My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Sejarah Kelam Keluarga Miller!



Tak bisa di jabarkan dengan kata-kata dan tak visa di uraikan dengan kalimat. Begitulah kiranya yang sekarang Kellen rasakan, ia menghabiskan waktu bersama Baby San sampai Axton tak ia pedulikan.


Selalu saja memuji ketampanan putranya sampai tak menyadari jika sang empu yang merasa terasingkan itu hanya bisa menatap dari kejahuan.


Tak bisa di tepis jika ia juga bahagia melihat senyum dan tawa istrinya lepas melihat hal lucu dari Bunglon kecil itu tetapi Axton, cih.. Dia tak pernah suka istrinya beralih perhatian.


"Sabar!" gumam Nicky menepuk bahu Axton yang menepisnya kasar. Tatapan kesal itu tertuju ke arah Bangkar dimana Kellen tengah memanjakan putranya.


"Ax! Ini resiko, kenapa kau mau menghadirkan penggantimu?!"


"Kauu!!!" geram Axton tetapi Nicky sudah berlari cepat menjahuinya.


Nyonya Verena yang melihat itu langsung menipiskan bibir berjalan mendekat ke arah Axton.


"Ada yang ingin-ku katakan padamu."


Axton terdiam. Untuk sejenak ia memastikan Kellen dan Baby San baik-baik saja dan barulah ia melangkah keluar.


Para anggota yang masih berjaga mengangguk akan tatapan penuh perintah Tuannya.


"Katakan!"


"Kau pasti tengah mencari tahu dimana Ayahmu?"


Axton tersentak mendengar ucapan Nyonya Verena. Sedetik kemudian ia kembali mengambil ketenangannya.


"Hm. Kau tahu sesuatu?"


"Pergilah ke Lab yang selama ini di Rahasiakan." ujar Nyonya Verena dengan tatapan yang sangat berharap. Axton diam beberapa saat memahami situasi ini.


Lab? Ada apa dengan Lab? Aku sudah lama tak kesana.


"Hanya kau dan Kakakku-lah yang tahu dimana tempat itu. Kau bisa mencari jawaban disana."


"Kenapa harus disana?" tanya Axton menyelidik. Ia tak akan percaya siapapun walau ia tahu Nyonya Verena bukanlah musuhnya.


Melihat kewaspadaan Axton, senyuman itu kembali di urai menandakan jika ini tak masalah.


"Saat ledakan itu terjadi, aku tak menemukan mayat siapapun kecuali Ibumu dan para anggota lainnya. Bahkan, jejaknya bersih dan tak ada tanda-tanda dia masih di sana."


"Apa Daddy masih hidup?"


Batin Axton menduga itu. Tapi, kemungkinannya sangatlah kecil. Ini sudah bertahun-tahun lamanya dan ia tak yakin akan bisa selamat.


"Percayalah! Aku yakin Kakak-ku tak selemah itu."


"Aku tahu." jawab Axton lalu melangkah pergi menjahui ruangan rawat ini.


Nicky yang tadi menunggu di ujung sana tampak bingung akan raut datar Axton yang semakin mendinginkan situasi.


"Ada apa?"


"Ikut denganku!"


Tanpa ada bantahan Nicky mengekor di belakang Axton. Jika sudah begini pastinya Axton tengah menghadapi sesuatu yang serius.


"Dimana Castor?"


"Dia tadi pergi ke bawah. Mungkin mengurus hal lain." jawab Nicky memasuki Lift bersama Axton yang menghela nafas.


Harapannya begitu besar dan sangat ingin keajaiban itu terjadi untuk yang kedua kalinya.


"Ada apa? Ax!"


"Hanya bertiga! anggota lain tetap di tempat."


Perintah Axton yang tak memberi penjelasan. Alhasil Nicky diam dengan pikiran melayang sampai membuka pintu Lift memperlihatkan Castor yang berbicara dengan Dokter Hugo di dekat Resepsionis.


Beberapa orang disini menatap mereka dengan pandangan takut. Bagaimana tidak? Axton sangat menjaga Rumah Sakit ini sampai-sampai orang-orang yang datang akan mengalami pemeriksaan oleh anggota khusus di depan.


Belum lagi para pria berbadan kekar yang membawa senjata laras panjang berkeliling Rumah Sakit.


"Ax! ada apa?"


"Ikut saja." jawab Nicky penuh isyarat. Castor melirik ke arah Staf rumah sakit yang tampak menunduk.


Tak lama setelahnya ia saling pandangan dengan Hugo yang mengangguk.


"Aku akan datang jika Tuan membutuhkan."


"Baiklah. pantau terus kesehatan Tuan kecil."


Hugo mengangguk memandangi Castor yang sudah mengikuti Axton. Nicky memanfaatkan Momen ini untuk menebar pesonanya karna aura Axton membubuhi tatapan kagum para wanita di sepanjang lantai.


"Cih. Pesonaku luar biasa."


"Diamlah!" ketus Castor mendahului Nicky lalu menyamakan langkahnya dengan Axton ke arah luar.


"Ada apa? Ax!"


Mereka hanya menyimpan pertanyaan itu sampai ketiganya masuk ke dalam satu Mobil bersamaan.


"Sekarang katakan! Kenapa dan mau kemana?"


"Lab!"


Jawaban singkat itu masih belum memuaskan dahaga keduanya.


"Lab? Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Kalian akan tahu jika sudah sampai di sana." jawab Axton malas menjelaskannya. Alhasil Nicky dan Castor mengangguk segera melajukan Mobil stabil ke arah luar lingkungan Rumah Sakit.


"Ax! Apa Lab-mu ada di Amerika?"


"Menurutku kita harus terbang ke Spanyol dulu baru bisa mengunjungi tempat itu."


Axton tak menjawab. Ia harus pergi ke Negaranya sekarang karna ia buru-buru tak ingin meninggalkan Kellen dan Baby San lama-lama.


"Memang harus ke sana! jika pergi sekarang, besok pagi bisa kembali. Akan ku usahakan cepat."


"Memangnya mau apa?" gumam Nicky keheranan.


Axton menghela nafas dalam. Ia tak mau memberi Castor dan Nicky harapan yang sama dengannya karna ini akan sangat menyakitkan.


Tetapi, Castor sangat paham bagaimana Axton. Pasti ada sesuatu di sana.


"Ax! Kau mencari Tuan Fander?"


"Apaa??" pekik Nicky mendengar tebakan Castor begitu mencekik. Mencari orang yang sudah meninggal. Dimana?


Kali ini pandangan Nicky tak bisa dielakan. Ia juga mulai membayang pada Ayahnya.


"Ax! Apa kau menemukan jika orang tua kita masih hidup?"


"Ini masih belum pasti." jawab Axton memberi keberhasilan beberapa persen. Harapan sangat besar tapi peluang itu kecil, apa bisa di tembus?


"Ax! Tapi.. Tapi aku tak pernah melihat mayat Daddyku, apa dia selamat?"


"Nicky!" sangga Castor memeggang lengan Nicky yang terlihat sangat berharap. Inilah yang akan membuat Axton menyempitkan alasan.


"A..aku..aku mengerti." kembali menatap ke depan.


"Sekarang, kita tak bisa berharap terlalu jauh. Tujuan utama hanya mencari informasi apa mereka sudah tiada atau belum."


"Semoga saja." gumam Nicky mendengar penjelasan Castor. Ia bisa menenagkan dirinya sendiri karna itulah Nicky belajar ilmu Psikologi. Di samping pekerjaan, ia juga butuh ketenangan hidup dari bayang-bayang masa lalu.


.........


Sementara di ruangan rawat sana. Kellen mendengarkan ucapan Nyonya Verena yang mengatakan jika Axton kembali pulang ke Negaranya sebentar, dan alasan yang membuat Kellen terdiam cukup lama.


"Apa benar begitu?" tanya Kellen menggenggam tangan Nyonya Verena yang duduk di sampingnya.


Baby San hanya diam tengah fokus meminum Asi dari ibunya.


"Yah. Aku dan Redomir yang tahu ini, ada seseorang yang tiba-tiba mengirimkan pesan padaku untuk membuat rencana itu. Setelah-ku telusuri jejaknya menghilang beberapa bulan saat kejadian, dia memberikan semua rencana yang sampai penyerangan Masimo aku bisa mendorong Axton mendekat pada musuhnya."


Mendengar itu Kellen terdiam sejenak. Nyatanya ini sangatlah rumit dan dalam. Ia yakin Axton begitu berharap bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.


"Apa Mommy Axton masih hidup?"


"Dia sudah tiada di tempat kejadian."


Kellen tercekat. Ia ingin mendengar cerita bagaimana ledakan itu bisa terjadi dan kronologi kenapa Masimo bisa ada?!


"Mom! Kenapa Axton bisa mengalami Trauma Psikis dan kenapa Keluarga Miller sampai hancur seperti itu?"


Nyonya Verena menghela nafas dalam. Sejara kelam Keluarga Miller yang pasti menyakitkan bagi Axton.


"Dahulu masa kejayaan Tuan Fander ia memeggang puncak kekuasan di Spanyol, tak hanya menguasai Negaranya tetapi dia juga memeggang jalur dunia bawah. Perdagangan ilegal pembunuhan, pemerkosaan itu menjadi hal biasa. Kakakku selalu bertindak kasar dan arogan memiliki tujuan untuk memperluas kekuasaan sampai ke Benua eropa."


"L..Lalu?" tanya Kellen mendengarkan dengan baik. Berarti sikap arogan Axton menurun dari ayahnya.


"Semua anggota mendukung tujuan Klan Darkness itu hingga 5 Pria yang menjadi kaki tangannya selalu berusaha keras mewujudkan itu."


"Kenapa bisa terjadi pengkhianatan?" tanya Kellen belum mengerti. Nyonya Tersenyum kecil merasa Kellen terlalu lugu memahami semua konspirasi besar.


"Saat dia jatuh cinta, tujuan itu berubah."


Flahsback On...


........


Vote and Like Sayang..