
Mentari diatas sana tampaknya masih malu-malu untuk menampakan diri. Langit yang mendung karna memang seperti ini setiap harinya, tak akan ada panas terik atau hal yang bisa membuat iklim berbeda.
Tetapi, hal inilah yang membuat keuntungan bagi para anggota Darkness yang sekarang kembali menjalani latihan ketat dari Axton yang langsung turun tangan untuk menempa mereka.
Hasil dari siksaan beberapa hari yang lalu langsung menunjukan hasil. Castor merasa lega karna semua anggota baru yang kemaren jauh dari Tipe Klan berubah signifikan.
"Ax! Mereka sudah tak takut lagi." gumam Castor berdiri di dekat Axton yang tengah memandangi para anggota yang latihan fisik di antara tumpukan salju sana.
Vacto tengah memantau mereka dengan terus menginterupsi agar lebih kuat lagi berlari dan menggunakan pisau untuk menebas bola-bola yang di lemparkan kepadanya.
"Ax! Aku rasa ini sudah cukup."
"Belum."
Castor tersentak mendengar jawaban Axton. Ia menatap wajah tampan datar dengan aura dingin tapi lebih sangat misterius.
"Ini masih belum cukup."
"Ax! Aku paham maksudmu, tapi. Mereka tak akan bisa menyamai latihan mu."
Ucapan Castor barusan membuat Axton menghela nafas. Ia hanya memakai kaos lengan pendek dan celana Jogger seperti biasa tanpa mau memakai Mantel atau sejenisnya.
"Masih belum."
"Lalu. Kau mau apa? Sudah beberapa tahap mereka lalui. Aku rasa ini cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi Masimo."
"Dia tak terlihat." ujar Axton benar-benar tak mau terdesak nantinya.
Masimo itu ntah nama atau sekedar Kode dalam dunia gelap. Ia tak bisa mengambil resiko besar sampai saat dimana Masimo muncul, pasukannya kalah telak.
"Jadi, kau mau bagaimana?"
"Johar akan bicara."
"Ax! Kau..."
"Axtoooon!!!"
Suara Nicky berteriak dari arah pintu belakang sana. Dahi Castor menyeringit tak biasanya Nicky berekspresi setegang itu.
"Ada apa?"
"Itu.. Johar.."
Nicky terengah berdiri di dekat Castor yang mulai serius karna mendengar nama Johar di sebut.
"Ada apa? apa yang terjadi?"
"Dia mencekik lehernya dengan rantai dan sekarang tak sadarkan diri."
Seketika Castor terkejut lalu berlari mengikuti Nicky kesana. Axton diam menatap dua pria itu pergi dengan beberapa anggota yang tampak siaga mengeluarkan tubuh Johar memakai Tandu besi yang sudah bersimbah darah.
"Cepat!! Cepat panggil Team Medis!!"
"Aku..aku mengerti."
Jawab Nicky segera menghubungi Hugo yang memang menjadi Dokter pribadi disini. Hugo juga merupakan Dokter lama dari Tuan Fander yang sekarang sudah tiada.
Sementara Castor. Ia mengiring para anggota untuk masuk ke dalam Markas membawa Johar ke ruangan khusus Medis di Markas ini.
"Ax! Apa yang harus kita lakukan?"
"Ada apa?" tanya Vacto yang mendekat karna melihat keramaian di dekat ruang bawah tanah dan ia juga melihat ada yang dibopong.
"Johar ingin bunuh diri. detak jantungnya melemah dan aku rasa dia tak akan selamat."
"Apa??"
Vacto terkejut dengan semua itu. Jika Johar tiada maka mereka akan kehilangan gudang informasi, apalagi hanya itu cela terang untuk menemukan Masimo.
"Ax! Kita harus bagaimana?"
"Iya. Tuan! Jangan sampai Johar tiada."
Timpal Vacto sama-sama menatap Axton yang benar-benar tak bisa mereka tebak apa ia tengah panik atau tidak. Exspresi Axton hanya akan terlihat jika Kellen yang tengah ada di hadapannya.
Lama Axton diam membuat Nicky frustasi. Ia tak tahu apa yang sekarang Axton pikirkan yang jelas ia sangat cemas.
"Terserah kau ingin melakukan apa tapi beri tahu aku apa yang harus aku LAKUKAN?!"
"Tangani saja dia."
Titah Axton kembali mengawasi para anggota yang masih berlatih. Ia seakan tak ada rasa cemas untuk itu padahal kuncinya adalah Johar.
"Aku akan membantu di dalam."
"Pergilah. Uncel! Aku tengah pusing."
Gumam Nicky membiarkan Vacto pergi. Ia memijat pelipisnya seraya menatap apa yang tengah Axton lihat.
"Ax!"
"Hm."
"Apa kau punya rencana kedepannya?"
"Tidak."
"Cih." decah Nicky mengumpat kasar. Ia tak habis pikir jika Axton bisa setenang ini padahal Johar sudah mau mendekat ke pintu Neraka.
"Aku sudah mencari semua tempat yang pernah di tinggali Johar, rata-rata disana tak ada yang mencurigakan. Johar juga tak pernah pergi ke tempat yang bisa di katakan spesial."
"Semua tempat?"
Nicky mengangguki itu. Ia juga penasaran sebenarnya siapa itu Masimo dan apa motif dari Johar begitu setia sampai ingin membunuh dirinya sendiri agar tak terbongkar.
Namun. Nicky ingat jika tadi ia sempat mendapati jika ada panggilan masuk ke Ponsel Johar dan Nomer itu adalah Nomer yang sudah beberapa kali keluar tanpa nama. Dan ia juga sudah melacaknya.
"Ax! Nomer yang semalam menghubungi Johar itu berasal dari Negara Amerika. Tepat di kota Kellen tinggal."
Axton hanya diam tapi otaknya tengah berfikir. Ia tak bisa menebak asal karna semua laporan Nicky itu belum ada titik terang dimana sebenarnya Masimo itu dan dia siapa?
"Jika memang Daddynya Kellen itu Masimo, tak mungkin jika dia menyakiti Kellen saat di Pantai itu, secara Kellen juga putri kesayangannya."
"Kita belum tahu pasti."
Suara Castor mengalun di belakang sana. Axton menghela nafas beberapa kali untuk tetap pada pendiriannya.
"Aax!!"
Mendengar suara itu Axton segera menatap tajam Nicky dan Castor untuk jangan membicarakan hal itu dulu.
"Aax!!"
"Dia kuat juga." gumam Nicky kagum kala melihat Kellen yang di lapisi pakaian hangat tengah bersandar ke dinding dekat pintu samping.
Wajah Kellen masih pucat dan terlihat belum bertenaga. Dua anggota disampingnya hanya diam menatap Axton yang melangkah kesini.
Wajah datar yang menelisik tubuh jenjang Kellen dan terlihat menghakimi.
"Kenapa turun?"
"Ha?"
Tanya Kellen sayup-sayup mendengar karna suara para anggota yang tengah berlatih di ujung sana mengalihkan perhatiannya.
Axton mendekat segera mengulur tangannya membelit pinggang ramping Kellen. Wajah pucat dan mata sayu ini sudah bisa membuktikan betapa bergairahnya malam itu.
"Siapa yang membantumu turun?"
"Mereka!"
Seketika dua anggota itu menunduk dengan raut wajah gusar karna pandangan tajam Axton tengah tertuju padanya.
"Maaf Tuan! Tapi, kami tak menyentuh Nona. kami hanya melihat jika ada yang m..mau di.."
"Pergilah!"
Ujar Axton tak mau memperbesar masalah. Dua anggota itu lega melangkah pergi meninggalkan keduanya.
"Iya, Ax! Lagi pula aku bisa berjalan pelan, walau agak sakit." gumam Kellen memelankan intonasi suaranya.
Pipi mulus itu memerah kala membayangkan pertempuran semalam. Ia sangat malu dan salah tingkah jika berhadapan dengan pria ini.
"Kau bisa menghubungiku-bukan? Tak perlu turun sendirian."
"Em.. Iya. Aku mengerti." jawab Kellen mengangguk menatap mendongakkan wajahnya.
Bekas ciuman Axton semalam masih terlihat di leher Kellen dan di dagu wanita ini, Kellen menutupinya dengan memakai syal dan rambut panjang di gulung tinggi, sangat manis dan cantik.
"Ayo ku antar ke kamar!"
"Ax!"
Kellen menahan lengan Axton untuk jangan bergerak dulu. Ia ingin membicarakan sesuatu yang penting dan ini mungkin agak sensitif bagi Axton.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara denganmu."
Ucap Kellen dan tentu Axton menyanggupinya dengan menggendong Kellen ringan lalu mendudukan diri di dekat kursi tak jauh dari pintu.
Kellen masih ada di atas pahanya dengan ringisan kecil kala bagian bawahnya terasa ngilu dan nyeri.
"Sss Ax!"
"Kita ke Rumah sakit."
"Tidak. Aku..aku hanya butuh istirahat." gumam Kellen membiarkan Axton mengatur duduknya agar tak sakit.
"Aku menyuruhmu tidur bukan?!" geram Axton tak bisa melihat yang seperti ini. Kellen agak ngeri tapi, ia turun karna maksud tertentu.
"Maaf, tapi tadi Daddy meneleponku."
"Lalu?"
Axton masih belum merubah raut wajah kesalnya. Jemari lentik Kellen memainkan rambut Axton yang hanya diam membiarkannya.
"Ax! Bisa kau penuhi satu saja keinginanku?"
"Apa?"
Kellen agak ragu mengatakannya karna respon Axton setiap kali ia mengatakan ini pasti akan marah.
"Aku..aku ingin pulang." lirih Kellen ciut menundukan kepalanya.
Ia tak berani melihat Axton yang pasti akan marah padanya.
"Aku..aku merindukan Daddyku. B.. Boleh, ya?"
Axton hanya diam tak ada jawaban apapun. Ia beralih berdiri menggendong Kellen yang tersentak akan respon Axton.
"A..Ax! Kau.."
Kellen menghentikan ucapannya. Dari raut datar Axton ia bisa menebak jika pria ini tak akan membolehkannya keluar.
Sakit rasanya di kekang begitu, apalagi tuduhan masalah disini tertuju pada Daddynya.
"A..Ax! Aku.."
"Aku tak ingin membahasnya."
"Tapi.. Tapi aku, aku.. Ingin.."
Ucapan Kellen terhenti kala Axton sudah menatapnya tegas. Bibirnya mulai bergetar mencengkram bahu Axton kuat dengan manik berair yang menyesakan.
"..Turun.." pinta Kellen bergetar ingin turun tapi pelukan Axton begitu kuat sampai ia memberontak pria ini belum mau menurunkannya.
"Turuuun! Aku..aku bisa s..sendiri."
Axton masih menuli membawa Kellen ke dalam. Sekuat tenaga Kellen menolak ini semua tapi ia tak bisa menandingi kekuatan Axton.
Alhasil ia hanya bisa menangis membuat dada Axton sesak merasa nyeri.
"A..aku..aku hanya merindukan Daddyku. Aku.."
Kellen berusaha tak mengeluarkan isakannya. Ia cemas karna tadi suara Tuan Benet seperti tengah sakit apalagi pria tua itu hanya sendirian disana.
........
Vote and Like Sayang..