
Ntah berapa kali Nyonya Verena di buat jantungan kala Kellen berhenti di tengah jalan kehabisan tenaga bahkan, ia tampak sudah tak bisa mengejan untuk yang terakhir kalinya.
Setelah memakan waktu yang cukup menguras tenaga bahkan Nyonya Verena harus menarik perlahan tubuh si kecil itu karna kondisi Kellen yang tak memungkinkan.
"Kellen! Kau bisa. Ayo!"
Kellen hanya bernafas seadanya. Mata yang sayu-sayu menatap ke arah bawah melihat kedua tangan Nyonya Verena sudah berlumuran darah.
"Kau bisa, sedikit lagi!"
"A..aku.."
Lirihan serak dengan nafas tak stabil. Nyonya Verena tahu jika Kellen sudah tak kuat tapi dalam keadaan seperti ini ia tak bisa mengambil resiko.
"Kellen! Sedikit lagi, ayo lakukan!"
"Dia sudah tak bisa." sahut Nicky ciut setelah selama ini mendengar rintihan sakit Kellen yang seperti benar-benar di koyak oleh sesuatu.
Ini wajar karna bagi Kellen ini adalah lahiran pertamanya dan ia masih belum terbiasa. Apalagi, selama beberapa bulan ini mereka berencana Operasi, bukan melahirkan Normal.
"A..aku .."
Batin Kellen sudah terengah dengan keringat membanjiri tubuhnya. Ia perlahan memejamkan matanya sudah tak mampu bertahan tapi Nyonya Verena segera menyentak lengan Kellen.
"Bangun! Kau ingin bayimu tiada. Ha??"
"Kau jangan memaksanya." sambar Nicky merasa kasihan. Ia saja tak sanggup membayangkan betapa sakitnya mengeluarkan itu tanpa posisi dan tempat yang tepat tetapi Kellen sedari tadi berusaha sangat keras.
"Jika kau menyerah disini. Maka bayimu.."
"A..aku.. Emm.."
Kellen berusaha membuka matanya menatap ke arah Nyonya Verena yang mendesak agar kembali mengejan.
"Cepat! Tarik nafasmu dan lakukan!"
Tarikan nafas Kellen terulur halus mencoba untuk mengumpulkan tenaganya. Ia bersiap sesuai arahan Nyonya Verena yang sudah menarik pelan kepala si kecil itu dari bagian inti Kellen yang nyatanya koyak karna bobot yang cukup bersemangat.
"Sekarang!"
"Ehmmmm... Sakiiiit hiks, emmm!!!" geraman Kellen sekuat tenaga mengejan sampai air matanya sudah tak terhitung jumlahnya keluar.
Kain yang menyumpal mulutnya sudah terlihat rusak di gigit Kellen yang mengkerahkan seluruh tenaganya sampai tulang-tulang penyusun di dalam tubuh itu terasa terlepas.
"Lagi! Kau bisa.. Sedikit lagi."
"Ya Tuhan!!! beginikah rasanya melahirkan bagian dari tubuhku, ini sangat sakiit."
Batin Kellen sekali lagi mengejan hebat bahkan tarikan suara geramannya begitu panjang membuat Nicky berusaha tetap baik-baik saja.
"Ehmmm... Aaaaaaxxx!!!!" akhirnya jeritan Kellen lepas beriringan dengan suara bayi yang memekik hebat membuat Nicky dan Nyonya Verena tampak berbinar.
Malaikat kecil yang di penuhi darah dengan mata masih tertutup dan tali pusatnya masih menyatu dengan Kellen. Nyonya Verena sangat lega kala semuanya lengkap dan tak ada yang cacat.
"K..Kell! Bayimu.."
Kellen yang tak punya tenaga lagi untuk membuka mata hanya pasrah bersandar ke dinding dengan keringat membanjiri wajah pucatnya.
Tangisan si kecil itu membuatnya ingin melihat sedetik saja setidaknya jika ini yang terakhir maka ia tak menyesal.
"Kellen! Kau harus tetap sadar."
"B..Bayi.." gumam Kellen menarik sudut bibirnya yang sudah membiru menatap si kecil itu dari remangan lentera.
Tangannya yang penuh darah terangkat lemah dan bergetar ingin menyentuh kulit merah amis itu.
"Dia laki-laki. Lengkap!"
Bibir Kellen bergetar dengan air mata kembali lolos. Perasaan yang lega dan sangat bahagia bisa melihat sosok yang ia kandung selama 9 bulan dan ia tunggu kelahirannya sekarang sudah tampak nyata.
Nicky yang melihat itu juga ikut terenyuh. Tatapan mata Kellen penuh binaran dan lelah. Tapi, rasa puas wanita itu cukup tergambarkan.
"Gendong dia! Aku akan mencari benda tajam disini."
"A..aku.."
Nyonya Verena mengangguk meyakinkan Kellen yang memberanikan diri untuk memeggang kulit lembut ini. Tangisan yang tadi melengking tiba-tiba mereda begitu saja.
"Taruh di atas pahamu jika tak kuat."
"Ehm."
Kellen mengangguk dengan lemah mengusap lapisan darah yang masih membalut kulit Putranya. Nyonya Verena tersenyum segera mencari sesuatu yang tajam di sekitar sini hingga ia menemukan ada pisau yang terletak di antara Peti barang di sekitar ini.
"A..apa dia akan kesakitan?" tanya Kellen kala melihat Nyonya Verena sudah mendekat beralih menjepit tali pusat si kecil itu.
"Ini harus di lakukan. Memang agak sakit."
"Lakukan pelan-pelan." gumam Kellen lemah tak berani melihat Nyonya Verena yang memotong bagian itu.
Sayangnya tak ada suara tangisan apapun yang tadi Kellen duga akan begitu memekik hebat.
"B...Baby.."
"Axton kecil memang misterius." gumam Nyonya Verena merasa jika si kecil ini begitu sama dengan Axton. Walau tak sepenuhnya ia bisa melihat bagaimana wajah dan matanya yang terpejam, tapi ia yakin dia mewarisi ayahnya.
Namun. Kellen mendengar ada suara langkah kaki di luar dan ia segera menatap Nyonya Verena yang juga terdiam.
"Itu..."
"Ini.. Tolong bawa dia!" pinta Kellen menyerahkan bayinya ke tangan Nyonya Verena yang mematung di tempat.
Kellen membentang Mantelnya lalu segera membalutkan benda itu ke tubuh putranya.
"Kau.."
"Aku..aku masih punya tenaga untuk menghadapi mereka. Kau.. Kau bawa dia." pinta Kellen dengan nafas tersendat. Ia merasa tak ada waktu lagi untuk ada di tempat ini.
"Kellen! Bagaimana dengan kau?"
"A..aku.. Aku disini. Tak akan terjadi apapun." jawab Kellen dengan mata berair seraya memberi kecupan di kening mungil itu. Ia melepas kalung yang ada di lehernya bersamaan dengan cincin pernikahannya.
"I..Ini.."
"Kau mau apa?" tanya Nyonya Verena kala Kellen memasangkan cincin itu sebagai liontin ke leher si kecil yang tampak masih belum membuka mata.
"A..aku..aku mohon, bawa dia pada Axton!"
Suara langkah kaki di depan sana semakin mendekat membuat Kellen segera mendorong Nyonya Verena ke arah yang cukup gelap dan Lentera yang tadi ada di sampingnya Kellen letakan jauh dari Nyonya Verena.
"Aku mendengar suara bayi. Mungkin wanita itu sudah melahirkan."
"Yah. Tadi saja dia kesakitan."
Percakapan mereka bisa Kellen dengar. Walau tak lagi punya tenaga tetapi Kellen memaksakan dirinya untuk meraih pisau yang ada di dekat pahanya.
Nyonya Verena benar-benar tak menyangka Kellen masih berusaha agar bisa bergerak. Ia ingin berbicara tetapi pintu di depan sana sudah terbuka.
"Dimana tikus itu?"
Kellen diam mempersiapkan pisau di belakang tubuhnya. Dua pria terlihat mendekat mencium aroma amis yang begitu kental dan menatap Kellen diantara remangan gelap ini.
"Ini dia! Apa kau sudah melahirkan. Hm?"
"Dimana malaikat mungilmu itu?" tanya mereka menunduk menatap wajah pucat Kellen yang mendongak.
Kala posisi ini pas, dengan cepat Kellen menyabetkan pisaunya ke arah leher mereka berdua tepat memutus aliran darah besar yang muncrat keluar.
Nicky terkejut melihat itu dan sangat mengerikan. Hanya dengan sekali sabetan, Kellen bisa membidik titik Vitalnya.
"B...Bawa dia!"
"Kau.."
"Jangan pikirkan aku!! Baya saja putraku!!" tegas Kellen sudah tak mampu menahan sakit di tubuhnya. Ia tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.
Melihat kesungguhan dan tekad Kellen. Mau tak mau Nyonya Verena akhirnya memutuskan untuk pergi ke arah pintu.
"Tungguu!!!"
Kellen menghentikan langkah Nyonya Verena yang terdiam menoleh kebelakang. Ia melihat wajah sendu Kellen tatapi senyuman wanita itu masih tertera nyata.
"Di luar banyak penjaga! Saat mereka semua masuk ke sini, kau bawa langsung dia pergi."
"Kau mau apa?" tanya Nyonya Verena melihat Kellen menatap Lentera di dekatnya. Nicky yang juga merasa paham dengan arti pandangan Kellen segera menggeleng.
"Tidak! Kau tak bisa melakukan ini. Kellen!"
"Aku..aku bisa." jawab Kellen masih dengan tatapan yang sama. Ia sudah memutuskan dan akan tetap melakukan apapun agar Putranya selamat.
"Kellen! Axton bisa gila karnamu!!"
"A..ada putraku." lirih Kellen mengambil Lentera di dekatnya.
"Kau jangan nekat! Axton akan datang, dia akan datang!"
"Berapa lama lagi?" tanya Kellen tak punya waktu untuk menunggu. Lagi pula ia rasa tubuhnya juga tak akan bertahan lama, ini sudah lebih dari cukup.
Tanpa berfikir dua kali. Kellen mencecerkan minyak Lentera itu ke beberapa tempat di sekitarnya.
"Kellen!!! Kau jangan gila!!" geram Nicky tapi Kellen menuli dan tampak membatu.
Tubuh lemah itu di paksakan mendekat ke arah Nicky yang sungguh menyumpahi dirinya sendiri.
"K..Kellen!"
"Diamlah!" gumam Kellen menarik rantai Nicky sekuat tenaga mendekati Nyonya Verena yang tak mau diam saja. Ia ikut membantu menarik Nicky agar menjauh dari tempat itu.
"Kellen! Kau tak harus melakukan ini."
"Sudahlah. Aku baik-baik saja." jawab Kellen terlihat berusaha meyakinkan mereka. Nicky menggeleng keras mendesak Nyonya Verena menahan Kellen.
"Tidak. Kau.. Kau peggang dia!"
Nyonya Verena tahu perasaan Kellen bagaimana. Ia sangat mengenal Kellen yang begitu optimis dan nekat.
"Kau punya pesan?"
"Pesan apa?? Dia tak punya pesan apapun. Apa yang kau katakan. Ha?" geram Nicky panik.
Kellen hanya tersenyum merangkak kembali ke arah Lentera yang ada di dekatnya tadi. Ia sekarang akan bergabung dengan Mommynya.
"Katakan pada Axton.." ucap Kellen menjeda kalimatnya. Ia menatap Nyonya Verena yang terlihat diam tak mengalihkan pandangan.
Mata Kellen berkaca-kaca dengan bibir melengkung hangat
"Sesuaikan takaran susu putraku!" imbuh Kellen bergetar dengan air mata turun jatuh begitu saja.
Ia mengambil Lentera itu dan melemparnya ke dinding di hadapannya. Nicky melebarkan mata melihat api dengan cepat menyambar dan Nyonya Verena segera bersembunyi di tempat yang cukup gelap.
"K..Kellen!!!" teriak Nicky kuat membuat gema yang begitu keras.
Para anggota musuh yang tadi ada di atas Kapal segera pergi ke arah ruangan bawah. Mereka terkejut kala melihat ada kobaran api yang besar melahap dinding kapal yang tergolong mudah terbakar.
"Tuan!!! Tuan ruangannya terbakar!!!"
Teriak mereka merasa ini sangat bahaya. Kapal Barang ini juga mengangkut minyak yang rencananya memang akan mereka ledakan nanti tapi bukan sekarang.
Sosok pria yang tengah melihat dari atas sana terdiam dan terlihat pucat kala mendengar laporan salah satu anggota yang naik ke Kapal dengan keadaan tubuh penuh darah.
"T..Tuan.. M..Mereka.."
Pria itu tumbang karna ada satu tembakan yang melesat dari arah luar. Suara deruan Mobil terdengar jelas membuatnya kalang- kabut.
"Bagaimana bisa dia datang secepat ini?" geram pria paruh baya itu panik mendengar suara tembakan di luar sana. Samar-samar Nyonya Verena menajamkan matanya melihat siapa pria itu.
"G..Groel?" Nyonya Verena terkejut. Nyatanya Groel yang melakukan semua ini dan dia adalah sekutu kelompok Masimo dari 3 manusia itu.
Karna terdesak dan keadaan Kapal juga tak bisa lagi di pertahankan. Groel segera pergi tetapi tiba-tiba saja anggota Axton yang sudah sampai mengepung Kapal yang sudah bocor.
"I..itu.. Itu bantuan." gumam Nyonya Verena mendekat ke arah atas sana tetapi Nicky berusaha untuk menahan Pintu besi ini yang tiba-tiba tertutup.
"Jangan!!! Jangan Tutup pintunya!!!" jerit Nicky kuat tetapi Groel sudah bersiap untuk meledakan Kapal ini.
Ia berteriak meminta bantuan agar mengeluarkan Kellen dari dalam sana. Tak perduli kerongkongannya akan pecah.
"Axtoooon!!! Axtoooon Istimuuu.. Tolooong!!! Tolong Kelleeenn!!"
Suara Nicky yang kuat membuat semua anggota yang sudah baku hantam dengan pasukan Masimo ini terhenti.
Mereka ingin melangkah ke arah tangga bawah tetapi sekilat tubuh seseorang sudah melesat ke sana dengan tatapan tak lagi bisa di hitung beku dan bagaimana paniknya batin itu sekarang.
Vote and Like Sayang..