
Malam ini telah begitu larut dan membeku. Seperti biasa, salju terus turun menimpa apa yang telah berdiri dan menantinya di bawah sana.
Badai tak datang malam ini. Hanya deru angin yang cukup stabil dan hujan salju yang tak kunjung reda, memang begitulah cuaca dan suasana di Hutan satu ini.
Hembusan udara yang membeku di luar sana, meloloskan diri ke fentilasi kamar dimana seorang pria yang berparas tampan dengan tubuh kekar sempurna itu tengah sibuk memandangi wajah cantik seorang wanita yang sekarang berkelana di alam mimpinya.
Ia berbaring tepat di samping wanita itu dengan satu tangan menyangga kepalanya. Sangat terlihat mengagumi dan masih bertanya-tanya.
"Kau sangat cantik." pujian terlontar dengan ringan keluar. Ia memindai semua pahatan cantik ini termasuk bentuk bibir yang mungil berisi dan dagu lancip dengan rahang yang menonjol.
Namun. Ia masih tenggelam dalam pertanyaan yang tak ia temukan jawabannya, setelah makan malam tadi, Kellen bergegas tidur tak mau berhadapan dengannya.
"Aku ingin kau cepat mengandung dan terus melahirkan anak-anakku. Dengan begitu, Generasi kita tak akan putus dan kau..."
Axton menjeda ucapannya kala melihat wajah damai Kellen yang tak akan pernah ia lupakan. Ia tak akan pernah bisa melepas wanita ini walaupun nantinya akan banyak yang menganggu.
"Kau terlalu banyak di kagumi. Jika kau terus seperti ini, tubuhmu tak ada menandakan jika kau sudah bersuami, wajahmu tak ada memperlihatkan jika kau sudah dimiliki olehku. Aku ingin perutmu terus membesar agar mereka tahu kau itu tak akan pernah bisa lepas dariku."
Lirih Axton membelai pipi mulus Kellen yang benar-benar membuat Axton resah. Kejadian di taman tadi membuktikan jika tak hanya pria dewasa yang menginginkan Kellen, tetapi remaja, bahkan anak kecil itu-pun sempat menggoda istrinya.
"Saat bersamaku, kau sama sekali tak tertawa. Lalu, kenapa saat di goda mereka, kau seperti menyukainya?"
Protes Axton mengungkapkan rasa cemasnya. Ia ingin belajar membuat Kellen nyaman dan tak jengkel saat bersamanya. Axton ingin melakukan hal yang benar-benar di sukai Kellen.
"Tak akan ku biarkan kau tertawa bersama mereka. Semuanya hanya untukku, akan ku lakukan apapun. Kell!" gumam Axton dengan segera melabuhkan kecupan ke bibir Kellen yang tak menyadarinya.
Tanpa Axton sadari, Kellen sendiri sangat menginginkannya tapi wanita itu hanya malu jika bersama dengannya.
"Akan-ku buktikan ucapanku. Aku bisa melakukan apapun itu asal kau menginginkannya."
"Axtooon!!!"
Suara Castor berkumandang di luar sana. Axton sadar itu karna ia sendiri yang memanggil Castor kemari ingin membicarakan sesuatu.
"Tidurlah. Hm?"
Kecupan penuh penekanan yang terakhir, Axton labuhkan ke kening Kellen yang menggeliat segera membelakanginya.
Wajah datar Axton hanya bisa menyimpan perasaanya yang tengah menggebu-gebu mengoyak dadanya.
"Tidur yang nyenyak. Aku akan mencari solusinya." bisik Axton segera menyelimuti Kellen dengan benar. Ia sudah memasangkan kaos kaki ke kaki jenjang Kellen yang tadi dingin karna suhu ruangan naik.
Setelah memastikan wanita itu akan aman dan nyaman. Barulah Axton melangkah ke arah pintu di baluti baju rajut hangat lengan panjang dan celana Jogger santainya.
Kala benda itu terbuka. maka, terlihatlah Castor yang tampak memandang Axton dengan tatapan seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Axton!"
"Hm."
Axton melanjutkan langkahnya tak begitu jauh dari kamar tepat di sebuah sudut lantai di dekat tangga ada sofa panjang dan beberapa tempat bersantai berbahan kayu.
"Apa ada masalah besar?"
"Yah."
Tanya Axton duduk di atas sofa itu dengan kedua kaki bertopang tindih. Persis seperti apa yang selalu ia lakukan sewaktu kecil.
Castor juga mulai serius. Ia duduk tepat di hadapan Axton yang sepertinya tengah mengemban satu kecemasan.
"Ada apa?"
"Kau jawab dengan jujur." tegas Axton serius. Castor jadi gugup karna khawatir jika ada sesuatu yang besar dan ini akan sangat merugikan mereka.
"Ada apa? Apa masalah kemaren itu sangat berbahaya, atau musuh sudah bergerak dan.."
"Tidak."
Jawaban tegas Axton membuat Castor bertambah berkeringat dingin. Berarti masalahnya lebih besar dari itu, ini benar-benar sangat menegangkan.
"Apa? Kau jangan membuatku cemas!"
"Apa aku tak begitu menarik?"
"M..Maksudmu?"
"Apa ada yang kurang dariku?"
Castor masih diam mencerna kalimat Axton. Ia harus benar-benar mencerna apa yang dimaksud oleh pria misterius ini.
Melihat respon Castor yang sepertinya berfikir. Axton jadi yakin jika ia memang tak menarik di mata wanita, itu sebabnya Kellen enggan untuk berhubungan lebih jauh dengannya.
"Jadi, benar."
"A..apanya? Apa yang benar?" tanya Castor menunggu jawaban Axton yang begitu sangat serius. Pria ini seakan tengah menghadapi masalah yang akan mengubah kehidupan di dunia ini.
"Ax! Kau jangan membuatku ingin terjun dari lantai atas."
"Istriku menolak berhubungan suami-istri denganku!"
Duarrr..
Seketika Castor di buat jungkir-balik akan jawaban Axton barusan. Wajah Castor termenggu kosong dan tatapan tak bernyawa hanya menyimpan sebuah emosi yang sudah meledak-ledak di kepalanya.
Respon Axton sangat serius dan tak ada malu atau sekedar segan untuk mengatakan hal seperti itu. Padahal, bagi Castor. Pembahasan ini bisa memutus nyawa kelelakianya yang tergolong masih sepi.
"Menurutmu, apa yang kurang?"
"Shitt! Kenapa dia seakan tak berdosa padaku?!"
Batin Castor benar-benar menahan emosi dan kekesalan. Ia tak tahu kenapa, Axton tak pernah berubah sedari kecil selalu terus terang dan tak punya keengganan.
"Kau mengerti. Bukan?" tanya Axton mulai geram karna Castor tak menjawab ucapannya. Melihat Axton mulai emosi, Castor segera mencari aman.
"Ax! Tak ada yang kurang darimu."
"Jadi, kenapa dia menolakku?" tanya Axton belum mau memutus pembahasan ini. Padahal wajah Castor sudah lebih dulu meredam panas.
"M..Maksudku. Mungkin, Kellen masih belum siap, yah. Mungkin begitu?"
"Kenapa dia tidak siap? Bukankah, melakukan itu sangat mudah?"
Pertanyaan itu benar-benar menguras energi Castor yang sangat memaki Axton. Pria ini memang benar cerdas dalam melawan musuh tapi jika urusan wanita, maka ia adalah Si Idiot yang nyata.
"Sebaiknya kau tanyakan ini pada Nicky. Dia lebih paham dari pada aku, Ax!"
"Kau benar. nyatanya kau belum mempunyai wanita."
" Terserah padamu."
Batin Castor hanya bisa memendam rasa kesal ini. Ingin marah, ia tak akan bisa melawan Axton yang begitu serius menanggapinya.
Setelah cukup lama keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Castor baru ingat jika ia sudah melakukan tes pada benda yang tadi Axton berikan padanya.
"Ax!"
"Hm."
Castor mengeluarkan benda itu dari sakunya. Sebuah cips kecil yang di desain seperti kancing baju. Jika di lihat sekilas, maka mereka tak akan tahu jika ada data besar di baliknya.
"Kau sudah menemukannya?"
"Sudah! Di dalam sini ada bukti rekaman kau sedang mengajak Kellen berjalan-jalan tadi, mereka menguntitmu sampai ke pantai dan aku rasa ini di ambil dengan alat lain agar kau tak menyadarinya." jelas Castor memberikan itu pada Axton yang mengambilnya.
Axton diam memperhatikan jelas semua ini. Musuh tengah mengawasi setiap pergerakannya, ada kemungkinan besar mereka tengah bergerak mengincar sesuatu.
"Saat itu jika mereka mendekat aku pasti tahu. Ada pengalihan disini." gumam Axton berfikir tenang.
"Yah. Mereka pasti berencana mengincar Kellen, dia mengawasi kalian apa kau benar-benar terpengaruh dengan rencana mereka kemaren atau tidak. Secara tak langsung, dia ingin melihat apa kau benar-benar membenci Kellen atau sebaliknya."
"Hm. Aku mengerti." gumam Axton ingin menjebak Johar yang harus segera ia selesaikan. Pria itu pasti sudah akan datang besok.
"Kau harus segera mengurus Martinez dan mereka semua. Pria itu sangat menyusahkan. Untukku." ucap Castor sudah jengah mengurung Martinez.
Vote and Like Sayang..