
Nicky di seret masuk ke lantai yang paling tinggi di atas sana. Menemui seorang pria yang tadi sudah menunggu dengan kemisteriusan yang belum terungkap.
Gedung tua pencakar langit ini memperlihatkan pemandangan yang cukup mengerikan dimana mata mereka akan pusing ketika menatap ke bawah.
Untung saja Nicky seorang Psikologi dan ia bisa mengendalikan dirinya agar tak jatuh ke bawah.
"Tuan!"
Mereka menunduk mendorong Nicky ke teras depan hingga Nicky berhadapan langsung dengan sesosok berjubah hitam yang tengah membelakanginya.
"Disini di jaga sangat ketat. Mereka benar-benar merencanakannya."
Batin Nicky mengamati tempat di sekitarnya. Nuansa biru dari langit yang sudah siang ini sangat cukup menerangi mereka.
"Dia tak membawa senjata apapun. Tadinya dia sempat mengirim sebuah sinyal pada anggotanya tapi kami sudah mengalihkan mereka ke tempat yang jauh."
"Kau siapa?" tanya Nicky menyambar dengan tubuh hanya bisa tergeletak tak bisa di gerakan. Sudut bibirnya yang koyak masih berdarah segar.
"Kenapa kau melakukan ini dan apa kau memang tikus kotor di selokan?"
"Jaga bicaramu!!!" amuk satu pria di belakangnya menendang punggung Nicky yang hanya menahan sakit tapi kekehan santainya belum usai.
"Aku benar. Tikus memang sangat menjijikan."
"Tapi, susah di tangkap. Bukan?" suara pria itu terdengar licik seraya berbalik menatap Nicky yang menatapnya tajam penuh selidik.
Tak ada yang bisa ia duga karna semuanya telah di tutupi.
"Apa susahnya menangkap tikus, mereka akan keluar ketika di pancing sepotong keju. Bukankah begitu?" desis Nicky menyeringai.
"Hm. sangat pintar."
Puji pria itu bersuara berat dan sepertinya sengaja di buat- buat. Sulit bagi Nicky untuk menebak suara bawah dan terlatih begini.
"Nama Masimo itu sangatlah buruk. tapi, cukup menarik."
"Masimo... Masimo.. Kau percaya itu?"
Dahi Nicky mengkerut. Pria ini seakan-akan mempermainkannya dengan nama Masimo yang masih misterius.
"Terlalu na'if mendengarnya."
"Kau Masimo?" tanya Nicky heran dan pria itu mengangguk lugas.
"Aku Masimo. Kau percaya?"
"Dia tak bisa di percaya."
Batin Nicky benar-benar frustasi. Pergerakan pria ini sangatlah susah untuk ia tebak apakah akan menyerang atau hanya berbicara.
"Aku Masimo. Percayalah, kau yakin?"
"Siapapun itu Masimo, yang jelas dia sama halnya dengan Tikus busuk pengerat." maki Nicky memberi senyum remeh.
Pria itu terdiam sesaat lalu mengangkat tangannya dengan spontan menggerakan para anggota ke arah Nicky.
"Kau mau apa??"
"Katakan dimana Laboratorium besar Keluarga Miller?"
Nicky terdiam sesat. Maksudnya apa mereka mencari Lab utama yang sampai sekarang belum ia ketahui keberadaanya.
"Aku tak tahu."
"Jika kau tak memberi tahu kami, maka. Tubuhmu lambat laun akan lumpuh permanen. Mana yang kau pilih?"
"Shitt!"
Batin Nicky mengumpat kasar. Ia juga merasakan lehernya juga mulai kebas dan tak bisa di gerakan. Sebenarnya mereka menyuntikan apa sampai terasa kaku begini.
"Kau takut?" tanya pria itu mendekat ke samping Nicky yang di todong dengan senjata api oleh semua anggota yang berdiri di atas sini.
"Aku akan melindungimu. Jika kau mau bekerjasama."
"Cuihh!!"
Nicky meludahi sepatu pria itu membuat pandangan geram dan emosi semua orang. Ia tak perduli jika ia mati atau tidak yang jelas Penghianat bukan bagian dari Klannya.
"PENGKHIANAT BUKAN DARI KLAN KAMI. Dan aku rela mati sebagai anggota terhormat dari pada pecundang sepertimu."
"Tembak kakinya!" titahan itu langsung di patuhi hingga satu tembakan mengenai kaki Nicky yang menggeram sakit karnanya.
"Sakit. Hm?"
"B.Brengseek!" maki Nicky dengan keringat sudah keluar karna respon tubuhnya yang mulai melemah.
Pria itu menggeleng dengan suara decihan tak menyangka.
"Nyatanya kau sama saja. Hm?"
"Kau tak pantas hidup diatas dunia ini."
"Kau tahu?" tanya pria berjubah itu berjongkok ke dekat Nicky yang menghirup aroma obat-obatan dari tubuh pria. Sepertinya dia tengah tak sehat.
"Jika saja kau menurut, maka. Kau tak akan bernasib sama dengan AYAHMU."
"Kauu.."
Geram Nicky ingin menggerakan tubuhnya tapi tak bisa. Ia benar-benar naik darah kala Ayahnya diungkit dalam hal menyedihkan ini.
"Dia pasti akan sangat senang melihat putra pertamanya akan segera berkumpul bersama keluarga kecilnya sekarang. Bayangkan wajah adikmu dan tangisan ibumu. Hm?"
Manik mata Nicky mengigil. Semua orang terdekat dan sangat ia sayangi sudah tiada dan ia menyaksikan itu. Sampai sekarang rasanya masih sakit.
"Aku akan MEMBUNUHMU." tekan Nicky menggigil marah.
"Lakukan. Tapi, jadilah berguna untukku lebih dulu. Hm?"
Desisnya menepuk kepala Nicky dan ada luka sayatan di lengan pria ini. Sepertinya ini luka lama yang masih belum sembuh.
"Kau tak mau mengatakannya. Bukan? Maka akan ku paksa."
"Kau mau apa?" tanya Nicky kala ada seseorang yang membawa jarum suntik ke arahnya.
Nicky sekuat tenaga memberontak karna bisa saja itu racun yang akan mematikan.
"Nikmati rasa sakit perlahan itu." desisnya kembali berdiri menatap seorang pria yang tampaknya sangat ingin membunuh Nicky.
"Kalian tak akan lepas. Mau lari kemanapun kalian akan tetap matiii!!"
"Kita lihat siapa yang pertama mati." ujar pria itu berjongkok ingin menyuntikan benda itu tetapi ada sesuatu yang jatuh dari sakunya.
"Itu apa?"
Batin Nicky tak bisa mengambilnya. Ia sangat merasa kebas hingga akhirnya jarum suntik itu mendekati kulit leher Nicky yang berusaha bergerak.
"Berpestalah!"
"Kauu.."
Tiba-tiba saja ,Satu tembakan dari arah samping sana mengenai tangan pria yang tadi ingin menyuntik Nicky. Alat injeksinya terlepas dengan tangan yang sudah di tembus timah panas itu.
Mereka terkejut menatap ke sumber tembakan dan seketika mata mereka melebar melihat siapa yang sudah berdiri tepat di pinggir Teras di bagian samping tanpa mereka sadari kedatangannya.
"B..Bagaimana bisa?"
"Tadi. Anggota lainnya mengalihkan perhatian mereka. Bukan?"
Kepanikan para anggota Pria berjubah ini membuat Nicky terbahak kala melihat Axton yang berdiri tegap dengan tatapan mata elang bengis tak lepas dari pria bertopeng ini.
"Aku sudah bilang bukan. Kalian belum mengenal siapa lawan yang sebenarnya."
"T..Tuan!" pria yang tadi tertembak seketika syok melihat ke bawah dimana anggota Axton sudah datang kesini dan terjadi baku tembak yang nyaring.
"Kau mau kemana? Nyali mu begitu besar tadi."
"Urusanku belum selesai denganmu." desis pria itu segera meloncat ke bawah Gedung membuat mereka terkejut.
Axton tak akan membiarkan yang satu ini lolos. Ia juga meloncat ke bawah bertapak gesit pada beberapa beton yang begitu tinggi.
Mata elang Axton bisa melihat jika pria ini sangat pandai bergerak mencari jalan keluar dan begitu gesit.
"Aaax!!! Hati-hati dengannya!!" teriak Nicky dari atas.
Axton terus bergerak cepat seraya melancarkan beberapa tembakan pada para anggota musuh yang ada di beberapa lantai di gedung ini.
"Terlalu lamban." gumam Axton langsung masuk ke dalam satu jendela Gedung dan menghilang di sana.
Pria bertopeng yang tengah meloncati beberapa Tangki besar Pabrik ini tampak lega kala tak melihat Axton di belakangnya.
"Tak seperti yang ku kira."
"Benarkah?"
Degg..
Ia segera berhenti di sebuah Bangkar besi penghubung antara Gedung di lantai ini dan sebuah jembatan besi pengangkut barang di selatan.
Sialnya Axton sudah lebih dulu sampai menyergapnya di depan ntah kecepatan apa yang pria ini gunakan. Ia sangat kagum.
"Kau cepat."
"Aku tahu." jawab Axton setia dengan raut wajah datarnya. Mata tajam dan pergerakan yang sulit di baca.
Berhadapan dengan Axton begini saja. Ia sudah yakin Axton bukanlah tandingannya, ia tak bisa melawan pria ini tanpa rencana apapun.
"Percuma jika kau menangkap ku sekarang."
"Lalu?"
"Kau tak akan mendapatkan apapun. Seperti Johar yang sekarat."
Axton diam tak menanggapinya. Aura yang penuh dengan intimidasi dan kekelaman ini sudah cukup membuktikan siapa dia sebenarnya.
"Belum di coba. Tak akan tahu hasilnya."
"Kau benar? Terkadang kau perlu merasakannya barulah kau paham." desis Pria itu dengan cepat melempar Axton dengan sesuatu yang mengeluarkan debu pekat hitam.
"Axtooon!!! Jangan menghirupnya!!!" teriak Nicky kala melihat itu semua.
Axton segera menjauh tapi sebelum itu ia melepas tembakan ke arah kabut yang merembes ke udara.
Mata tajam Nicky bisa melihat jika Axton sengaja melepas tembakan mengenai paha pria itu.
Sementara Castor. Ia sudah mengurus para musuh di bawa dan sekarang ia mendekati Axton yang berdiri memandangi pria yang sudah menghilang dari sini.
"Ax!"
"Hm."
"Kau tak apa-apa?"
Axton hanya diam tapi Castor lega karna Axton tak menghirup serbuk itu.
"Dia pergi. Sialnya lagi-lagi lolos."
"Ikuti jejak darahnya!" titah Axton sudah memperkirakan jika luka itu akan meneteskan darah dan kemungkinan akan sangat membantu.
"Aku sudah mengirim anggota pengintai."
"Dia tak sendiri." gumam Axton melihat banyak anggota musuh yang di bekuk. Tapi, sejatinya mereka itu adalah anggota lama yang di pengaruhi untuk memberontak.
"Maksudmu?"
"Dari cara dia bergerak dan menghindar. Sudah jelas jika dia tak begitu pandai berkelahi."
Castor hanya diam mencoba berfikir. Jadi, Masimo itu adalah sesuatu yang memanfaatkan anak-anak buahnya karna dia tak bisa pertarungan jarak dekat.
Dreet..
Ponsel Axton berdering. Kali ini Axton tampak senang terlihat menarik sudut bibirnya melihat nama siapa yang sekarang tengah berbinar di matanya.
"Hm."
"Masih saja jawab begitu??"
Suara cerewet dari seberang sana membuat Castor sudah paham. Ia memilih pergi membiarkan Axton melepas dahaganya sejenak.
"Lalu?"
"Ayolah. Kau masih belum berubah, ya?"
Axton diam menatap pemandangan luas dari tempat terbengkalai ini. Tiba-tiba saja ia merasa begitu bersemangat setelah mendengar suara lembut ini.
"Kau sudah sampai?"
"Aku masih di dalam Mobil menuju rumah. Kau tahu, baru beberapa bulan aku meninggalkan Negara ini tapi, sudah banyak yang berubah."
"Apanya?" tanya Axton siap mendengarkan cerita tak penting Kellen yang terdengar ambisius.
Ia suka mendengar irama nada menggemaskan dan terselip rasa geli kala Kellen menggambarkan situasi sekarang.
"Aku suka melihat balon-balon yang di terbangkan ke langit siang ini. Semuanya sangat-sangat indah, ada yang berbentuk hati, kepala kucing, kelinci dan baaanyak lagi. Ax!"
"Benarkah?" tanya Axton fokus mendengarkan cerita Kellen.
"Iya. Dan kau tahu? Tadi aku membeli oleh-oleh untuk Daddy. Tebak apa yang ku bawa?"
Axton berfikir sejenak. Ia tak mau asal tebak karna ini akan mempengaruhi suasana mereka.
"Pakaian?"
"Big No!"
"Emm.. Topi?"
"Tidak. Sayang!"
Degg..
Axton meneggang mendengar suara lembut Kellen mengucapkan kata itu. Kata yang mampu memporak-porandakan jiwanya dan kata yang membuat ia ingin meledak ke tiga dimensi.
"A.. M..maksudku..?"
Kellen terdengar kaku dan gugup. Axton hanya diam memejamkan matanya dengan senyuman yang sangat langka bisa terukir samar di balik wajah datarnya.
"Panggil aku lagi!"
"A.. Apanya?"
"Yang tadi." jawab Axton memandangi langit yang cerah hari ini. Secerah hati dan pikirannya yang tengah berbunga.
"S.. A..Ax aku."
"Apa tak bisa?" tanya Axton terdengar murung. Hal itu menjeda pembicaraan sampai pada helaan nafas Kellen.
"Aku menunggumu. Sayang!"
Tiba-tiba saja wajah Axton panas sampai ia menahan senyuman dan tangannya sibuk memukul-mukul kecil tepian bangkar dengan wajah begitu kesenagan.
Castor yang melihat Axton dari bawah sana hanya bisa menggeleng ikut bahagia. Tadi, Axton seperti seorang suami di tinggal mati istrinya. Dimana tempat akan terasa tak bersemangat dan sekarang lihat.. Betapa kuatnya pesona Kellen menciptakan rona langka di wajah Tuan Muda Miller itu.
"Cinta memang memabukkan." gumam Castor agak ngeri.
Vote and Like Sayang..