My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Yang sebenarnya!



Pijaran lampu di sekitar Gereja itu terlihat terang membelah malam gelap yang cukup pekat di hamparan hitam sana.


Deretan para pria berbadan kekar dengan stelan jas lengkap itu tengah berjaga di sekeliling Gereja umat Kristiani yang tengah melakukan Ikrar janji pernikahan di atas Altar megah itu.


Nyonya Verena duduk dengan elegan di kursi dekat Altar menyaksikan seorang Pastor yang tengah membimbing dua insan diatas kursi roda itu untuk saling bersumpah.


Beberapa kali Pastor mengucapkan janji untuk Axton yang terlihat tak mengerti dan hanya mengangguk sesuai arahan Castor yang ada di sampingnya.


"Tuan Axton Deaz Miller. Apakah anda bersedia menikahi Nona Kellen Lutz DeBerry dan menerima setiap kekurangan serta berjanji berikrar janji suci pernikahan di depan Tuhan?"


"Tuan!" bisik Castor pada Axton yang terlihat sayu-sayu menatap ke arah Kellen yang hanya membisu.


Terlihat jelas wanita ini tak suka padanya tapi Axton berusaha memandang bibir Kellen dari tatapan kaburnya.


"K..Kel!"


Kellen membuang muka. Rasa sakit ada ditengah orang-orang licik ini masih membekas di batin dan fisiknya, ia tak ingin dekat dengan Axton sekalipun.


"Kel!"


"Jawab. Iya, Tuan!" ujar Castor mengiring Axton yang tampak menatap Pastor di hadapannya dengan pandangan tajam sangat terusik. Pria dengan rambut hampir memutih itu juga hanya bisa diam kala Pernikahan ini sangat tak normal tapi apalah dayanya, jika Keluarga Miller yang memaksa.


"Sekali lagi, apa anda bersedia menikahi Nona Kellen dan berjanji saling mencintai?"


Axton hanya diam terus memandangi bibir Kellen yang terkatup rapat. Tentu semua itu membuat Martinez jengkel.


"Paksa dia mengatakannya!"


"Saya akan berusaha." jawab Castor mengangkat tangan agar jangan ada penjaga yang ke sini.


Ia menghela nafas berjongkok di samping kursi roda Axton yang tetap tak bergeming.


"Tuan!"


"K..Kel!" panggil Axton dengan suara berat dan sangat dingin. Tatapan mata kosong seperti hanya memantau pergerakan bibir wanita itu.


"Nona Kellen! Bantu calon suamimu mengatakannya."


"Aku tak bisa." tegas Kellen masih kekeh tapi Castor menekan pandangannya secara tak langsung mengisyaratkan untuk menurut atau hal kejam akan terjadi.


Melihat semua ini, Kellen membuang nafas kasar lalu menatap wajah tampan agak pucat Axton yang masih saja seperti robot hidup.


"Bersedia!"


"B..Ber.se..dia.." Axton mengikutinya dengan terbata-bata lalu ia ingin mencengkram rahang Kellen yang menghindar tak ingin di sentuh.


Tentu itu menghadirkan tatapan mendidih Axton yang ntah apa yang dia inginkan pada tubuhnya.


"Kau jangan merusak prosesi ini!"


"Dia yang emosi. Aku tak.."


Kellen tak bisa melanjutkan ucapannya karna disini ia tak akan bisa lolos. Apalagi pandangan menusuk Nyonya Verena sedari tadi membuat Kellen muak.


"Lanjutkan saja."


"Baik. Apakah Nona Kellen Lutz DeBerry bersedia menerima kekurangan Tuan Axton dan berusaha untuk mencintainya dengan sepenuh hati?"


Tanya Pastor beralih pada Kellen yang memejamkan matanya. Jujur aku tak masalah tentang pria ini tapi aku belum siap untuk menikah, aku tak mau.


Melihat kebungkaman Kellen menarik kegeraman Martinez yang sampai ingin naik ke atas Altar tapi Groel mencegahnya.


"Dia.."


"Jika anda memancing Axton. Maka pernikahan ini tak akan terjadi." ucap Groel membuat Martinez mengumpat. Sungguh ia tak pernah sesabar ini untuk menghancurkan pria itu.


"Bagaimana Nona Kellen. Anda bersedia!"


"Hm. Bersedia." jawab Kellen segera menghempaskan nafas beratnya hingga menyingkirkan sekangan emosi yang tadi tengah bersarang di benak para manusia disini.


"Baik. Dengan segala prosesi yang sudah di jalani tadi dan Ikrar janji suci kalian juga sudah di ucapkan. Maka kalian dinyatakan sebagai pasangan SUAMI ISTRI."


"Ya. Tuhan!"


Batin Kellen memejamkan matanya. Ia masih belum menerima ini hingga berat rasanya mengakui jika tak ada rasa cinta sedikitpun di hatinya pada Axton.


Walau pria itu memang tampan dan gagah bukan berarti Kellen perduli akan pahatan visual bak dewanya. Kellen tak pernah membayangkan akan seperti ini.


"Silahkan pasang cincin Pernikahan kalian!"


"Hm." Kellen hanya diam dengan mata berkaca-kaca melihat benda kotak segi empat yang hanya sebuah cincin biasa dan sama sekali tak menarik.


Cincin perak berwarna silver dengan kuningan tembaga kecil di kedua sisinya. Ini seperti hanya syarat nikah saja.


"Silahkan. Tuan!"


"Aku akan membantu." sambar Castor segera mengambil benda itu lalu memberikannya ke tangan Axton yang terlihat masih diam menatap wajah Kellen.


"Pakaikan ini ke jari manis. Nona!"


"K..Kel!"


Kellen berusaha mengendalikan dirinya. Ia beralih ingin mengambil kotak cincin di tangan kekar Axton tapi pria itu malah mencengkram lengannya.


"Lepas!"


"Cobalah dengan lembut." ujar Castor mengantisipasi amukan Axton. Kellen terpaksa memakaikan cincin itu ke jari manis Axton yang hanya diam terus menatapnya dingin dan penasaran.


"Sudah. Kau puas?"


"K..Kel.."


"Lepaskan tanganku." sentak Kellen menarik kasar tangannya dari cengkraman Axton yang ntah kenapa merasa marah. Ia tak suka, ia sangat tak suka.


"K..Kel!! Kell!"


"Semuanya selesai. Bukan?"


"S..Sudah. Cepat bawa dia pergi." lirih pria tua itu mundur.


Axton ingin meraih kursi roda Kellen tapi Castor segera menyela agar suasana tak memanas disini.


"Tuan! Kau tenanglah."


"K..Kell! Kell!!"


"Nona akan pulang. Dia ikut."


Kellen hanya diam tak menatap Axton sama sekali. Jelas jika semua ini secara tak langsung menyakiti Axton yang hanya bisa mengekspresikan apapun dengan marah dan sikap kasarnya.


"K..Kell!"


"Axton!"


Suara Nyonya Verena membuat pandangan tajam Axton beralih. Wanita paruh baya itu berdiri memberikan senyuman yang begitu hangat, sungguh Martinez sangat tak mengerti akan sikap Momynya.


"Ingin pulang. Hm?"


"Mom! Dia tak akan mendengarmu." jengah Martinez berdecih menatap Axton yang hanya memandang datar Nyonya Verena yang sepertinya sangat sulit untuk mendekatkan diri.


"Ini Momy. Sayang! Ayo pulang."


"M..Momy?"


"Yeah. Kau putra tersayangku, ayo pulang. Hm?"


Axton diam. Ia terlihat tak mengerti dan hanya bisa mematung di tempat. lampu disini sengaja di buat agak redup agar Axton tak terlalu merasa terancam.


Melihat Axton teralihkan. Nyonya Verena memberi isyarat pada Groel agar segera merantai Putra tersayangnya itu.


"Bawa dia!"


"Baik!"


Groel melangkah ke atas Altar bersama para penjaga yang datang membawa rantai di tangannya.


Mereka lagi-lagi menggunakan serbuk haram itu untuk mengendalikan Axton yang berusaha meraih kursi roda Kellen hanya diam membisu.


"K..Kel.."


Kellen membuang muka. Ia tak bisa melihat itu karna hati yang sudah ia teguhkan agar tak perduli akan hancur melihatnya.


"K..Kel.."


"Ikat dia. Lambat bergerak nyawa kita bisa hilang." umpat Groel melihat jelas Axton berusaha menggapai Kellen dengan tangan penuh goresan luka itu tapi sekuat tenaga pula Kellen berusaha menjadi jahat dan tak perduli.


"K..Kell!!"


"Bawa dia ke Mobil. Ini sudah larut, semuanya akan mengundang Paparazi nantinya." suara Martinez mengiring mereka semua keluar.


Nyonya Verena sudah melenggang pergi keluar Gereja hingga sekarang hanya Axton-lah yang berusaha untuk di bawa kembali menuju Mobil.


"Jangan menatapku begini. Ax!"


Batin Kellen mengigit bibir bawahnya. Walau Axton sering menyakitinya tapi Kellen tahu jika Axton hanya seorang pria tak berdosa.


Tangan Axton berhasil lepas menggenggam jemari lentik Kellen yang ada di peggangan kursi roda.


Mata berair Kellen sekali lagi berbenturan dengan netra elang tajam Axton yang melihat jelas butiran bening itu mengalir di pipi mulus Kellen.


"Cepat!! Bawa dia!!"


"K..Kell." gumam Axton dengan lirihan terakhir sebelum ia di seret ke bawah oleh Groel hingga genggamannya terlepas.


Kondisi Axton yang di pengaruhi serbuk halusinasi itu membuatnya melayang ntah memikirkan apa. Yang jelas Axton menggeleng karna masih mengingat tatapan Kellen padanya.


"Kellll!!!! Kellll!!!" suara bentakan Axton bak kesetanan tapi ia tak bisa memberontak. Matanya terpejam berat hanya bisa meneriakkan batin itu saja.


Tentu semua itu membuat Kellen tak tahan. Ia segera terisak menutupi wajahnya yang terasa basah.


"Kau puas." ucap Castor melihat bagaimana Axton perduli dalam caranya sendiri.


"A..aku..aku tak bisa.. Aku.."


"Dia pecandu yang kau benci itu."


Kellen menggeleng. Ia tak benar-benar membenci Axton melainkan hanya menjaga jarak dengan pria itu, ia hanya takut jika Axton melakukan hal itu lagi dan..


"Kau takut dia membunuhmu?" tanya Castor semakin membuat bahu Kellen bergetar menahan rasa sesak di dadanya.


"A..aku.."


"Jika dia ingin, sudah sejak melihatmu. Dia akan meremas JANTUNG di dadamu." tekan Castor membuat kepala Kellen terangkat.


Wajah sembab ini seperti bertanya tapi Castor beralih memandang kaki Kellen.


"Kakimu patah? Atau buntung, atau bisa jadi.."


Kellen menggerakan kakinya yang di perban. Namun, alangkah terkejutnya Kellen saat rasa sakit itu tak seperti dulu bahkan kakinya sudah bisa di gerakan.


"I..Ini.."


"Bukan perawatan medis." jawab Castor membuat Kellen terpaku diam. Tiba-tiba saja ia merasa buntu dan tak mengerti.


"Terkadang. Kau butuh perasaan untuk mengerti seorang yang kehilangan jati dirinya."


"J..jadi Axton.."


Vote and Like Sayang..