
Remangan cahaya bulan itu masuk ke sela jendela kamar yang terlihat tak begitu luas tapi nyaman di tempati.
Ruangan yang terlihat padat dengan barang-barang bekas seperti Sprei lama dan beberapa Gorden yang terbuang di gantung tepat di sebelahnya.
Sosok wanita dengan mata sendu ember itu terpaku pada kaca jendela tua yang sudah di tempeli embun dari luar. Jelas jika ia tengah melamun berat.
"Pikirkanlah, kau ingin mati di tangannya atau kau ingin di bantu olehnya."
Perkataan Castor kala itu melintas tetap di kepala Kellen yang tak kunjung bisa tenang. Ia tengah bimbang dengan keputusannya.
"Aku tak tahu." gumam Kellen meremas jemari lentiknya. Cincin perak berhias tembaga sederhana ini ia tatap nanar dan sangat sulit di jabarkan.
"Aku tak membencimu. Tapi, aku hanya tak siap berdekatan denga mu. Ax!"
Lirihan serak itu terdengar rendah dan penuh dengan kebingungan. Di suatu sisi Kellen bersimpati tapi di sisi lain, apakah ia sanggup dekat dengan pria itu? Melihatnya saja Kellen terkadang takut.
Lama Kellen melamun disini. Akhirnya ia sadar jika tadi Axton kembali di bawah ke ruangan bawah tanah. Ini sudah jam 2 tengah malam dan pria itu pasti belum makan apapun.
"Apa aku harus kesana?" gumam Kellen melirik pintu keluar. Ia masih duduk di kursi roda tapi Kellen sudah bisa berjalan walau pelan.
"Setidaknya dia tak sadar aku akan datang."
Ucap Kellen lalu berdiri pelan seraya melangkah sangat hati-hati. Kakinya terasa ngilu tapi cukup lebih baik dari yang tadi.
Hanya bagian tangan sebelah kirinya saja yang harus Kellen jaga.
Setelah beberapa lama berjalan Kellen bisa membuka pintu Gudang tua ini hingga pemandangan pertama adalah sebuah Koridor lengang dengan pijaran lampu neon redup.
"Dimana dapurnya?"
Gumam Kellen tak mengerti liukan bangunan mewah ini. Kellen kembali melangkah menurut instingnya, ia menyusuri dinding di samping sampai melewati Koridor dingin ini.
"Apa dia mengamuk lagi?"
"Tadi iya, tapi sudah di bawah ke tahanannya ."
Suara percakapan para penjaga di samping mengundang kekhawatiran Kellen pada Axton.
"Sepertinya dia tak mau tidur atau makan. Sedari tadi hanya memanggil wanita itu."
"Cih. Memang tampan tapi sayangnya penyakitan."
Umpat mereka menertawakan kelainan yang Axton punya. Kellen mengepalkan tangannya kuat, sungguh ia tak suka dengan pembicaraan sampah ini.
"Sedang apa kau disini?"
"Astaga!"
Kellen terperanjat kala melihat Castor yang berdiri di belakangnya. Ia menatap wajah biasa Castor yang menatapnya intens.
"Kenapa kau kesini?"
"Aku...aku ingin ke dapur."
"Untuk apa?"
Kellen menghela nafas dalam lalu menegakkan tubuhnya yang semula bersandar Kedinding.
"Axton pasti belum makan apapun. Dia memang susah makan, bukan?"
Castor diam. Tatapan matanya tak lekang dari wajah cantik Kellen yang cukup menunggu jawaban.
"Ikut denganku!"
"Baiklah."
Kellen memaksakan kakinya mengikuti Castor yang mengerti jika Kellen tak bisa berjalan cepat, ia memelankan langkahnya keluar Koridor menuju bangunan samping yang agak jauh menuju ruangan tahan Axton.
"Ini kemana?"
"Aku tak akan membunuhmu sekarang. Tapi tak tahu jika nanti." jawab Castor tak menghentikan langkahnya.
Sungguh Kellen rasa Castor memang menyamai tingkat kedinginan Axton yang punya sifat sendiri.
Setelah beberapa lama menembus embun malam yang dingin. Akhirnya Kellen sampai ke sebuah pintu yang kemaren di lewatinya.
"Bawa ini!"
"Apa?"
"Ini makanan Tuan, seharusnya aku yang turun. Tapi lebih baik, kau." jawab Castor menyerahkan nampan yang tadi ada di dekat meja sudut tempat ini.
Tanpa ada bantahan. Kellen menerimanya dengan baik, ia menunggu Castor yang membuka pintu baja ini hingga dalam beberapa tarikan Cestor bisa membukanya.
"Masuklah!"
"Kau.."
"Aku berjaga disini." jawab Castor mendorong Kellen perlahan masuk.
Memang gelap gulita tanpa cahaya. Keadaan ini kembali sama dikala Kellen masuk pertama kali.
"Ax!" panggil Kellen seraya melangkah turun ke bawah. Ia membawa nampan itu masuk membelah pekatnya kegelapan seraya mencari saklar lampu.
"Ax! Kau masih disana?"
Terdengar suara rantai terangkat. Kellen segera menghidupkan lampu di dekat dinding pintu hingga pijaran itu mengganggu sosok yang ada di bawahnya.
"Ehmm!!"
Axton berusaha menghindar menundukan kepalanya dengan kedua tangan kembali di rantai kuat.
Ia gelisah sampai merapat kedinding. Tentu semua itu menarik simpati Kellen untuk mendekat.
Axton tak bisa melihat jelas di cahaya terang ini tapi ia mempertajam indra penciumannya.
"K..Kel.."
Satu kata keluar dan itu pasti. Ia hafal aroma Vanilla di tubuh Kellen yang selalu menenagkan dan sangat ia cari penasaran.
"K..Kel.. Kell!"
"Hm. It's me, kau mengenalku?" tanya Kellen berdiri tepat di samping kaki Axton yang ingin mendekatkan tubuhnya tapi ia tak bisa karna rantai ini.
"Hey! Tenanglah dulu, kau..."
"Kelll!!! Kellll!!!" suara Axton menggema membuat Kellen segera mengambil sikap.
Ia perlahan meletakan nampannya di lantai. Lalu segera duduk di dekat paha Axton yang masih menarik-narik rantai di dinding agar melepasnya
"Kell!!! Kelll!!!"
"Tenanglah. Aku akan melepas itu. Hm?" ucap Kellen segera berdiri bertopang pada kedua lututnya seraya melepas belitan rantai itu dari pergelangan tangan Axton yang terlihat masih berusaha menarik.
Setelah beberapa lama akhirnya rantai itu terlepas hingga Axton langsung menubruk tubuh Kellen yang tersentak agak oleng.
"Heyy!!"
"Kell!"
Axton segera membenamkan wajah tampannya di belahan dada sekang Kellen yang kembali meneggang di tempat. Ia selalu merasa kaku dengan posisi ini.
"A..Ax! Sebaiknya kau.."
"Kell!" gumam Axton mengeratkan pelukannya. Kellen tersentak saat tangan Axton menarik bagian leher Dressnya.
"Aaaaxx!"
"K..Kell.. "
Axton ingin membuka bagian atas Kellen karna ia tak nyaman dengan Dress panjang ini. Ia suka pakaian Kellen waktu itu.
"Ada apa? Kau.."
"K..Kel!" Gumam Axton menatap tajam Kellen saat menghalanginya. tentu ada rasa takut dan remang di tubuh Kellen kala Axton ingin bersentuhan dengan kulit dadanya. Ia juga wanita normal.
"Seperti ini saja."
"Kell!!" geram Axton tak bersahabat. Alis tebalnya menukik dengan mata tajam terbenam karna tekukan dahi itu.
Kellen menelan ludahnya kasar berusaha menurunkan tangan Axton yang sudah memeggang bahunya.
"K..kau lapar. Bukan? Aku..aku tadi membawa.."
Srekkk...
"Aaaxx!!"
Jerit Kellen terkejut kala bagian leher Dresnya di koyak tangan kekar Axton yang berbinar melihat bongkahan daging kenyal itu terbungkus rapi dalam Cup bera berwarna hitam segar, sangat kontras dengan kulit putih mulus Kellen.
"K..kau..kau apa-apaan. Ha?" berusaha menutupi dadanya.
"Kell!"
"J..jangan menatapku begini. Kau..kau sebaiknya makan. Yah kita.. Kita makan."
Kellen ingin mengambil nampan di sampingnya tapi alangkah terkejutnya Kellen kala Axton dengan kasar membenamkan wajahnya ke sana dengan mengendus kuat kulit kenyal beraroma Vanilla itu.
"A..Axx!!!"
"Emm!"
"Shitt." umpat Kellen memeggang pundak kekar Axton yang di baluti kemeja putih sudah kotor karna di kurung di dalam sini.
Ntah kenapa aroma tubuh Kellen sangat di sukai Axton yang serasa sangat tenang membenamkan wajahnya disini.
"Kell."
"Hanya sebentar. Setelah itu kau makan."
"M..a..kann.."
"Yah. Setelah itu aku bisa keluar dan.."
"Kell!!!" geram Axton panas ingin mengambil rantai di sampingnya tapi Kellen menahan kepala keangkuhan ini agar tetap di dadanya.
Ia merasakan jelas jika pelukan Axton ke tubuhnya sangat erat dan begitu erat dan kuat seakan pernah kehilangan sebelumnya.
"Aku akan keluar. Kalau kau tak makan."
"M..Makan.."
Kellen mengangguk merapikan rambut Axton yang memejamkan matanya. Belaian lembut tangan lentik Kellen di atas kepalanya membuat Axton merasa sangat damai.
"Apa kau tahu sesuatu?"
Axton hanya diam tak bergeming. Ia terlihat masih larut dalam kenyamanan ini hingga enggan membuka matanya.
Jemari lentik Kellen beralih turun ke arah bahu kokoh Axton yang di tutup kemeja. Ia yakin banyak kebusukan yang telah di sembunyikan Keluarga Miller di visual kekar nan tampan ini.
"Dimana ayahmu? Saat pertama kali kesini. Aku tak pernah melihatnya."
Batin Kellen bertanya-tanya. Ia belum bisa menggali informasi pada Axton yang sulit diajak berkomunikasi. berbicara saja pria ini sulit untuk di mengerti.
"Ax! Bisa jawab aku dengan benar?"
"Hm."
"Siapa yang mengurungmu disini dan apa al.."
Kalimat Kellen terhenti kala helaan nafas tenang Axton sudah menghangatkan dadanya. Suara berat di kerongkongan Axton seperti tertahan dengan pelukan yang merenggang.
"Cih. Dia tidur." gumam Kellen lalu ingin menyandarkan tubuh berat kekar Axton yang menggeliat tak ingin di lepas.
Kellen terpaksa membaringkan tubuh keduanya dengan wajah Axton masih nyaman di belahan dada sekang Kellen yang pasrah untuk sementara waktu mengusap kepala keangkuhan ini seraya membayang rencananya kedepan seperti apa.
Kellen tak menyadari jika sedari tadi Castor melihat mereka dengan pandangan penuh harap.
"Jika dia sampai bebas dari lembah kelam itu. Dia bisa mengendalikan apapun."
.....
Vote and Like Sayang..