
Masih di posisi yang sama. Ntah apa yang terjadi para anggota yang tadi memeriksa mereka di depan Gerbang tampak tak berkutik dengan senapan yang berjatuhan.
Mereka mengerumuni mobil dengan wajah pucat pasih seakan baru saja melihat hantu yang sangat menyeramkan diatas dunia ini.
Tentu Kellen sangat bingung. Ia menatap Axton yang sudah pindah posisi tepat di dekat lampu depan Mobil.
"Kenapa mereka?" bisik Kellen pada Castor yang hanya diam seakan tak tahu.
Martinez juga sama. Tadi semua pria disini bak singa menggeledahnya sesuka hati, dan apa yang terjadi sekarang?
"K..kalian masuklah!"
"Kau tak mau memeriksaku?" tanya Kellen sinis pada para pria yang tadi menertawakannya. Mereka hanya diam menunduk dengan tungkai gemetar yang mengherankan.
Salah satu anggota suruhan Nicky tadi segera mengambil alih aturan. Itu memang rencana mereka dari awal.
"Aku akan mengantar mereka ke dalam. Kalian tunggu disini."
"P..Pergilah!"
Jawab mereka yang lega kala Axton di tarik Kellen mengikuti pria di depannya. Martinez pun sama, pergerakannya di pantau Castor yang tak mau rencana mereka gagal hanya karna pria seperempat ini.
Tiba masuk ke dalam gerbang, hal pertama yang menyambut mereka adalah sebuah labirin dari akar yang berbelit-belit dengan kayu-kayu yang di tancapkan mengelilingi Labirin itu.
"Apa-apaan ini??" syok Martinez terkejut kala penampakan tak terurus ini membuatnya jengkel.
"Aku rasa tak ada orang disini. Bentuknya saja sudah seperti sarang Monyet." imbuh Martinez membuat Castor membelo jengah.
"Ini hanya pengalihan."
"Maksudmu?" tanya Martinez tapi Castor malas menjelaskan. Ia masuk ke dalam jalan Labirin menyibak beberapa akar yang bergelantungan.
Terpaksa Martinez mengikut dari belakang berjalan sempoyongan karna tak terbiasa pergi ke hutan seperti ini.
Sementara Kellen. Tangannya di genggam Axton yang menyibak beberapa ranting dan akar yang ingin menggores kulit wanita itu.
Walau tempat ini cukup sulit di lalui olehnya. Tapi, Kellen menikmati perjalanan yang cukup memberinya pengalaman penting.
"Ini kemana tembusnya?"
"Ikuti saja aku. Disini tak boleh berlama-lama." jawab Castor mempercepat langkahnya menyalip beberapa belokan.
Martinez kelimpungan mengejar mereka yang berjalan begitu cepat padahal akar-akar ini sangat menganggu langkah.
"Heyy!! Tunggu aku!!"
"Menyusahkan." umpat Castor mendengar teriakan Martinez.
Ia hanya acuh pergi ke arah jalan yang sudah ia kenal bagaimana tipenya. Jika untuk di lewati mobil itu jalan yang ada di arah selatan. Dan jalan ini adalah jalur pintas yang memang cukup rumit.
Setelah beberapa lama. Akhirnya mereka sampai di penghujung, disana sudah ada satu Gerbang lagi dan ini cukup besar dari Gerbang benteng yang tadi.
"Ax! Ada lagi." gumam Kellen kala melihat penjaga di Gerbang itu langsung melangkah mendekati mereka.
Axton hanya diam dengan alat komunikasi masih ada di telinganya tertutupi kerah Mantel Axton yang sengaja di panjangkan.
"Dimana yang lain?" tanya mereka pada anggota suruhan Nicky tadi.
"Mereka berjaga di depan. Aku yang membawa mereka kesini."
"Tak membawa senjata-kan?"
"Mereka bersih. Sudah dua kali geledah."
Akhirnya Kellen lega kala mereka lolos di giring ke arah Gerbang besar ini. Jantung Kellen terasa bergetar kala merasakan hawa disini semakin dingin.
Bahkan, rerumputan di dekatnya tampak tertimbun salju yang licin.
"Ax! Pakai punyaku." memberikan Kupluk di kepalanya, tapi Axton menggeleng kembali memakaikan benda itu ke kepala Kellen.
"Tidak."
"Nanti kau kedinginan. Mantel-mu tak cukup tebal."
Axton tak mendengarnya membuat Kellen mendengus kembali melihat kedepan. mereka sudah mencapai Gerbang hingga mata Kellen terbelalak melihat sesuatu.
"I..ini..."
Deretan bangunan beton yang begitu kokoh menjulang tinggi dengan pagar besi dan kawat listrik di sekitarnya.
Beton ini berbentuk susunan Rubik yang berwarna coklat tua dengan Lambang tengkorak yang besar di setiap dinding dan Temboknya.
Lambang itu persis seperti Kartu yang kemaren Castor berikan pada Kellen.
"Cas! Ini.."
"Cepat masuk!!" para anggota itu memotong ucapan Kellen karna mereka sangat berhati-hati.
Alhasil Kellen menyimpan pertanyaannya dengan melanjutkan langkah itu masuk kedalam.
Disini bulu kuduknya merinding kala melihat ada pasukan Darkness yang tampak ada di setiap sudut. Setiap gerak-gerik mereka di pantau dan manekin-manekin hidup ini seakan mengacungkan senjata ke arah mereka.
Batin Kellen menguatkan genggamannya ke tangan Axton. ia tak memakai sarung tangan hingga hawa dingin itu dengan jelas menusuk kulitnya.
Tatapan mata dingin Axton memindai semua lekuk tempat luas dan besar ini. Semuanya tak berubah, masih sama dan begitu beraura mistis.
"Dia datang!!!!!"
"Dia dataang!!!"
Suara pasukan Manekin hidup itu bergerak ke arah pintu masuk Markas yang juga di jaga ketat.
Mereka dikerumuni dengan arahan laser merah dari atas gedung pertanda semua tempat telah di mata-matai.
Sungguh Kellen sangat gugup kala manusia-manusia mengerikan ini mengurung mereka. Banyak bekas luka di wajah mereka bahkan ada yang sudah tak berbentuk lagi.
"Ax!"
"Kau tenang. Kellen!" gumam Castor mendengar lirihan Kellen yang merapat ke tubuh Axton.
Dalam situasi begini. Mereka tak boleh terlihat takut karna bisa di curigai, apalagi Axton yang masih mempertahankan wajah dungunya seakan merasa aneh dengan tempat ini.
"Kau membawa senjata?" tanya salah satunya pada Castor yang menggeleng membuka sedikit Mantelnya menunjukan tak ada apapun.
Namun. Salah satu pria dengan separuh wajah tampak terkena luka bakar itu terdiam kala melihat Axton.
Tatapan matanya tak bisa di artikan tapi ada sesuatu yang terpancar dari wajah ini.
"I..Ini dimana?"
"Ax!" gumam Kellen kala Axton kebingungan memeluknya. ia tak berani melihat mereka disini menandakan Axton tak menunjukan ancaman.
Melihat perilaku Axton. Pria itu tampak kecewa kembali mempertegas wajahnya.
"Bawa dia kedalam!!"
"Baik!!"
3 diantaranya menarik Axton membuat Kellen terkejut menahan tangan pria itu.
"K..kalian mau membawanya kemana?"
"Kellen!" Castor menahan bahu Kellen.
"Kalian mau membawanya kemana?? Aku ikutt!!"
Mereka tak menggubris Kellen. Genggaman keduanya terlepas dengan Axton di boyong masuk kedalam pintu besi itu.
Kellen ingin menyusul tapi ia di tahan oleh para anggota yang tersisa membuat rasa cemas Kellen membukit.
"Biarkan aku masuuuk!! Lepass!!"
"Diam disini!!" mereka mendorong Kellen sampai ingin jatuh tapi Castor sigap menahan bahu Kellen yang memucat.
Disini semuanya menyeramkan. Ia tak bisa membiarkan Axton di peralat apalagi Johar pernah mengatakan ingin mencuci otak Axton dengan menjadikan pria itu jahat.
"Aaaaxx!!! Kau akan baik-baik sajaaa!! Jangan takuuut!!"
"DIAAMM!!!"
Satu tembakan ke atas pertanda sebuah peringatan. Castor menjauhkan Kellen dari pasukan gelap ini agar tak berbuat keributan.
"Cas! Mereka..mereka pasti akan menyakiti Axton. Pria itu sangat lugu." kelut Kellen masih berusaha melihat pintu masuk itu.
"Dia akan baik-baik saja. Kau percaya padaku."
"Tapi..."
"Kau jangan mempersulitku. Kellen." geram Castor menekan Kellen yang terdiam. Ia hanya cemas dan tak bisa tenang.
"Jangan terlalu membuat onar disini. Mereka tak akan segan menghabisimu."
"A..aku..aku tahu. Tempat ini sangat mengerikan." gumam Kellen berpeggangan ke lengan Castor kala melihat ada tulang belulang yang di jadikan hiasan di beton pagar ini. Ia tak bisa membayangkan itu tulang-tulang siapa.
Sementara Castor. Ia mengamati setiap anggota disini dan laser merah itu tak lepas dari kepala mereka.
"Jangan banyak bergerak. Kepalamu sudah di tandai."
"B..Benarkah?" gugup Kellen melihat keatas sana. Ia jantungan kala senapan-senapan laser itu mengarah pada mereka.
Tak tahan merasakan desakan bahaya ini. Kepala Kellen tiba-tiba pusing tak bisa bertahan lama.
"Kellen!!"
Castor spontan menahan Kellen yang pingsan karna sangat terkejut dengan keadaan di sekitarnya.
.........
Vote and Like Sayang..