinez tadi sangat menakutinya.
"D..Daddy!" gumam Kellen mengusap air matanya dan terus mencoba memulai panggilan walau hanya suara operator yang menjawab.
"D..Dad! Jawab!!!"
Kembali mencoba hingga Kellen frustasi mengusap wajahnya kasar. Namun, Kellen ingat jika Joy pasti juga menemani Tuan Benet.
"Yah.. Joy."
Kellen beralih memanggil Kontak Joy dengan harap-harap cemas. kuku jari tengahnya Kellen gigit pertanda ia tengah benar-benar gugup.
"Hello!"
"Joy!! Joy ini.. Ini kau bukan?".
" Kellen!"
Kellen berbinar kala suara itu memang Joy. Ia berdiri pertanda serius membahas masalah ini.
"Joy! Bagaimana keadaan Daddyku? Apa yang terjadi padanya? Kenapa ponselnya tak aktif dan.."
"Tuan Benet masih belum sadar."
"M..Maksudmu?" tanya Kellen dengan wajah pias.
"Beberapa hari ini dia kembali sakit dan sudah di larikan ke Rumah Sakit biasa. Kell!"
"Y..Ya Tuhan."
Gumam Kellen membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya lemas kembali terduduk di tempat ini dengan air mata bertambah deras keluar.
"Kau pulanglah! Dia sangat mencemaskan-mu, Kell! kau sudah berminggu-minggu tak pulang tanpa kabar. Ponselmu tak aktif membuatnya kepikiran."
Bibir Kellen bergetar dengan isakan tertahan. Sungguh ia ingin pulang bahkan ia sudah tak sanggup membendung rasa cemas ini lagi.
"Kau dimana? Uncle bilang, jika memang kau tak bisa, maka tak masalah. Kau bisa pulang, Kell!"
"A..aku.. "
Kellen tak mampu berkata banyak karena rasa sesak yang begitu besar itu menyengkang di dadanya.
"J..Joy! Aku..aku mohon, aku mohon jaga Daddyku. Aku.."
"Kau kenapa? Apa ada masalah?"
Kellen menggeleng. Ia tak mungkin membicarakan ini pada Joy yang akan memperparah keadaan Tuan Benet.
"J..Jaga dia! Aku..aku akan pulang! Aku akan pulang, j..jaga dia."
"Benarkah? Kalau begitu cepatlah. Kehadiranmu sangat di perlukan disini. Kell!"
"Ehmm!"
Kellen hanya bisa bergumam lalu mematikan sambungan. Ia membekap wajahnya dengan kedua tangan dengan ponsel yang tergeletak di sampingnya.
"D..Daddy! Hiks, k..kau .."
"Kell!"
Kellen terdiam kala suara yang sangat ia kenal itu terdengar. Mata sembab Kellen beralih memandang Axton yang jelas di bawah sinaran mentari ini.
"Kell!"
Tak ada jawaban dari Kellen yang sungguh tak tahu harus melakukan apa. Hanya air mata yang selalu turun di pipinya menandakan wanita ini benar-benar tengah sakit.
"P..Pergilah!"
Axton tak bergeming. Ia beralih mendekati Kellen yang menggeleng tak ingin di temani dan hanya ingin sendiri.
"A..Ax! T..tinggalkan aku sendiri, pergilah. Kau.."
"Kell!"
"Aku..kau.."
Axton tak menjauh sama sekali membuat Kellen benar-benar tertekan dengan rasa yang tengah bergejolak di hatinya.
"TINGGALKAN AKU SENDIRI!!! KAU TAK MENGERTI. HA???"
Bentak Kellen mendorong pinggang Axton agar menjauh darinya. Nafas Kellen memburu dengan helaan sendat sesak.
"T..Tinggalkan aku sendiri. Hiks! Aku..aku mohon." pinta Kellen memelas menyatukan kedua tangannya.
Air mata dan isakan itu membuat Axton diam. Ia tak bergerak tapi ia tahu Kellen tak sedang baik-baik saja.
"Aku..aku mohon, hiks! Aku mohon!"
Pinta Kellen sudah serak. Tak ingin membuat Kellen semakin terluka akhirnya Axton mundur perlahan tanpa mengalihkan pandangannya pada wanita itu.
"T..Tinggalkan.. A..aku.. S..sendiri, hiks."
Isak Kellen menekuk kedua kakinya. Ia bingung dan tak tahu harus apa. Rasanya ingin pergi dari sini tapi melihat Axton tiba-tiba dadanya nyeri ntah mau apa.
Daddy! Kau..kau tak bisa meninggalkan aku. Kau..kau yang membuatku terjebak disini. Kau..
Kellen berperang dengan batin yang mencoba menghakiminya. Seandainya hari itu ia menolak maka ia tak akan terkurung dalam perasaan ini.
.....
Vote and Like Sayang..