
Melihat keadaan Kellen baik-baik saja itu sungguh membuat pria yang ada di dalam Taksi ini lega. ia sudah lama menunggu disini dengan harap-harap cemas jika Kellen sampai di permasalahkan oleh seluruh orang di Perusahaan.
Namun. dari raut wajah kesal Kellen yang sekarang duduk di dalam mobil, ia hanya bisa menghela nafas melajukan mobil kembali menuju Apartemen Kellen.
"Apa yang terjadi?"
"Kau benar." jawab Kellen menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. ia melepas kembali kacamatanya hingga netra ember itu bisa di lihat bebas.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Dia bilang dia tak bertunangan. padahal jelas jika Miss Barbie mengatakan jika mereka segera ingin bertunangan." kesal Kellen mendengus.
"Miss Barbie?"
"Yah. dia Model utama di Negaraku."
Pria itu manggut-manggut mengerti dan mencoba memahami.
"Kau sudah tahu jawabanmu. lebih baik kau cepat pergi dari Negara ini."
"Memang benar. suasana disini sangat buruk karna orang seperti itu." geram Kellen memejamkan matanya untuk sekedar meredam rasa lelah. kalau bukan karna paksaan Dadynya, ia tak akan pernah sudi untuk datang kesini.
Mobil melaju stabil melewati jalanan yang cukup ramai di Barcelona ini. banyak kebudayaan yang di tampilkan di sekitar tempat ini membuat Kellen agak rileks sejenak.
"Masih jauh?"
"Tidak. ini sudah masuk area Apartemen." jawab pria itu dengan lihainya menyalip beberapa mobil di depan. sepertinya tempat ini dekat dengan beberapa fasilitas Negara seperti sekolah dan Kampus yang tampak ramai di kerumuni para remaja.
Kellen hanya diam saat Mobil ini terhenti di depan Apartemen yang begitu tinggi dengan gelaran kemewahan. tentu Kellen tak semiskin itu untuk membayar tempat ini.
"Stafnya sudahku kabari. mereka akan langsung menemani kedalam."
"Kau?" gumam Kellen agak aneh. pria ini seakan tahu semua seluk beluk Negara ini sampai pada Apartemen yang akan ia inap.
Melihat respon Kellen. Pria itu tersenyum hingga rahang panjangnya terangkat lebar, terkesan sangat ramah dan auranya juga positif.
"Tak perlu khawatir. aku orang sini dan tak akan berbuat jahat padamu."
"Aku harap begitu." jawab Kellen keluar mobil. benar saja, disaat kakinya baru melangkah ke bawah maka para Staf Apartemen datang langsung ke arah Mobil.
"Shenorita!"
"Maaf, aku bisa membawanya." Kellen memilih untuk menarik Koper yang di keluarkan Supir taksi itu tapi para Staf yang lain segera mengambilnya.
"Kalian.."
"Tenang saja. kami akan memberikan pelayanan yang maksimal." ucap mereka memberi senyuman yang Kellen anggap ini sangat rumit.
"Mereka kenal denganku. aku sering mengantar Pengunjung kesini."
"Tapi.."
"Thomas!" ia mengulur tangannya dengan senyuman tak lekang. Kellen menatapnya sejenak antara ingin menjabat dan tidak, tapi mengingat kebaikan pria bernama Thomas ini, ia jadi segan untuk acuh.
"Kellen. dan terimakasih." menjabat tangan Thomas yang dengan hangat menggenggamnya.
"Tak apa. lain kali jika kau butuh sesuatu, kau bisa menelfonku."
"Baiklah. terimakasih!"
Thomas mengangguk melepas genggamannya seraya memandangi Kellen yang diiring masuk menuju pintu Utama Apartemen yang sudah di jaga dengan ketat.
Kellen menunjukan kartu identitas dan kartu masuknya hingga barulah ia masuk menoleh kebelakang menatap Thomas yang melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
"Aneh." gumam Kellen kembali melihat kedepan melewati beberapa pengunjung Apartemen.
Agak lelah memang tapi Kellen menahan pegal di tubuhnya sampai ke arah Lift yang baru saja di naiki beberapa orang dari lantai atas.
"Sampai disini saja. aku tahu kamarku dimana?!"
"Shenorita! apa pelayanan kami tak cukup nyaman?"
Kellen menggeleng memaksa mengambil alih Kopernya. Ia tersenyum hangat pada dua wanita berambut lurus ini.
"Tidak. hanya saja aku rasa ini terlalu berlebihan."
"Kalau begitu kami permisi." pamit mereka kembali bekerja ke arah lain.
Kellen menatapnya sebentar lalu menaikan bahu tak mengerti kembali masuk kedalam Lift. ia memasang kembali kacamatanya karna lebih nyaman begini.
Drett..
Ponsel Kellen berbunyi. mungkin itu deringan kesekian kalinya tapi Kellen belum menyadari itu karna sibuk dengan kejengkelannya tadi.
"Ouhh shitt. aku sampai lupa." umpat Kellen melihat nama Dadynya yang pasti cemas karna ia lupa mengabari jika sudah sampai kesini.
"Hello. Dad!"
"Kenapa tak menjawab telfon? apa kau baik-baik saja?"
Suara berat Tuan Benet yang terdengar masih sesak nafas.
"Kenapa lama sekali tak menelfon? Dady khawatir kau hilang disana."
Mendengar itu Kellen tersenyum geli. pria ini selalu bisa membangkitkan semnagat dan moodnya setiap hari.
" Kellen masih di Apartemen."
"Jangan sampai kelelahan. istirahat yang cukup, dady sudah masukan anggur hangat ke Kopermu. Sayang!"
Kellen terhenyak langsung menatap Kopernya. sejak kapan Tuan Benet membongkar isi Kopernya apalagi pria itu kemaren masih di atas ranjang rumah sakit.
Tahu akan kelakuan sang Dady. Kellen benar-benar kesal.
"Dady!!!"
"Sutt! jangan marah, Dady hanya turun sebentar. itu tak sakit."
Kekehan di seberang sana membuat Kellen menghela nafas dalam. ada rasa senang di hatinya mendengar suara tawa kecil pria tua ini, ia seakan punya semangat baru untuk terus membahagiakan Ayahnya.
"Dad! jangan pernah langgar aturan tidur, makan dan Please, berhentilah bekerja. Kellen tak suka Dady masuk rumah sakit." gumam Kellen seraya menarik Koper keluar dikala Lift sudah terbuka.
"Dady tahu. kau juga sama, jangan pernah merasa sendiri. Dady bersamamu, Baby!"
"I love you!" ucap Kellen memberi kecupan jauhnya. terdengar juga balasan Tuan Benet yang begitu terdengar menyayangi Kellen sebagaimana sebaliknya.
Namun. Kellen merasa tengah di awasi hingga ia segera mengakhiri perbincangan kecil ini dengan pandangan mata terasa tak nyaman.
"Kenapa lantai kamarku sesunyi ini?"
Batin Kellen tetap melangkah kearah pintu ruangannya. Jelas Kellen orang yang peka hingga ia sadar jika sedari masuk Lift gerak-geriknya selalu di pantau.
Tapi. Kellen berusaha santai berdiri di pintu kamarnya seraya meletakan kartunya ke alat sensor. ia memasukan sandi dengan cepat tapi masih seakan belum menyadari hal ini.
"Aku rasa aku tak sendiri." gumam Kellen menutup pintu kamarnya rapat kembali. mata embernya mengamati kamar luas dengan warna abu dominan ini sangat khas dan terhubung langsung bersama Balkon di luar.
Kellen segera memeriksa setiap penjuru ruangan ini. Dari mulai kamar mandi yang cukup luas lalu Kellen mengitari setiap sudut kamar termasuk tirai tebal yang sengaja di tutup agar cahaya dari luar tak masuk.
"Tak ada Kamera-kan?"
Matanya liar melihat ke semua sudut. jelas Kellen waspada karna bisa saja disini ada orang yang berniat jahat padanya.
Tak lama berselang. pintu kamar Kellen di ketuk membuat wanita dengan tubuh semampai itu mendekat. ia menyimpan ponsel di tas kecil yang tetap ia peggang.
"Excuse me!"
Kellen segera membuka pintu kamarnya hingga penampakan dua Pria berseragam ini membuat dahi Kellen mengkerut.
"Ada apa? Pak!"
"Kau yang beranama Kellen Lutz DeBerry?" tanya pria berseragam polisi Spanyol ini serius. Kellen mengangguk membuka kacamatanya hingga dua aparat Negara itu saling pandang.
"Memangnya ada apa?"
"Kami mendapat laporan jika kau memalsukan identitasmu di negara ini."
Kellen tersentak kaget. ia terdiam belum terfikir akan ucapan Polisi yang tengah bertugas tetap.
"M..maksudnya?"
"Kami telah mendapat tuntutan atas namamu. kau memalsukan identitas dan memakai nama Agensi yang di lindungi di Negara ini."
Penjelasan ini tak bisa lagi Kellen bantah. ia tak mengira kalau semua ini akan terjadi apalagi akan di waktu yang begitu cepat. bernafas saja Kellen baru setengah persen.
"Pak! tapi saya memang mendapat kartu itu dari Agensinya. saya bisa me.."
"Sesuai aturan Negara ini. kau harus ke Dapartemen kami." tegas mereka tak membiarkan Kellen membela diri. ia di giring keluar pintu hingga Kelllen diam mencoba berfikir.
"Siapa yang melaporkan saya. Pak?"
"Kau sendiri yang mencari masalah disini." geram mereka menatap Kellen dengan kejam seakan penangkapan ini diluar kondisi hukum. Bahkan, Kellen yakin penyamarannya tadi tak di kenal siapapun kecuali..
"Sialan!! dia.. dia benar-benar melakukannya."
Batin Kellen mengingat wajah licik Martinez sebelum ia pergi tadi. nyatanya Thomas benar, disini ia tak akan bisa membela atau mencoba mengelak dari kekuasaan Keluarga Miller itu.
..............
Para pelayan yang sudah bermandian air itu segera berlarian kembali ke atas karna keadaan di bawah sudah tak bisa di katakan baik. Pipa air di gorong bagian bawah di pukul habis sampai suara pancuran itu terdengar ke atas.
"Bagaimana bisa kalian lengah. ha?? pasung dia dan jangan biarkan naik ke atas!!!"
Suara umpatan kasar dan sangat merutuk dari seorang kepala penjaga yang tadi sempat kecolongan. Pria dengan jambang tebal dan tubuh agak pendek itu terus mendesak semua pelayan untuk masuk menutup pintu ruangan bawah tanah untuk sementara waktu.
"Airnya akan naik. kita tak bisa menunggu disini saja." ucap Kepala pelayan wanita yang tak berani masuk ke dalam. suara hantaman besi di ruang gelap itu sudah membuktikan sedang apa pria gila itu sekarang.
"Sebelum Tuan Martinez pulang. kita sudah harus membereskan ini. atau semuanya akan habis." ucap pria paruh baya itu cemas dan sangat takut jika sampai pria itu naik ke atas maka nyawa mereka akan hilang detik ini juga oleh Nyonya besar disini.
.........
Vote and Like Sayang..