My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Keanehan di hutan



Keberadaan pria itu sudah tak lagi bisa Kellen rasakan. Hari semakin gelap dengan dedaunan hutan berguncang akibat tolakan sayap burung-burung yang berlarian ke sana kemari.


Ia kebingungan. Antara cemas, takut yang berlebihan membuat Kellen memberanikan diri untuk mencari ke pelosok terdalam.


"Aaaax!!!" panggil Kellen seraya beberapa kali memukul beberapa semak dengan ranting di tangannya.


Hal itu mungkin berguna jika ada hewan-hewan melata seperti ular maupun sejenisnya ada disini.


"Aaax! Kau dimana???"


Teriaknya lagi semakin masuk menyusuri hutan rimba. Suara-suara aneh di semak-semak sana Kellen tepis, kakinya menggigil apalagi disini cukup dingin dan ia tak pakai celana panjang.


"Dimana dia? disini sangat berbahaya. Kenapa kau sangat ceroboh, Kellen." umpat Kellen memukul kepalanya sendiri.


Namun. Kellen tersigap kala mendengar suara macan yang ia kenal karna sering ke kebun binatang.


"I..itu.."


Ia langsung bersembunyi di balik pohon besar di sampingnya. Mata ember Kellen memindai sebuah akar berbelit di ujung sana dan seketika pelupuk netra itu melebar.


"M..Macan.. " syok Kellen membekap mulutnya sendiri.


Macan kumbang yang cukup besar dengan bulu hitam pekat dan mata berkilau tajam. Mahluk buas itu tengah berlalu ke arahnya seakan tahu jika ia memang ada di belakang pohon.


"A..aku..aku harus lari. Tapi.. tapi Axton.."


Kellen bimbang. Jika ia lari belum tentu akan lolos, langkah kakinya sangat jauh berbeda dengan kecepatan hewan ini memburu.


Karna tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kellen memilih diam tak bersuara mencoba bergerak mengitari pohon kala hewan itu semakin dekat.


"Aku harap dia tak melihatku."


Batin Kellen hati-hati menginjak dedaunan. Ia terus menghindar mengigit bibir bawahnya menahan nafas yang sendat.


"Dia tak akan melihatku. Dia tak akan melakukan apapun."


Batin Kellen gugup. Sayangnya, kaki itu tak bisa di ajak berkompromi. Tiba-tiba saja ada ranting kering yang Kellen injak menciptakan suara cukup keras menuai tatapan tajam sang Kumbang.


"Shittt!"


Umpat Kellen kala hewan itu sudah menyembul di balik pohon di sampingnya. Siung tajam dan sungut jantannya bisa Kellen lihat menyeringai seakan menemukannya.


"A..aku..."


Kumbang hitam satu itu mendekat ke arah Kellen. Ia menunjukan raut lapar membuat Kellen tak punya cara lain.


"Dadddyyy!!!!"


Pekik Kellen spontan berlari menjauh menerobos semak-semak belukar di depannya. Ia seakan kesetanan dan begitu juga Macan yang di belakang mengejar Kellen cepat.


"Daddyyyy!!!! Daddyyyy!!!"


Auman macan itu ntah menandakan apa. Kellen yang sudah memucat hanya bisa terus berlari tak lagi menahan kecepatan kakinya.


Ia menerobos semak-semak yang seakan mengiringnya ke suatu tempat. Kellen terus berteriak sampai kerongkongannya serak tak bisa bersuara lagi.


"D..Daddy!" gumam Kellen terhenti di sebuah Pohon tumbang yang cukup besar tanpa ranting. Kulit Pohonnya juga sudah rapuh dengan rayap tengah berpesta.


Keadaan di sekitar yang mulai gelap menambah rasa cemas dan takut Kellen segera bersembunyi kembali di balik semak di sampingnya.


"B..Bagaimana ini? Dia pasti masih mengejarku."


Kellen memperhatikan arah kedatangan Macan tadi. Tiba-tiba saja mahluk itu menghilang tak lagi menunjukan sungut panjangnya.


"Syukurlah. Dia tak lagi mengejarku."


Helaan nafas lega keluar. Kellen terduduk di rerumputan basah ini seraya menatap ke arah dedaunan lembab yang ia pijaki.


Banyak semut yang masih segar berkeliaran di tempat ini. Aroma lembab khas rimba itu menandakan tempat ini sangat tua.


Namun. Kesuraman hutan dan kemistisan ini berusaha Kellen tepis, ia harus menemukan Axton jika tidak ia tak bisa keluar.


"Tidak! Jika aku diam disini aku takut jika Axton tersesat."


Bangkit dan kembali memulai langkah ciutnya. Kellen sangat waspada menatap kiri kanan sesekali menunduk kala ada dahan yang rendah menghalangi jalannya.


Langit yang tersembunyi di balik atap dedaunan sana tak lagi tampak. Hanya ada samar-samar cahaya yang lolos itupun sudah jingga.


"Aaaaxx! Kau jangan membuatku cemaaass!!!"


Teriak Kellen terus berjalan masuk. Udara semakin terasa dingin. Suara-suara menyeramkan itu bisa Kellen dengar jelas ditengah sayupan udara.


Krekk..


Suara patahan tulang-tulang terselip ke telinga Kellen yang tercekat.


"S..Siapa??"


Tanya Kellen mencengkram ranting di tangannya. Ia tak bisa begitu jelas melihat hingga kaki Kellen memijaki apapun sesukanya.


Semakin Kellen melangkah kedepan maka suara itu akan semakin jelas terdengar. Bulu kuduknya merinding mengacungkan kayu kedepan waspada.


"A..Aaax!"


Gugup Kellen dengan jantung seakan mau meloncat lari sejauh mungkin. Sepertinya ada yang tengah memakan tulang tapi apa? Walau takut tapi Kellen punya rasa penasaran yang tinggi.


Deggg...


Kellen terbelalak kala melihat seorang pria yang berdiri di hadapan Macan kumbang tadi yang tengah menikmati paha Rusa yang empuk.


"I.. Itu Axton?"


Batin Kellen syok segera membekap mulutnya agar tak menjerit hebat. Ia menggeleng terbayang jika pria itu akan mati di terkam Macan Kumbang yang samar-samar masih Kellen lihat.


Karna tak bisa diam akan rasa khawatirnya. Kellen melangkah perlahan mendekati sosok bertubuh kekar itu. Walau tak begitu jelas tapi Kellen bisa merasakan itu Axton.


Saat sudah dekat. Tak membuang waktu lama Kellen menarik Axton langsung berlari ke arah tempat ia berjalan tadi.


"Lari!! Lari Aax!!"


Axton hanya diam. Pria itu ikut berlari tapi matanya tak menunjukan ketakutan atau sekedar cemas.


Saat di rasa sudah jauh dari area itu. Kellen langsung menarik Axton kembali bersembunyi di balik semak tadi.


"Diam!! Diam disini!!"


"Hm."


Axton menahan lengan Kellen yang ingin pergi. Wanita ini mau memastikan apa Macan itu ikut atau tidak.


"Ax! Kau kemana saja. Ha??" geram Kellen menahan suaranya. Ia berjongkok tepat di dekat Axton yang membisu.


"Disini bukan tempat bermain anak-anak. Ada bahaya dimanapun, tapi kau..."


"Ada dia disini."


Jawab Axton datar tapi Kellen tak mengerti. Yang ia tahu, pokoknya mereka harus bertahan sampai Axton benar-benar ingat.


"Ax! Disini berbahaya, tak sepantasnya kau menonton Macan itu dengan jarak yang tak wajar."


"Disana!"


Axton menunjuk cabang pohon tepat diatas kepala mereka sejauh 4 meter keatas. Kellen mengadah menyipitkan mata ember itu.


"Apa?"


"Dia tidur!"


"Kau jangan melantur. Ax!" geram Kellen merinding. Suasana disini saja sudah tak bisa membuatnya bertahan 1 menit saja, kalau bukan memikirkan Axton, Kellen sudah pasti lebih dulu keluar.


"Kell!"


"Kita harus keluar. Keadaan disini semakin tak jelas." umpat Kellen tak mau mengambil resiko.


Axton diam tak bersuara. Ia melihat ada sesuatu yang bergerak diatas rambut wanita ini dan itu cukup membuat dahi Kellen berkerut.


"Apa?"


Tanpa menjawab apapun. Axton mengambilnya dan dengan enteng meletakan itu ke tangan Kellen.


"Aaaaaaa!!!"


Spontan Kellen menjerit keras kala menggenggam benda itu. Ada bulu dan berkaki membuatnya refleks melempar ke tanah lalu bersembunyi di balik tubuh Axton.


"A..Ax! Pulang!! Pulaaang!!"


"Kenapa?"


"Kau masih bertanya kenapa? Kau ini manusia atau bukan. Ha??"


Axton hanya diam tak menjawab apapun. Ia mengamati setiap kegelapan samar hutan ini seakan mencoba mengenang atau mengukirnya kembali.


"Ax! Yakin kau pernah kesini? Tempatnya tak layak di kunjungi."


Bisik Kellen bejaga-jaga. ia membelitkan tangannya ke pinggang kokoh Axton yang terlihat masih memindai intens.


Kellen sudah lelah berlarian kesana kemari. Ia hanya berharap peluit Castor berbunyi dan ia keluar.


"Ax!"


"Hm."


"Kau kemana tadi?"


Tanya Kellen penasaran. Ia meraba dada Axton dan kaos pria ini agak basah, kalau terkena embun tak mungkin sampai selembab ini.


"Kemana? Kau tak aneh-aneh. Bukan?"


"Hm."


Axton menyembunyikan sesuatu di balik saku celananya. sesuatu yang ntah apa Kellen tak merasakan keanehan itu.


.......


Vote and Like Sayang..


Maaf ya.. Author akhir2 ini lumayan sibuk.. Nggak sempet up pagi😕