My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Sangat tak berguna!



Aksi pembalasan tembakan itu tampak sangat sengit di lantai bawah sana. Dinding Markas yang tebal bisa di kikis peluru para pasukan bertopeng Rubah yang masuk menggila bermain senjata andalan mereka.


Vacto tampak ikut baku hantam dengan pengguna Senapan yang sedari tadi membidik dari arah luar. Ia sengit dan tak mau kalah membanting setiap musuh yang menyerang masuk kedalam.


Ia tahu ini dari Klan mana terbukti dengan senjata yang mereka gunakan itu adalah senjata khas Jepang yang merupakan gudangnya Gangster bawah.


Lesatan peluru yang brutal itu membuat suasana semakin memanas. Pasukan Darkness juga tak kalah bengis menembaki mereka dari jarak dekat maupun sulit di jangkau.


Tapi, dari cara mereka bertarung yang sepertinya tengah memastikan sesuatu.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Castor yang sedari tadi melihat dari atas tangga ini bersama Axton yang mengamati setiap gerakan para musuh di bawah sana.


Matanya begitu tajam memindai pasti kelincahan dan ketangkasan mereka mencari titik lemah lawan. Dan anggota Darkness lumayan kesusahan menghadapi ini terutama di pertarungan jarak dekat.


"Axton! Kau jangan diam saja, mereka bisa semakin masuk ke sini." geram Castor sudah gatal ingin turun ke bawah.


Axton hanya diam. tatapan netra tajam itu sangatlah tak bisa Castor tebak apa yang di rencanakan Axton sebenarnya.


"Axton!"


"Mereka tahu."


"Apanya?" tanya Castor menunggu jawaban Axton yang masih diam. Salah satu anggota musuh itu terlempar ke dekat tangga dan pistolnya terlempar keatas segera berpindah ke tangan Axton.


"Ax! Kita tak bisa tinggal diam, mereka juga bagian dari kita."


"Hm."


"Kau..."


Kalimat Castor terhenti kala tembakan beruntun itu Axton lepaskan ke bawah sana. Matanya melebar kosong melihat timah panas yang keluar segera menembus bagian Vital pasukan gelap yang tak bisa menyamai kecepatan menembak Axton yang sangat tepat sasaran.


Para anggota Darkness terperangah melihat Skill menembak Axton yang di tunjukan secara langsung. Pasukan musuh yang tadi hampir mendominasi seketika berserakan tumbang diatas lantai dingin ini.


"I..ini..."


Mereka spontan menatap kearah sumber tembakan. Mata yang penuh keyakinan dan sangat berani itu menundukan ego semua orang yang awalnya memang tak mau mendekati Axton.


Para anggota Johar yang masih baru segera melepas senapan mereka lalu berjongkok dengan satu kaki di tekuk dan kepala di tundukan.


Melihat itu semua. Mereka spontan melakukan hal yang sama pada Axton yang hanya memandangnya datar.


"PIMPINAN!!!"


Sahut mereka serempak dengan keyakinan sudah di depan mata. Tak ada lagi raut bimbang atau mencemo'h Axton.


"MAAFKAN KAMI!!!"


"A..Axton." gumam Castor tak menyangka mereka semua tunduk secepat ini. Ia benar-benar syok tetapi kala pandangannya berbenturan dengan Vacto, seketika Castor mendapat jawaban.


"Kami bersedia kembali padamu. PIMPINAN!!"


Sambar Vacto ikut membungkuk. Alhasil semua ini menghadirkan perasaan bangga sekaligus senang Castor yang tak terjabarkan lagi.


Inilah yang mereka mau dan ini adalah harapan yang selalu ingin di penuhi.


"Axton! Mereka..mereka siap!!"


"Aku tahu." gumam Axton mengangkat pistolnya lagi. Mereka saling pandang tak mengerti apa maksud Axton tetapi, Vacto terkejut kala Axton melepas tembakan kearah salah satu anggota yang melamun.


"Tuaaann!!!"


Vacto menarik pria itu hingga tak terkena tembakan bengis Axton yang tampak tak merubah raut wajah dinginnya.


Pria itu sudah mengigil takut melihat lantai yang di kikis timah panas tadi dan begitu juga yang lainnya.


"Tuan! Apa salah kami? Kami sudah minta maaf!!" mereka pucat pasih belum berubah posisi.


"Kalian ingin tahu?"


"I..iya!" jawab mereka gugup dan jantung seakan mau pecah di dalam sana. Para anggota lama yang memang sudah senior dalam memahami situasi hanya diam tetapi mereka mengerti.


"Pertahanan kalian LEMAH!!"


"A..Apa??" mereka tergagap saling pandang dengan anggota lain. Kebanyakan disini adalah anggota baru dan anggota lama tampak mengalami cacat pada wajah mereka.


"Kepekaan serangan BUTA! Dan LAMBAN! Begitu tak berguna."


"T..Tak berguna." gumam mereka merasa kalimat penuh penekanan Axton barusan sangat merendahkan mereka. Tapi, yang Axton katakan memang benar adanya.


Ia tak menyangka jika selama ini Johar memasukan para anggota yang sama sekali tak memenuhi syarat dan kriteria sama sekali.


"Kalian masih jauh dari kata CUKUP bahkan lebih buruk dari itu."


"Maaf. Tuan! Tapi, selama ini kami selalu di latih oleh Kepala Klan." sela salah satunya memberanikan diri membela.


"Siapa?"


"D..dia sangat sibuk dan biasanya hanya datang 1 bulan sekali, namanya Yukito yang di datangkan dari Negara Samurai."


Seketika Axton terdiam. Ia mempunyai dugaan yang ia yakini seratus persen telah terjadi disini.


"Dan kami selalu di ajari bertahan hidup di tengah salju. Dia mengajarkan jika.."


Mereka saling pandang diam membiarkan Axton turun walau kewaspadaan itu meningkat dengan sendirinya.


"Tuan!"


"Serang aku!"


Pinta Axton berdiri tegap di hadapan mereka yang terhenyak akan perintah itu.


Vacto mengulum senyum bangga karna ia tahu dulu Axton kecil bagaimana ketika tengah di masa pelatihan Akademi Tuan Fander.


"T..Tuan. Kami tak mungkin menyerang anda."


"Aku musuh kalian." jawab Axton tegas melempar pistolnya ke lantai dengan sikap badan kekar yang begitu bisa mengimbangi aura disini.


Keberadaan Axton sangat mendominasi dimana tempat.


"T..Tuan.."


"Lamban!!!" geram Axton melayangkan kaki kokohnya menendang kepala tiga anggota yang ada di hadapannya.


Itu semua membuat mereka syok dan menggigil hebat.


"Aku tak selembut itu. Maka, cepatlah!" desis Axton tak punya banyak waktu disini.


"B..Baik! Anda yang memintanya."


"Hm."


Mereka semua berdiri dengan kaki mengigil tapi sekuat tenaga masih menopang tubuh. Mata itu saling pandang ragu tapi Vacto tahu maksud Axton bagaimana.


"Lawan tanpa ragu! Bayangkan saja dia memang musuh kalian!"


"Baiiik!!"


Mereka langsung menyerbu ke arah Axton yang dengan tegapnya meninju keras membuat mereka terpental kemana tempat.


Sekuat tenaga semuanya berlomba untuk membalas sikap kasar Axton tadi tapi mereka hanya menerima tendangan, pukulan melayang yang sangat menyakitkan.


Braakkkk..


Axton membanting mereka semua dengan satu pukulan kerasnya ke pintu sana. Ia memperhatikan gerakan semua anggota yang sangat mudah terbaca dan tak ada rencana sama sekali.


"Lambaaan!! Ini bukan seorang anggotaku!!"


Axton geram memberi bongkeman yang lebih kuat membuat rahang mereka seakan mau patah dengan darah keluar di mulut masing-masing tapi posisi Axton tak berubah sama sekali.


Ia masih berdiri tegap dengan netra tajam mengancam nyama semuanya.


"T..Tuaaaan!!!"


"Cih." decih Axton memelintir tangan-tangan yang ingin meninjunya itu lalu menendangnya ke arah samping.


Alhasil mereka semua bagai tengah di eksekusi membuat bulu kuduk Castor merinding. Axton benar-benar sangat serius dalam segala hal.


"A..Ampunn!! K..kami tak bisa!!!" mereka mengangkat tangan tak mampu lagi bergerak dengan kondisi tubuh remuk redam.


"Kau terlalu berlebihan. Ax!" lirih Castor agak ngeri.


"Mereka yang LEMAH." jawab Axton menatap Castor dengan pandangan penuh perintah. Castor mengerti mengangguki itu dan barulah ia pergi.


"T..Tuan!"


"Banyak hal yang akan terjadi kedepannya. Dan kami akan melakukan penyaringan anggota, siapa yang berkhianat kalian bukan bagian dari kami!!" tegas Castor menanamkan rasa takut itu agar jangan mencoba mengulangi kisah yang sama.


Mereka mengangguk merangkak kembali agar bisa berdiri. Vacto hanya bisa menghela nafas tapi ia yakin Axton punya caranya sendiri untuk menangkap Johar.


..........


Sementara di lantai atas sana. Martinez merasa bingung kala ia mendengar sayup-sayup suara perbincangan tapi tak tahu di bagian mana.


Ia melarikan diri dari Kandang Kuda yang kemaren sempat di kepung tapi untung saja ia bisa bersembunyi di tempat lain.


"Siall!! Aku sudah jengah dengan ruangan kotak-kotak ini." umpat Martinez menyusuri dinding dan lorong bagian atas.


Sepertinya disini tak ada para pelayan atau sejenisnya. tergolong sunyi dan agak gelap mengerikan.


"Aku harus cepat menemukan Kellen. Hanya dia yang pasti tengah bernasib baik." gumam Martinez tak mau mati disini.


Ia melewati beberapa pintu yang sangat aneh menurutnya. Tak ada corak warna selain hitam menambah kekentalan auranya.


"Kellen!! Kau jangan mencoba kabur dariku!! Aku tahu kau sedang bersenang-senang sekarang!!!" teriak Martinez dengan bodohnya melakukan itu.


Ia tak menyadari jika sepasang netra elang itu tengah memantau pergerakan lambannya yang tampak takut melangkah kemana sudut.


"Bagianmu akan segera tiba."


.......


Vote and Like Sayang..