My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Akan membuka diri!



Deru tembakan ke dalam air itu tak lagi bisa di elakan. Castor tengah mengejar 3 pria berpakaian renang di dalam air dengan Speedboat pantai sedangkan Axton.


Ia menyelam di bawah lautan ini mengejar tubuh Kellen yang sudah tenggelam karna tak kuat menahan desakan air.


Anak lelaki kecil itu masih ia peluk dengan kaki di lilit tali. Wajah Axton benar-benar berubah kelap segera menangkap Kellen masuk kedalam pelukan kokohnya lalu ia berenang untuk naik kepermukaan.


Saat sudah muncul diatas sana. Axton membawa mereka ketepi pasir pantai dengan dada terasa di pukul kuat membuatnya sulit bernafas.


"Kell!! Kellen!" panggil Axton menepuk pipi Kellen yang tampak tak sadarkan diri diatas pasir ini.


Axton benar-benar cemas dan memaki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia nengalihkan pandangan pada Kellen yang tengah berjarak dengannya.


"Kellen!! Kellen kau..kau bangun. Bangun!!"


"Tuan!!"


Vacto datang dengan rombongan anggota Darkness yang segera berpencar sesuai titik yang tadi di mereka tentukan. Nicky juga berlari kesini dengan wajah terlihat sangat terkejut.


"Axton! Apa yang terjadi?"


"Bantu anak ini!!" titah Axton yang tengah menekan dada Kellen agar segera bangun. Ia melakukan pertolongan pertama yang di ikuti dengan Nicky pada anak kecil itu.


"Kell!!!"


"Shitt." umpat Nicky kala anak lelaki tanpa atasan ini tak juga sadar dengan kondisi tubuh sangat dingin dan pucat.


Sementara Axton. Ia tengah kelut terus mencoba membangunkan Kellen dengan menekan berulang kali bagian dada Kellen lalu dengan cepat memberi nafas buatan yang tak segan ia lakukan.


"Bangun." gumam Axton melakukannya berulang. Nicky paham bagaimana sekarang perasaan Axton.


"Ax! Aku akan membawa anak ini ke rumah sakit. Kau bisa menangani Kellen?"


"Kau tak lihat. Ha??? DIA TAK SADAR!!!" geram Axton terlihat sangat tak tenang. Ia merasa sulit bernafas merasakan kulit Kellen dingin dan juga terdapat luka di lengan dan kakinya.


Nicky hanya bisa diam melihat pergelangan kaki Kellen di ikat dan ada luka yang berdarah di sana.


"Ada yang mencoba membunuhnya?"


Batin Nicky menatap wajah pucat Kellen yang tampak mulai merespon apa yang Axton lakukan. Walau keadaan keduanya basah, tetapi tak menyulitkan Axton untuk melakukan pertolongan yang pasti.


Ia memberi nafas buatan seraya terus menekan dada Kellen. Alhasil wanita itu mulai merespon.


"Uhuuukk!!"


"Kell!" gumam Axton segera mendudukan Kellen yang terbatuk keras menyemburkan air yang ia masuk ke dalam hidungnya tadi.


Ia muntah sejadi-jadinya dengan tubuh lemah dan sangat susah bernafas. Mata amber Kellen terbuka lemah bersandar ke dada bidang Axton yang mengusap punggungnya.


"Muntahkan saja, jika kau merasa lebih baik."


"A.. Aku.. "


Kellen kembali terbatuk berpeggangan ke lengan kekar Axton. Matanya berair dan wajah benar-benar pucat.


"A.. Axx!"


Tanpa banyak bicara. Axton mengangkat tubuh Kellen ringan lalu membawa wanita itu keluar area pantai. Begitu juga Nicky yang membawa anak kecil ini mengikuti Axton yang buru-buru.


"A.. Ax."


"Kau jangan banyak bicara."


"A.. Anak i..itu.."


Gumam Kellen melihat kebelakang. Ia mencemaskan anak kecil itu karna tadi ia merasakan jika keadaanya tak baik-baik saja.


Vacto yang melihat Axton ke arah mobil. Ia pun dengan cepat berlari mendahului agar bisa mengemudi.


"Tuan!"


"Ke Rumah Sakit!!"


"Baik."


Vacto membiarkan Axton masuk ke dalam mobil dan barulah ia masuk menduduki kursi kemudi.


Kellen di peluk erat oleh Axton yang meraih tisu di dekat kursi lalu mengelap wajah Kellen yang basah.


"A..Ax."


"Diam! Kau jangan bicara lagi." geram Axton belum bisa tenang. Sorot matanya sangat mengintimidasi Kellen yang merasa hanya susah bernafas.


"A..Ax! Aku..aku baik..baik s..saja dan.."


"DIAM!!"


Kellen tersentak dengan bentakan Axton barusan. Ia merasa dadanya sesak tapi tak sebanding dengan rasa marah,cemas dan panik Axton yang tengah bercampur aduk.


"A..Ax."


"D..I..AM!" tekan Axton lagi beralih melihat kaki Kellen. Seketika darahnya mendidih melihat tali yang mengikat pergelangan kaki Kellen.


Vacto bisa merasakan jika Tuannya tengah berusaha agar tak mencari keluar 3 orang sialan itu.


"Brengsek." umpat Axton beralih melepaskan ikatan itu dengan hati-hati. Ia tak sengaja menyentuh luka di bagian itu membuat Kellen meringis.


"Sss Ax!"


"Mereka memukulmu?" tanya Axton dengan intonasi tak bersahabat. Ia tadi ingin menghadang mereka tapi jika ia pergi maka Kellen akan tenggelam lebih dalam.


"Aku.."


Kellen tak bisa bicara lagi. Rasanya ia mulai sesak membuat Axton segera kembali duduk menyangga tubuhnya.


"Aku.. Aku ingin p..pulang ke.."


Wajah Axton seketika mendingin mendengar ucapan Kellen yang segera menggeleng karna tahu maksud Axton bagaimana.


"B..bukan.. I..itu.. Aku.. Aku b..bisa di M..Markas saja.. A..Ax!"


"Tidak."


"A..Ax! Please." pinta Kellen merasa ia tak begitu parah. Hanya dadanya yang sesak itupun masih bisa ia atasi dengan bernafas perlahan.


Tetapi, Axton tak akan tenang sebelum Kellen benar-benar di tangani oleh Dokter. Ia tak akan bernafas lega jika melihat wanita ini seperti sudah menghirup udara.


"Tidak."


"A.. Ax!"


"Sudah cukup." tegas Axton menatap tajam Kellen yang masih seakan tak membutuhkannya.


"Terserah kau mau menganggap aku apa, tapi. Aku tak akan membiarkan kau menahan itu terus."


"T..tapi aku.."


Axton diam pertanda ia tak bisa di bantah. Alhasil Kellen tak juga mampu menolak perintah Axton yang segera melepas belitan jaketnya tadi ke pinggang Kellen karna sudah basah dan berat.


"Masih sesak?"


"Ehm." Kellen mengangguk masih mencoba untuk bernafas normal.


Axton mencari cara agar memudahkan Kellen mengambil nafas stabil di tengah situasi buta ini.


"Tuan! Ini Kotak obatnya."


"Kau percepat mobil ini!!" titah Axton mengambil Kotak obat yang di sodorkan Vacto.


Dengan gesit Axton menurunkan kursi mobil agak kebelakang memudahkan Kellen untuk setengah berbaring. Ia juga menaikan kaki jenjang wanita ini diatas tempat tumpuan kursi yang ia buat senyaman mungkin.


"Turunkan kaca spionmu!"


"Baik."


Vacto hanya menurut melakukan apapun yang Axton minta. Ia tak mau menyulut amarah Axton dalam keadaan seperti ini.


Benar saja. Axton tengah berusaha untuk membantu Kellen tetap bisa bernafas normal dan tak kedinginan.


Ia menaikan tingkat kehangatan mobil lalu mencari selimut disini.


Tentu semua itu tak luput dari pandangan Kellen yang merasa sangat di perhatikan. Hatinya tiba-tiba terasa hangat melihat guratan cemas dan khawatir Axton yang tengah mengelap kakinya dengan tisu agar kering san mengobati luka itu.


"Apa sakit?"


"Tidak." jawab Kellen dengan helaan berat. Reaksi Axton yang demikian membuat Kellen merasa mulai berfikir untuk serius.


Ia selalu ingat kata-kata Castor dulu yang bilang jika Axton itu bukanlah pria yang pandai mengurus wanita, tetapi. Yang ia lihat berbeda.


"Ntahlah. aku sudah berusaha menjauh darinya tetapi, semakin kuat aku mencoba maka dia akan semakin membuatku jatuh."


Batin Kellen mengamati Axton yang tengah meniup luka-luka di kulitnya. Ia bahkan tak perduli akan pandangan Vacto yang sangat tak terbiasa melihat Axton memperlakukan Kellen seperti itu. Sangat jauh dari masa lalu kelamnya.


"Sakit? Kenapa kau diam? Apa masih sakit?"


"Hm?" Kellen masih belum begitu punya tenaga membuat Axton ingin melakukan sesuatu yang lebih berguna.


"Kau merasakan sakit di bagian mana saja?"


"Apa aku salah jatuh cinta padanya? Aku mulai merasa yakin denganmu. Ax!"


Batin Kellen damai. Ia tersenyum kala Axton marah karna ia tak kunjung menjawab.


"Kellen!!"


"Hm?".


" Kau..."


Kalimat Axton terhenti kala tatapan Kellen sangatlah dalam padanya. Tiba-tiba saja Axton merasa aneh dengan perubahan respon Kellen yang tak biasanya.


"Aku tak akan memaafkan kalian jika sampai terjadi sesuatu pada mental Istriku."


Batin Axton berfikiran lain. Padahal, Kellen hanya merasa mulai ingin membuka diri pada Axton yang kerap kali melindunginya.


.....


Sementara Castor. Ia kehilangan jejak 3 pria itu tepat di tengah-tengah lautan luas ini. Ia sangat mengumpat hebat karna tak bisa menemukan mereka disini.


Castor sempat melepaskan tembakan berulang kali mengenai ketiganya tapi tiba-tiba saja mereka hilang.


"Siall!! Mereka sangat bisa menyelam di dalam air. Dan aku yakin ini suruhan musuh." gumam Castor melihat di sekelilingnya dengan Speedboat tengah menyala berkeliling.


"Kami akan mencari mereka. Tuan! Kami akan menemukannya." para pasukan datang ikut menyelam kedalam sana.


Castor lega karna kemungkinan besar menemukan 3 anggita musuh itu bisa terjadi.


"Bawa mereka hidup atau mati. Aku akan pastikan mereka akan kehilangan hal berharga di dunia ini." perintah Castor lalu beranjak pergi menepi.


Ia harus berbicara dengan Axton tentang apa yang tengah Kellen alami sekarang.


....


Vote and Like Sayang..