My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Ajaran sesat Nicky!



Keadaan masih sama. Johar sudah di bekuk oleh Vacto di bantu anggota lainnya. Kedua tangan pria itu di rantai dengan kuat.


Raut wajah marah dan penuh dendam Johar tak bisa di elakan. Tatapan membunuhnya pada Axton benar-benar menyala-nyala seakan ingin mengoyak pria tampan itu.


"Aku tak akan melepaskan muuu!!!"


"Aku tak perduli." tegas Axton dingin mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk membawa Johar ke ruang tahanan.


"Aku tak akan melepaskan-muu!!! Aku akan membunuhmu. Sialaaan!!!"


Suara keras Johar masih terdengar memberontak. Tapi, para pria berbadan kekar itu sudah menariknya masuk ke area gelap beriringan dengan suara lantangnya yang menghilang seketika.


Castor diam beralih memandang wajah datar Axton yang tampaknya tak ada niatan untuk menjelaskan strategi ini.


"Pergilah ke kamarmu!"


"Kenapa? Aku masih mau disini." gumam Kellen menunjukan wajah tak relanya. ia bosan berada di kamar terus dan tak melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.


"Kau sudah cukup lelah. Bukan?"


"Tidak!" Kellen menggeleng menatap Axton yang menghela nafas halus. Jika sudah begini, ia tak bisa mengekang Kellen.


"Kalian pergilah!!!"


"Baik. Tuaan!!"


Semua anggota patuh melangkah pergi meninggalkan ruangan ini. Castor benar-benar belum mengerti kenapa para Ajudan Johar bisa patuh seperti itu dan bagaimana cara Axton mengatasinya?


Tak mau berbicara disini. Axton akhirnya mengiring Kellen masuk kedalam Bar yang masih di layani oleh pria muda yang sepertinya tak berani memandang Kellen yang melangkah gontai masuk ke dalam.


Mata amber itu mengamati lekukan ruangan ini dan semuanya persis seperti Bar-Bar pada umumnya. Yang membedakan hanya Kartu-Kartu yang menjadi hiasan dinding dan meja.


"Ini Kartu yang kemaren Castor berikan. Mereka memang pandai mendesain." gumam Kellen sibuk memindai ruangan ini.


Untuk sejenak Axton melepas belitannya ke pinggang Kellen, membiarkan wanita itu berkeliling.


"Axton! Cepat katakan, apa yang terjadi?"


"Hm."


Axton beralih duduk di sebuah sofa singel dan kursi kayu yang di desain sangat unik dan elegan. Semuanya terkesan mewah dan gelap.


"Jelaskan padaku! Kenapa kau melakukan ini dan bagaimana?" duduk di kursi kayu tepat di samping Axton.


"Ntahlah. Tapi, aku merasakan jika Johar tak akan semudah itu masuk dalam jebakan yang kecil."


"Kapan kau melakukannya dan..dan bagaimana bisa Kellen ikut dalam semua ini?"


Pertanyaan beruntun itu mendapat helaan nafas Axton. tatapan mata datar arogan itu tak terputus memantau Kellen yang tengah memeggang Stik Billiard.


"Dini hari tadi, aku berfikir untuk membuat rencana cadangan. Jika rencana pertama gagal, maka kesempatan kedua jangan di lewatkan."


"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" kesal Castor yang merasa menjadi orang bodoh yang jantungan sendirian.


"Kau itu susah mengendalikan exspresi wajahmu. Aku sudah lebih dulu mengirim anggota lama untuk memantau di perjalanan, jika para Ajudan Johar lengah dan segera bunuh mereka dan gantikan. Johar tak akan tahu anggota sebanyak itu."


"Lalu. Bagaimana kau bisa membawa Kellen? dia itu sulit diatur." gumam Castor masih merasa bingung.


"Dia selalu ingin tahu dan tak mau di bohongi, aku mengatakan segala rencanaku untuk menjebak Johar dan dia yang memberi ide memainkan drama itu."


"Cih." umpat Castor sangat kesal. Bisa-bisanya Kellen mendahului dirinya. Padahal, ia ingin ikut ambil dalam rencana itu.


"Kau tenang saja. Bagian mu akan segera tiba."


"Maksudmu?" tanya Castor tapi wajah datar itu sangat ia maknai sebagai sifat Axton yang berbicara setengah-setengah.


"Jaga kotoran itu. Aku tak mau mengulang dua kali."


"Baiklah. Lakukan sesukamu." ucap Castor lalu berdiri dan mendekati meja Bar. Ia memesan Vodka ringan pada pelayan disini.


Sementara Axton. Ia mulai tak bisa diam kala melihat Kellen tampaknya penasaran ingin mencoba bola Billiard ini.


"Bagaimana caranya? ini susah." gumam Kellen menunduk merapat ke pinggir meja lalu mengarahkan ujung Stiknya ke susunan bola yang sudah siap berpencar.


Kellen benar-benar fokus sampai ia menahan nafas untuk mendorong Stik ke depan dan..


"Aaasss shitt." umpat Kellen kala ia meleset dan bolanya berpencar kemana-mana. Ini tak sesuai ekspektasinya yang menganggap permainan ini mudah.


"Kenapa kalian tak masuk? Aku sudah fokus sedari tadi."


"Caramu salah!"


Kellen langsung menoleh ke samping dimana Axton sudah berdiri dengan kedua tangan berada di kedua sisi saku celananya Joggernya. Tatapan mata elang itu tertuju pada bola-bola yang berserakan diatas meja.


"Bicaramu seakan kau bisa.TUAN." Decah Kellen menggerutu kesal. Wajah masamnya membuat Axton hanya menahan kegelian.


"Akan ku tunjukan cara bermain yang benar."


"Yah.. Yah! Aku ingin lihat, betapa HEBATNYA kau." ejek Kellen memberikan Stiknya ke tangan Axton yang hanya menipiskan bibir.


Pelayan lelaki yang tadi melayani Castor segera mendekat kembali menyusun bola. Ia berdiri di ujung meja membiarkan Axton mengambil posisi.


"Taruhanmu!"


"Apanya?" tanya Kellen kala Axton membungkukkan tubuhnya dengan posisi badan tegap yang pas. Ia terlihat mencari titik yang tepat.


"Aku tak mau melakukan hal yang sia-sia."


"Baik. Kau mau apa jika menang?" tanya Kellen berkacak pinggang.


Senyum misterius itu muncul membuat pelayan lelaki itu ngeri tapi tidak dengan Castor. Ia menegguk Vodka sembari melihat kelicikan Axton.


"Cih. Kau tak tahu, yang kau lawan itu siapa?" gumam Castor merasa jika Kellen terlalu polos. Padahal, Axton menjebaknya.


"Memangnya kau mau apa?"


"Turuti semua kemauanku." ucap Axton menatap Kellen dengan optimis. Melihat pandangan ini, Kellen tak mungkin bisa menghindar karna harga dirinya sangat tinggi.


"Baik. Tapi, jika kau kalah. Aku ingin kau membiarkan aku jalan-jalan SENDIRIAN tanpa ada KAU!" tekan Kellen di beberapa kata seraya mengulurkan tangan.


Axton terdiam sejenak. Apa benar Kellen tertekan saat bersamanya? Tapi. Yang ia lakukan itu memang yang harus terjadi. Ia tak suka semua hal yang mencoba mencari perhatian istrinya.


"Deal?"


"Deall!!" jawab Axton menjabat tangan lentik Kellen yang tampaknya sangat yakin. Ia beralih kembali ke meja Billiard dimana Axton sudah siap ingin memulai.


"3 kali permainan. Jika kau memang, aku akan melakukan apa yang kau mau tadi."


"Hm. Lihat dan perhatikan."


Kellen mengangguk sama sekali tak mengerijab atau sekedar mengalihkan pandangan. Pelayan lelaki sana juga ikut merasa jantungan.


"Kau tak akan bisa. Kau itu.."


Takk...


"I..ini.."


"1!" ucap Axton memberikan Stiknya ke tangan Kellen yang memandang penuh rasa jengkel.


"Baik. Akan ku buktikan."


"Hm."


Kellen mulai memposisikan tubuhnya. Dari cara Kellen memeggang Stik tongkat itu sudah salah membuat Castor menggeleng tapi Axton hanya diam memperhatikan wajah serius Kellen.


"Aku bisaa.." gumam Kellen menyemangati diri sendiri.


Ia menatap susunan bola yang sudah di perbaiki pelayan itu membuat dirinya bersemangat.


"Bisaa!! bisaaa!!"


Kellen mendorong Stiknya dengan mata penuh harap. Tapi, sayangnya bola itu malah terlempar keluar meja tak mengenai sasaran apapun membuat Kellen lesu.


"A..Apa-apaan ini?"


"Lihat aku!"


Jiwa sombong Axton begitu menyebalkan di mata Kellen. Ia mengerahkan Stiknya secara kasar lalu menatap Axton yang hanya mengulum senyum kembali ke posisinya.


Lagi-lagi Axton melakukannya dengan sempurna tanpa cacat sama sekali dan ketika giliran Kellen, bola itu selalu keluar meja dan lebih parahnya lagi sampai mengenai wajah pelayan lelaki yang tampak pasrah.


"Aaaaa!! Ini tak bisa di biarkaaan!!"


"Satu babak lagi." gumam Axton menunjukan wajah angkuh yang menjengkelkan. ia kembali memulai posisi dan kali ini Kellen punya rencana yang cukup licik.


"Jangan sampai dia menang. Aku tak mau kalah dari Robot hidup ini."


Batin Kellen mencari ide. saat Axton mulai mengayunkan stiknya kedepan disitulah Kellen beraksi.


"Auuuu!!"


Axton terkejut kala Kellen ingin tumbang tetapi ia sudah mendorong Stik kedepan membuat bola itu keluar area dan memantul ke dinding.


"Kell!"


Dengan cepat Axton melempar Stiknya asal lalu merengkuh tubuh Kellen yang membuatnya cemas.


"Ada apa?"


"Cih. Kenak kau!"


Batin Kellen segera berdiri kembali membuat Axton heran dan terlihat masih mengkhawatirkannya.


"Yeeeyy!! Kau kalah, kita seri."


"K..kau.."


Axton terdiam kala sadar jika ini hanya akal-akalan dari Nyonya Muda Miller. Ia mulai menunjukan wajah geramnya tetapi Kellen menjulurkan lidah nakal itu.


"Bweee!! Kau kalah, kita impas. Tak ada yang perlu di pertanggung jawabkan." puas Kellen merasa lega.


Tetapi. Seringaian Axton membuatnya heran dan tak bisa memahami apa maksudnya itu.


"Kau kalah. Kenapa menunjukan wajah jelek seperti itu?"


"Kau yakin. Hm?" tanya Axton menegakkan Stiknya sejajar dan terlihat sangat sombong.


"N..Nona! Li..lihat ke depan."


"Aku..."


Degg..


Mata Kellen melebar melihat bola-bola itu sudah tak lagi ada dan semuanya masuk kedalam beberapa lubang yang di sediakan.


"B..Bagaimana.."


"Bola yang di pukul Tuan memang keluar arena tetapi. bola itu memantul kembali dari dinding dan menyelesaikan semuanya dengan baik, jarang-jarang orang bisa melakukan teknik gila seperti ini."


"A..Apa??"


Kellen lesu menatap Axton yang sangat puas dengan wajah sendu istrinya. tak ia sangka Kellen cukup menguras rencana.


"Kau sudah pandai menipuku. Hm?"


"A.. Aku.. Kau curang!!! Tak bisa begitu." bantah Kellen tak mau mengakuinya. Axton melepas Stik di tangannya lalu menarik pinggang ramping seksi Kellen merapat ke tubuhnya.


Wajah Kellen mendongak menatap gugup Axton yang benar-benar membuatnya kehilangan cara.


"Aku menang."


"K..kau.."


"Suttt!"


Axton mendekatkan wajahnya membuat Kellen meneggang. Castor yang melihat keadaan sudah tak beres, akhirnya memilih keluar menyelamatkan diri.


Sedangkan pelayan lelaki itu. Sudah mau pingsan di tempat melihat jarak dua majikannya ini hanya setipis kertas.


"Jangan mengelak."


"A..aku.."


Axton semakin merapatkan tubuh keduanya sampai Kellen menahan nafas dengan jantung yang menggila. Kepala Axton beralih menunduk ke telinga Kellen yang meneggang di tempat.


"Aku sudah belajar banyak. Jangan sia-siakan ilmu baruku."


Bisik Axton meniup telinga Kellen yang langsung mencengkram lengan Axton. Ia seakan mati rasa tetapi ini benar-benar mengejutkan.


"Aku akan datang nanti. Persiapkan dirimu."


"A..Ax." gumam Kellen mematung. Ia membiarkan Axton pergi tetapi tiba-tiba ada Nicky yang masuk kedalam dengan wajah menggelikan melihat keadaan pucat Kellen.


"Bagaimana? Kau merasa bangga. Bukan?"


Tanya Nicky yang baru datang pagi ini. Tadi. Axton menyuruhnya untuk memantau CCTV Markas agar tetap terjaga. Tetapi, pagi-pagi sekali tadi Axton menemuinya. Tentu Nicky suka perbincangan satu itu.


Melihat raut mesum Nicky. Seketika darah Kellen mendidih merasa sangat dongkol.


"APA YANG KAU AJARKAN PADANYA. HAAA???"


Tawa Nicky pecah tetapi ia puas. Setidaknya ilmu ini bisa di turunkan pada Axton yang sangat minim pengetahuan soal ini.


.....


Vote and Like Sayang..