
Tanpa bantuan Team medis dan Dokter yang ahli dalam bidangnya, Kellen sudah mampu membuat semua orang kagum akan kecerdasan dan kemampuannya dalam mengeluarkan peluru di bahu Martinez dan sampai menghentikan pendarahan yang terjadi.
Untung saja peluru itu tak menembus bagian Vital Martinez dan sekarang, tepat jam 8 malam Martinez baru sadar dari pingsannya pagi tadi.
"Kau..kau baik-baik saja?" tanya Miss Barbie yang setia di samping Martinez. Pria dengan wajah oriental itu tampak menyeringit kala cahaya lampu di ruang tamu Rumah Kellen cukup menyengat netranya. Sofa panjang ini terssa begitu hangat.
"Aku.."
"Jangan terlalu banyak bergerak. Lukamu baru saja di jahit!"
"Apaa???" pekik Martinez hebat dengan wajah kembali syok. Ia mulai gelisah dan tampak tak tenang.
"A..aku..aku pasti s..sudah mati. Aku.."
"Hanya bahumu dan.."
"Bahu.. Ini.. Ini pasti menembus jantungku. Aku..aku akan mati. Aku mati!!!" teriak Martinez begitu mengumpulkan orang ke ruang tamu termasuk Kellen yang tampak baru selesai mandi.
"Kau sudah bangun?"
"Kau.. Mana suami gilamu itu? Mana dia!!"
Plaaakk..
Martinez terdiam dengan wajah tertolak keras ke samping kala ada tangan lembut lentik seseorang yang sudah menamparnya.
Mereka yang melihat itu terkejut apalagi Kellen yang tak pernah melihat ini sebelumnya. Bahkan, tatapan menajam itu baru kali ini terlempar keluar.
"K..kau.."
"Kau ingin mati?" suara Miss Barbie bergetar dengan mata berair. Dengan keadaan seperti ini saja ia sudah sangat khawatir tapi Martinez seakan begitu bodoh.
"BERAPA KALI LAGI KAU AKAN BERSIKAP CEROBOH BEGINI??? INI BARU BAHU-MU DAN BESOK JANTUNGMU YANG AKAN TERKOYAK KELUAAR!!!" bentak Miss Barbie menyala-nyala dengan emosi yang memuncak.
Martinez diam merasa sangat syok dan agak ngeri melihat wanita yang biasa begitu lembut dan perhatian ini tiba-tiba menelan nyawanya.
"S..Salahkan dia! Dia yang.."
"Kalau bukan karna kekanakanmu. Kau tak akan begini." desis Miss Barbie dengan air mata yang sudah keluar.
Ia berdiri mengusap pipinya yang basah lalu menyambar tasnya di sofa. Ia menghampiri Kellen yang masih belum membuka suara.
"Terimakasih! Aku pulang."
"A.. Iya." jawab Kellen canggung memilih untuk mengantar Miss Barbie ke pintu keluar. ia tak mau membuat suasana memanas apalagi kemarahan orang pendiam seperti wanita ini akan cukup mengguncang.
"Miss! Kau pulang sendirian?"
"Asistenku ada. Dan.."
Miss Barbie menghela nafas halus. Ia terlalu emosi akan sikap Martinez sampai lupa ingin mengatakan ini.
"Kell! Aku minta maaf karna saat kau ada masalah aku tak bisa membantumu."
"A.. Tak apa. Lagi pula masalahnya sudah selesai dan semuanya baik-baik saja." jawab Kellen memberikan senyuman.
Miss Barbie menghela nafas lega segera memeluk Kellen yang juga membalasnya. Kellen tahu bagaimana perasaan Miss Barbie yang selalu di sakiti Martinez tetapi wanita ini sangat tegar.
"Aku titip dia."
"Memangnya kau sudah menyerah?" tanya Kellen dengan kekehan geli tapi Miss Barbie hanya menjawab dengan wajah yang terlihat murung tapi ia masih tersenyum.
"Tidak. Tapi, ada sedikit masalah."
Kellen diam merasa ini agak aneh. Tatapan dan exspresi Miss Barbie sepertinya tengah menahan sesuatu.
"Ada apa?"
"Bisa kau membantuku?" tanya Miss Barbie menggenggam kedua tangan Kellen yang mengangguk tak segan.
"Akan ku bantu jika aku bisa."
"Aku mohon jaga Martin! Dia ..dia pria yang baik, jangan biarkan dia memancing amarah Axton dan dia bisa mati sia-sia. Kell!" pinta Miss Barbie sangat mengkhawatirkan keadaan Martinez yang sebaliknya pada dirinya.
"Miss Barbie! Masalah itu akan ku usahakan. Tapi.."
"Terimakasih. Aku..aku hanya percaya padamu." gumam Miss Barbie sekali lagi memeluk Kellen.
"Memangnya ada apa?"
"Hanya sedikit masalah. Tapi, aku sudah tahu cara menanganinya." jawab Miss Barbie mengurai pelukan.
Tetapi, Miss Barbie ingat jika tadi Axton tampak begitu Overprotektif pada Kellen sampai menaiki tangga-pun harus di gendong. Memang biasanya selalu berlebihan tapi kali ini terlihat berbeda.
"Kau kembali formal lagi." gumam Kellen menyukai panggilan Miss Barbie yang saat bicara tadi. Itu lebih terasa dekat.
"Tapi.."
"Kellen! Itu sudah sangat bagus. Miss!"
"Tapi, jangan panggil aku Miss lagi." gumam Miss Barbie merasa mereka terlalu kaku tapi itu adalah bentuk penghormatan masing-masing.
"Baiklah. Barbie!"
"Terdengar lebih baik." jawab Miss Barbie tersenyum. Kellen merasa mempunyai seorang saudara dan ia tak mau merahasiakan ini dari saudaranya sendiri.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Ini!" Kellen meletakan tangan Miss Barbie ke perutnya dan tentu Miss Barbie terdiam sejenak namun, sedetik kemudian ia paham jika Kellen tengah apa.
"K..kau h..hamil?"
"Iya. Baru 2 minggu lebih." jawab Kellen membuat Miss Barbie syok tapi tak menyembunyikan wajah bahagianya.
"K..kau.. Kau serius? Kau hamil?"
"Hm. Iya."
"Kelleen!!" geraman Miss Barbie gemas kembali berhambur memeluk Kellen yang juga tak menyangka jika respon Miss Barbie akan sesenang ini.
"Aku..aku akan menjadi Aunty!! Aku..aku akan mempunyai ponakan. Kell!!"
"Do'akan saja semoga dia selamat."
Miss Barbie mengangguk terlihat begitu bahagia. Wajah mendungnya tadi telah hilang di gantikan dengan pelangi di malam hari.
"Kalau begitu aku akan mencari peralatan bayi dan.."
"No! Itu terlalu cepat." jawab Kellen merasa terlalu berlebihan. Percakapan keduanya terjeda kala ada suara klakson Mobil di depan dan itu Mobil jemputan Miss Barbie.
"Kau tunggu saja! Aku akan mengurusnya."
"Kau.."
"Sampai jumpaa!!!" suara Miss Barbie di telan angin yang mendorong wanita itu untuk pergi ke luar.
Kellen hanya bisa memandanginya sesekali melambaikan tangan hingga Mobil itu sudah melaju stabil meninggalkan area Rumah.
"Kenapa dia seperti tak akan bertemu denganku lagi?!" gumam Kellen merasa terusik dengan sikap aneh Miss Barbie.
Namun. Sedetik kemudian Kellen di kejutkan akan belitan tangan kekar seseorang ke perutnya.
"Ax! Kau mengejutkan aku."
"Jangan melamun di depan pintu." ucap Axton menopang dagu ke kepala Kellen yang tingginya hanya sebatas dada bidang Axton saja. Pria itu memeluk istrinya dari belakang seraya melihat ke arah mana Kellen memandang.
"Ax!"
"Hm?"
"Menurutmu apa Martinez memang tak menyukai Miss Barbie?" tanya Kellen membelai tangan Axton yang berurat. Ia suka melihat tangan kekar besar Axton yang sangat seksi dan jantan.
Tetapi, Axton tak tertarik untuk mengurusi urusan orang lain selain mereka.
"Aku tak tahu."
"Tapi, mereka itu sebenarnya tak cocok. Martinez itu pria lamban dan ceroboh sedangkan Miss Barbie. Emmm.. Dia memang Dewi."
"Hm." gumam Axton malas menanggapi itu. Ia tampak belum melepas emosinya pada Martinez yang suatu saat pasti juga akan merasakan pembalasannya.
"Kau jangan aneh-aneh seperti tadi."
"Hm."
"Sss Aaax! Kenapa hanya. Hm?"
"Hm."
Kellen langsung melepas pelukan Axton yang menarik sudut bibirnya samar melihat wajah masam Kellen melangkah ke dapur. Sangat menyenangkan menggoda wanita itu.
.......
Vote and Like Sayang