My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Pecandu!



Tubuh wanita itu membeku di tempat dengan mata ember melebar dan mulut terperangah. sungguh ia tak menyangka apa yang telah di lakukan pria itu pada sosok yang sekarang terlihat lemah tak berdaya di depannya.


Serbuk yang sangat Kellen kenal bahkan ia tahu apa fungsi benda itu dan apa ini yang dinamakan obat?


"K..kau.."


Mata pria itu sayu-sayu terbuka antara sadar dan tidak menatap Kellen yang masih mematung diam.


Netra kecoklatan yang seperti tak tahu apapun bahkan terkesan linglung. bibir pucatnya hanya bisa bergerak tak tentu dengan pelan seakan ingin bicara tapi ntah apa yang akan keluar.


"Kau masih sadar?" tanya Kellen memberanikan diri mendekat. ia kembali berjongkok dengan perlahan karna ia juga tengah tak baik-baik saja.


Sebagai seorang manusia yang masih punya hati. Kellen sungguh sangat prihatin dan kasihan, apa hanya ini jalan untuk menenangkannya?


"Ini tak baik untukmu." gumam Kellen merasa iba. ini adalah obat terlarang atau bisa dikatakan Narkoba yang membuat pikiran seseorang melayang dan lupa diri.


Terbukti benar. pria ini tak memberontak sama sekali melainkan, ia terlihat menatap kabur Kellen dengan bagian hidung di cecer dengan serbuk itu.


"K..au..."


"Katakan! kau mau apa?" tanya Kellen menepis rasa takutnya. Ia memperhatikan jelas jika pria ini mengendus serbuk itu dengan sangat pelan sepertinya sudah biasa seperti ini.


"Jangan di hirup aku..aku akan membantu membersihkannya."


"Ehm.."


Geramannya tertahan dikala Kellen menyentuh hidungnya. ia menatap tajam dengan sayu seakan tak suka dan sudah kecanduan dengan benda ini.


"Ini tak baik untukmu. mereka hanya ingin kau tenang sejenak tapi bukan begini caranya."


"K...a..u..."


Dahi Kellen menyeringit. Sosok ini terlihat susah berbicara dan seperti tak tahu apapun. Apa ini karna pengaruh obat sialan ini?


"Kau marah? terserah. tapi aku tak akan biarkan kau mengendus ini."


"Ehmm!!!!" geramnya keras seperti hewan menyentak Kellen yang menegguk ludahnya berat. jujur ia tak berani tapi tak mungkin membiarkannnya begitu saja.


"Kau..kau tak akan bisa memukulku. kau..kau di rantai."


Ucap Kellen lalu dengan sigap mengusap hidung mancung pria ini dengan tangannya. wajah tampan dengan ketajaman mata ini terus menghindar agar tak di sentuh bahkan, Kellen harus menahan sakit di jempolnya yang terluka karna harus mengusapnya kasar.


"Emmm!!!" suara terendah dan serak.


"Terserah. tapi kau bisa membunuhku karna ini." umpat Kellen menuli. ia terus mengusap hidung pria itu bahkan Kellen tak segan menjadikan lengan Dressnya untuk menyapu serbuk murahan yang sangat menjijikan.


"Sekali lagi kau gigit jempolku. aku akan memukulmu dengan Pipa. kau paham??"


Pria itu ingin memberontak dan melawan tapi ia tak bisa. Wajahnya kembali tertunduk masih berusaha mengendus sisa serbuk yang telah di hapus Kellen.


"Lihat. kau tak sadar, kan? ini hanya akan menerbangkan kau sesaat. kau.."


Kalimat Kellen terhenti kala melihat separuh tubuh pria ini sudah memucat karna terendam air. pasti sangat menyiksa berada di tempat ini.


"Kau dingin?"


Tak ada jawaban sama sekali. Pria itu tampak terpejam dengan helaan nafas sangatlah stabil tak seperti tadi yang memburu bak binatang liar.


"Kau tidur? hey!"


"A...X.."


"A.. X.. ?" gumam Kellen tak mengerti. ia perlahan mengulur tangannya meraba pipi penuh luka ini hingga ia agak terhenyak dikala rasa dingin ini menyeruk.


"Are you ok?"


"A.. X..."


Gumamnya lirih masih gamang-gamang sadar. perutnya sangat sakit karna belum makan apapun dan di tambah dengan luka ini sungguh terlihat mengerikan.


Merasa tak tega dengan wajah lemah ini. Kellen berfikir untuk melepas rantainya. tapi bagaimana kalau nanti pria ini kembali mengamuk menyiksanya?


"Hey! jika aku lepas, kau janji jangan memukul atau mengigitku. ya?" tawar Kellen bimbang. jika tak di lepas ia cemas jika pria ini mati dan akan menyusahkannya, jika tidak. ia tak akan bisa bernafas tenang.


Setelah lama berdebat dengan batinnya. Kellen akhirnya memilih untuk melepas rantai walau tenaganya tak begitu cukup kuat.


"Jika kau mengamuk lagi. aku tak akan bisa menemuimu di surga nanti." gumam Kellen melantur.


Ia memberanikan diri menarik simpulan Rantai di pergelangan kaki pria ini tapi begitu kuat, ia tak bisa melepasnya.


"Aku tak bisa. ini terlalu keras."


Kellen berfikir mencari benda yang bisa membantunya. Ia melihat ada besi yang di lempar penjaga tadi hingga dengan menyeok tubuhnya sendiri Kellen mengambil benda itu dan kembali berusaha membuka ikatan Rantai.


"I can do it." gumam Kellen menyemangati dirinya sendiri. walau tangannya berdarah tapi tekat Kellen tak pernah bisa di bantah.


Tentu saja kesungguhan dari mata ember dan wajah cantik polos Kellen tertangkap samar di netra tajam sayu itu.


Ia bisa melihat wajah menggemaskan yang terlihat berani dan tak takut mengomel padanya.


"Shitt. you are a monster."


Umpat Kellen hanya menahan saja. setelah usaha yang sangat keras Kellen berhasil melepas dua rantai di pergelangan kaki jenjang dan kekar miliknya.


"***..A.. X.."


"M..Maaf. aku tak sengaja." ucap Kellen tersenyum miris dikala ia tak sengaja menyentuh luka di pergelangan tangan pria itu hingga meringis tak jelas.


Kellen menghela nafas lalu beralih melepas rantai di dua pergelangan tangan sosok ini. Ia meneggakan tubuhnya dengan kedua lutut sebagai tumpuan.


"Kau sudah lama begini? pasti sakit-kan?"


"Ehmm!"


Pria itu hanya bergumam tak jelas refleks menyandarkan keningnya ke dada Kellen yang tengah fokus melepas rantai di dinding.


Ia tak sadar jika aroma Vanilla di tubuhnya seakan mampu menarik nafas terendah pria ini.


"A.. X.."


Setelah mengeluarkan cukup besar tenaga. Kellen akhirnya bisa melepas keduanya hingga mata Kellen membuka lebar saat tubuh kekar itu lemas jatuh padanya.


"K..Kau..."


Kellen sigap menahan tubuh kekar yang melemah dan tak berdaya di pelukan hangatnya. tentu saja Kellen syok karna wajah tampan jantan ini tengah terbenam di dada empuk yang dilapisi kain itu.


"S..Siall!"


Batin Kellen mengumpat kasar. belum ada pria yang berani melakukan ini padanya, bahkan rasanya begitu kaku dan tak bisa bergerak.


Helaan nafas pria ini begitu tenang dan sangat stabil. wajahnya terbenam begitu nyaman seakan ini adalah bantalan empuk yang baru pertama kali di temui. tak hayal ia sedikit menggesekan wajahnya penasaran membuat Kellen ingin berteriak..


Cabuuuullll..


Tapi sayang itu hanya ada di hayalannya. ia tak tega untuk mendorong wajah tampan ini walau hatinya tengah dongkol.


"Kali ini.." Kellen memejamkan matanya.


"Hanya kali ini. untuk seterusnya aku akan mengutukmu." imbuh Kellen berusaha tak termakan emosi.


"Seharusnya aku membiarkanmu saja. tubuhmu sangat beraatt." geraman Kellen kala berusaha menarik tubuh berotot ini menepi ke tempat yang kering. ia juga kebas berada di dalam air terlalu lama.


"Ouh MY god!"


"Ehmm!"


Pria itu menggeliat dikala ia merasa lukanya di peggang tangan lembut Kellen yang sekuat tenaga menarik tubuhnya menepi. wajah putih Kellen memerah karna sudah tak bisa menahan sakit di kaki dan pinggangnya namun, ia terus berusaha sampai akhirnya Tubuh pria itu berhasil ia seret ke tepi lorong yang kering.


"D.. Dady." engah Kellen dengan nafas memburu segera jatuh tepat di samping pria ini. ia terbaring lemas dengan dada naik turun tak beraturan.


Sungguh Kellen merasa seluruh tulangnya ingin runtuh dan tak bisa bergerak lagi.


"A..apa aku akan mati sekarang?" gumam Kellen terlihat pasrah.


Mata embernya menatap kilauan lampu diatas sana dengan pandangan membayang akan mentari. kapan ia akan melihat dunia luar lagi? ia sangat merindukan dadynya.


"Dad." gumam Kellen dengan suara bergetar dan serak. tentu dalam hidup ini Kellen hanya ingin membahagiakan pria itu.


"D..Dady baik-baik saja-kan? dady.."


Kellen tak bisa melanjutkan ucapannya. ia rasa percuma karna ia tak akan bisa keluar dari tempat ini.


"Aku..aku harap kau sehat. jangan mencemaskanku."


Lirih Kellen lalu memiringkan wajahnya. sekarang ia kembali di hadapkan oleh wajah tegas dan datar seseorang yang terlihat masih tak sadar dengan hidung berusaha mencari serbuk halus itu.


"A.. X.."


"Namamu?" tanya Kellen penasaran dengan kata itu terus yang keluar. di lihat dari kondisi pria ini sepertinya ada sesuatu yang salah.


"A.. X.." suaranya agak mengigil dengan wajah memucat dan sangat lemah.


"Kau kedinginan?"


"A.. X.."


Tak mau bertanya lagi Kellen memilih mencari selimut disini. nyatanya tak ada, benda itu hanya ada di pikirannya.


"Disini sangat dingin. mereka memang tak punya hati." gumam Kellen merasa sangat geram. walau pria ini menyakitinya tapi ia tak sekejam itu.


"A..X.."


"Aku..aku hanya punya ini."


Kellen terpaksa melepas sehelai kain tipis yang mengikat dadanya. Ia memaksakan diri untuk duduk lalu melihat luka di seluruh tubuh kekar yang terlihat beku dan mengigil.


"A.. X.."


"Tahan sebentar. aku akan mengeringkan lukamu."


Kellen dengan hati-hati mengelap bagian kaki yang basah. ia sesekali meringis melihat kulit pria ini sudah mengeriput karna air apa lagi lukanya tampak parah.


"Mereka tak memberimu baju. memang iblis."


Umpat Kellen prihatin. hanya celana panjang sebetis ini saja itupun sudah sangat tak layak pakai.


Sentuhan lembut Kellen ke tubuh kekarnya sungguh membuat pria itu terdiam dengan tangan pikiran yang masih belum tetap.


"A.. X.."


"Sutt! jangan berisik."


Kellen beralih mengusap perut berkotak ini hingga ia agak memerah karna tubuh kekar dan atletis seorang pria baru kali ini ia sentuh.


"Haiss.. kau..kau tak mesum. kau hanya menolongnya."


Batin Kellen yang segera menggeleng agar kembali fokus. ia mempercepat tugasnya dengan helaan nafas berusaha tenang kala kedua lengan kekar itu beralih membelit pinggang ramping seksi Kellen yang terbentuk karna basah.


"A.. X.."


"It's ok!" gumam Kellen berdamai hati. ia melanjutkan kegiatannya sampai pada punggung yang penuh sayatan ini tangannya terhenti tepat di bagian pundak bawah berotot yang tampak ada satu bekas luka yang masih jelas terlihat.


Garis luka yang membentuk huruf dan itu kata yang selalu keluar di bibir pucatnya.


"Namanya Ax?"


Batin Kellen menyeringit. tapi melihat wajah damai itu Kellen tak tega untuk membangunkannya. ia lebih memilih meredam rasa ingin tahu lalu beralih menyelimuti kaki pucat itu dengan kain di tangannya.


"Semoga besok kau tak membunuhku."


....


Vote and Like Sayang..