My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Wanita di masa lalu!"



Sosok seorang wanita yang tinggi dengan tubuh jenjang terbuka. Jaket kulit yang ia pakai senada dengan jeans hitam yang menguarkan bagaimana indahnya kaki jenjang itu.


Rambut pirang bergelombang tanpa corak lain dan wajah tegas dengan sorot mata tajam. Bibirnya tipis tersenyum penuh makna dengan Make-up yang lumayan tebal menodongkan senjata ke arah Axton yang hanya setia dengan wajah datarnya.


"Lama tak berjumpa. Sayang!"


Axton hanya diam tak membalas apapun. Ia tak begitu kenal siapa wanita ini dan tak berminat untuk mengingatnya.


"Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu. Kau terlihat sangat menggemaskan."


"Turunkan senjata mu." titah Axton dengan suara berat nan beku. Mereka tengah menjadi objek perhatian dan mau tak mau, wanita berambut Blonde ini menurutinya.


"Anda telah melanggar aturan disini. Nona!" seorang petugas keamanan mendekati wanita itu.


"Aku? Yang benar saja, aku hanya menyapa kekasihku."


"Menganggu keamanan disini dan kau terlalu berani."


Pria itu ingin menarik lengan wanita itu tali sekilat kemudian pistol yang tadi ada di pegangannya sudah menodong ke kepala pria itu.


"Kau tak berhak memerintahku!"


Geram wanita itu dengan sorot mata yang serius. Semua orang yang di giring menepi seketika saling berbisik merasa takut akan suasana ini.


"Kenapa dia?"


"Apa pria tampan itu kekasihnya?"


"Dia bilang begitu. Tapi, wajah pria itu seperti tak suka."


Axton mendengar bisikan itu. Ia tak ingin ini merusak suasana kebersamaannya dengan Kellen.


Alhasil. Axton melangkah pergi menyusul Kellen tetapi teriakan di belakangnya begitu lantang.


"Kau mau kemana?? Jangan terus menghindari ku!!"


Suaranya tanpa malu berkumandang. Castor yang baru saja sampai seketika tersentak melihat keadaan disini tampak baru saja selesai terjadi kericuhan.


"Aku datang untukmu!!! Kita sudah lama berpisaah!!"


"Itu.."


Castor mengamati wanita itu dengan sangat teliti. Dari wajahnya dan cara bicara yang sangat tak ada aturan itu begitu mirip dengan seseorang yang rasanya Familar.


"Isyana?" gumam Castor agak heran. Tetapi, ia sadar jika disini bukan waktunya untuk menebak apa wanita ini benar Isyana atau tidak.


"Anda berhentilah membuat keributan!"


"Kau memang ingin mati. Ha??"


Tanpa takut sama sekali, ia menarik pelatuknya untuk kembali melepas tembakan tetapi, anggota Axton sudah lebih dulu membekuknya kuat.


"Kaliaaan..!!!"


"Kau memang terlalu berani." geram mereka menyeret wanita itu kasar ke luar area ini. Kekuatannya di akui memang cukup kuat dan liar.


Untung saja Vacto yang baru datang segera mengikat wanita itu dengan rantai dan di giring ke dalam Mobil.


Sementara di seberang sana. Kellen mematung di tempat mendengar suara teriakan wanita yang memanggil-manggil suaminya.


Tentu Kellen kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.


"Nona! Anda baik- baik saja?"


"A.. Iya. Aku baik- baik saja." jawab Kellen diam menunggu kedatangan Axton.


Kala matanya sudah melihat sosok tampan gagah itu. Seketika senyuman Kellen mekar melangkah mendekat membentangkan tangannya.


"Siniii!!"


Tanpa sungkan sama sekali. Axton segera meraih pinggang Kellen masuk dalam pelukan aman nan hangat itu.


"Kau baik-baik saja?"


"Hm."


"Ada apa? Kenapa disana ramai sekali dan tadi ada suara tembakan dan wanita?"


Tanya Kellen mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Axton yang tak mau mengingat itu. Ia malas melihat wanita yang begitu menjijikan.


"Ntahlah."


"Yakin?" tanya Kellen menyipitkan matanya ragu.


"Mungkin itu penggemarku."


"Haiss.. Kau ini." gemas Kellen merapikan Topi bando di kepala Axton.


"Tuan!"


"Kalian pergilah."


"Baik."


Mereka segera pergi membiarkan Axton membawa Kellen masuk Lift dengan beberapa orang yang memandanginya.


"Aku pikir tadi ada yang tertembak. Ax!"


"Tidak ada. Dia sudah di tangani Polisi."


Kellen mangut-mangut mengerti menyandarkan kepalanya ke bahu Axton yang menggenggam hangat jemari lentik ini.


"Ax!"


"Hm."


"Kenapa aku jadi takut meninggalkanmu?!"


Tanya Kellen menyandarkan dagunya menatap Axton yang tampak menatap mata amber indah ini lama.


"Maksudnya?"


"Ntahlah. Tapi, aku cemas dan tak nyaman. Aku bingung harus bagaimana."


Untuk sesaat Axton diam membiarkan Kellen memeluknya. Ada rasa senang di hatinya karna wanita ini sudah menunjukan jika dirinya sangat di perhatikan.


"Kalau begitu disini saja."


"Kau tahu aku tak bisa. Ax!" gumam Kellen dengan nada lesu.


"Sudahlah. Sekarang sudah malam, kau harus makan dan istirahat."


Kellen hanya mengangguk saja. Setelah beberapa lama, Lift terbuka dan dengan tenang keduanya keluar mencari ruangannya.


"Yang mana. Ax!"


"Ini."


Axton menarik Kellen ke pintu berwarna Coklat dan dengan segera ia menempelkan kartunya disana. Saat sudah terdeteksi, barulah pintu itu terbuka.


"Woww!!"


Decah Kellen melihat kamar yang begitu mewah dan elegan. Ruangan luas dengan Ranjang King Size berwarna kemerahan di kombinasikan dengan Gorden yang sama.


Sofa-sofa di atur begitu rapi dan karpet yang menyamai pernikan lampu gantung di atas langit-langit kamar yang di buat seperti zaman-zaman roma moderen.


"Tak biasanya kamar Hotel bisa mengusung tema sejarah begini. Ax!"


"Ini khusus untukmu."


Kellen memerah mendengar jawaban Axton yang mengiringnya masuk kedalam. Pintu kamar tertutup otomatis dan membuat aroma harum Vanilla yang khas keluar.


"Ini aroma parfum ku."


"Hm."


"Aku mau lihat kamar mandi."


Kellen berlari kesana membuat Axton hanya menarik sudut bibirnya.


"Aaaax!"


"Hm?"


"Aku suka mawar-nya!!"


Pekik Kellen melihat Bathub di penuhi mawar dan lantainya juga. Lilin-lilin aromaterapi menyala di sudut ruangan ini.


Kala Kellen sibuk melihat-lihat kamar ini. Axton memanfaatkan itu untuk menelfon Castor.


"Ada apa?"


"Jangan lepaskan wanita itu."


Geram Axton tak ingin hal itu nanti akan mengancam Kellen. Lebih baik ia selesaikan dengan cepat.


"Dia sudah bawa. Tapi, aku ingin bicara denganmu. Ax!"


"Tidak sekarang."


"Aku mengerti."


Axton tak menjawabnya. Ia mematikan sambungan seraya menghela nafas halus, ponsel itu Axton letakan di atas meja dekat Sofa yang segera ia duduki.


"Shitt." gumam Axton menyandarkan punggungnya ke sofa panjang ini. Topi Bando itu ia turunkan namun ada senyum geli akan melihatnya.


"Kenapa bisa aku memakai ini?!" desis Axon meletakan benda itu di atas meja.


Ia memejamkan mata seraya memijat pelipis yang berdenyut dan sepertinya ia kembali dalam pengaruh obat itu. Sialnya sampai sekarang, Axton masih merasakan dampaknya.


"Ax!"


"Hm?"


"Kau kenapa?" tanya Kellen keluar kamar mandi. Ia tadi melihat Axton memijat kepala dan apa kembali pusing?


"Tak apa."


"Kepalamu sakit?"


"Sedikit." jawab Axton menepuk pangkuannya. Tanpa berfikir lagi Kellen duduk di sana dengan tatapan cemas pada Axton yang membuka mata elang itu.


"Ax!"


"Hm?"


"Kenapa kau tak mau di Rehabilitasi?" tanya Kellen beralih mengusap kepala Axton yang terdiam menatap dalam wajah cantik Kellen.


"Kau begitu mencemaskan ku?"


"Iya. Kau itu suamiku, tentu aku cemas jika terjadi sesuatu padamu. Apalagi, aku akan pergi ke Negaraku dan siapa yang akan mengurus mu?! Jangan menganggap semuanya santai.Ax!" gumam Kellen meluapkan kekhawatirannya.


Seketika seulas senyum pelit itu terukir di bibir Axton yang segera menarik kepala Kellen untuk bersandar ke bahunya.


"Aku senang."


Tanya Kellen mengusap dada bidang Axton yang di baluti kaos santai seperti biasa. Jaket pria ini terasa sangat hangat.


"Ntahlah. hanya senang."


"Senang yang bagaimana?"


Gumam Kellen menyusupkan tangannya ke dalam kaos Axton. Ia meraba perut berkotak atletis ini dengan sangat penasaran dan kagum. Ntah kapan Axton bisa jadi buncit, Kellen membayangkan hal menggelikan itu.


"Aku tak tahu."


"Aku juga senang. Ax!"


Axton memejamkan matanya mengusap kepala Kellen yang tengah meraba tubuhnya. Ia sangat merindukan momen ini.


"Senang yang bagaimana?"


"Aku senang karna aku pulang membawa kabar baik untuk Daddy ku. Dia pasti senang jika tahu aku sudah punya seorang pria. Dia menantikan itu, Ax!" semangat Kellen tak sabar menceritakannya.


"Memangnya kau tak pernah dekat dengan pria?"


"Tidak ada. Mereka sering datang ke Klinik ku untuk perawatan."


Mata Axton langsung terbuka segera menarik dagu Kellen mengadah menatapnya.


"Kau melayaninya?"


"Iya." jawab Kellen lugas membuat Axton mengeraskan wajahnya.


"Kauuu.."


"Ax! Wajah mereka itu lumayan tampan, aku sampai masib ingat bagaimana bentuk wajahnya, bentuk hidungnya."


Kellen menyentuh hidung Axton yang sudah berapi-api. Setiap penjabaran Kellen benar-benar membakar darahnya.


"Rahangnya, dan bibir mereka itu terlihat sangat ma.. Aaaxx!!" pekik Kellen diakhir kalimat kala jarinya di gigit Axton yang menunjukan wajah bekunya.


"Puji lagi!"


"K..kau ini suka mengigit. Ha?" desis Kellen meniup-niup telunjuknya yang merah.


Tak tahan dengan rasa panas itu. Axton segera menggendong Kellen ringan lalu melempar wanita itu ke atas ranjang.


"Aax!"


Axton hanya diam membuka jaket dan baju kaosnya yanh ia lempar ke sembarang arah.


Kellen menahan kegelian melihat raut cemburu Axton yang sangat mudah di tipu jika masalah begini.


"Kenapa kau marah?"


"Kau masih bertanya." gumam Axton geram melepas sepatunya lalu naik ke atas ranjang membuat Kellen berusaha tak tertawa.


"Memangnya kenapa? Mereka memang tampan, dan tubuhnya juga lebih bagus darimu."


"KELEEN!!" geram Axton segera menarik kaki jenjang Kellen ke arahnya. Mata Kellen terbelalak kala pakaiannya di koyak Axton yang dengan mudah melakukannya.


"Aaax!! Apa..apa yang kau lakukan??"


"Lihat, apa aku masih kurang?!" bisik Axton melepas kasar Heels Kellen lalu menyingkirkan pakaian Kellen yang sudah tak bisa di katakan baik-baik saja.


Sekarang. Wanita itu hanya memakai Bera hitam dengan corak tipis di pinggirannya tampak membengkak penuh menampung dua bongkahan daging padat nan putih mulus menggoda.


Tangan Kellen berusaha menutupi bagian ********** dan atasan tapi kedua tangannya Langsung Axton kunci ke belakang punggung.


"A..Ax!"


"Katakan padaku."


"Apaa?" tanya Kellen ingin lepas tapi Axton mengungkung tubuhnya. Alhasil Kellen tak bisa bergerak akan kekuasaan pria gagah ini.


Tatapan Axton begitu serius dan sepertinya benar-benar marah.


"Mereka benar datang padamu?"


"Iya."


"Kenapa kau.."


Axto tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia kira Kellen ucapan Kellen dulu itu benar tapi nyatanya begini.


"Aku akan mencongkel matanya."


"A..Apa??" pekik Kellen kala Axton ingi bangkit dari posisi ini dan itu sangat berbahaya. Titahannya saja sudah sangat mencekam.


"Aax!"


"Tutup Klinikmu!"


"Hey. Dengarkan aku dulu."


Ucap Kellen menahan pinggang Axton dengan belitan kedua kaki jenjangnya. Alhasil Axton tak bisa bangkit dan hanya menunjukan wajah dinginnya.


"Jangan aneh-aneh."


"Kau yang bohong padaku!!" ujar Axton emosi. melihat wajah ini Kellen merasa tak tahan hingga dengan cepat menghujami wajah Axton dengan kecupan ringannya.


Tentu Axton tersentak mendapatkan ciuman bertubi mendadak ini. Ia menatap Kellen yang tersenyum geli.


"Kau..."


"Kau terlalu sensitif. Padahal aku hanya mengarang cerita. Tuan Axton Dezee Miller!"


"Ouuh Shhitt... Kau.."


Axton mengumpat kasar mendengar kekehan Kellen yang terlihat puas mempermainkannya.


"Kau terlalu serius. Itu makanya jangan seperti robot hidup, kaku dan arogan."


"Kau puas?" desis Axton menekan keningnya ke kening mulus Kellen yang cekikikan sendiri.


"SANGAT. Tuan!"


"Cih."


Decih Axton merasa jengkel sekaligus lega. Ia mengecup kening Kellen lalu berangsur ke hidung dan terhenti di dekat bibir.


"Kita lakukan lagi."


"Hm. Kali ini siapa yang akan tumbang duluan. Bagaimana?"


Seakan mendapat berlian segunung, Axton menganggukinya dengan semangat menyambar bibir Kellen yang tak segan membalasnya tak kalah panas dan erotis.


Lidah keduanya saling bertaut menyusuri rongga mulut dengan sangat panas. Decapan dan suara hisapan lembut itu membuat suhu kamar naik dan sangat bergairah.


"Ehmm.. Ax!" erangan Kellen meremas rambut Axton yang beralih mengecup leher dan daun telinganya.


"Ss.. Kau terlalu mendalami buku itu."


"Tidak juga." bisik Axton menjilati leher Kellen yang menggelinjang hebat hanya bisa menggeliat erotis.


Ia memejamkan matanya menikmati semua ini dengan deru nafas keduanya tak beraturan. Sekarang, wajah tampan meradang Axton sudah berhadapan dengan dua bukit kembar yang begitu padat dan sekang terbungkus rapi.


"Ini sempurna."


Batin Axton sangat mengagumi ini. Ia membenamkan wajahnya gemas mengendus aroma harum ini. Ia suka segala yang ada di tubuh Kellen.


"A..Ax!"


"Kau semakin berisi." serak Axton meremasnya agak kasar membuat Kellen mengigit bibir bawahnya menahan gebuan darah di dalam sana.


"A..Ax! Aku.."


Kellen tak bisa berbicara karna Axton sudah membungkam bibirnya. Satu tangan pria itu bergerak melepas pengait Bera yang sudah terlepas membuat Kellen lupa keadaan.


"Ehmm."


Deru nafas Axton benar-benar sangat memburu dan berat. Setiap tarikan dan helaan nafas itu terasa bergetar karna menahan gebuan hasrat yang membeludak.


Kellen tak mampu lagi menahan suara itu. Ia membiarkan Axton bergerak turun kembali menyambar puncak ranum yang sekarang sudah dalam kuasanya.


"Ehmm.. Ax!"


Axton terlihat sangat lapar dan haus. Ia suka kekenyalan dan tekstur aset Kellen yang sangat pandai menjaga semua spot penting ini.


Ia sangat menginginkannya bahkan, Kellen tak bisa berbohong jika permainan Axton benar-benar sangat liar dan begitu perkasa. Sepertinya ia akan menyesal menantang pria ini.


"A..Axmm!"


"Ini milikku." serak Axton posesif menghisap bergantian semuanya. Ia tak mau berhenti karna rasanya sungguh luar biasa.


Kellen hanya bisa mengerang tak jelas. Ia mengigit bibir bawahnya melihat Axton sangat menguasai penuh akan segalanya.


"A..Ax!"


Mata Kellen sayu-sayu dan begitu lemah. Hal inilah yang semakin menggoda Axton yang tak bisa menahan raut pasrah Kellen padanya.


"Sure. Baby!" gumam Axton dengan pelan menurunkan benda terakhir itu dan sekarang tubuh indah Kellen sudah tak lagi ada penghalangnya.


Semuanya terlihat luar biasa. Ini benar-benar wujud terindah yang pernah Axton lihat dalam sejarah hidupnya.


"J..jangan memandangnya begitu." malu Kellen merapatkan pahanya tapi Axton menahan agar tak di tutupi.


"Aku sudah pernah mencobanya."


"T..tapi.."


Kellen diam menutupi wajahnya yang memerah. Pandangan berhasrat Axton sangat melemahkan tungkainya.


Pria ini terlalu jantan dan begitu normal untuk melihat yang seperti ini.


"Apa masih sakit?" tanya Axton berusaha menormalkan nafasnya. Bagian bawah sana sudah menyempit dan sesak.


"T..tidak. Sudah..l..lebih baik."


"Hm."


Axton melabuhkan kecupan ringan ke paha Kellen yang mengigit bibirnya. Cara Axton sangatlah halus tapi pasti akan kesana.


"A..Ax!"


"Hm."


Gumam Axton terhenti melihat bagian inti Kellen yang begitu seksi dan mulus. kelopak mawar merekah segar dengan wangi khas yang sangat nikmat.


"A.Ax kau..Aaxxmm!!"


Kellen terpekik kala Axton tak memberinya jeda bernafas lega. Pria itu kembali meraup segalanya seakan tak akan habis dan ingin terus melakukannya.


Tujuan Axton yang paling utama itu adalah membuat Kellen hamil benihnya. Ia tak mau nanti Kellen pergi tanpa ada yang mengikat mereka.


.....


Vote and Like Sayang..