My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Melakukannya dalam diam!



Tatapan kedua netra elang pria tinggi gagah dengan aura tak biasa itu tengah menelisik ke semua sudut ruangan yang terlihat berantakan dan juga sepi.


Tak biasanya tempat ini begitu sunyi bahkan, sepertinya sudah terjadi kekacauan disini.


Dari raut menyelidik Axton, Nicky paham jika pria ini tengah bertanya-tanya.


"Aku benar. Ax! Tadinya disini ramai." ucap Nicky melihat lantai dasar ini. Tak ada penjaga dan para Staf padahal sekarang tengah dalam Jam kerja.


Tak mau hanya diam disini. Axton segera melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, ia tengah merasa ada sesuatu yang baru saja terjadi.


Setelah sampai di atas sana. Axton melihat Castor yang tampak berdiri bersandar di dekat jendela.


"Dimana istriku?"


"Ax!" Castor tersadar akan kedatangan Axton. Ia berbalik menatap penuh persahabatan tetapi Axton mencari Kellen.


"Kellen ada di ruangannya."


"Kenapa disini tak ada Staf atau pengunjung seperti biasa?" tanya Axton membuat Castor menghela nafas mendekati Axton yang setia dengan raut dingin itu.


Sebenarnya Kellen melarang untuk mengatakannya tapi, ia tak bisa mengecoh Axton.


"Katakan!"


"Tadi ada seorang wanita paruh baya datang kesini dan berbuat onar, wajahnya melepuh dan dia mengatakan ini karena Treatment yang ia lakukan di Klinik Kellen, alhasil mereka semua pergi dan itu karena kecerobohan salah satu Staf disini."


Axton terdiam mendengar penjelasan Castor yang terlihat tak bisa berbuat banyak untuk menenangkan Kellen yang sedari tadi belum keluar dari ruangannya.


"Dia belum keluar. Aku yakin dia tengah memikirkan ini. Apalagi tadi dia menolak untuk memberitahumu. Ax!"


"Bawa semua yang bersangkutan dengan kejadian tadi ke hadapanku malam ini" titah Axton menyimpan kemarahan lalu segera melangkah ke arah ruangan Kellen.


Namun. Castor merasa aneh dengan aroma Minyak bayi ini dan apa Axton memakainya?"


"Cih. Memang Gila!" gumam Castor ngeri melihat Axton sudah ada di depan pintu.


Ia menekan gagang pintu dengan pelan melihat ke dalam meneroboskan mata elangnya diantara lemari buku dan beberapa bunga yang tampak indah di dinding.


Axton melangkah masuk melihat jika ruangan yang tak begitu luas ini tampak tengah sunyi dan murung.


"Dokter! Maafkan aku."


Suara Agatha yang terlihat duduk di samping Kellen yang tengah memejamkan matanya di sofa panjang tepat di sudut ruangan. Ia berselonjoran kaki dengan kepala bertumpu di satu lengan Sofa.


Sementara Agatha ia tampak masih berdiri dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Aku tak apa. Pulanglah, kau harus mengurus soal proposal itu, Agatha!"


"Tapi.."


"Pergilah, aku mau tidur sebentar." gumam Kellen tanpa membuka matanya. Agatha terlihat merasa sangat berat hati memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan ini.


Namun. matanya melebar kala melihat sosok pria tampan bertampang arogan yang terlihat begitu jantan dan maskulin.


"K..kau.."


Axton menatap tajam Agatha seakan mengatakan jangan berbicara. Alhasil Agatha tak punya keberanian untuk menyangkal hingga dengan takut ia berlari ke luar terasa begitu terancam.


Sekarang. Tinggallah Axton yang tak melepas tatapan dari Kellen yang terlihat masih enggan membuka mata.


Aku paham perasaanmu. kau pernah mengatakan jika Klinik ini adalah salah satu impian terbesarmu, tapi sekarang ada saja yang ingin menghancurkannya. Sayang!


Perasaan Axton yang mengikat jiwa sang istri untuk tetap di batinnya. Ia mulai menarik langkah mendekati Kellen yang tampaknya mengira jika detakan sepatu Axton itu milik Agatha.


"Aku baik-baik saja. kau bisa pergi Agatha! Lagi pula ini hal biasa."


Axton diam perlahan berjongkok di dekat sofa dengan tatapan mata dalam ke arah wajah cantik istrinya.


Namun. Tiba-tiba saja Kellen mencium aroma minyak bayi dan tak mungkin Agatha memakai ini.


"Agatha!" panggil Kellen seraya membuka mata dan sedetik kemudian ia terperanjat kala wajah Axton sudah tepat di hadapannya.


"Aaax!!"


"Hm."


Kellen mengerutkan dahinya melihat Axton disini dan kapan? Apalagi aroma minyak Bayi ini terasa begitu kental di tubuh Axton.


"K..kau.. Kau kenapa kesini? Lalu..lalu kenapa memakai minyak bayi?"


"Kau tak muntah?" tanya Axton merasa lega jika buku itu benar. Penciuman ibu hamil pasti akan sensitif dengan yang berbahan asing tapi jika minyak bayi yang lembut, pasti akan terasa santai.


Mendapati Axton memakai ini hanya untuk dekat dengannya membuat hati Kellen terenyuh. Ia segera menarik leher Axton dan memeluknya hangat.


"Kenapa kau selalu saja membuatku selalu sayang. Hm?"


Sudut bibir Axton terangkat mendengar kalimat manis tanpa sungkan Kellen. Ia membalas pelukan ini seraya melepas kerinduan yang tengah meluap-luap.


"Apa begitu?"


"Emm iya, aku selalu jadi cinta pada. Suamiku!"


"Benarkah?" tanya Axton menarik sedikit jarak untuk melihat wajah cantik Kellen yang hari ini sangat lugas tapi ia menyukainya.


"Iya. Tapi, masalahnya apa kau juga mencintaiku?" Kellen menaikan satu alisnya membuat Axton tak bisa menahan hingga melabuhkan kecupan kilas ke bibir pink segar Kellen yang manis.


"Kau curang." desis Kellen mendorong bahu kekar Axton hingga tubuh pria itu kembali tegap beralih duduk di tepi Sofa.


"Apanya?"


"Aku selalu mengatakannya padamu. Tapi kau..."


Kellen langsung membuang muka masamnya membuat Axton segera meraih jemari lentik itu ke genggaman tangan besarnya. Disini Axton bisa melihat masih ada bekas gigitannya dulu di jempol Kellen.


"Aku akan mengatakannya di waktu yang tepat."


"Tapi, kapan?" tanya Kellen melirik Axton yang mengusap bekas luka di tangannya. Sangat terasa lembut dan hangat penuh kasih.


"Saat semuanya tertuju padamu!"


"Terserah kau saja. Tuan!" gumam Kellen tak lagi mau membahasnya. Ia suka aroma bayi ini sampai menghirupnya dalam.


Untuk sesaat keduanya diam dan Axton masih menunggu Kellen bercerita, tapi. Nyatanya Kellen tak mengatakan apapun.


"Apa ada masalah?"


"Apa?" tanya Kellen tadi agak melamun. Axton terdiam sesaat memperhatikan raut tenang Kellen tetapi ia kembali mengulang hal yang sama.


"Kenapa Klinikmu sepi?"


"Hari ini aku kurang bersemangat. Ax! Jadi aku tutup." elak Kellen memberikan senyuman hangat. Ia tak mau membebani Axton apalagi ia tahu bagaimana posisi Axton sekarang.


Masimo belum di temukan dan banyak musuh yang berdatangan, di tambah lagi urusan ini maka ia akan benar-benar merepotkan.


"Tak ada yang lain?" tanya Axton masih tenang mengusap jemari Kellen yang menganggukinya.


"Tak ada aku hanya sedikit lelah."


"Hm. Baiklah." jawab Axton tak mau membahas ini dulu. Ia harus menyelesaikannya sendiri karena ia yakin Kellen begitu keras kepala.


"Ax!"


"Hm?"


"Apa kau banyak pekerjaan hari ini?" tanya Kellen tetapi di jawab gelengan oleh Axton. Tentu itu membuat Kellen senang menarik lengan Axton untuk berbaring di sampingnya.


Walau tubuh kekar Axton hanya muat setengah disini tetapi Axton tetap menuruti Kellen.


"Ada apa?"


"Temani aku tidur. Boleh?"


Tanpa berfikir-pun Axton mengangguk meletakan kepala Kellen di atas dada bidangnya lalu mengusap punggung wanita ini dengan lembut.


"Tidurlah!"


"Mataku sangat berat, padahal ini masih siang. Ax!"


"Tak apa. Serahkan saja padaku." jawab Axton membuat Kellen mengadah menatapnya dengan heran.


"Apanya?"


"Aku akan menjagamu." jawab Axton melabuhkan kecupan ke kening Kellen yang lega ternyata Castor tak memberi tahu pria ini.


"Baiklah. selamat siang!"


"Hm."


Kellen memejamkan matanya untuk sejenak melupakan semua itu. Ia tak ingin gara-gara ini kondisi janin di dalam perutnya terganggu dan hal itu juga yang tengah Axton pikirkan.


Belaian lembut tangan kekar itu beralih ke perut Kellen dan tentu tak ada yang bisa di sembunyikan dari seorang Axton.


"Aku tak akan melepaskan mereka. Tidurlah dengan nyenyak."


..........


Sementara di sebuah jalan sempit dan sunyi itu ada seorang wanita muda yang terlihat tengah di paksa masuk ke dalam Mobil yang di jaga para Bodyguard berbadan kekar.


Tatapan takut itu di hadirkan tetapi ia juga menunggu momen ini.


"N..Nyonya!"


"Kau sudah melakukannya?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat glamor dengan rambut coklat dan lipstik tebalnya.


"S..Sudah."


"Bagus! Sekarang kau harus mempelajari semua yang sudah ku berikan padamu. Jika di tanya oleh penyidik kau harus pandai mengelak."


Dengan gagap wanita muda itu mengangguk lalu menerima bungkusan uang yang tampaknya tebal. hal ini sesuai dengan resiko yang berlawanan dengan hukum.


"Lihat saja. Besok akan ada banyak Media yang datang padamu. Dokter sialan!!"


.....


Vote and Like Sayang..


Maaf say.. Author ketiduran😁