
Saat melihat sepasang pasutri itu berciuman penuh hasrat. Pria yang tadi ingin masuk ke Toilet segera mengurungkan niatnya.
Ia menggeleng melihat bagaimana gejolak darah muda zaman sekarang yang nyatanya melebihi expextasi ingatan lamanya.
Kellen sengaja membuat penampilan mereka sedikit berantakan dengan menyembunyikan Hoodie dan Sweater di belakang punggung Kellen yang merapat ke dinding.
Axton-pun tak menolak setiap cumbuan yang Kellen berikan. Bahkan, pria ini dengan sangat bergairah membalas tak kalah panas dan menggoda jiwa kewanitaan Kellen.
"Ehmm!"
Kellen sedikit menggeram nikmat kala tangan nakal Axton bergerak dengan naluri lelakinya menelusup ke dalam kaos Kellen mengelus punggung halus dan lembut itu penuh kasih dan sayang darinya.
Ciuman itu terlalu bergairah tak bisa Kellen tepis jika bibir Axton memang sangat pas dengannya. Ntah Axton yang terlalu bersemangat atau Kellen yang tengah hanyut sampai tak sadar tali beranya lepas.
"Akhmm!"
Kellen pasrah untuk sesaat membiarkan Axton membelai punggung indahnya. Ia hanya bisa mengalungkan lengan ke leher kokoh ini membiarkan Axton melepas dahaga memberikan ciuman yang sangat-sangat luar biasa.
"A..aku..aku tak bisa.."
Batin Kellen memberontak antara sadar dan tidak. Keduanya terlalu sayang untuk di lepaskan tapi juga gugup jika berlanjut.
Axton-pun sama, ntah kenapa ia ingin memperlakukan Kellen begini, ia ingin menguasai tubuh wanita ini sampai titik terdalam.
Niatan itu timbul ntah dari hati atau akalnya yang perlahan naik ke permukaan.
"A..Axxmm!!"
Axton sudah gelap. Ia melepas tautan keduanya dengan nafas memburu dan sangat menderu panas.
"Kell!"
"K..kau.."
Kellen tak sempat bicara banyak karna lagi-lagi Axton memberikan kecupan menggoda yang membuat nafasnya melemah.
Tatapan itu bertaut dengan dahi merapat satu sama lain. Pesona Axton membuat Kellen tak berdaya, netra elang dan visual sempurna ini memang membuat jiwa wanita memberontak.
"J..jangan di terus..kan Ax."
"Kenapa?" tanya Axton dengan ucapan lancar. Kellen terdiam sesaat merasa ia berdiri dengan sosok yang berbeda. Suara serak Axton begitu seksi tapi tatapan ini tak lagi polos padanya.
"A..Axton?"
"Kell!" gumam Axton memejamkan matanya untuk sejenak meresapi sensasi hangat ini.
Mata ember Kellen yang masih terbuka mengamati garis rahang dan wajah tampan Axton tanpa cacat sedikitpun.
"Kenapa dia sangat tampan?"
Batin Kellen merasa lemah ketika raut wajah jantan ini sudah ada di depan matanya.
Tanpa ia sadari tangannya beralih menangkup rahang tegas Axton yang hanya diam masih dengan mata terpejam.
Jemari lentik itu perlahan bergerak menyusuri rahang pria itu sampai ke dagu tegap yang tak ada kurang sama sekali. Hidung mancung pas dengan alis tebal yang menukik tajam. Semuanya benar-benar visual idaman wanita.
Kala jari Kellen tiba di bibir Axton yang sensual. Wanita itu tak bisa menahan diri untuk tak memberikan kecupan yang melayangkan batin sang suami.
"Kell!"
Lirih Axton meremas pinggang Kellen kala bibir basah itu kembali memberi kecupan yang menggoda di ujung bibirnya.
Ntah memancing atau bagaimana, Kellen benat-benar membuat Axton kehilangan kesabaran dan pertahanan itu akan roboh jika Kellen tak menarik diri lebih cepat.
"Aaaaxxx!!!"
Spontan Kellen terpekik hebat saat Axton mengigit dagunya agak kuat tapi terselip rasa gemas yang dalam.
"Aku ingin.."
"A..apanya? Aku..aku tadi.."
Kellen benar-benar hilang akal. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi untuk menghindari tatapan dalam Axton padanya.
"A..Ax! Kita.. Kita harus pergi ke.."
Belum sempat kalimat Kellen ke ujung, Axton sudah lebih dulu mengendus lehernya dengan rasa penasaran dan gairah yang tinggi.
"Aax!
" Aku suka." gumam Axton memberi kecupan hangat di bawah daun telinga Kellen yang meremas bahunya penuh sensasi.
Kellen berperang dengan hati dan pikirannya. Di suatu sisi Axton memang suaminya dan pria ini berhak atas apapun tapi, ia hanya berencana mendampingi sampai Axton sembuh, tak ada niatan untuk melanjutkan.
"A..Ax! S..sudah.."
"Kell!" lirih Axton tak bisa berhenti. tangannya yang ada di balik kaos Kellen menjalar ke atas tahu dimana letak dua Squishi kembar yang selalu menjadi aset favoritnya.
Kellen tak bisa bernafas normal. Dadanya naik turun seiring dengan tangan Axton yang bergerak pelan sampai ke arah depan membuat ia menggelinjang.
"Aax!!" geraman Kellen tersentak saat Axton mendapatkan kemauannya. Tatapan Axton sangat penasaran dan suka dengan apapun yang Kellen punya dan perlihatkan.
"Cukup!!! sadar.. Sadar. Kellen! Dia..dia tak benar-benar menganggapmu seorang wanita."
Batin Kellen menggeleng kuat mencoba menurunkan tangan Axton yang meremasnya penuh rasa bingung tapi wajahnya terhibur dengan tekstur benda ini.
"A..Ax! K..kau main yang lain. Kau.."
"Ini.."
"Kita.. Kita pulang. Yah? Ini..ini jangan di sentuh." Gugup Kellen terbata-bata berusaha membujuk Axton yang mengeraskan wajahnya.
Terlihat jelas jika pria ini enggan berpaling dari suasana yang mencekik Kellen di tempat.
"Ax! Lepas, nanti banyak orang yang melihat kesini."
"Orang?"
Kellen mengangguk dengan wajah merah menahan rasa malu. Untung saja hanya Axton si pria tak tahu hal lain antara pria dan wanita.
"Ayo! Ayo pulang!"
"Kenapa?"
Tanya Axton dengan intonasi datar. Ia masih merapatkan tubuh keduanya sampai tak ada ruang yang bisa memisahkan.
"Kita pulang. Kau ingin istirahatkan?"
"Istirahat?"
"Y..Yah.. Tidur. Kita.."
Cup..
Kecupan kilas itu membungkam Kellen yang mengigit bibir bawahnya tak lagi bisa bicara. Pesona pria ini terlalu kuat untuk ia bantah.
"A..Ax kau..."
Lagi dan lagi. kecupan yang menyatakan agar Kellen jangan menolak dan tak boleh mencari alasan lagi.
Axton ingat rasa dan sensasi dahsyat saat Kellen mengajarinya berciuman lewat Permen itu. Ia penghafal yang luar biasa.
"Ax!"
"Kellen!" gumam Axton memperhatikan gerak bibir Kellen yang bengkak karna hisapan gemasnya tadi
Dalam pikirannya sekarang hanya bersarang wanita ini dan tak mau beralih tempat.
"Ax! Jangan terlalu dekat denganku."
"Dekat?"
Kellen mengangguk dengan pandangan yang lemah. Ia takut jatuh cinta dan takut seperti wanita lain di luar sana.
"Aku..aku tak siap sakit hati."
"Sakit?"
Tanya Axton kenal dengan makna itu. Ia menatap bekas luka yang Kellen terima karna perbuatannya. Apa wanita ini sakit karna itu?
Namun, yang Kellen maksud itu berbeda. Hanya saja pernikahan mereka hanyalah sebuah ikrar palsu dan paksaan. Tak ada cinta dan hanya timbul rasa kasihan.
"Kau ini masih polos." mengusap kepala Axton dengan tatapan nanarnya.
"Kau tak mengerti hubungan serius antara pria dan wanita. Ax! Hm?"
Axton hanya diam. Tiba-tiba saja hatinya resah dan takut mulai datang. Perkataan Kellen itu sangat menyakitkan baginya.
.......
Vote and Like Sayang..