My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Menuju Pernikahan!



Sesuai ucapan Martinez. Malam ini pernikahan yang di rencanakan itu akan segera di laksanakan. Kediaman Miller terlihat sibuk karna mereka harus membawa Piaraan Miller itu ke Gereja di dekat sini.


Sangat susah untuk membawa pria itu keluar kecuali dengan paksaan obat penenang. Sedangkan Kellen, ia telah di obati seadanya untuk bertahan malam ini.


Wanita dengan Dress selutut maron dengan lengan panjang dan pita di leher itu tampak sangat cantik duduk di kursi rodanya dengan pasrah.


"Nona! Usahakan anda jangan terlalu banyak bergerak."


"Iya. Kami susah payah merias wajah anda agar lebam itu tertutupi." ucap seorang pelayan yang sengaja memoles wajah cantik Kellen agar tetap segar.


Kellen hanya diam memandangi wajahnya di cermin di hadapannya. Rambut panjang di urai menutupi luka di bagian lehernya, perban membelit kening itu terlihat sangat miris dan menyedihkan.


"Kau ini memang cantik. Sangat di sayangkan jika kau jatuh dalam lubuk hitam Keluarga Miller." gumam wanita itu merapikan untaian rambut pirang kecoklatan Kellen yang hanya membisu.


Ntah kenapa rasanya begitu berat dan kecewa menyeruk di hatinya.


Dad. Maafkan aku, aku tak bisa memenuhi keinginanmu.


Kalimat penyesalan Kellen kala dalam beberapa jam lagi ia akan resmi menikah dengan seseorang yang begitu ia hindari.


"Apa sudah siap?" Groel muncul dari pintu. Tatapan matanya terpaku pada visual lembut Kellen.


"Dia sudah siap. Hanya saja mungkin agak sulit untuk keluar."


"Aku akan membawanya!"


Groel melangkah masuk ke dalam ruang rias ini dengan mata tak beralih dari wajah cantik Kellen yang hanya diam tak bersuara.


Perlahan Groel membungkukkan tubuhnya hingga ia tepat di samping telinga Kellen yang menunjukan wajah dinginnya.


"Kau begitu cantik." bisik Groel tak sadar diri. jambang memutih itu ia tepis maknanya.


"Sebaiknya cepat bawa dia keluar. Tuan Martinez sudah mendesak turun."


"Aku yang membawanya!" ucap Gorel lalu menarik kursi roda Kellen lalu memutar tubuh ke arah pintu.


Kellen terus membisu dengan pandangan datarnya. Jemari lentik itu ia remas pertanda gugup dan takut, namun. Penguat batin Kellen hanyalah Tuan Benet yang terancam jika sampai ia tak setuju.


"Renungkan dulu nasibmu." gumam Groel mendorong Kellen masuk ke dalam Lift yang akan membawa mereka ke bawah sana.


Tak ada satu katapun yang keluar dari sela bibir merah segar Kellen. Ia hanya membisu menatap pintu Lift yang tertutup bergerak turun.


"Aku punya penawaran luar biasa untukmu. Kau mau mendengarnya?"


"Mau apa si brengsek ini?!"


Batin Kellen mengumpat. Ia tetap berusaha acuh dan sama sekali tak berminat untuk merespon.


"Jika kau berhasil membunuh Axton. Maka kau akan bebas."


"Maksudmu?" tanya Kellen mulai tertarik dengan tawaran Groel yang menyeringai, nyatanya wanita ini begitu tak ingin menikahi pria kelainan itu.


"Yah. Kau bisa memanfaatkan pernikahanmu agar bisa lepas dari hewan buas itu, jika kau membunuhnya maka Tuan Martinez akan memaafkan-mu. Bukankah itu yang kau mau?"


"Kenapa mereka begitu ingin membunuh Axton? Sebenarnya dia siapa?"


Kellen terus bertanya-tanya. Saat ia di keluarkan dari lorong tadi, Kellen merasa tak ada satupun foto Axton kecil atau dewasa di Kediaman ini, atau pria itu memang bukan anggota Keluarga Miller.


"Bagaimana? Kau setuju?"


"Kau bekerja untuk siapa?" tanya Kellen membiarkan Groel untuk berfikir. Seketika pria ini menjeda ucapan.


"Aku bekerja untuk Tuan Martinez. Jika kau ingin bergabung, tentu akan dengan senang hati."


"Aku tak mempercayai kalian."


Jawaban Kellen membuat seringaian Groel tercipta seiring dengan Lift yang terbuka. Tampaklah semua orang di sudah menunggu termasuk Nyonya Verena yang tengah duduk di sofa singel sana dengan angkuhnya.


"Kau tak bisa memilih." desis Groel mendorong kursi roda Kellen mendekat ke arah Nyonya Verena yang terlihat selalu glamor dengan Dress semata kaki dengan mantel bulu ringan di bahunya.


"Nyonya. Dia sudah siap."


"Ini wanita itu." gumam Nyonya Verena menaikan alisnya sinis menatap wajah cantik Kellen yang ia akui memang berkelas, kulit putih dan tubuh jenjang ini pantas menjadi seorang Model.


"Dia seorang Dokter Kecantikan di Amerika. Dia tak bisa melawan anda. Nyonya!"


Groel mendorong kursi roda Kellen ke arah pintu besar utama dengan beberapa pelayan segera mundur memberi jalan.


Terlihatlah Martinez yang berbicara dengan seorang pria bertubuh agak pendek dengan rambut ikal berwarna hitam di samping mobil sana.


"Tuan! Bagaimana jika nanti dia sadar dan..."


"Itu karnanya aku menyuruh kalian membuntuti dari belakang. Ini sudah malam dan mereka tak akan melihatnya." jawab Martinez tegas lalu menoleh kebelakang.


Namun. Seketika ia terpaku akan pemandangan indah sekaligus menyedihkan dari Kellen yang hanya memandang mereka dingin.


"Ouhh My Queen!"


Kellen tetap membisu. Ia hanya diam kala Groel mendorong kursi rodanya menepi ke arah teras besar Kediaman dengan remangan lampu pilar yang cukup terang Estetik.


"Kau begitu cantik. apa sangat bersemangat. Hm?"


"Cih!" umpat Kellen menepis tangan Martinez yang ingin menyentuh pipinya. Tangan sebelah kiri Kellen tengah tak bisa di gerakan hingga hanya sebelah kanan berwaspada.


"Baiklah. Sekarang aku tak ingin menganggumu tapi setelah menikah, jangan harap kau bisa lepas." desis Martinez mengundang tatapan tajam Nyonya Verena yang baru saja muncul di belakang sana mendengar semuanya.


"Martin!"


"Yes, Mom?"


"Jaga sikapmu!" tekan Nyonya Verena melangkah angkuh melewati mereka. Di sela detakan heels itu, lirikan netra ember Kellen tak lepas memperhatikan sikap sombong dan tegas Nyonya Verena.


"Cepat! Waktuku tak banyak!"


"Yes. Mom!"


Jawab Martinez memberi kecupan jauh pada Kellen lalu melangkah menuju mobil Nyonya Verena.


Sekarang, tinggalah Castro yang merupakan penjaga dari Axton mendekati Kellen.


"Aku yang akan membawanya!"


"Jaga dia dengan baik, otak wanita ini cukup misterius." ujar Groel menyerahkan kursi roda ini pada Castro si pria bertubuh proporsional dan rambut ikal dan kulit Sawo matang khas Asia.


Kellen hanya diam saat tubuhnya di gendong ringan menuju pintu Mobil mewah yang sudah di jaga 2 pengawal lain.


Semua Brigade ketat ini di laksanakan karna mungkin saja nanti Axton akan mengamuk lagi.


"Kalian jaga di belakang."


"Ranti kami bawa." jawaban itu mendapat helaan nafas Catsro yang memasukan Kellen kedalam mobil.


Netra ember Kellen terhenyak menelan sesosok pria yang tampak duduk tepat di sampingnya.


Wajah tampan dengan ketegasan rahang dan alis itu terlihat hanyut dalam obat terlarang yang di beri mereka.


"Benar-benar iblis!"


Batin Kellen melihat keadaan Axton tak baik-baik saja. ia akui Axton begitu gagah dengan stelan kemeja itu tapi, bungkusan serbuk yang tengah di endusnya menjatuhkan reputasinya.


"Dia masih sadar? Kau berhati-hatilah."


"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Kellen menatap Castro yang segera mengulur tangannya ingin mengambil bungkusan itu dari genggaman kekar Axton yang menghindar merapat ke pintu.


"Jangan mencoba mengambil ini."


"Kenapa?"


Castro hanya diam melempar pandangan misterius. Dari isyarat ini saja Kellen mengerti jika Axton sudah tenang dengan Narkoba satu ini.


Jika ia menganggunya maka detik ini juga nyawa Kellen akan melayang di tempat.


"Aku tak ingin memiliki suami seorang PECANDU." tegas Kellen menjaga jarak dengan Axton yang hanya diam sudah terkurung dalam dunianya sendiri.


Mata elang itu sayu-sayu terbuka seraya terus mengendus benda menjijikan ini.


.....


Vote and Like Sayang..