
Jam sudah menunjukan pukul 4 sore dan sampai sekarang Tuan Benet di buat cemas karna Kellen tidur begitu lama. Sedari pagi wanita itu tak mau makan selain sepotong roti itupun di paksakan olehnya.
Sekarang. Lagi-lagi Kellen mengurung dirinya di dalam kamar dan sama sekali tak suka suara-suara bising yang membuatnya pusing dan mual. Setiap pagi Kellen harus di bantai oleh rasa yang mengocok perutnya dan rasa malas itu terus membuatnya sulit bangun dari tempat tidur.
"Kell! Daddy panggilkan Dokter, ya?"
Kellen tak menjawab di dalam sana. Tuan Benet hanya bisa melihat dari depan pintu merasa aneh dengan tingkah ambigu Kellen.
"Kell! ayo makan! Daddy memasak Salad untukmu."
"Dad! Kellen ngantuk." gumaman Kellen yang tengah menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut. Keadaan kamar begitu gelap karna Tirai Balkon di tutup dan lampu dimatikan.
Kellen benar-benar berniat untuk tidur sepanjang hari seperti biasanya. Hal itulah yang membuat Tuan Benet khawatir.
Setelah beberapa lama menimbang-nimbang keputusan. Tiba-tiba Joy tiba di dekat tangga membawa buah-buahan segar yang ia petik langsung dari Kebun.
"Joy!"
"Apa Kellen masih belum keluar?"
Tuan Benet menggeleng murung membuat Joy segera mendekat membawa keranjang buahnya.
"Aku akan bicara dengannya."
"Dia tak mendengarkan siapapun." ujar Tuan Benet setidaknya memberikan ruang bagi Joy untuk berdiri di depan pintu kamar Kellen yang gelap.
"Kell! Aku membawa buah, kau suka buah-kan?"
Kellen tak menjawab. Hanya suara dengkuran halus yang mengartikan wanita itu tengah tidur dan tak biasanya Kellen mendengkur.
"Uncel! Mungkin saja Kellen lelah, aku lihat saat kembali kesini kemaren, dia langsung pergi ke Kliniknya."
"Mungkin saja begitu." gumam Tuan Benet menutup pintu kamar membiarkan Kellen untuk istirahat dahulu.
"Uncel pergilah istirahat. Aku akan berjaga disini."
"Joy! kau tak perlu melakukan itu, aku masih bisa disini."
Joy menggeleng memeggang bahu Tuan Benet sopan. Ia menunjukan wajah tulusnya yang memang sangat bersedia menjaga Kellen.
"Tak apa, Uncel! Aku tak ingin nanti Uncel sakit dan Kellen jadi sedih."
"Kau memang anak yang baik." gumam Uncel Benet menepuk pundak Joy jantan lalu bertolak ke arah tangga. Ia juga mulai merasa kurang sehat beberapa hari ini tapi, ia sangat senang Kellen bisa pulang kembali.
Saat kaki Tuan Benet ingin menuruni tangga. Tiba-tiba saja pintu di depan sana di dobrak kasar dengan seorang pria yang masuk bak kesetanan ke sini.
"Axtoon!!!"
Castor mengumpat berusaha menghentikan Axton yang tak lagi bisa berfikir jernih. Tuan Benet terdiam melihat orang-orang asing ini menerobos masuk ke rumahnya.
"Kalian siapa??"
Tanya Tuan Benet menghadang langkah Axton di anak tangga ini. Tubuh Axton yang tinggi dan kekar membuatnya mendongak dengan tatapan kebingungan sekaligus merasa aura Axton sangat tak biasa.
"A.. Begini. Tuan!" Castor menyela agar Axton tak sembarangan.
"Ada apa? Kalian siapa dan ..."
Tuan Benet terdiam sesaat kala ia mengamati wajah tampan mengeras Axton yang terlihat tak sabaran dan terburu-buru.
"Kauu.. Axton?"
"Hm. Dimana Is.."
"Kellen. Tuan!" sambar Castor menyela kalimat Axton yang sudah tak bisa berdiri disini terlalu lama. Tatapan tajam menerkamnya tertuju pada Joy yang tengah diam mematung melihat ke arahnya.
"Kau pria yang di ceritakan Kellen waktu itu?"
"Hm."
"Kellen benar! Dia begitu Arogan."
Batin Tuan Benet merasa berdiri di hadapan Axton terasa tengah di hadang oleh kekuasaan yang besar. Ia tak bisa terlalu lama menentang begini hingga ia mundur perlahan.
"Kau mau apa kesini?"
"Aku ingin bertemu dengan Putrimu." jawab Axton sadar jika Tuan Benet menderita gagal jantung. Ia tak mau Kellen membencinya karna ini.
"Dia sedang tak mau di temui. Kau bisa datang lain kali."
"Itu hanya berlaku untuk kalian." jawab Axton melangkah maju melewati Tuan Benet yang kurang suka dengan pembawaan Axton.
Terlalu semberono dan tak ada sopan santun. Tahu akan raut wajah Tuan Benet, Castor segera mengambil alih.
"Dia memang begitu. Tapi, sejatinya dia pria yang baik."
"Aku tak yakin." jawab Tuan Benet membuntuti Axton yang sudah berhenti di hadapan Joy.
Tatapan mata elangnya memindai pria muda ini. Wajah belia yang lumayan tetapi jiwa jantan Axton tak bisa di tepis dengan paras seperti ini.
"Dia terlihat berkuasa."
Batin Joy merasa Axton begitu mengintimidasinya. Sekuat tenaga Joy bertahan berdiri di hadapan Axton yang ingin membuka pintu.
"Tunggu!!" Joy menahan lengan Axton.
Seketika pandangan Axton menaikan satu alisnya seakan mengatakan 'Apa urusanmu?!"
"Kellen sedang istirahat. Kau jangan menganggunya?"
"Menganggu?" tanya Axton dengan suara bariton yang mengerikan. Dengan sekali tepisan, tangan lemah Joy sudah tak lagi memeggangnya.
"Dia sedang tak mau di ganggu. Apa maumu sampai.."
"Aku tak punya urusan denganmu." desis Axton mendorong betis Joy dengan kakinya dan tentu Joy terperanjat kala ia oleng menghindar dari pintu.
Dengan sekali dorongan. Axton bisa membuka pintu kamar lalu menerobos masuk kedalam.
Suasana kamar yang gelap membuat Axton semakin cemas segera menghidupkan lampu kamar.
"Matikan lampunyaaa!!!" suara pekikan Kellen membuat Axton diam melihat ranjang tak begitu besar tengah menampung sosok kepompong yang sudah memporak-porandakan hidupnya.
"Daaad! Kellen ingin tiduur. Please!!"
"Kell! Itu bukan.."
Kalimat Tuan Benet terhenti kala melihat Axton yang menarik selimut Kellen dengan cepat melemparnya ke lantai.
"Ada apa denganmu??"
Degg..
Kellen segera membuka matanya dengan spontan melebar melihat Axton yang sudah berdiri tepat di ujung ranjang.
"A..Ax kau.."
"Kau sakit?" tanya Axton mendekat tapi Kellen segera menggeleng cepat mengisyaratkan jangan mendekat.
"Jangaan!!"
"Kau.."
"Tetap disana!!" pekik Kellen beringsut merapat ke kepala ranjang. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan keringat dingin keluar membuat Axton seketika berhenti bernafas.
"Kell!"
"A..aku.. J..jangan kesini." gumam Kellen berusaha menahan mual dan perut yang melilit. Aroma Parfum Axton terasa begitu bau di hidungnya.
"Kellen! Kau jangan begini."
"A..Ax aku.."
Axton tak lagi perduli. Ia segera naik ke atas ranjang memeluk Kellen yang tak lagi bisa menahan luapan mual itu.
"Hoeeekmm!!"
"Kellen!!" suara terkejut Tuan Benet melihat Kellen muntah di dada Axton yang mematung diam melihat semua ini.
"Hoeeekmm.. A..Axm!" gumam Kellen mendorong bahu Axton agar menjauh darinya. Yang Kellen keluarkan hanyalah air dan cairan kekuningan yang membasahi tubuh Axton untuk pertama kalinya.
Melihat Kellen berusaha menghindar dengan wajah bertambah pucat dan mata memerah berair itu, Axton segera memijat tengkuknya.
"A..Axmm.."
"Keluarkan saja." ucap Axton menggulung rambut Kellen ke atas agar lebih memudahkan wanita ini mengeluarkan isi perutnya.
"T..tapi.. Tapi itu.."
"Tak apa." gumam Axton menepuk-nepuk punggung Kellen yang benar-benar tak bisa menahan luapan mual itu. saat mencium aroma tubuh Axton ia merasa ingin muntah.
"A.. Ax kau.. Kau men..menjauh.."
"Sudah selesai?" tanya Axton berdiri tapi Kellen menutup hidungnya dengan tubuh bersandar ke kepala ranjang dengan lemah. Tenaganya benar-benar terkuras akan hal ini.
"A..Ax. B..baumu.."
"Bau?" gumam Axton mencium aromanya sendiri. Tak ada yang aneh dan ini Parfum biasa yang ia pakai. Kellen-pun selalu menyukainya.
Melihat sikap aneh Kellen. Tuan Benet terdiam merasa ciri-ciri ini sama dengan yang dulu istrinya alami saat mengandung Kellen tapi, tapi itu tak mungkin. Kellen..
"Hoeeekmm.. Ax!"
"Kellen. Sayang kau.."
"Menjauhlah darinya dulu." sangga Tuan Benet masuk ke dalam kamar seraya mendekati Kellen yang benar-benar menutup hidungnya.
Tatapan mata penuh kerinduan itu tersirat di mata keduanya tapi saat mendekat saja Axton selalu memancing Mual Kellen.
"Ayo. Daddy bantu ke kamar mandi."
"Emm.. I..iya."
Kellen perlahan turun dibopong Tuan Benet yang melewati Axton. Tangan Axton ingin meraih pinggang Kellen tapi ia urungkan kala membayangkan respon Kellen tadi.
Pikiran Axton bertanya-tanya dengan hati yang gelisah. Apa yang terjadi sampai ia tak bisa mendekat sedikit saja?
Aku sangat merindukanmu. Sayang!
Batin Axton menderita seperti ini. Ia memilih segera membersihkan semua ini agar nanti Kellen bisa berbaring dengan nyaman.
"Castor!"
"Aku mengerti." jawab Castor yang tahu arti panggilan Axton.
Ia menghubungi Dokter yang ia kenal disini sedangkan Joy mematung diam merasa tak suka dengan Axton.
....
Vote and Like Sayang..