
Tubuh kekar itu masih bertekuk di sudut sana. Ia berjongkok bersembunyi dari jangkauan cahaya yang seakan ingin menelannya.
Gelengan gusar bahkan membentak agar jangan mendekatinya. Ia terlihat gemetar dengan nafas yang memburu membuat Kellen yang juga tengah sesak nafas-pun memilih untuk diam sejenak meredakan rasa sakitnya untuk membantu Axton.
"A..Aax!" panggil Kellen bersandar ke dinding. Axton tak mendengar itu, ia masih sibuk menjauh begitu rapat ke sudut sana seraya menggeleng jangan mengusiknya.
"J..Jangan!! P..Per..gi.."
"Aax!" gumam Kellen memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Rasanya memang sangat sakit tapi ia masih kuat untuk bertahan.
"J..Jangan.. ."
"Kau..kau kenapa? Ax!"
Axton menggeleng menyembunyikan wajah pucat itu di sela tekukan kakinya. Ia terus melempar gumaman takut yang terasa menjalar di seluruh bagian tubuhnya.
Langkah Kellen terhenti tepat di tengah bayangan pintu yang disinari cahaya siang dari luar.
"Aax! Kenapa?" gumam Kellen menatap Axton yang hanya berjarak 1 meter darinya. Perlahan Axton mengangkat kepalanya kala merasakan aroma Vanilla Kellen mendekat.
"Aax! Kau.."
"Jangan!!!! Jangan!!!!" teriak Axton syok melihat Kellen berdiri di sana. Sinaran cahaya ini membuat mata Axton menyipit karna sengatan itu terasa menakutkan.
"Kelll!!!! Kelll!!!"
"A.. Apa? aku..aku masih disini. Kau.."
Axton menggeleng seakan ingin Kellen pergi dari situ. Itu hal yang paling menakutkan untuknya.
"P..Pergi!!! Pergi!!!"
"Aax. Kau.."
Belum selesai kalimat Kellen ke ujung. Kaki kokoh Axton sudah melayang mendorong betis Kellen kuat hingga tubuh wanita itu terjerumus ke samping.
"Aaax!!!" pekikan hebat Kellen terjatuh di area cukup remang. Tak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Axton mendorong keberaniannya mendekati Kellen yang kembali ia tarik kasar ke sudut tempat tadi.
"K..Kell!!"
"Shitt." umpat Kellen memeggangi betis dan pinggulnya. Sungguh tubuh itu sudah sangat rapuh menerima semua ini.
Rasa marah, kesal itu bercampur di dada Kellen yang ingin membentak Axton. Namun, saat mata embernya melihat wajah cemas dan ketakutan Axton. Akhirnya ia urungkan.
"Ada apa?" tanya Kellen beralih memeggang lengan kekar Axton yang membelit perutnya. Pria ini merapat ke dinding gelap menghindari cahaya itu.
"K..Kell.. J..Jangan.."
"Apanya? Aku tak pergi. Aku masih disini." jawab Kellen meraih bahu kokoh bergetar ini.
Axton memasrahkan dirinya dalam pelukan hangat Kellen. Wajah itu tersembunyi ke ceruk leher jenjang sang istri dengan mata terpejam.
"Tubuhnya dingin. Sebenarnya apa yang dia takutkan pada cahaya ini?"
Batin Kellen kala merasakan tubuh Axton mendingin. Tangan pria ini juga gemetar membelit pinggangnya erat.
"J..Jangan.."
"Suttt!! Tak apa, semuanya akan baik-baik saja." bisik Kellen mengusap rahang tegas mulus Axton yang semakin mengeratkan dekapannya.
Belaian lembut tangan Kellen ke kepala dan wajahnya membuat Axton merasa tenang dan nyaman. Tubuhnya yang tadi gemetar perlahan bisa stabil dengan helaan nafas mengalun normal.
"A..Air." gumamnya saat ingat Kellen tadi ingin apa.
"Hm? Apa?"
Axton perlahan membuka mata tajam kecoklatan itu. Ia menatap wajah cantik memar Kellen sendu hingga luka di bibir dan dagu itu menyita perhatiannya.
"Kell!"
"***.. Jangan..jangan di tekan." desis Kellen saat jemari Axton beralih menekan bagian dagunya.
Ringisan itu membuat Axton terdiam beralih melihat tangannya. Tatapan marah, benci itu kembali menjadi satu.
"Kell!" geram Axton spontan memukulkan tangan itu ke dinding di sampingnya.
"Aax!! Kau..kau ini apa-apaan. Ha??"
Axton tak perduli. Batinnya hanya ingin menuntut balas hingga hanya ini yang ia mau dan bisa lakukan.
"Kell!! Kelll!!!"
"Ax. Sudah!!!" bentak Kellen segera menarik tangan Axton kuat dengan pandangan menajam dan sangat emosi.
"Berapa kali lagi kau mau melukai tanganmu. Ha??".
" Kell." gumam Axton masih dengan ego yang tinggi. Darah di luka Axton tadi saja masih basah tapi pria ini begitu tak waras melakukannya lagi.
"Lihat!!! Lihat ini!!" menunjukan luka dan darah yang menetes di punggung tangan kekar Axton.
"Kau mau di amputasi? berhenti memperburuk suasana dan cobalah tenang." imbuh Kellen menekan ucapannya.
Kellen mengusap darah yang mengalir itu dengan bagian bawah Dress warna Greynya. Ia mengoyak bagian pinggiran bawah kain itu lalu membelikannya ke punggung tangan kiri dan kanan Axton yang diam memperhatikan perlakuan gesit Kellen.
"Biarkan seperti ini dulu. Aku akan ambil kotak obat sebentar."
"J..Jangan.." gumam Axton menahan perut Kellen yang terdiam sejenak. Tatapan mata ember itu agak termenung kala Axton bisa bicara walau tersendat.
"Kau mau keluar?"
"K..Kell." lirih Axton menahan pergerakan Kellen agar tak jauh darinya. Ia masih membelakangi cahaya di pintu sana.
"Kau tak mungkin disini terus. di luar itu sangat indah, kau mau melihatnya?"
Axton refleks menggeleng menatap bibir pink segar Kellen yang terdiam melihat Axton kekeh tak ingin keluar. Ia bahkan menggeser tubuh mereka ke sudut sini agar jauh dari cahaya.
"Ax! kau tunggu disini sebentar. Aku akan segera kembali."
"Kell!!" bentak Axton tak suka. Ia ingin ke lorong di seberang tapi cahaya itu tepat di tengah-tengah hingga Axton terpaksa menjepit paha Kellen dengan kakinya.
"J..Jangan." Axton menggeleng dengan tatapan menajam dan wajah tampan kembali mendingin.
"Hanya sebentar."
Axton menggeleng keras ingin menarik Kellen ke arah sudut lain tapi Kellen menahan pahanya agar tetap di tempat.
"Kalau begitu ayo keluar bersama."
"K..Kell!" terlihat kilatan ketakutan di manik elang ini, Kellen mengulur tangannya menyentuh rahang tegas Axton yang terlihat berat.
"Tak apa. Aku akan selalu menemanimu, kita sama-sama melakukannya. Hm?"
"K..Kell."
"Tak ada yang menakutkan. Kau akan melihat matahari cerah dan banyak lagi warna selain hitam, bagaimana?"
Axton diam. Wajahnya masih menunjukan penolakan tapi Kellen berusaha agar Axton mau dengan sendirinya.
"Ayo!"
"Kell!" gumam Axton memberatkan tubuhnya. Kellen tak patah semangat untuk mencoba mengalahkan ego tinggi pria ini.
"It's ok. Semuanya akan baik-baik saja."
"J..Jangan.."
"Tak apa. aku akan memperkenalkan-mu pada sinaran matahari. Kau mau?"
Axton diam menatap wajah cantik Kellen yang tersenyum hangat masih menangkup rahangnya. Ada sihir keberanian yang menyelimuti mata Axton kala manik ember ini berkedip indah.
"Mau? Aku mohon."
"M..Mau.."
"Yeaah. Good Boy." pekik Kellen spontan kegirangan. Wajah cantik Kellen terlihat cukup senang membuat Axton tertegun, ia meraba dadanya yang tiba-tiba merasa tenang.
"Kalau begitu. coba berbalik ke belakang."
Axton menurut perlahan membalikan tubuhnya tapi sengatan cahaya itu menusuk matanya hingga Axton menunduk terpejam.
"Kell!" gumam Axton memeggang lengan Kellen yang mengerti.
"Perlahan. Kita lakukan perlahan. Hm?"
Mengusap kepala Axton yang masih takut-takut bahkan ia menegangkan lehernya agar tak bergerak. ntah kesabaran dari mana, Kellen menuntun Axton untuk menaikan kepalanya dari tundukan itu.
Kellen berpindah ke hadapan Axton sejenak melindungi pria ini.
"Buka matanya pelan."
"Kell."
"It's ok. Pelan-pelan." gumam Kellen membatasi cahaya yang perlahan menyinari wajah tampan Axton bak dewa yunani itu.
Pelupuknya menyeringit dengan alis bertaut mencengkram lengan Kellen kuat membuat wanita itu menahan ringisan.
"Tak usah takut. Aku bersamamu."
"K..Kell!" mulai gelisah.
"Buka pelan. Bayangkan yang paling indah dalam hidupmu, kau akan melihatnya dengan jelas."
Gumam Kellen menunggu. Perlahan tapi pasti pelupuk netra tajam ini membuka dengan mengigil tak berani.
"Pelan. Dan jangan takut."
"K..Kell.. A..xx.." panik dan bergerak cemas.
"No.... Kau..kau bisa melihatku."
Kellen menangkup kedua pipi tirus Axton yang tampak gelisah kala cahaya itu mulai melukis wajahnya.
Namun. Saat matanya sudah terbuka sempurna, pahatan indah itu memang benar ia lihat.
"Tenanglah. Ini sangat hangat."
"H..Hangat.." gumam Axton menatap tak berkedip wajah cantik Kellen yang menghadang cahaya bersinar di belakang kepalanya. Mata ember itu sangat mempesona.
"Bagaimana? Tak sakit bukan. Kau suka?"
"Kell!"
"Ayo kesini lagi."
Kellen menarik lengan Axton untuk mendekat ke pintu. Tubuh Axton ingi bergerak ke lorong depan tapi Kellen menahannya dari belakang.
"Tak apa. Ayo!"
"K..Kell!!" Axton menggeleng karna Kellen ingin menariknya keluar.
"Tak apa. Kau peluk aku begini dan pejamkan matamu."
Axton mengikuti semuanya dengan patuh. Ia memejamkan matanya dengan kaki mengigil mencoba mengikuti langkah Kellen yang sangat bersabar saat Axton beberapa kali ingin kembali ke dalam sana.
"Kell!!!" Axton gelisah berpeggangan ke pintu.
"Tak apa. Kita.."
Axton tak cukup kuat menahan gejolak di pikirannya. Ia dengan cepat ingin masuk lagi tapi Kellen dengan cepat menahan bahu Kellen hingga tubuh keduanya oleng ke arah samping.
"Aaaxxx!!!"
Brughh...
.....
Vote and Like Sayang..