My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Mencari Tahu



Sedari tadi tak ada yang bisa membujuk Kellen untuk makan atau sekedar keluar dari kamarnya. Ia masih tak mau berbicara dengan siapapun termasuk Axton yang sekarang hilang ntah kemana.


Nicky yang melihat suasana tak bersahabat diantara mereka-pun di landa kebingungan, tak biasanya Axton hilang kala Kellen sudah tak mau berbicara begini.


"Yang benar saja. Aku di minta berdiri disini sepanjang hari." umpat Nicky berdiri di depan pintu kamar Kellen.


Sebelum menghilang dari Markas. Axton mentitahkannya berdiri disini sampai Kellen meminta bantuan atau sesuatu yang tak bisa di kerjakan seorang diri.


"Kalau memang ada masalah, seharusnya jangan saling pergi begini. Yang kena imbasnya itu aku, apalagi Axton sangat tak peka. Bisa-bisanya dia menyuruhku disini sedangkan dia pergi ntah kemana dan.."


"Dia kemana?"


Nicky terperanjat kala ada suara serak di belakangnya. Seketika ia berbalik dengan pandangan penuh binaran melihat Kellen dengan wajah sembab itu.


"Syukurlah kau masih hidup. Aku kira kau.."


"Dia kemana?" tanya Kellen dengan parau. mata sembab, hidung merah dan wajah lembab. Terlihat jelas jika ia baru saja selesai menangis.


"Kell! Kau kenapa?"


"Dia kemana?"


Pertanyaan itu lagi. Nicky paham kondisi ini dan pasti Kellen dan Axton tengah bertengkar. Sialnya pria itu tak ada sikap peka untuk membujuk.


"Mungkin dia ada urusan dan.."


"Selalu saja begitu." gumam Kellen dengan mata kembali berkaca-kaca ingin menutup pintu tapi Nicky segera menahannya.


"Hey! Jangan begini, nanti cantikmu luntur di bawa kucing."


"KAU PIKIR AKU BERCANDA. HA??"


Nicky terperanjat mengelus dadanya. Ia selalu saja menjadi korban diantara perseteruan dua manusia ini.


"M..Maaf, jangan terlalu keras bicara. Nanti kerongkonganmu pecah."


Kellen hanya menunjukan wajah tak sukanya ingin menutup pintu kembali tapi, Nicky belum mau melepas sanggahannya.


"Lepaaass!!"


"Kell! Ayolah, kau jangan begini."


"Apa dia yang menyuruhmu kesini?" tanya Kellen merasa kecewa. Apa salahnya Axton berbicara dengannya dan mengatakan apa alasannya melarang untuk pulang? Toh sekarang Johar sudah tertangkap dan hanya sekedar mencari Masimo.


"Jawaaab!!!"


"I..Iya." jawab Nicky spontan karna terkejut. Wajah Kellen berubah semakin sendu merasa sakit karna di kurung begini.


"D..Dia tak mengerti aku."


"Kell!" gumam Nicky mulai merubah suaranya menjadi lembut keibuan. Ia paham apa yang di rasakan Kellen tapi ia juga mengerti kenapa Axton begitu mengekang begini.


"K..kau..kau tahu, aku..aku hanya merindukan daddyku, aku putrinya satu-satunya dan ini sudah berapa lama aku tak pulang. Seharusnya dia.. dia itu .."


Kellen tak lagi melanjutkan perkataanya. Malam itu mereka seperti menyatu tapi, sikap keras Axton masih belum bisa di ubah.


"Dia.. Dia seharusnya paham kalau aku tak sekuat dia, aku tak bisa melupakan. Daddyku."


Imbuh Kellen mengeluarkan isi hatinya. Padahal, Nicky ingin Kellen tahu jika betapa tersiksanya Axton menanggung kerinduan dan dendam yang menyala selama bertahun-tahun.


"Dia ..dia tak mengerti."


"Andai saja kau bisa melihat dia hanya menguatkan dirinya sendiri. Bahkan, dia lebih rapuh darimu. Kell!"


Batin Nicky merasa iba. Axton memang selalu terlihat baik-baik saja tapi ia tahu, dulu Axton begitu menyayangi Mommy dan Daddynya dan pasti perasaan yang sama juga di rasakan Axton.


"Cobalah untuk mengerti."


"Apanya? Aku sudah berusaha menahan dan membiarkan keinginannya berlanjut. Tapi, aku tak bisa menahan ini begitu lama lagi, aku juga punya kehidupan yang lain."


"Yah. Aku mengerti." jawab Nicky mangut-mangut memahami itu.


"Tapi. Dia tak bisa mengambil sebuah keputusan yang akan membahayakan mu. Tunggulah sampai dia benar-benar siap." imbuhnya lagi.


Kellen menghela nafas kasar. Sampai kapan lagi ia akan menunggu? Yang jelas suara dan kondisi Tuan Benet yang ada di bayangannya membuat Kellen tak tenang.


"Terserah. Tapi, aku akan lakukan apa yang aku inginkan."


"Kell! Dengarkan dulu Axton mau apa."


"Kapan? Ini saja dia pergi, tak ada yang ingin menjelaskannya padaku atau dia ingin aku melakukan apa?"


Nicky ingin bicara lagi tapi seketika pintu sudah di tutup Kellen. Ia mengambil nafas dalam mencoba mencari jalan keluar.


"Lihat saja. Kau akan menyesal mengekang dia, Axton!" gumam Nicky bersandar ke pintu. Ia ingin lihat, apa yang akan Axton lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.


Tak berselang lama. Pintu kamar kembali terbuka dan kali ini Nicky tersentak kala Kellen sudah berpakaian rapi dengan Mantel hangat tebal dan Kupluk di kepalanya.


"Kau mau kemana?"


"Kemana dia? Aku ingin bicara." jawab Kellen berjalan pelan keluar kamar. Ia sangat susah berjalan tapi masih memaksakan diri membuat Nicky bangga karna ilmunya benar-benar bermanfaat.


"Kell!"


"Apaa???" sambar Kellen emosi membuat Nicky terdiam. Ia mendekat dengan kaku dan agak canggung di selingi cengiran kudanya.


"Emm.. Begini, Kell!"


"Hm."


Kellen berpeggangan ke dinding mencoba untuk tetap berdiri tegap padahal bagian bawahnya sudah perih bukan main.


Kala Nicky belum juga bicara, tiba-tiba saja emosi Kellen meluap merasa kesal akan keadaan tadi ia ingin melampiaskannya pada pria ini.


"Kau mau bicara apa??? Jangan hanya diam saja. Kenapa kalian para pria selalu egois dan tak berperasaan? Kalian mau apa. Ha??"


Nicky terkejut mendapat pukulan di lengannya oleh Kellen yang terlihat meluap-luap.


"Sebenarnya apa yang ada di otak kalian. Ha? Kenapa kalian begitu menyebalkan??"


"Kenapa kau marah padaku? Yang jadi suamimu itu Axtoon!!"


"Kalian itu sama saja!! Kau juga laki-laki, kan?"


Akhirnya Nicky pasrah mengangkat tangannya menyerah.


"Baiklah. Sekarang kau mau apa?"


"Mencari Robot hidup itu." gumam Kellen kembali melanjutkan langkahnya.


Nicky menghela nafas ikut membuntuti Kellen yang benar-benar merasa pegal dan perih. ia beberapa kali berhenti di dekat tangga lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Di tengah perjalanan turun menuju tangga, tiba-tuba saja seulet tubuh seseorang hampir menabrak Kellen yang dengan cepat mundur ke belakang.


Mata Amber Kellen menatap tajam Martinez yang tampak terengah menatap ke semua sudut dengan pandangan cemas.


"Kau kenapa?"


"K..Kell! Kell aku.."


Martinez terdiam sesaat kala melihat Nicky ada di belakang Kellen. Ia tak kenal dengan Nicky dan jangan-jangan pria ini juga anggota musuh yang menyekapnya.


Sementara Nicky. Ia hanya santai karna tahu apa yang tengah ada di pikiran Martinez.


"K..kau.."


"Kenapa kau bisa keluar?" tanya Nicky membuat Martinez segera menarik lengan Mantel Kellen agar mendekat ke arahnya.


Tentu hal itu menyentak Nicky yang geram.


"Kell! Dia ..dia pasti musuh, kita harus cepat pergi dari sini."


"Kauu.."


Belum sempat kalimat Kellen berakhir. Martinez langsung menariknya berlari menuruni anak tangga membuat Nicky terbelalak.


"Diaa... "


"Dia itu baru saja di gempur dan kau ajak berlari!!"


Batin Nicky menyambung. Ia segera mengejar Martinez yang sangat cepat membawa Kellen agar keluar dari tempat ini.


Nicky berlari cepat tapi Martinez juga tak bisa membiarkannya. Rasa cemas berlebihan itu membuat Martinez berfikiran cemerlang hingga membawa Nicky ke lorong-lorong berbelit Markas yang memusingkan.


"Kau..Kau mau membawaku kemana??" tanya Kellen sudah tak kuat berlari tapi sepertinya Martinez punya rencana.


Anehnya. Jalan yang di pilih Martinez itu jalan yang belum pernah ia lalui, kapan Martinez bisa tahu lekukan bangunan ini dan kenapa bisa dia keluar padahal Axton tak mungkin menyia-nyiakan penjagaan.


"Cepatlah! Atau mereka akan menemukan kita."


"Bagaimana bisa kau keluar?"


Martinez hanya diam. Ia melempar tatapan licik pada Kellen yang sungguh tak mengerti.


"Jika kau bersedia bersamaku akan ku beri tahu."


"Aku seriuus!!" geram Kellen emosi tapi Martinez hanya menunjukan wajah bodohnya.


"Nantiku beri tahu. aku sudah tahu jalan rahasia di tempat ini, jalan itu langsung tembus keluar Hutan."


Kellen diam mencoba memahami itu. Ia harus mengikuti Martinez dan ingin tahu siapa yang melakukan ini?


"Sebaiknya aku ikuti dia. lagi pula Axton juga akan menemukanku."


Batin Kellen menyusun keyakinan. Mau kemanapun ia pergi Axton juga akan menemukannya. Ia bisa yakin itu.


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say.. Author memang sibuk akhir2 ini.. 🥺 up nya juga nggak nentu