
Menempuh perjalanan yang cukup jauh dan begitu membutuhkan penjagaan yang ketat dari anggota lain yang tengah menangani pihak kepolisian yang mengejar mereka.
Tentu hal itu sangat merepotkan tetapi, untung saja mereka punya atasan dari Militer Negara ini hingga bisa di atasi dengan mudah.
Terlepas dari masalah itu, keberuntungan tiba-tiba menghampiri. Di Mobil yang melaju begitu kencang menerobos malam tengah menampung seorang wanita yang sedari tadi mengeluh sakit dan meminta tolong agar pergi ke Rumah Sakit.
"A..aku.. M..mohon.."
Lirihan yang terus keluar di kursi belakang. Tubuhnya sudah banjir keringat dan wajah itu sudah pucat benar-benar tak lagi punya tenaga menahan denyutan hebat di dalam sana.
Bukannya kasihan atau iba. Dua anggota yang ada di kiri-kanan Kellen tampak sangat senang karna dengan Bayi itu lahir maka, mereka punya kuasa untuk melawan Putra Fander.
"Tak ku sangka keberuntungan berpihak pada kita."
"Sekarang sudah malam. Baik selamat atau tidak, bayi itu tetap membawa keberuntungan."
Ucap mereka menertawakan Kellen yang menggeram hebat. Ia mencengkram kedua disi kursi penumpang mencoba tetap bertahan walau nyawanya seakan mau lari dari raga ini.
"A..Ax! Aku.. Aku tak tahan.."
Batin Kellen mengigit bibirnya terus-menerus sampai berdarah menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Ia melihat keluar dengan sayu dimana Mobil ini seperti melewati sebuah perairan menuju pelabuhan.
"Mereka sudah siap?"
"Yah. Kita tinggal berangkat."
Kellen tak tahu apa rencana anggota Masimo ini yang sebenarnya. Sedari tadi mereka hanya membicarakan soal kematian dan begitu seterusnya.
"A..aku..aku harus lari, mereka..mereka akan menyakiti bayiku."
Batin Kellen mencoba tetap bisa bertahan. Mobil sudah berhenti tepat di sebuah Container besar dimana ada Balok-balok kayu yang sepertinya mau di kirim ke tempat lain.
"Kau mendapatkannya?" tanya seorang pria yang membawa senjata laras panjang di luar Mobil.
"Dia sudah tak berdaya. Sedangkan kedua pria itu ada di Mobil belakang."
"Bagus! Cepat bawa dia ke atas Kapal!"
"Kapal? Mereka membawaku kemana?" batin Kellen benar-benar gelisah. Ia berusaha untuk tetap tenang padahal sekarang rasanya pinggang itu mau lepas dari tubuhnya.
Pintu Mobil di buka dengan spontan mereka menarik lengan Kellen untuk turun. Tentu kaki Kellen yang sudah pucat dan mati rasa tak bisa berjalan membuatnya terjatuh di dekat Ban Mobil.
"A..aku.. Aku t..tak bisa."
"Bukan Urusanku!!" maki mereka tak perduli. Dengan sekali tarikan di lengannya Kellen terpaksa berdiri dan berjalan mengikuti para anak buah musuh yang berjaga ketat disini.
Lampu besar kapal yang menyala menyorot Kellen yang digiring bagai Tersangka kasus kriminal.
"Cepat bawa dia ke atas! Waktu kita tak banyaak!!"
"Aku mengerti." jawab pria yang tengah menarik lengan Kellen terburu-buru ke arah tangga Kapal.
Gelombang air yang cukup mengerikan membuat bulu kuduk siapa saja terasa berdiri. Ia tak yakin jika berlayar di kondisi seperti ini akan selamat.
"Percepat langkahmu!!!"
"Asss Sakitt. hiks." isak Kellen kala ia di dorong cepat untuk naik ke atas.
Sumpah demi apapun aku tak kuat, ini.. Ini sangat sakit.
Batin Kellen menjerit hebat kala ia merasa ada yang tengah mengalir di sela pahanya.
"Kau masih memperlambat waktu!!"
"D..Darah.." gumam Kellen kala meraba sela pahanya. Mata amber itu bergetar rasa cemas yang memenuhi dadanya.
Melihat darah yang menetes di tangga ini. Mereka saling pandang dengan seringaian tak ada ampun.
"Ini akan sangat menyenangkan."
"Bawa dia ke dalam!"
Kellen memberontak. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi hingga bagian intinya mengeluarkan darah dan rasa takut itu semakin menjadi-jadi.
"Aku..aku mohon! Aku mohon jangan lakukan apapun aku.."
"Berisik!!!" bentak pria itu beralih menarik rambut panjang Kellen segera menyeret tak manusia ke arah dalam Kapal barang ini.
Kaki Kellen yang sudah dialiri cairan amis itu terus menapaki lantai Kapal yang dingin membawanya ke sebuah ruangan bawah dimana hanya ada lentera di beberapa sudut.
Tubuh Kellen di dorong ke dalam ruangan yang sempat terdengar suara rantai yang bergerak.
"Aku..aku m..mohon aku.."
Kellen berusaha untuk sadar. Ia memeggang kaki pria itu agar jangan meninggalkannya disini atau ia tak akan menyesal seumur hidupnya.
"Aku mohon, hiks! Biarkan bayiku hidup!!"
"Lepaaas!!"
Pria itu menyentak kakinya kasar sampai membuat Kellen yang tak bertenaga lagi tersentak ke dekat dinding.
"Kau jangan berharap lebih. SAMPAH!"
"K..kalian mau apa??? Kalian tak bisa berbuat sekeji ini??" bentak Kellen sudah frustasi membuat pria itu menyeringai bengis.
"Kami bisa. Dan buktinya ini terlaksana!" desisnya laku bertolak pergi membuat Kellen histeris ketakutan akan darah yang terasa masih keluar.
"Lepaskan aku!!! Biarkan aku melahirkan bayiku!!! Ter..terserah kalian mau membunuhku atau tidak tapi.. Tapi b..bayiku. Hiks!" jerit Kellen memekik hebat. Ia menangis bersandar ke dinding Kapal yang terasa agak berguncang, hal ini membuat sakit yang ia derita semakin menjadi-jadi.
"B..Biarkan aku melahirkannya. Aku.."
"K..Kellen!"
Degg..
Kellen tersentak kala ada suara yang tak jauh darinya. Ia merapat ke dinding menduga jika itu seseorang yang berniat jahat.
"Kau.. Kau siapa?? Kau.."
Seketika Kellen terdiam melihat ke arah sudut gelap itu. Bibirnya tiba-tiba bergetar menduga jika ia akan kehilangan bayinya.
"Ni..Nicky!'
" Kell! Aku minta maaf. Aku membuatmu dalam keadaan seperti itu." suara Nicky terdengar parau penuh penyesalan. Kondisi Kellen remang-remang terlihat dari sudut sini dan ia benar-benar tak menduga jika keadaan akan seperti ini.
Sedangkan sosok yang ada di samping Nicky. Terlihat berusaha lepas dari ikatannya.
"Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Kauu.." Kellen spontan terperanjat kembali. Suara itu tak asing baginya dan ..
"Katakan! Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Kau..Kau Nyonya V..Verena?" gumam Kellen di tengah nafas yang terputus-putus.
Nyonya Verena merasakan bau amis dan ia yakin ini berasal dari Kellen.
"Katakan! Apa kau.."
"D..Darah.. darah itu keluar.. Aku..aku harus apa?" suara Kellen bergetar dengan alunan permohonan.
Nyonya Verena terdiam sesaat. Ia yakin tujuan sebenarnya Masimo adalah untuk membuat Axton hidup serasa mati mereka benar-benar kejam.
"Nicky!"
"Aku tak bisa bergerak." jawab Nicky semakin berusaha maka tubuhnya akan semakin lumpuh.
Nyonya Verena berpikir cepat. Ia berusaha terus mencari cela agar lepas dari rantai yang sedari tadi ia tarik.
"D..Darah.. Aku..aku harus apa.."
"Kau tenang! Jangan banyak bergerak." perintah Nyonya Verena yang memejamkan matanya untuk segera menarik tangannya walau akan terluka.
Dengan sekali sentakan ia menggeram menahan jepitan rantai yang serasa mematahkan pergelangannya tapi itu tak membuat Nyonya Verena mundur. Dengan usaha keras dan tekad bulat itu, akhirnya ia lepas dari jeratan ini.
"Kau lepas?"
"Jangan bergerak. Kondisi tubuhmu sedang dalam pengaruh racun." ucap Nyonya Verena beralih mengambil Lentera di dekat sudut ruangan lalu mendekati Kellen.
Seketika ia terdiam kala melihat darah itu sudah tergenang di atas lantai. Kedua kaki Kellen yang lecet juga dialiri cairan yang sama.
"S..Sakit ehmm!"
"Ini berbahaya."
Batin Nyonya Verena melihat tubuh Kellen sudah memucat dan wajah wanita itu sudah sepucat kapas.
"A..aku..aku mohon."
"Apa kau masih punya tenaga?" tanya Nyonya Verena meletakan Lentera di dekat Kellen lalu berjongkok untuk melihat apa Kellen akan melahirkan atau tidak.
Melihat Nyonya Verena ingin menaikan Daster Kellen. Nicky segera memejamkan matanya untuk tak melihat itu.
"B..Bayiku.. d..dia.."
"Apa bulan ini jadwal mu melahirkan?"
Dengan lemah Kellen mengangguk mencengkram kedua sisi Daster hamilnya. Ia sudah tak kuat bahkan semakin ia tahan maka rasa sakit itu seakan mematahkan tulangnya.
"A..aku t..tak kuat.. Ini.. S..sakitt."
"Kau masih sanggup mengejan?" tanya Nyonya Verena tak lagi mau membuang waktu. Ia melihat darah ini keluar bersamaan dengan air yang menandakan Kellen sudah siap untuk melahirkan.
Tanpa berfikir sama sekali. Kellen mengangguk seakan kuat padahal keadaan yang sebenarnya berbeda.
"A..aku..b..bisa.."
"Ini tergantung padamu. Kau harus bisa tetap mengejan untuk mengeluarkan bayimu atau dia.."
Kellen menggeleng. Walaupun mengorbankan nyawanya ia akan melakukan apapun agar bayinya bisa selamat dan pergi dari sini.
"Aku..b..bisa.."
"Sekarang. Kau tarik nafasmu pelan dan tenang! Ini akan sangat sakit." ucap Nyonya Verena melepas Daleman Kellen lalu memposisikan Kellen dengan benar.
Ia melihat jika pembukaan 10 sudah di mulai dan saat itulah Kellen menjerit hebat tetapi hanya tertelan sendiri karna ia menyumpal mulutnya dengan lengan Mantel yang ia lepas.
Walau tak melihat tapi Nicky mendengar. Ia merinding dan merasa iba mendengar geraman sakit dan rintihan Kellen yang berjuang di remangan lentera yang ikut menahan batin.
"Kau bisa! Tetap tenang dan tahan semuanya."
Air mata Kellen tak bisa di bendung. Tubuhnya sudah mati rasa tetapi ada dorongan di di bawah sana untuk terus mengejan kuat walau ia sudah tak punya tenaga.
"A..Ax!"
Batinnya selalu meminta jika Axton datang dan menyelamatkan Bayinya. Ia takut jika Bayi itu sudah lahir maka anggota Masimo akan membunuhnya.
.......
Sementara di Bandara yang sekarang tengah memanas tampaklah seorang pria yang baru turun dari Pesawat segera berlari ke Mobil.
Ia tak bisa mengendalikan perasaan dan emosi yang sekarang tengah meledak-ledak dan sumpah demi apapun rasanya dada itu sangat sakit.
"Axton! Anggota kita sudah lebih dulu kesana."
Axton tak menjawab. Ia masuk ke Mobilnya sendiri tanpa memperdulikan Castor melajukan benda itu cepat dan bahkan begitu gila menerobos kepekatan malam ini.
"Tuan! Sepertinya Kapal itu akan di ledakan."
"Jangan sampai itu terjadi." geram Castor mengepal kuat. Ia tadi melacak keberadaan Nicky dan tepatnya di Pelabuhan Quattein yang memang menjadi tempat Ilegal.
Ia mengejar Mobil Axton yang sudah menghilang bak kilatan petir. Tapi Castor memahami perasaan Axton.
Sedari tadi pria itu tak tenang di dalam Pesawat bahkan, ia memaki dirinya sendiri dan bersumpah tak akan hidup jika sampai terjadi sesuatu pada Istri dan anaknya.
....
Vote and Like Sayang..