
Mobil mewah hitam berlapis baja itu seketika melaju stabil masuk kedalam Gerbang Markas Dark yang sekarang tengah melakukan penyambutan terhadap Johar yang berkunjung ke Markas.
Salju-salju yang menumpuk di bagian kiri kanan jalan di pinggirkan oleh para anggota yang sudah berbaris kembali bak manekin hidup.
Ada ratusan anggota disini sampai memenuhi lantai demi lantai dan bagian lapangan luas Markas yang memang sangat besar.
Mereka semua berpakaian serba hitam dengan senjata yang siap melepas liar jika di perintahkan.
Khusus Vacto. Ia berdiri di garda paling depan tepat di dekat teras masuk Markas. Ia bersama Castor yang ikut memberikan sambutan palsu.
"Tuaaan!!!"
Mereka semua seperti semula menunduk memberi salam hormat kala Mobil itu sudah berhenti dengan para Ajudan Johar langsung turun mengawal pria itu.
"Cih. Kau tak pantas ada di dalam penjagaan seperti ini."
Batin Castor jijik. Seharusnya Johar layak mati dengan keadaan yang mengenaskan tetapi, ia masih menahan diri untuk mengikuti aturan Johar.
"Jangan tunjukan wajah dongkol-mu."
"Aku tak tahan melihatnya." gumam Castor menjawab teguran Vacto yang mendekat ke arah para ajudan berbadan kekar ini.
Kala pintu mobil terbuka. Vacto segera membungkuk seperti biasa membuat kepalan tangan Castor menguat.
"Selamat datang kembali. Tuan!"
Johar si pria bermata satu itu tampak berdiri tegap dengan tongkat kayu masih setia menemaninya. Tatapan yang sangat misterius dan Castor yakin, tebakan Axton benar.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Siap! Semuanya berjalan lancar, tak ada yang di luar rencana anda."
Senyuman Johar tertera tetapi itu adalah lengkungan yang sangat hafal oleh Castor. Pria ini begitu berbahaya.
"Benarkah? Kau begitu sangat bisa di andalkan."
"Siap. Tuan!" jawab Vacto menegakkan tubuhnya kembali. Wajahnya benar-benar siap seperti biasa dan seakan tak ada menyimpan kebencian terhadap Johar.
"Baik. Dimana anak kesayanganku itu. Hm? Sudah lama aku tak menemuinya." kelakar Johar melihat kesekelilingnya hanya ada para anggota Dark yang seperti patung.
"Dimana dia? Aku ingin melihat, sejauh mana dia berkembang."
"Kau sangat bersemangat."
Seketika mata mereka beralih ke arah pintu. Mata Johar memindai sosok gagah nan tampan yang sekarang tengah keluar dari pintu utama.
"Woww!! Kau semakin terlihat seperti seorang pria sejati."
"Ini berkat anda. Tuan!" jawab Axton bersikap seperti biasa tetapi ia merubah pola bicaranya agar terlihat bisa mengimbangi pelatihan Johar selama ini.
Castor hanya diam. Ia melihat Johar tersenyum penuh arti melangkah melewatinya dengan maksud yang ambigu.
"Benarkah? Apa ini karna pelatihan ku atau..."
"Dia hanya pura-pura tak tahu. Cih, sangat licik."
Batin Castor muak melihat drama Johar yang pasti sudah merencanakan sesuatu sampai berani datang kesini.
"Atau kau memang sudah begini sedari lahir. Hm?" imbuhnya agak melebarkan mata pada Axton yang hanya diam tanpa exspresi.
"Kau tahu kelahiran ku?"
"Kau tak ingat masa-masa itu?" pancing Johar tapi, yang berdiri di hadapannya sekarang itu adalah Axton. Si pria bunglon yang misterius.
"Jika kau mau mengingatkan. Aku akan senang hati mendengarkannya."
"Woww!!" decah kagum Johar bertepuk-tangan. Ia mengikis jarak dengan Axton sampai bahu mereka saling bersentuhan.
"Aku kagum dengan perubahan-mu. Hm?" bisik Johar dengan seringaian bengisnya. Wajah dingin Axton tak berubah, ia melempar pandangan yang sama dan sangat sulit di baca.
"Aku juga."
"Juga?"
Tanya Johar menepuk bahu kokoh Axton penuh tanda tanya. Axton tengah memakai jaket agak tebal karna cuaca yang dingin dan tentu Johar memberi remasan cukup kuat di bahunya.
"Jangan mencoba mengkhianati-ku."
"Apa aku terlihat begitu?" tanya Axton sangat tenang. Tangan kekarnya beralih terangkat menyentuh bahu Johar dan juga memberinya remasan tak kalah kuat membuat Johar menahan rasa sakit.
"Apa terlalu jelas. Hm?" desis Axton membuat wajah Johar berubah. Raut menyimpan amarah sekaligus kebencian itu mulai tak bisa ia sembunyikan.
Niatnya ingin memancing Axton tetapi, gestur Axton yang bisa mengimbangi membuatnya kesusahan untuk menjatuhkan pria ini.
"Kau sangat cerdas."
"Dan kau baru tahu itu." jawab Axton menepuk-nepuk bahu Johar seperti apa yang Johar lakukan tadi padanya.
Melihat itu. Johar tersenyum dengan sangat senang merangkul bahu Axton yang sangat muak tapi ia terikat oleh situasi.
"Kau memang anakku yang sangat berguna!! Tak salah aku memilihmu menguasai Klan ini. Kau sangat luar biasa."
"Hm."
Axton hanya diam. Ia belum melihat ada pergerakan besar maupun kecil dari Johar, tujuan pria ini kesini masih belum terbaca oleh Axton. Kelihatannya memang begitu.
"Baiklah. Apa aku boleh masuk?"
"Kenapa kau bertanya?" tanya Axton masih datar.
"Aku merasa, semenjak kau datang kesini. Seakan kaulah yang menjadi pemiliknya." kelakar Johar lagi-lagi menyinggung.
Namun. Bukannya terlihat gugup atau marah, Axton memberi pukulan ringan ke bahu Johar yang agak oleng.
"Shitt! Dia memang berbahaya."
Batin Johar tak menyangka Axton akan membalikan kata-katanya dengan semudah itu. Ia harus berhati-hati.
Melihat Johar yang melamun. Castor mulai mengambil bagiannya.
"Ayo. Masuk, Tuan!"
"Iya. Di luar semakin dingin." timpal Vacto mengiring Johar masuk.
Para Ajudannya juga ikut masuk membuat Castor jengah. Ia tetap berjalan di belakang Axton yang mengimbangi langkah Johar.
Ruangan pertama ada sebuah Kotak persegi besi yang tak ada menyimpan barang-barang apapun. Hanya ada beberapa kursi kayu yang mendingin.
"Mari menghangatkan tubuh dulu. Aku sudah kebas berdiri di luar."
"Sesuai keinginanmu." jawab Axton mengangguki itu.
Vacto mengiring mereka menuju ruang Bar dimana semua jenis minuman dan permainan Billiar itu ada disana.
Tempat berbelit di Markas ini memang sulit di ketahui karna memang di desain untuk mengecoh lawan. Dari luar memang terlihat seperti susunan rubik besi tapi jika sudah masuk kedalam dan tahu dimana tempat-tempat utamanya. Maka, Markas ini tak lebih dari sebuah penginapan mewah.
Di sepanjang jalan. Axton hanya diam begitu juga Johar yang fokus pada jalan lorong agak gelap ini.
"Kau tak menyalakan lampu dengan terang."
"Ini sudah lebih dari cukup." jawab Axton menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan.
Ada pelayan yang khusus menangani minuman di depan sana dan semuanya terlihat persis seperti Bar pada umumnya.
"Tuan! Bir anda sudah siap."
"Pelayanan yang sangat baik." desis Johar tanpa ragu melangkah masuk.
Axton cukup memandangi itu dari ambang pintu dimana para Ajudan Johar juga ikut masuk ke dalam.
"Axton! aku yakin dia sudah tahu seperti apa yang kau katakan kemaren, lalu apa rencanamu?"
"Ntahlah." jawab Axton melangkah mengikuti Johar membuat Castor diam. Rencananya semalam, Axton ingin menggali informasi sekali lagi pada Johar tapi ia rasa sia-sia.
"Duduklah. Temani aku minum."
"Hm."
Axton duduk di kursi tepat di samping Johar yang menikmati suguhan panas ini. Deretan botol yang tertata rapi di lemari Bar dan ada te.pat Karoke yang sepertinya ia lupa cara menggunakannya.
"Kau baru kesini dan aku syok kala kau tahu tempat ini."
"Sepertinya aku memang berasal dari sini." jawab Axton meluruskan semuanya. Ia tak berkilah sama sekali membuat Johar hanya mengulas senyuman.
Lama kelamaan. Ia terus menegguk alkohol yang selalu di tuangkan pelayan lelaki ini ke gelasnya. Ia bahkan, tak lagi bicara dan hanya terus minum.
"Kau tahu? Aku adalah peminum yang sangat cerdik."
Desis Johar dengan kekehan renyah. Melihat itu, Castor masuk mendekati Axton yang hanya diam tak menanggapi.
"Aku bisa mendapatkan apa yang tak bisa orang lain dapatkan. Bukankah itu luar biasa?"
"Anda memang sangat hebat. Tuan!" puji Castor menerbangkan Johar setinggi mungkin.
Ia ingin Johar mengatakan segalanya sampai ia benar-benar mendapatkan informasi.
"Kau lihat mata ini?"
"Matamu."
Batin Castor menatap satu mata Johar yang di tutupi. Sepertinya kejadian masa lalu merenggut hal berharga bagi pria ini.
"Mata ini yang sudah hampir melihat segalanya, dan mata ini juga yang hampir membunuhku."
"Siapa yang melakukannya?"
Tanya Castor serius. Para Ajudan Johar sepertinya belum menyadari niatan mereka, terbukti semuanya diam.
"Seorang yang begitu kasar dan sangat cepat, dia seperti kilat mengambil pisau dan menancapkannya ke sini."
"Siapa?"
Batin Castor sangat tak mengerti. Ia menatap Axton yang hanya diam setia dengan ekspresi datar itu seakan tak berfikir.
Disini yang sangat cepat dan liar hanyalah Axton, tak mungkin Axton ada di kejadian itu dan apakah ini yang menyebabkan Axton Trauma akan masa itu?
"Dia menusuk mataku, kala aku ingin melihat segalanya. Melihat apa yang menjadi keuntungan tersembunyi." desis Johar tertawa kecil kembali menegguk ludahnya.
Wajah datar Axton sangat tak bisa Castor tebak tengah memikirkan apa atau bagaimana? Ia bingung sendiri ingin bergerak bagaimana lagi?
"Aku ingin sekali melihatnya. bahkan, itu satu-satunya kerugian dan keuntungan bagimu."
"Jadi. Kau..."
Castor segera terdiam kala Johar memandangnya dengan tatapan penuh arti. Ia cukup lama terdiam hingga akhirnya ia tersentak akan suara jeritan Kellen di luar.
"Aaaaaaxx!!!"
Degg..
Castor segera terkejut melihat Johar yang menyeringai iblis.
"Tak semudah itu." desis Johar langsung mengeluarkan pistol di balik jaketnya.
Vote and Like Sayang..