
Tiba-tiba saja mereka di buat bingung saat Axton mengatakan jika mereka akan Menginap di Resort ini karna hari sudah mulai sore dan tak di perbolehkan satu-pun laki-laki masuk ke area pantai.
Bahkan, begitu gilanya Axton sampai mengusir setiap pelayan yang ada di dekat Restoran Resort agar mengosongkan tempat ini. Sementara Anggota di suruh berjaga di sekitar tempat tapi di larang untuk melihat ke area Pantai.
Tentu Nicky sudah tahu apa yang tengah Axton inginkan. Ia-pun tak mau menganggu dan lebih memilih mencari kesenagan sendiri.
"Kau jaga di depan. Dan kau pantau apa ada yang merekam dari atas."
"Aku paham." jawab Nicky berjalan ke arah Mobil meninggalkan tawa geli akan exspresi Castor yang masih kaku.
"Kau mengerti?"
"Apa akan ada musuh disini?" tanya Castor kala Axton benar-benar serius mengatur mereka. Bahkan, para anggota seperti tengah di suruh waspada dan tak boleh mengalihkan mata ke arah lain.
"Kalian jaga saja disini. Jangan ada yang masuk ke area pantai. Mengerti?"
"Mengerti. Tuaan!!" yang lain mengangguki itu membuat Castor keheranan. Tetapi, ia hanya menurut berjaga-jaga di depan Resort sementara beberapa wanita yang sepertinya dari sebuah Perusahaan itu tampak baru keluar dari Penginapan di dalam.
Mereka mendekati Axton yang terlihat menganalisa lokasi sunyi ini. Momen yang pas menghabiskan waktu bersama kesayangannya.
"Tuan!"
"Hm."
"Kami sudah memberikannya pada. Nona!"
Axton mengangguk datar lalu melangkah pergi kembali masuk ke area penginapan. Ia melihat tempat ini sangatlah sunyi dan begitu damai dengan deru angin yang halus.
Sesampainya di bangunan serba kayu seperti Hawai itu. Axton sudah tahu dimana kamar Kellen berganti pakaian.
"Sayang!" panggil Axton membuka pintu penginapan. ruangan luas dengan dekorasi segar khas pantai di kamar ini tampak kosong tanpa kehadiran wanita itu.
"Kemana dia?"
Gumam Axton masuk untuk memeriksa dimana Kellen. Beberapa Paper-bag di atas ranjang telah di buka dan berarti wanita itu sudah mengambilnya.
Ia melihat ke arah Balkon kamar dimana tirai putih itu telah berkibar karna belaian angin. penciuman Axton sangat tajam mendeteksi jika aroma Vanilla ini tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Aku rasa ini cocok. Tapi, emm.. Tidak.. Ini terlalu mencolok."
Suara gumaman itu membuat Axton segera pergi ke arah Balkon menyibak tirai yang berkibar.
Namun. Seketika ia tercekat di tempat melihat Kellen tengah mencoba Bikini berwarna merah menyala yang menampung aset-aset berharga itu.
Ludah Axton tertelan berat melihat tampak belakang tubuh jenjang istrinya yang memang semok dan begitu menggairahkan.
"Ini atau yang hitam? Tapi.."
Kellen terperanjat kala ada yang meremas bokongnya. Ia berbalik ke belakang dengan tatapan lega karna ia kira tadi siapa.
"Aax! kau mengejutkan aku." gerutu Kellen tanpa rasa bersalah menunjukan semua ini pada seorang Singa yang sudah kelaparan dan sangat buas.
Dua buah daging empuk nan sekang itu tak sepenuhnya terbalut oleh bera kecil yang terlihat menggemaskan menutupi puncak buah kesukaannya ini. tatapan Axton semakin berat dan tangannya sudah gatal ingin merembes kemana-mana.
"Ax! Apa ini bagus atau terlalu mencolok?" tanya Kellen memutar tubuh jenjangnya. Kulit putih mulus dan semuanya tak lagi di sembunyikan kecuali benda segitiga di bawah sana.
"Ini warnanya terlalu terang. Bukan?"
Kellen bicara sendiri meneliti penampilannya tetapi di mata Axton setiap pergerakan Kellen adalah sebuah godaan besar baginya.
"Aaax! Kau jangan diam saja, ini sudah mau sore."
"Hm?" gumam Axton masih belum mengalihkan pandangan dari dada Kellen yang membuat ia sangat gemas.
"Sayang! Apa ini bagus atau tidak?"
"Seksi!"
Seketika wajah Kellen berubah malu menepuk bahu Axton yang mengigit bibir bawahnya mengagumi semua ini. Ia tampaknya sudah mabuk kepayang.
"Jangan mesum disini, aku hanya minta pendapatmu. Ax!"
"Hm. Kau.."
Axton menjeda kalimatnya lalu menarik pinggang ramping seksi itu merapat ke arahnya. Jarak yang tadi tertera Axton tepis dengan menempelkan tubuh mereka.
"A..Ax!"
"Ss Seksi!" desis Axton ingin meraup bibir Kellen tetapi secepat mungkin Kellen mendorong dada Axton mundur.
"No! Aku mau berenang."
"Kau.."
"Bay Bay!" ucap Kellen dengan cepat berlari masuk ke kamar dengan suara langkah kaki ke arah pintu keluar.
Seketika Axton bersandar ke pagar kayu Balkon menatap hampa kepergian Kellen. Sialnya si Junior di bawah sana sudah ingin di manjakan.
"Dia itu.."
Axton mengusap wajahnya kasar. Ia kira tadi akan mudah menguasai Kellen dengan keadaan seperti itu tetapi, nyatanya Kellen kekeh ingin bermain air.
Namun. Sekilas kemudian ia tersenyum kala melihat satu set Bikini hitam tergeletak ada di lantai Balkon, pasti ini yang menjadi kebingungan Kellen tadi.
"Shitt. Kau selalu membuatku menunggu." desis Axton mengambil benda itu lalu masuk kembali ke kamar.
Ia pergi menyusul Kellen yang pasti sudah ada di Pantai meluapkan keinginannya hari ini. Di luar tampaknya memang sudah sepi, tentu hal ini membuat Axton lega tak ada yang mengintip istri seksinya.
"Aaaaax!!!"
"Shitt!"
Umpat Axton kala Kellen tampak berdiri di pasir pantai sana melambaikan tangan padanya. Jelas itu membuat Axton bersemangat untuk mendekat ke arah sana.
"Ax!"
"Jangan terlalu ke tengah. Kau bisa tenggelam."
"Airnya dingin." gumam Kellen merendam kakinya di antara tumpukan pasir yang di dorong air laut ke atas.
Axton hanya memilih untuk menahan hasratnya tak mau merusak keinginan Kellen yang tampaknya tengah asik bermain air.
Dreet..
Ponsel Axton tiba-tiba berbunyi membuat pria itu berdecih malas melihat benda pipih itu. Tapi, ini ada Nicky yang menghubunginya.
"Hm."
"Kau sekarang dimana?"
"Pantai!"
"Begini, Martinez tengah mencarimu. Dia mungkin tak terima soal yang tadi pagi."
Axton menghela nafas halus. Di kondisi seperti ini ada saja yang ingin menganggunya.
"Kau urus saja. Aku malas sekarang."
"Aku tahu. tapi, kau bersiap saja untuk yang terperangkap di dalam."
"Hm."
Axton mematikan sambungannya. Ia tak melepas tatapan dari Kellen yang terlihat sudah basah dan sibuk merendam tubuhnya di dalam air.
"Aax!"
"Apa?"
"Sinii!" panggil Kellen tampak berbaring diatas pasir. Ia membiarkan air pantai yang segar memijat tubuh jenjangnya yang tampak semakin pulen.
Mau tak mau Axton pasrah membuka sepatu dan jaket ya hanya menyisakan kaos putih lengan pendek yang mencetak otot-otot atletis di tubuhnya. Celana panjangnya ia gulung sampai ke betis dan barulah ia mendekati Kellen.
"Duduk di sini!"
"Basah."
"Kauu.."
Kesal Kellen segera bangun menarik lengan Axton untuk duduk di sampingnya. Alhasil Axton tak menolak hanya sekedar menggoda sang istri.
"Temani aku."
"Apa yang indah dari semua ini?" gumam Axton melihat hamparan lautan luas dan langit jingga diatas sana.
"Aku tak pernah melihat Sunset seindah ini. Ax!"
"Hanya Mentari terbenam. Apa yang spesial?" tanya Axton menatap datar pandangan indah di mata orang biasa itu. Axton sama sekali tak tertarik dengan hal seperti ini.
"Ax! Kau mungkin menganggapnya hal biasa karna kau tak tahu betapa besarnya makna melihat jingga dan kemilau senja ini bagi seseorang yang punya sebuah keinginan."
Axton terdiam mendengar ucapan Kellen. Ia menatap dalam kemilau indah itu mencoba menemukan apa yang ingin ia capai?!
"Kau melihat apa disana?"
"Masa lalu."
Batin Axton dengan wajah datar seakan tak mengenang apapun. Padahal, ia melihat gambaran masa kecil yang cukup mengenaskan.
"Ax!"
Kellen bisa melihat jika masih ada sesuatu yang membentengi Axton untuk mengekspresikan dirinya di masa kecil.
"Ax!"
"Hm?"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kellen menyandarkan kepalanya ke bahu Axton yang masih belum memulai pembicaraan.
"Kenapa kau bisa hilang-ingatan seperti kemaren dan kenapa bisa Masimo menguasai Klan kalian?"
"Aku tak bisa mengatakannya disini." gumam Axton mengusap lengan Kellen yang mengerti.
"Baiklah. Aku akan menunggu sampai suamiku ini menceritakan dongeng tidur untukku."
"Terimakasih." jawab Axton mengecup kening Kellen yang mengangguk membelit pinggang kekar Axton yang tampak terfikir ke sana.
Wajah datarnya-pun tak lagi bersemangat membuat Kellen merasa bersalah karna membahas ini.
"Aax!"
"Hm?"
"Kenapa wajahmu tambah jelek?"
Axton tersentak mendengar ucapan Kellen yang melepas pelukannya.
"M..Maksudmu?"
"Ntahlah. Kau jelek, aku tak tak mau punya suami jelek."
Axton benar-benar syok mendengar jawaban Kellen yang menjauh darinya.
"Pergi sana!"
"K..kau.."
"Aku mau cari suami baru."
"Kellen!!"
Kellen terkekeh geli melihat exspresi kesal Axton yang membuatnya berdiri dengan cepat berjaga.
"Bweee!! Dasar Jelek!"
"Kesini kau!!"
Tawa Kellen pecah berlari membuat Axton segera mengejar karna takut jika wanita itu jatuh atau akan berdampak buruk bagi janinnya.
"Jangan berlari!!"
"Kejaaar!! Jeleeek!!"
"Shitt!" umpat Axton mengejar cepat segera menarik pinggang Kellen hingga tubuh wanita itu melayang masuk ke dalam pelukannya.
"Mau kemana. Ha??"
"Aax! Jeleek, aku mau cari suami baru!!"
"Coba saja. tak ada yang mau denganmu." ketus Axton bertopang dagu ke bahu Kellen yang ia peluk dari belakang.
"Kau yakin. Tuan?"
"Hm? Tak ada yang mau denganmu."
Kellen menarik seringaian liciknya menarik tangan Axton yang semula membelit perutnya untuk memeggang dadanya yang sekang.
"Aku masih segar. Sayang!"
"Kelll!!" geram Axton marah dengan kejahilan wanita ini. Bisa-bisanya berfikiran hal seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuat Axton menggila.
"Aku benar. siapa yang mampu menolak aku. Hm?" bisik Kellen dengan suara di buat serak yang membahayakan.
Karna desakan rasa panas itu. Akhirnya Axton dengan cepat menyambar bibir Kellen membungkam wanita itu dalam kekuasaan penuh.
"Axmm!!"
Kellen yang terkejut akan serangan mendadak ini tampak memasrahkan diri. Ingin lari-pun ia tak akan bisa jika Axton sudah membelit begini.
Ciuman kasar dan erotis ini memanglah ciri khas seorang Axton. Kellen-pun tak bisa menepis jika ia juga menyukainya.
"A.. Axmm!"
Kecupan panas Axton beralih menyusuri leher jenjang itu menyibak rambut panjang Kellen untuk memberi gigitan halus di bahu dan tengkuk yang merinding.
"A..Ax! K..kita..kita..ehmm."
"Kau yang menggodaku." serak Axton mengigit daun telinga Kellen menciptakan percikan gairah diantara keduanya
Tangan Axton bergerak meremas gemas dua bongkahan daging kenyal itu membuat Kellen tercengang menahan tangan Axton.
"A..Ax! Kita..kita di luar."
"Lalu?" tanya Axton menaikan alisnya penuh makna. Seketika Kellen syok kala tahu jika niatan Axton memang ingin melakukannya di alam terbuka seperti ini.
"Ax! kau gila?"
"Yah. Aku MENGGILA karnamu." desis Axton segera melancarkan aksi heroiknya. Ia memaksa Kellen untuk melakukannya disini dan tentu Kellen yang masih sadar enggan untuk menuruti Axton.
"Sayang! Disini tempat umum."
"Aku..aku mau disini. Please!" pinta Axton tampak sudah berapi-api. Salah siapa yang memberinya ide ini dan ia tak mau menunda lagi.
Alhasil karna Axton terus memberikan sentuhan maut itu. Akhirnya Kellen terbuai ikut masuk dalam cumbuan panas sang suami.
Axton tak bisa menunggu untuk tak memulai pertempuran ini. dengan cepat ia membuka Tali pinggangnya lalu menurunkan Resleting celana yang sudah membengkak.
"A..Ax!"
"Jika sakit beri tahu aku." serak Axton dengan nafas memburu. Ia membuka kaos yang membalut tubuh kekarnya membuat Kellen bertambah berdenyut hebat.
"A..aku.. Aku yang diatas."
"Kau yakin?" tanya Axton karna tak mau membuat Kellen dalam bahaya walau itu sangat menyenangkan.
Kala Kellen menganggukinya. Axton segera duduk di atas pasir basah ini menunggu Kellen membuka **********.
"Kell!"
"Sebentar." gumam Kellen melepas bagian terakhir di bawah sana dan barulah ia naik ke atas paha Axton yang sudah sangat tak tahan.
Ia memberikan remasan gemas ke bokong indah Kellen yang sudah mulai mengeluarkan senjata inti ini.
"Kell!" desis Axton kala pusakanya sudah di keluarkan dari persemayaman. Wajah Axton sudah merah padam dengan hembusan nafas berat menggigil menahan lonjakan hasrat yang besar.
"Cepatlah!!"
"Haiss.. Cerewet." gumam Kellen mulai memposisikan dirinya.
Satu tangannya berpeggangan ke bahu Axton yang melihat ke bawah sana. Ia kesusahan karna ukuran pusaka bertuah ini memang sangat menggetarkan jiwa.
"A..Ax .."
Axton membantu menekan perlahan membuat Kellen mencengkram bahunya kuat. Rasanya begitu hebat dan membuat keduanya hilang akal.
"A..Ax aku.. Akhhss!" pekikan tertahan Kellen yang segera membekap mulutnya kala benda keras perkasa ini sudah mampu membelah tubuhnya.
Axton hanya bisa memejamkan matanya merasa ini sangat gila. Ntah kenapa penyatuan yang sering kali mereka lakukan terasa sangat membuatnya candu apalagi Kellen pandai merawat setiap apa yang di sukai oleh Axton.
"S..Sayang!"
...
Sementara di bagian depan Resort sana. Castor tengah menahan sosok wanita yang tadi tertangkap tengah menyelinap masuk ke dalam penginapan Kellen dan Axton.
Tentu Castor tak ingin Axton berbuat hal yang sudah ingin sekali di lakukan pada wanita ini.
"Kenapa kau kesini. Ha?"
"Apa masalahmu?" ketus Isyana mencoba lepas dari cengkalan Castor. Ia tadi hampir saja bisa melakukan rencananya tapi pria sialan ini dengan cepat membekuknya.
"Kau ingin mati. Ha?"
"Aku tak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaanku." desis Isyana tampak begitu marah. Perlakuan Axton yang begitu memanjakan Kellen membuat jiwanya seketika memberontak hebat.
"Mereka sudah menikah. Kau tak bisa mengacaukannya. Isyana!!"
"Diam kau!! Aku tak akan membiarkan wanita itu mengambil HAK ku."
....
Vote and Like Sayang..