
layar Laptopnya masih menyala dengan deretan angka dan foto-foto tercantum rapi di halaman Web yang tengah ia telusuri. Bagian kode-kode rumit itu muncul dengan berbagai artikel membuat sepasang mata yang tengah memindainya semakin menyipit, tentu itu pertanda jika ia tengah sangat fokus.
Terlepas dari perasaan dongkolnya yang tadi segera membanting Earphone di telinganya ke atas meja kala mendengar suara-suara yang membuat ia frustasi.
Nicky sangat syok kala Axton sudah bisa berciuman seperti itu. Mendengar suaranya saja sudah membuat Nicky paham bagaimana situasi di tempat itu.
"Dia benar-benar berkembang sangat pesat." gumam Nicky tak mengalihkan pandangannya ke layar Laptop.
Walau pekerjaannya masih belum usai. Tapi, kejadian tadi adalah bukti nyata jika Axton benar-benar sudah menjelma menjadi Dewa Messum dan Nicky adalah testimoni pertama.
"Sudahlah. Setidaknya Axton tak kaku seperti dulu dalam masalah wanita, ini sudah ada kemajuan."
Decah Nicky memutus pikirannya kesana. Ia tengah menyelidiki identitas Masimo dari percakapan Axton dan Johar tadi.
Portugis adalah daerah pertama. Tapi, sampai detik ini Nicky belum menemukan orang-orang besar yang mencurigakan. Masimo itu tampaknya tak ada di negara ini.
"Dulu Uncel Fander mengatakan jika Masimo itu bisa berbagai bentuk. Berarti pada masanya tak ada yang tahu siapa itu Masimo dan apakah Johar tahu?"
Gumam Nicky menebak-nebak. Ia sudah mencari jejak Masimo di identitas Nyonya Verena yang merupakan adik dari istri Tuan Fander. Apa motif penyerangan hari itu sampai Axton selamat dan hilang ingatan? Siapa dalang besar di balik semua ini.
"Jika memang Nyonya Verena tidak tahu siapa Masimo lalu selama ini dengan siapa dia berinteraksi? Jika hanya bersama Johar apa itu terlalu tak mungkin."
Sungguh Nicky sangat pusing menebak dan mencari asal-usulnya. Ia hanya menemukan data pribadi dari beberapa masyarakat yang tak mungkin itu Masimo yang mereka cari.
Namun. Nicky menangkap sesuatu dari sistem pribadi milik Johar yang telah berhasil ia masuki.
Identitas pria ini terpampang nyata. JOHAR MANOCH COPRA, pria berkebangsaan India dengan istri Depika Chopra. Mereka memiliki dua orang anak dan itu adalah Samer Copra dan Satunya lagi Gehna yang masih berusia 7 tahunan.
Namun. Bukan itu yang Nicky cari, ada salah satu kota dimana Johar tinggal pada 20 tahun sebelumnya dan itu bukan di India.
"Dia berpindah-pindah. Dari Dubai dan pergi ke Lanshing nabat, dan Tahun itu dia ke..."
Nicky terdiam kala nama negara ini adalah nama yang sama dengan asal Kellen. Dan apakah Masimo disana?
"Aku harus bicara dengan Axton secepatnya."
Nicky membuat keputusan untuk segera berunding dengan Axton yang lebih paham dan cerdas darinya. Pria itu pasti mengerti akan beberapa petunjuk yang Nicky rangkap di dalam sebuah File yang ia buat.
...........
Sedangkan di dalam kamar yang cukup luas dan hangat itu tengah menjadi tempat istirahat yang bisa membentengi diri dari cuaca dingin di luar.
Bubuk salju yang menempel di kaca jendela itu membuktikan jika suhu semakin naik karna menginjak malam hari. Mentari juga sudah tak terlihat di gantikan dengan kilauan lampu Bangunan terpelosok.
"Aku letakan disini."
Castor yang meletakan nampan makanan yang di bawa dari luar. Ia sudah memeriksa jika di dalam makanan itu tak di temukan racun atau sebagainya.
Sementara Axton. Ia tengah mengompres kening Kellen yang demam tinggi setelah dari ruangan penangkaran itu.
"Apa panasnya sudah turun?"
"Hm."
Axton hanya bergumam kecil seraya merapikan selimut tebal yang ia balutkan ke tubuh Kellen.
"Tak perlu cemas. Dia pasti hanya kelelahan karna akhir-akhir ini aku lihat dia sering melamun."
Ucap Castor mencoba memberi ketenagan pada Axton yang tak mau beranjak dari sisi Kellen. Terlihat jelas walau hanya demam tapi Axton tak bisa diam saja.
"Kau hanya perlu fokus pada rencanamu. Kellen akan baik-baik saja."
"Kau bisa diam!"
Sambar Axton dengan suara dingin tak bersahabat. Sorot matanya melempar ketidak sukaan atas apa yang baru saja Castor katakan.
Ia tak akan pernah bisa berfikir tenang jika hal yang membuatnya nyaman dan bisa terkendali tengah tak sehat. Rasa cemas Axton bukan tak berdasar karna ia sudah kehilangan orang-orang yang penting di dalam hidupnya.
"Ax! Aku.."
"Mommyku juga sakit dan mereka mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Lalu selanjutnya apa?" tanya Axton dengan nafas tertahan oleh rasa sesak.
"Dia juga meninggalkan aku."
"Ax! Aku tahu bagaimana perasaanmu tapi, Kellen bukan .."
Kalimat Castor langsung terhenti kala melihat kilatan amarah yang jika ia teruskan bisa jadi Axton akan menyerukan kehancuran di tempat ini.
Alhasil Castor menurunkan egonya dengan melangkah keluar dari pintu kamar membiarkan Axton untuk sekedar menenagkan diri.
Saat pintu itu kembali tertutup rapat. Netra tajam Axton terasa hampa akan ingatan yang membekas di kepalanya.
Ia diam seribu bahasa dengan tatapan tak bergeming ke arah pintu itu.
"Aax."
Axton tersadar kala tangannya di genggam tangan hangat lembut itu. Ia menoleh menatap wajah pucat Kellen yang tampak mulai bangun.
"Kell!!"
"Sss.. Kepalaku."
Axton segera menahan bahu Kellen yang ingin bangkit dari baringannya. Lampu tidur yang menyala remang cukup bisa menerangi wajah mereka.
"Ax! Kenapa denganku?"
"Sakit." jawab Axton singkat kembali pada diirnya yang biasa. Ia memperbaiki kain di kening Kellen yang mengingat kembali jika tak salah ia dan Axton tadi berciuman tapi apa itu nyata?
Karna masih bingung. Kellen segera melihat wajah tampak Axton dari remangan yang masih terang ini. Ia memeggang leher kokoh Axton seakan memastikan.
"Apa aku pernah mengigit ini?"
"Kenapa?"
Axton menutupinya. suasana kamar yang remang membuat bekas kismark yang di berikan Kellen tadi tertutup di bagian leher Axton.
Tapi. Kellen harap itu hanya mimpi karna jika iya maka akan sangat memalukan. Jiwa kewanitaannya sudah terlalu liar tadi sampai meninggalkan jejak sepanas itu.
Namun. Kellen tersadar jika tadi Axton di bawa menemui Johar dan apa yang terjadi?!
"Ax! Kau..kau tadi di apakan olehnya? Mereka melukaimu?" cemas Kellen meraba dada bidang Axton lalu membolak-balikan tangan pria itu memeriksa.
"Dimana? Mereka melakukan sesuatu? Mereka melukaimu dan.."
"Kell!"
"Ax! Aku serius, mereka pasti akan membuatmu menjadi orang jahat. Aku tak mau kau.."
Axton segera membekap mulut Kellen dengan tangan besarnya. Raut cemas dan khawatir wanita ini membuat Axton mendesir hangat dan selalu melemah karnanya.
"Aku baik-baik saja."
Jawaban yang disertai helaan halus nafasnya.
Kellen bisa melihat jika aura Axton seakan lebih pada lembut dan tak mau menjauh. Ini membuat Kellen tertegun karna ia mulai merasa aneh.
"Kau yakin?"
Axton mengangguk beralih memeluk Kellen yang diam menerima dekapan erat ini. Lagi-lagi dadanya terasa sesak dan berat kala membayangkan raut wajah Axton yang begini.
"Teruslah memperhatikanku."
"M..Maksudmu?"
Gumam Kellen tapi Axton meletakan tangan Kellen ke kepalanya. Wajah pria ini tersembunyi ke ceruk leher Kellen yang merasakan sebuah emosi sedih yang ia resap dari momen ini.
"Kenapa sedari tadi aku merasa kau berbeda? Ax!"
.....
Vote and Like Sayang..