My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Jangan dulu!



Suara teriakan Martinez terdengar di kamar Kellen yang segera mendekat ke pintu. Ia tahu ini adalah Martinez yang tengah merusak gendang telinga semua orang.


"Eeeeeyyy!!!!! Kau kemana. Ha???"


"Apa yang dia lakukan di luar sana?!" gumam Kellen jengkel. Selalu saja merusak suasana dan sekarang ia tak bisa keluar dari kamar ini. Semuanya sudah di kunci dan Jendela juga tak bisa menolong Kellen lagi.


Namun. Kellen penasaran apa yang akan di lakukan Axton pada Martinez? pastinya Miss Barbie akan sangat terluka jika terjadi sesuatu yang buruk.


Tapi... Aaa sudahlah, itu bukan urusanku dan cukup untuk mencampuri kehidupan mereka.


Begitulah kiranya batin Kellen yang tengah di landa kekacauan. Setelah mengetahui kedok Axton, ia merasa sudah tak mau lagi ikut campur dalam hal apapun. Semakin kesini, posisinya begitu berbahaya.


"Kellen!!! Kau jangan mencoba menghindar dariku, aku tahu kau tengah bersenang-senang sekarang!!"


"Bersenang kepalamu!" umpat Kellen bersandar ke pintu. Rasanya sangat lelah dan selera makannya turun, padahal perut itu sudah menggelegar di dalam sana.


Namun. Sepertinya Kellen punya rencana untuk keluar dari kamar ini, ia bisa memanfaatkan Martinez yang lamban itu.


"Kelleeen!!"


"A.. Iya!!!" jawab Kellen menjaga jarak dengan pintu. Suara langkah kaki tak senonoh itu mendekat dengan jelas terdengar.


"Kau didalam?"


"Yahh! Aku di kurung disini, cepat buka pintunya!!" teriak Kellen sedikit menggedor.


Namun. Bukannya mendapat jawaban pasti, Martinez malah tertawa keras membuat wajah Kellen berubah merah padam menahan rasa dongkol.


"Kau di kurung? Itu sangat menyenangkan. Bukan?"


"Jangan membuaal!!! Cepat buka pintunya!!!" bentak Kellen tetapi Martinez sangat suka mempermainkan dirinya. Pria otak sempit ini menemukan sedikit kebahagiaan.


"Hey! Naga Betina, kau jangan bermain-main dengan seorang penerus Miller sepertiku."


"Bulshitt!!" maki Kellen merotasikan matanya jengah. Beberapa hari ini Martinez sangatlah terlihat menyebalkan tetapi ada juga menuai keuntungan.


"Kau mau aku membukanya?".


"Cepatlah! Tak ada waktu menanggapi bualanmu." sambar Kellen tak sabaran.


"Baiklah! Tapi...."


Kellen menunggu kalimat Martinez yang sepertinya tengah mengotak-atik peggangan pintu. tentu Kellen sangat berbinar karna ia akan segera keluar dari sini.


"Apa kau bisa?"


"S...Sebentar."


Suara Martinez terdengar tengah berusaha. Kellen menunggu seraya menahan pegal dan sakit di perutnya tapi tak kunjung selesai.


"Cepatlaah!!"


"Sudah!"


Senyuman Kellen mekar menarik gagang pintu penuh semangat tapi, pintu ini tetap tak bisa di buka sama sekali.


"Kenapa tidak bisa di.."


"Karna kuncinya tak ada!!!" jawab Martinez gembira menertawakan Kellen dari luar. Suara tawa Martinez terdengar sangat puas mengerjai Kellen yang tengah memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal kuat.


Api amarah itu menyala--nyala sampai membakar habis semua kesabaran yang sudah ia tahan sedari tadi.


"Kauuuuuu!!!!"


Geram Kellen mengangkat tangannya yang terkepal ingin meninju pintu tapi tiba-tiba benda itu terbuka membuat Kellen terjerumus kedepan.


Brughh..


Ia terbentur dada bidang keras seseorang yang berdiri tegap tepat di hadapannya. Kening Kellen terasa nyeri dengan tubuh masih lemas.


"Sss sakit." desis Kellen mengusap keningnya. Ia menatap dada bidang berbalut kaos lengan pendek ini dengan dahi menyeringit namun, seketika ia sadar kala melihat otot lengan dan dada yang sangat ia kenal.


"K..kau.."


Kellen mundur dengan wajah kembali tegang. Ia menatap gugup pada pahatan tampan datar seorang pria yang beberapa jam ini meninggalkannya


Tatapan yang mengintimidasi. Aura keberadaan yang tak bisa di bantah dan mempesona sulit di tepis.


"K..kau.. D..disini?"


Axton sama sekali tak menjawab. Ia melangkah maju mendekati Kellen yang melebarkan matanya segera mundur perlahan dengan jantung yang tak bisa di kondisikan.


"A..aku .. Aku hanya.. Hanya ingin.."


"Siall!!! Dimana Martinez? Kenapa tiba-tiba menghilang."


Imbuh batin Kellen berkeringat dingin. Kedatangan Axton tak ia sangka secepat itu dan Martinez yang tadi tengah tertawa keras tiba-tiba lenyap begitu saja. Benar-benar memusingkan.


"A.. Itu.. "


Kellen berusaha mencari alasan dengan kaki terus mundur ke arah ranjang yang tampak masih rapi membuktikan Kellen tak istirahat sama sekali.


Nampan dan makanan yang masih utuh itu tak lekas dari pindaian mata tajam Axton yang benar-benar harus bersabar dengan semua ini.


"A.. Aku.."


"Hm."


Axton tetap melangkah maju sampai akhirnya Kellen menabrak ranjang hingga tubuh wanita itu terduduk disana.


Wajah tanpa exspresi Axton sangat sulit Kellen pahami. Pria ini mulai membungkukkan tubuhnya memaksa Kellen memundurkan kebelakang.


"K..kau..."


J..jangan maju lagi!! Jangaaan!!


Kellen ingin berteriak tapi itu hanya di dalam batinnya. Ia terus mundur seiring dengan Axton yang mengungkungnya gagah hingga akhirnya Kellen terbaring setengah menjuntai di ranjang dengan kedua tangan kekar Axton berada di kedua sisi kepala Kellen yang menahan nafas.


"J..Jantungku."


Batin Kellen menahan degupan memberontak di dalam sana. Wajah tampan Axton sangat terlihat jelas disini, tatapan mata elang bersorot tajam tetapi sangat melemahkan jantung wanita.


"A..Aku..."


Axton masih diam mengamati visual indah Kellen dengan jarak sedekat ini. Ia suka melihat mata amber ini kebingungan dan bibir lembut pink itu terkatub gagap menggemaskan.


Tetapi. Tatapan dalam Axton itu membuat Kellen merasa canggung dan tak nyaman, ia tak terbiasa di tatap begini.


"K..kau.. Itu.. Aku.."


Mata Kellen melebar dengan tubuh meneggang kuat. Nafasnya tercekat dalam dengan rasa beku menjalar di kakinya kala kecupan lembut itu membungkam bibir miliknya.


"Manis."


Kellen menelan ludahnya berat. Axton yang sekarang benar-benar sangat membuatnya jantungan dan ia tak pernah lolos dari ini.


"K..kau..."


"Kepalaku pusing."


Gumam Axton dengan tatapan yang sayu sepertinya ia kembali merasakan pengaruh obat ketergantungan itu dan sedari tadi di bawah ia menahannya.


Melihat itu semua Kellen tahu maksud Axton tapi ia mulai tak berani melakukannya lagi.


"S..Sebaiknya. Kau pergi ke tempat rehabilitasi, disana akan lebih baik."


"Tidak." jawab Axton tegas. Ia tak mau pergi ke tempat seperti itu karna yang ia butuhkan hanya Kellen yang menjadi penawarnya.


"Permainan itu hanya bisa mengalihkan sesat. Kau juga akan merasakan kembali sakitnya."


"Aku tak perduli." ucap Axton mengambil sesuatu dari saku celananya tanpa merubah posisi mereka.


Kellen hanya diam membisu. Ia tak menyangka Axton sadar jika cara ini sering di lakukan mereka berdua.


"Aku..aku tak .."


"Kau takut?"


Degg..


Jantung Kellen kembali bereaksi. Ia spontan menggeleng mengigit bibir bawahnya menahan gugup, Kellen tak sadar jika hal itu semakin menggoda Axton yang mencoba optimis dan berkomitmen.


"A.. Aku.. Hanya, hanya merasa jika.. Jika kau tak akan mendapatkan kesembuhan dengan melakukan ini."


"Benarkah?"


Kellen mengangguk memandangi Axton yang mengigit pinggiran pembungkus permen itu dengan seksi membuat Kellen meremas selimut di bawahnya.


"Aku benarkan? Axton selalu saja membuat ulah."


Batin Kellen merasa Axton terlalu Perfeck untuk menjadi seorang tahanan. Ketika masih lugu dulu banyak yang menghina pria ini tapi lihatlah, ia membuktikan betapa sempurnanya penerus Miller.


"Aku..aku tak ingin kau ketergantungan pada cara ini. Kau.."


"Aku yang menginginkannya." sela Axton memasukan permen itu kemulutnya seraya tak melepas tatapan dengan Kellen yang terus panas dingin.


"Kau.. Kau salah, aku.."


"Kau takut?"


"I..itu.."


Sudut bibir Axton tertarik misterius. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah merah Kellen yang terlihat sangat tegang.


Hidung keduanya saling bersentuhan dengan hembusan nafas hangat masing-masing memainkan suasana..


"A.. Ax!"


"Hm?"


Axton menyukai itu. Raut gugup Kellen dan nama yang keluar di sela bibirnya menjadi kepuasan tersendiri bagi Axton yang mendengarnya.


"A..Ax!"


"Hm?"


Kellen memejamkan matanya membuat Axton semakin tak ingin mundur. Degupan jantung Kellen bisa ia rasakan tetapi terkesan menggelikan.


Perlahan. Axton menelusupkan wajahnya ke sela leher Kellen yang menenggang beralih mencengkram pinggang kekarnya.


Seringaian Axton muncul kala hidungnya mengendus leher jenjang ini maka di situlah Kellen menggeliat.


"A.. Ax!"


Axton beralih ke telinga Kellen. Ia masih memantau raut wajah Kellen yang semakin merah menahan semuanya.


"Kau tenang saja. Aku tak akan lebih itupun kalau kau tak memancingku." desis Axton mengigit kecil daun telinga Kellen yang seketika merinding hebat.


"A..Ax!"


"Jangan memancing keributan. Atau kau akan menjerit di bawahku."


Kellen mengigil membayangkan makna ucapan Axton barusan. Rasa takut dan ngeri itu telah menenggelamkannya sampai ia tak sadar jika bibirnya sudah di bungkam pria ini.


"I.. Itu mengerikan!"


.............


Di luar sana tampak heboh dimana Nicky sudah datang tetapi ia heran kenapa Castor menyeret tubuh Martinez ke tangga bawah. Apalagi beberapa orang disini tak menghadangnya masuk.


"Kau kenapa?"


"Beban ini sangat menyusahkan." jawab Castor menyandarkan Martinez ke dekat tangga. Ini semua ulah Axton yang tadi memukul tengkuk Martinez hingga tak sadarkan diri.


Nicky hanya menggeleng melihat itu tetapi Castor heran karna Nicky tak bekerja di tempatnya.


"Kenapa kau kesini?"


"Aku..".


Nicky terdiam menatap sebuah Amplop dan Flashdisk di tangannya. Ia agak tak percaya tapi ia akan membicarakan ini dengan Axton.


" Ada apa?" Castor merasa Nicky menyembunyikan sesuatu.


"Sulit di jelaskan. Tapi, aku rasa kita harus membicarakan ini dengan Axton."


"Memangnya kenapa? Kau jangan menakutiku. Nick!"


Nicky menunjukan exspresi serius yang jarang ia tunjukan. Dia ini sudah jelas jika masalahnya akan rumit.


"Untuk sekarang jangan dulu! Kita temui Axton saat dia sudah turun."


"Hm. Aku tahu."


.....


Vote and Like Sayang..