
Mobil yang tadi di kendarai Castor sekarang sudah masuk ke dalam Gerbang yang telah di jaga oleh dua keamanan. Kondisi Klinik kali ini lebih ramai dari yang biasanya.
Gedung yang bernuansa moderen dengan desain elegan ini mampu menarik para wanita maupun pria yang ingin memanjakan diri.
Tentu semua Staf dan para pekerja yang Kellen rekrut itu sangat profesional dan berpotensi dengan kualitas yang terbaik. Ia tak ingin sembarangan membuat sebuah Gedung kecantikan.
"Tempatmu sangat menarik."
"Terimakasih. Tapi, ini berkat desain dari Miss Barbie, dia sangat baik selalu memberikan saran padaku." puji Kellen mengamati orang-orang yang hilir-mudik di Lobby mengeluarkan Mobilnya.
Castor memarkirkan Mobilnya dan barulah Kellen keluar membawa tas kecil yang tadi ia tenteng.
"Cas! Kau mau mampir?"
"Of Course!" jawab Castor memakai kacamatanya lalu turun dari mobil. Ia berjalan berdampingan dengan Kellen yang di sapa beberapa orang yang sudah selesai melakukan Treatment.
"Morning, Dokter Kellen!"
"Yah, Miss Eella! How are you?" tanya Kellen ramah memberi pelukan hangat pada seorang wanita yang tampaknya dari keluarga yang tersohor. Terbukti dengan barang-barang yang ia pakai semuanya dari Brand ternama.
"I'm ok. How about you? Dokter Kellen."
"I'm always good." jawab Kellen mengatakan jika ia selalu baik-baik saja. tentu Mis Eella tersenyum melihat Kellen yang semakin-hari semakin cantik saja.
Namun. Perhatiannya terusik oleh Castor yang tampak berdiri seperti patung di samping Kellen tapi ia tak berani menyapa. Alhasil Mis Eella pamit pergi dengan supir yang sudah menjemput.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Kellen menyikut lengan Castor yang menatap kepergian wanita muda itu.
"Lalu aku harus apa?"
"Dia itu salah satu anak Dewan Direksi Perusahaan Farma dari Asia."
"Lalu?" tanya Castor membuat Kellen menghembuskan nafas berat. Castor memang sama saja dengan Axton, sangat lamban dan tak peka.
"Baiklah. Ayo masuk!"
"Yah."
Kellen masuk ke pintu kaca tebal yang sudah di buka oleh Staf penyambut Pasean yang langsung menyapa Kellen dengan binaran senang.
"Dokter Kellen! Sudah lama anda tak kesini."
"Hanya ada urusan, kau terlihat tampan." puji Kellen pada Staf laki-laki muda seumuran Joy yang tampak tersenyum malu.
"Anda selalu bisa membuat saya senang."
"Memang, iya! terimakasih untuk kerjanya."
Pria itu mengangguk membiarkan Kellen masuk lebih dalam. beberapa pelanggan yang tengah berbicara dengan para Staf tampak menyapa Kellen yang memberikan senyuman ramahnya sampai menuju ke arah ruangan khusus milik Kellen.
Disini Castor sadar jika Kellen memang wanita yang sangat pekerja keras. Membangun Klinik ini sendirian itu sangatlah butuh tenaga dan kepintaran, Kellen mampu menarik semua pelanggan kelas atas ke sini dan aura yang di hadirkan juga begitu Feminim dan berkelas.
"Dokter Kell!"
"Agatha!" jawab Kellen melihat Agatha tampak mengerjakan proposal di dekat sofa diluar ruangannya.
Tampaknya wanita bertubuh pendek ini sangat sibuk dan tentu Kellen merasa bersalah.
"Dokter Kell! Apa bisa minta tanda tanganmu?"
"Tentu saja."
Jawab Kellen mendekat melihat apa yang tengah Agatha lakukan. Tampaknya wanita ini tengah menyusun sebuah laporan dan seperti pengajuan.
"Ini apa?"
"Dokter. Maafkan aku tapi, aku sudah memberi tahu Dokter Kellen beberapa hari yang lalu kalau kita sudah mengajukan kerja sama dengan Perusahaan Christofan Crops. apa Dokter tak ingat?"
"A.. Itu.. Haiss aku lupa." decah Kellen baru ingat jika ada tawaran menarik dari Perusahaan besar kenamaan di New York itu.
"Lalu dia minta apa?"
"Aku sudah bertemu dengan Asistennya. Dia bilang, buat saja proposal pengajuan lalu berikan pada mereka. Nanti, Dokter datang untuk mengadakan pertemuan dengan pemilik Perusahaan."
Jelas Agatha tampak bersemangat. Bukan tanpa alasan ia begitu senang, keinginan Kellen untuk memekarkan usaha mereka ini akan terwujud dengan bekerja sama bersama Perusahaan besar itu.
"Baiklah. Aku setuju, kau bisa berikan ini padanya."
"Tak lama lagi usaha dan kerja keras Dokter tak akan sia-sia." gumam Agatha kala melihat Kellen membubuhi tanda-tangannya di kertas itu.
Kellen hanya tersenyum juga merasa senang. Ia akan memulai langkah lebar dengan mengambil keputusan ini.
"Kalau begitu saya permisi. Dokter!"
"Yah. Terimakasih!"
Agatha mengangguk lalu melangkah pergi ke arah lantai bawah. Ia tampak menatap asing Castor yang melihat pandangan dari Jendela atas.
"Orang aneh." gumam Agatha hanya lewat saja membiarkan Castor sejenak melihat-lihat.
"Caas!"
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?"
"Kau pasti punya pekerjaan. Pergilah, terimakasih sudah mengantarku." ucap Kellen duduk di atas sofa seraya memainkan ponselnya setelah beberapa saat menatap Castor.
"Kau yakin tak butuh bantuan lagi?"
"Tidak. Ini sudah cukup, katakan pada Robot hidupku itu agar jangan membuat masalah di Negara yang bukan miliknya."
Castor hanya diam. Ia beralih ke arah lorong lantai bawah tetapi terdengar keributan di area sana. Tentu Kellen juga terperanjat.
"Keluar kau Kellen!!!!"
"Kau mau bersembunyi dimana???"
Kellen tersentak mendengar suara itu. Ia berdiri membawa tas dan ponselnya mendekat ke arah Castor yang juga memandangnya di balik kacamata itu.
"Ada apa di bawah?"
"Tidak. Dia mencariku." tegas Kellen melangkah mendahului Castor yang segera membuntuti Kellen.
Mereka turun dari tangga yang membuat Castor harus berjaga takut Kellen terpeleset. Saat tiba di bawah sana, terlihat semua orang berkerumun dan para Staf tampak memucat termasuk Agatha yang terlihat ingin berbicara.
"Kellen!! Keluar kau!!!"
"Nyonya. Tolong tenang dulu."
"Kau menyuruhku tenang dengan kondisi wajahku seperti ini. Ha??" bentak sesosok wanita paruh baya yang berpakaian glamor tetapi Kellen syok kala melihat wajah wanita itu merah dan mengelupas.
"N..Nyonya kami.."
"Apa yang kalian campur ke produk cosmetic itu sampai aku seperti ini??"
"Kami memakai bahan yang legal dan terdaftar di Negara ini." sambar Kellen mendekat berdiri tepat di depan wanita itu.
Para Staf yang tadi ketakutan tampaknya mulai lega melihat Kellen sudah turun.
"Dokter Kell! Wanita ini marah-marah menuduh kita mencampurkan sesuatu yang berbahaya pada bahan yang kita gunakan." bisik Agatha membuat Kellen terdiam sejenak mengamati wajah wanita ini.
"Kau yakin perawatan di Klinikku?"
"Lalu dimana lagi?? Sudah jelas kau memakai produk berbahaya. Dan kalian masih mau ke sini??"
Para orang-orang yang tadi tampak melakukan Treatment disini mulai ragu dan terlihat takut akan terjadi pada mereka.
Melihat banyak orang yang terpengaruh tentu saja Agatha khawatir jika ini akan di bawa ke jalur hukum.
"Dokter. Apa benar yang dia katakan?"
"Kenapa anda melakukan ini?"
"Kau.."
"Bisa diam dulu!" pinta Kellen membuat suasana hening. Ia beralih menatap tegas dan tajam pada wanita paruh baya yang mengaku-ngaku ini.
"Kau melakukan apa di tempatku?"
"Treatment Jel dan Laser. Setelah beberapa hari barulah wajahku begini, kau memang bajingan!!" makinya pada Kellen ingin mengayun tangan untuk memukul tapi Castor sigap menepis tangan wanita itu kasar.
"Jaga etikamu!" tekan Castor merasa sangat muak dengan orang-orang seperti ini.
"Baik. Jika memang kau melakukan itu di Klinikku siapa yang melayanimu?"
"Dia!"
Semua mata tertuju pada seorang wanita dengan kacamata berlensa yang tampak memucat gemetar takut. Dia adalah Novena yang merupakan anak baru disini.
"Dia yang melakukannya padaku."
"Agatha!" panggil Kellen merasa ada yang salah. Novena adalah anak baru disini dan kenapa sudah memeggang pekerjaan seperti itu. Proses Laser dan Botoks hanya bisa di lakukan oleh para pekerja yang sudah lama disini.
"Maaf, Dokter! Tapi, dia bilang dia bisa melakukannya."
"M..Maafkan aku!!" ucap Novena berlutut dengan isakan keluar. Seketika keadaan naik mencekam dengan beberapa orang yang terlihat naik pitam.
"Kau itu Dokter Profesional tapi melakukan hal seceroboh ini!!"
"Yahh! Kau membuat aset wanita hancur, sangat menjijikan perawatan disini."
Maki mereka pada Kellen yang tak bisa membela diri lagi. Para pengunjung yang tadi tengah melakukan Perawatan akhirnya keluar dan ada yang menendang pintu membuat mereka terperanjat.
"Cih!! Kalau mencari penghasilan itu dengan cara yang normal dan tak merugikan, aku akan melaporkanmu ke pihak berwenang."
"Ny..Nyonya!" lirih Agatha tapi wanita itu sudah pergi setelah menciptakan kerusuhan dan pukulan besar bagi Kellen.
Melihat semuanya kacau. Novena langsung mendekati Kellen yang tampak diam melihat semuanya sudah di hancurkan dalam sekejap.
"D..Dokter! Dokter maafkan aku.. Maaaf!"
Kellen memejamkan matanya dengan helaan nafas halus lalu kembali menatap Novena yang masih berlutut.
"Sudahlah, jangan seperti ini." gumam Kellen menarik bahu Novena agar berdiri lagi.
"D..Dokter, hiks! Maaf.. Aku..aku hanya berfikir jika melakukan itu maka aku akan lama bekerja disini. aku.."
"Jangan melakukan hal seperti itu lagi, walau kau bekerja hanya sebagai karyawan baru tapi, bukan berarti kau tak punya peluang untuk mau melebihi yang lama. Semuanya butuh proses dan jangan kau melakukan hal seperti ini lagi."
"Dokter." gumamnya bergetar. Kellen menatap semua Staffnya yang terlihat murung dan sangat takut.
"Tak apa, semuanya akan baik-baik saja. Kalian boleh pulang lebih awal hari ini."
"Tapi.."
"Sudahlah, ini bukan masalah besar. Hm?"
Kellen memberikan ketenagan pada mereka semua pekerjanya. Ia meyakinkan jika masalah ini akan selesai padahal dirinya sendiri tak tahu harus apa.
"Pulanglah. Aku akan mengurusnya."
"Terimakasih. Dokter!"
"Hm."
Kellen kembali menaiki tangganya untuk kembali kr atas. Seketika wajahnya yang tadi tampak santai berubah menyimpan beban.
Agatha tahu atasannya pasti memikirkan ini sendiri. Ia menatap tajam Novena yang masih bergetar.
"Pulanglah. Aku juga salah karna mempercayaimu." ucap Agatha lalu menyusul Kellen yang pastinya tengah pusing.
Ia takut jika nanti masalah ini sampai ke Hukum negara dan mereka tak bisa membela diri itu sangat berbahaya.
...
Vote and Like Sayangku