
Pagi ini semuanya cukup berbeda. Mentari yang biasa menyaksikan sikap dingin dan aura tak bersahabat dari para manusia di Kediaman ini tiba-tiba merasa bingung kala semua orang tiba-tiba bermetamorfosa menjadi sosok malaikat yang di impikan.
Para pelayan di perbolehkan pergi ke arah depan Kediaman membersihkan beberapa dedaunan yang terbang ke halaman luas itu.
Para pekerja kebun juga tiba-tiba datang di pagi hari dengan suara canda tawa palsu yang menyakiti telinga siapa saja yang sudah tahu tabiat Keluarga Miller bagaimana?!
"Ternyata di Kediamanmu sangat ramai. Ya?"
"Yah. Mereka selalu bekerja dengan semangat." bohong Martinez yang lagi-lagi terpaksa menemani Miss Barbie untuk melihat-lihat Kebun pagi ini.
Wanita SuperModel itu menginap disini atas permintaan Nyonya Verena yang sungguh pandai bermain drama.
"Tak ku sangka Keluarga Miller itu seperti ini."
"Maksudmu?"
"Yah! kita memang kenal tapi Keluarga kita tak begitu terlalu dekat, jika Momy dan Dadyku tahu suasananya seceria ini pasti mereka sangat iri padaku." jawab Miss Barbie melempar senyuman manisnya pada Martinez yang hanya membalas dengan bibir penuh kepalsuan.
Ia merotasi malas saat Miss Barbie terus memberi pujian, pada halaman luas hijau di Kediaman yang tak ada menariknya di mata Martinez.
Namun. Miss Barbie tertarik pada bangunan kecil tak jauh dari Kediaman utama. Disana sangat rapi dan di jaga ketat.
"Kenapa di sana di beri pengawasan?"
"Apa?"
"Itu!" menunjuk ke arah yang ia tatap. Martinez hanya memandangnya malas, ia tak ingin menjelaskan karna Nyonya Verena melarang Miss Barbie tahu tentang wanita itu.
Tapi. Berbeda dengan Martinez yang sejatinya hanya memikirkan tentang keangkuhan Kellen, ia ingin sekali wanita itu terpuruk dan mengadu padanya.
"Itu tempat apa? Sepertinya sangat spesial."
"Itu tempat pelayan. Mereka sengaja di jaga karna ada yang lalai bekerja." jawab Martinez sedikit memikirkan rencana kecil.
"Ouhh. Baguslah! Kalau begitu mereka bisa belajar disiplin."
"Yah. Itu hal bagus." sambung Martinez mengiring Miss Barbie ke arah Kebun yang akan di panen nantinya.
Saat ia pergi barulah Kellen keluar dari kamarnya karna harus mengisi air di botol minumnya yang sudah kosong.
"Kau mah kemana?"
Groel mencegat Kellen yang segera berhenti. Netra embernya merotasi malas melihat pria tua ini masih saja mencurigainya.
"Kau tak lihat aku memeggang botol air kosong? Atau kau buta?"
"Jaga bicaramu. Wanita sampah." maki Groel sedari semalam memantau Kellen yang tiba-tiba sudah ada di kamarnya bersama Axton yang tertidur. Padahal ia yakin Axton dan Kellen tak ada semalam.
"Aku tak punya waktu berdebat denganmu."
"Kau pikir aku bodoh. Ha?" sela Groel berdiri angkuh di hadapan Kellen yang juga tak menunduk. Ia tak gugup atau sekedar takut karna ia tahu Groel akan semakin menjadi-jadi nantinya.
"Kau bicara apa?"
"Cih. kau pikir bisa menipuku?"
"Sialan ini memang benar-benar."
Batin Kellen muak sekaligus jijik melihatnya. Jika Martinez bisa di kibuli tapi Nyonya Verena percaya akan ucapan Groel yang terus mendesaknya.
"Kemana kau membawanya?"
"Bukankah aku sudah mengatakan TIDAK?!" tekan Kellen tak kalah keras.
Groel mengepalkan tangannya kuat. Semakin kesini Kellen begitu berani menunjukan keberhasilannya menundukan Axton.
"Kau lihat saja. Saat Nyonya Verena sudah memerintahkan menghabisi kalian. Maka tak akan pernah ada Ampunan."
"Aku juga tak berminat."
Jawab Kellen menaikan bahunya acuh lalu melangkah cepat ke arah Dapur Kediaman utama. Ia harus cepat karna ia meninggalkan Axton yang masih tidur, jika bangun pria itu bisa menghabisi apapun karna tak melihatnya.
Kellen pergi ke kepala Maid Yagatri yang terlihat sibuk mengontrol para pelayan yang juga berkeringat dingin.
"Apa kalian begitu sibuk?"
"Non!"
Mereka tersadar saat Kellen sudah berdiri di dekat Meja Pantry menatap dengan alis berkerut.
"Non! Kami harus cepat karna nanti Nyonya akan turun."
"Rencana apa lagi yang mau dia buat?!" gumam Kellen jengah segera mengisi air di botolnya.
Kepala Pelayan Yagatri agak terhenyak melihat bekas gigitan di leher dan dagu Kellen. Apa itu bekas ciuman atau memar pukulan?
"Nona! Apa anda baik-baik saja?"
"Tentu. Memangnya kenapa?" tanya Kellen menyudahi kegiatannya. Ia mengambil satu buah Apel yang masih segar lalu mendekati Kepala Pelayan Yagatri.
"Apa anda benar baik-baik saja? Kami mencemaskan anda."
"Memangnya kenapa?"
Yagatri agak segan mengatakan ini tapi ia juga cemas jika Kellen benar-benar di siksa sosok mengerikan itu.
Kellen terdiam. Ia meraba memar di dagunya dan ini bukan pukulan melainkan bekas gigitan Axton yang semalam tak melepasnya.
"Ini hanya terbentur ke meja. Tak masalah."
"Anda yakin?"
Kellen mengangguk memberi senyuman. Ia ingin melangkah maju ke depan tapi seketika ia terhenti kala melihat Nyonya Verena sudah ada di pintu itu.
Wanita dengan pandangan benar-benar menukik dan penuh ancaman.
"Berani kau masuk kesini!"
"Nyonya! Lama tak bertemu."
Jawab Kellen tetap melangkah maju melewati beberapa pelayan yang menunduk tak berani.
Nyonya Verena bersilang dada angkuh dengan dongakan kepala sombongnya..
"Kau jangan terlalu senang dulu. Rendahan!"
"Kenapa? Apa yang salah jika aku senang?"
Tanya Kellen ingin memancing Nyonya Verena agar gegabah. Wanita ini pasti punya rencana besar terhadap keluarga Miss Barbie.
"Kau akan menangis."
"Aku selalu menangis melihat orang sepertimu hidup di atas dunia ini."
"Kauuu!!!"
Nyonya Verena mengangkat tangannya ingin menampar Kellen yang hanya diam tapi tangan wanita itu tertahan dari belakang.
Para pelayan sana memucat pasih kala melihat siapa yang datang dengan penampilan kusut tapi penuh pesona itu.
"K..kau..."
Tak ada kata yang keluar selain cengkramannya yang kuat membuat Nyonya Verena meringis sakit.
Ia menoleh kebelakang dengan mata terpaku dengan sosok ini. Kehadiran Axton tak bisa di tebak seperti biasanya, tak ada keributan yang pria ini timbulkan tak seperti biasanya.
"A..Ax! Sayang lepaskan tangan Momy, Nak!" pinta Nyonya Verena lembut pada Axton yang baru bangun tidur dan langsung mencari Kellen yang memang ada disini.
"Jangan sentuh dia."
"Ax! Kau sudah bisa bicara lancar. Sayang?" tanya Nyonya Verena terhenyak tapi masih bersembunyi di balik Topengnya.
Wajah Axton hanya dingin membeku. Ia tak memperdulikan ucapan Nyonya Verena dan beralih melepas kasar tangan wanita itu dari genggamannya.
"Ax! Momy sangat senang, sayang! Kau sudah mengenal Momy, bukan?" imbuhnya lagi penuh Drama.
Dari sini Kellen bisa melihat Miss Barbie yang datang kesini. Nyatanya Nyonya Verena benar-benar peka.
"Ax! Momy senang kau kesini. Nak!"
"Kell!"
Axton memilih mendekap Kellen yang melempar seringaian pada Nyonya Verena yang kelap. Ia maju satu langkah untuk menyelamatkan nyawanya dan Axton.
"Baru bangun. Hm?"
"Iya."
Kellen mengusap kepala Axton lembut memanas-manasi Nyonya Verena yang tak menyangka akan secepat ini. Benar-benar tak bisa di biarkan.
"Ax! Ini Momy, Nak!"
"Apa benar kau Momynya?" tanya Kellen masih dengan intonasi santai seraya membiarkan Axton sejenak melepas rasa ngantuk di bahunya.
"Maksudmu apa? Dia putraku dan aku.."
"Dokter Kellen???"
Suara Miss Barbie syok melihat Kellen yang ada disini. Apalagi wanita itu tengah di peluk hangat dan posesif oleh seorang pria tak di kenal.
"Miss Barbie! Kau disini?"
"K..kau.. Ini..ini kau Dokter?"
Masih tak percaya membekap mulutnya sendiri. pasalnya Kellen yang ia kenal tak seperti ini, wanita itu sangat jijik dan Alergi jika membicarakan soal pria. Tapi sekarang..
"Ada apa ini? Kenapa kau disini?"
"Aku..."
"Dia wanita yang hari itu aku bilang menggodaku!"
Degg..
Mata Kellen melebar akan ucapan Martinez yang menyeringai padanya.
.....
Vote and Like Sayang..