My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Menyusun staregi!



Tatapan kosong manik kecoklatan itu terlempar ke Balkon sana. Kardi dari gaun malamnya di eratkan kala suasana malam semakin terasa dingin dengan butiran embun menempel di mana tempat.


Tampak jelas jika wanita paruh baya itu tengah berfikir dengan perasaan yang berkecamuk. Ia membayang jauh menatap langit miskin bintang tengah redup begitu saja.


"Mom!"


Suara laki-laki jangkung itu tak mengejutkan dirinya. Ia seakan sudah mengetahui keberadaan sang putra di belakangnya.


"Masuklah! Ini sudah malam, nanti kau sakit."


"Bagaimana keadaanya?" tanya Nyonya Verena melirik Martinez dari ekor mata tajamnya. Pria itu sudah berdiri tepat di samping Nyonya Verena yang tenang.


"Masih sama. Tapi, dia cukup tenang malam ini."


"Mustahil." jawab Nyonya Verena menyeringit. Sangat tidak mungkin jika Axton tak mengamuk di setiap waktu ia kambuh.


"Aku benar, Mom! Axton tak berulah setelah di Gereja tadi. Dia tak lagi menunjukan pemberontakan."


"Axton masih sama."


Martinez hanya diam. Ia mendengarkan kepercayaan Momynya yang selalu meyakini jika Axton hanyalah seorang malaikat penyelamat sekaligus kehancuran bagi Keluarga Miller.


"Yah, dia tak akan pernah berubah."


"Kau yakin dengan wanita itu? Martin!"


Martinez terdiam sesaat ia menatap wajah tenang Nyonya Verena yang sepertinya mulai merasa tak nyaman dengan kehadiran Kellen di sisi Axton.


"Kenapa?"


"Aku merasakan sesuatu dalam dirinya."


Dahi Martinez mengkerut mendengar pernyataan Nyonya Verena. Timbul senyum geli seakan mengolok Kellen yang hanya wanita lemah dan tak berguna.


"Mom. Dia itu hanya seorang Dokter kecantikan, lolos dari pukulan Axton saja dia tak bisa. Bagaimana bisa dia mengancam kita?!" tertawa jenaka.


Namun. Respon Nyonya Verena berbeda. Saat melihat pemberontakan dan gema keras Axton tadi, sangat terlihat berbeda seakan Kellen sesuatu yang spesial untuknya.


"Jangan menganggapnya remeh."


"Mom. Sudah berapa banyak Dokter Spesialis bahkan Psikologi terbaik kau datangkan untuk menyembuhkan Axton. Tapi apa? Sia-sia. Dia tetap menjadi tak waras."


"Kauu..."


Geram Nyonya Verena melempar tatapan membunuh pada Martinez yang terdiam. Guratan amarah itu terlihat jelas di netranya.


"Jaga bicaramu!"


"Mom. Sebenarnya kau mau apa?" tanya Martinez tak mengerti niatan sebenarnya Nyonya Verena.


"Dia putraku, jangan bicara hal buruk tentangnya."


Martinez membisu menyimpan rasa dongkol. Nyonya Verena sangat misterius, ntah wanita ini sayang atau memang punya niatan lain.


"Pantau terus perkembangannya! Aku tak ingin Axton dekat dengan wanita itu."


"Axton tak akan lembut padanya. Mom! Lihat saja luka di tubuh wanita itu, jelas Axton memukulinya."


Nyonya Verena hanya menghela nafas halus. Ia tampak tak ada rasa bangga apapun dengan sikap ceroboh Martinez yang selalu berfikir sempit.


"Bagaimana dengan calon tunangan-mu?"


"Shitt. Mom! Dia itu sangat buruk." maki Martinez mengusap wajahnya kasar. Baru saja beberapa hari ini wanita itu menghubunginya masalah Pertunangan.


"Apa yang dia lakukan?"


"Dia bertanya soal kepastian acara itu. Seakan di dunia ini otaknya hanya berfikiran ke situ." umpat Martinez membuat Nyonya Verena tersenyum simpul. Itulah yang ia inginkan, Martinez memang sangat unggul dalam hal wanita.


"Terus pancing dia untuk menjatuhkan diri."


"Maksud Momy?"


Tanya Martinez menyeringit. Selain perebutan kekuasaan apa ada lagi ambisi yang ingin wanita ini kuasai?!


"Kau ikuti saja perintahku."


Tekan Nyonya Verena lalu melangkah pergi. Ia meninggalkan tanda tanya besar di benak Martinez yang mencoba mencerna kata-kata Momynya.


........


Sementara di lorong dingin itu. Keadaan masih sama dan belum berubah sama sekali. Hanya saja Castor memberikan selimut tebal pada Kellen yang masih berusaha bergerak di tengah dekapan tubuh kekar ini.


"Disini terlalu dingin. Air dari pipa itu juga terus keluar, dia tak bisa disini terus." ucap Kellen menyelimuti tubuh berotot Axton yang telah berbaring di lantai yang kering.


Castor menatap genangan air di lantai depan mereka. Lambat laun air ini juga akan naik dan kembali merendam tubuh Axton jika disini terus.


"Jika keluar, dia tak akan bisa beradaptasi dengan matahari dan cahaya. Ini terlalu berat untuknya."


"Iya, tapi tak mungkin membiarkannya disini terus." jawab Kellen seraya merapikan selimut di bagian bahu kokoh Axton yang tidur bak mayat tak bergerak lagi.


Castor berusaha berfikir. Akan sulit mengeluarkan Axton dari sini apalagi Nyonya Verena pasti akan menentang.


"Resikonya besar."


"Yah, sudah lama dia disini."


"Berapa lama?"


"20 tahun!"


Kellen tersentak mendengar jawaban Castor yang tampak berat mengatakannya. Ada rasa sesak dan berat di dadanya kala membayangkan itu.


"D..Dua puluh tahun? Selama itu?"


"Yah. awalnya dia hanya di kurung di kamar. Tapi, semakin hari sikapnya tak terkendali sampai membuat Nyonya Verena marah besar."


"Apa yang dia lakukan?"


Castor menggeleng. Ia juga tak tahu apa yang telah di lakukan Axton sampai membuat Nyonya Verena mengurungnya disini selama bertahun-tahun, kesalahan yang masih menjadi misteri.


"Bukankah Axton punya kelainan?"


"Aku tak tahu. semakin hari keadaanya semakin parah, dia melukai dirinya sendiri seperti anak Autis dan mempunyai emosi yang tak stabil. Dia bisa membunuh siapapun, bahkan. Dia tak segan untuk melukai tubuhnya sendiri jika tengah marah." jelas Castor dengan helaan nafasnya. Ia sudah berusaha untuk mengobati Axton tapi tak pernah berhasil.


Kellen yang mendengar itu serasa nyeri. dulu ia kira hanya ia yang begitu miris, hidup tanpa seorang Ibu dan memikul beban nasib yang tak beruntung. Namun, nyatanya itu bukanlah apa-apa di bandingkan Axton yang sudah lama di neraka ini.


"Hanya kau yang bisa menyentuhnya begini. Dia selalu menganggap kedatangan orang itu sebagai ancaman. Tapi, kau tidak."


"Memangnya aku kenapa?" tanya Kellen tak mengerti kenapa Axton seperti ini padanya. Memang Kellen akui jika Axton masih bersikap kasar tapi disisi lain pria ini mau bermanja padanya.


"Mungkin kau wanita pertama yang berani mendekat padanya."


"Tidak juga. Saat masuk kesini sungguh aku sangat takut, dia sangat menyeramkan." gumam Kellen menyasak rambut agak panjang Axton keatas hingga terlihatlah pelipis dan wajah damainya seperti bayi yang lelap.


Hidung mancung pria ini terselip di antara dua belahan dada kenyal Kellen yang sedikit merasa geli.


"Malam ini dia bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya."


"Kau benar. Malam itu dia bersamaku, memang sering terjaga dan seperti ketakutan selalu bersembunyi dari sinaran lampu." jawab Kellen membayang seraya mengusap keringat di pelipis Axton. Padahal ini dingin tapi Axton berkeringat.


"Jadi, apa kau memang serius ingin membawanya keluar?"


"Kalau tak keluar dari sini. Axton akan terus terkurung dalam rasa takutnya." ujar Kellen beralih menatap Castor yang hanya menundukan pandangan. Bagian dada Kellen tengah terbuka hingga ia tak bisa seenaknya saja.


"Lihat besok. Kuncinya dia harus bisa tenang atau nanti akan jadi masalah besar."


"Kau yakinkan saja Martinez untuk mengeluarkan Axton. Untuk masalah adaptasinya aku akan berusaha semampuku." jawab Kellen serius. Ia tak bisa berlama-lama disini karna harus pulang ke Negaranya.


Urusan Axton harus ia selesaikan secepat mungkin lalu menjalani kehidupan seperti biasa di New York.


"Aku keluar! Kau ingin keluar atau disini?" tanya Castor seraya berdiri.


"Sebentar."


Kellen perlahan menurunkan tangan kekar Axton dari atas pinggangnya. Ia sangat hati-hati menjauhkan tubuhnya dari Axton yang syukurlah tak bergerak.


"It's ok. Kau bisa tidur nyenyak." gumam Kellen sangat pelan menjauh dengan hati-hati melepas selimut yang menutupi separuh tubuhnya tadi.


Saat sudah terlepas. Kellen menghela nafas lega menatap Castor yang mengangguk.


"Ayo!"


"Baik." Kellen dengan perlahan berdiri mengigit bibir bawahnya agar tak membangunkan Axton.


Saat kakinya sudah ingin melangkah. Kellen tersentak saat suara berat itu mengalun.


"Kell!"


Darrrr....


Kellen menatap Castor yang menghela nafas ringan lalu melangkah gontai ke arah pintu meninggalkan Kellen yang membeku.


"C..Castor!!! Kau..kau tak bisa begini."


"Pikirkan rencanamu besok. Jangan sampai gagal!" jawaban Castor lepas tangan untuk satu itu.


Kellen lemas di tempat melihat pintu lorong di tutup.


"Astaga. Ya Tuhan!" lirih Kellen kala Axton bangun beralih merantai kakinya dengan benda beruntai panjang itu.


Tatapan Axton terlihat masih mengantuk hingga dengan pasrah Kellen kembali ke posisi semula.


"Aku susah bernafas." geraman Kellen kala pelukan Axton kali ini seakan memberinya pelajaran berat.


Rantai itu di ikat ke kaki keduanya hingga jika Kellen bergerak maka Axton akan ikut merasakannya.


"Kalau begini terus. Aku akan kehilangan kemurnianku."


Batin Kellen berusaha memejamkan mata mengatur strategi untuk besok. Ia sesekali menahan suara saat bibir basah Axton mengigit bagian dadanya.


Pria ini jika tak punya kelainan maka sudah sedari tadi Kellen tendang sejauh mungkin.


Vote and Like Sayang..