
Setelah adegan penolakan Kellen tadi, semuanya jadi berubah. Axton tak lagi tampak di dalam kamar yang di kunci dari luar membatasi aksi nekat Kellen yang ingin melarikan diri dari sini.
Lagi pula. Ini sudah pagi dan tak mungkin rasanya Kellen keluar di tengah badai yang sekarang memporak-porandakan lapangan di luar sana.
Namun. Kellen memanfaatkan waktu kosong ini untuk menghubungi Tuan Benet yang tak ia ketahui kabarnya beberapa hari ini.
"Kelllen!!!!"
Hati Kellen tiba-tiba terasa nyeri mendengar suara keras serak tua ini. Betapa bodohnya ia tetap disini padahal Daddynya pasti tengah sendirian.
"Kelll! Ini.. Ini kau. Sayang?"
"D..Dad." gumam Kellen menahan kesesakan. Terdengar suara helaan nafas berat Tuan Benet yang sepertinya masih dalam keadaan tak baik.
"Kau kemana saja? Daddy sangat mencemaskanmu. Kau tak ada niatan pulang. Ha? Kau marah pada Daddy?"
"T..tidak. "
"Lalu kenapa? Daddy minta maaf karna mendesak-mu melakukannya tapi, jika kau tak suka maka pulang saja. Daddy sangat merindukanmu. Kell!"
Batin Kellen terasa di aduk-aduk. Ia tak tahu harus melakukan apa sedangkan Axton pasti tak akan membiarkannya lolos begitu saja.
"Dad! Kellen akan pulang. Dady..."
"Kapan? Joy bilang kau akan pulang kemaren tapi kenapa sekarang belum juga datang?! Apa perlu Daddy jemput. Nak!"
"Tidak. Daddy disana saja."
Sambar Kellen cepat. Disini adalah gudangnya masalah dan ia tak mau Tuan Benet semakin terluka parah menjemputnya.
"Lalu bagaimana? Daddy ingin bertemu denganmu."
Kellen menghela nafas halus. Mau bagaimanapun ia harus lari dari tempat ini. Ia tak mau membuat hubungan yang semakin rumit.
"Dad. Daddy tenang saja. Jika pekerjaan Kellen sudah selesai disini, maka Kellen akan pulang."
"Apa ada masalah? Kau jangan memendam sendirian. kau masih punya Daddy. Kell! Aku belum mati."
Suara Tuan Benet terdengar marah. jujur Kellen ingin pulang dan segera bertemu tapi tak akan semudah apa yang ada di kepalanya.
"Dad!"
"Daddy tak mau tahu. Kau pulang atau Daddy jemput."
"Daddy! Kellen akan pulang, Kellen janji."
Jawab Kellen takut jika Tuan Benet jadi sasaran berikutnya. Ia tak ingin masalah Axton merembes ke pria tua rapuh itu.
Keduanya bicara saling bertukar kabar. Kellen lega kala Tuan Benet sudah terdengar santai dan sangat bersemangat. Pria ini ingin Vidio Call dengannya tapi Kellen menolak halus dengan alasan jika sekarang ia tengah ada di ruang pertemuan.
Setelah beberapa lama saling meluapkan kerinduan lewat suara itu. Akhirnya Kellen menyudahi sambungan karna tak mau mengganggu waktu istirahat Daddynya.
"Dad! Jangan cemaskan aku, aku kuat dan sangat pintar. Aku janji saat aku pulang aku akan baik-baik saja."
"Benar kau baik-baik saja?"
Masih tak percaya dan sangat tak mau berpindah sambungan jarak jauh ini. Kellen mengulum senyum nanar. Di dalam lubuk hatinya terdalam, ia begitu ingin pulang memeluk Tuan Benet.
"Yah. Kellen sangat sehat dan akhir-akhir ini Kellen makan banyak. Dad!" kelakar Kellen tak sejalan dengan realita.
Nampan berisi makanan yang ada di sampingnya sama sekali tak Kellen sentuh.
"Benarkah? Berapa piring?"
"Emm 4!"
"Waahhh.. Kau harus lebih dari itu. Janji pada Daddy saat kau pulang, kau harus sudah berisi. Sayang! Bila perlu baju-bajumu sudah tak ada yang muat."
Kellen terkekeh geli mendengar gurauan Tuan Benet yang sejatinya juga merasa aneh dengan Kellen. Pria itu tahu jika putrinya tengah tak baik-baik saja.
"Sudah dulu Dad! Kau istirahat yang benar, tapi mungkin beberapa hari ini Kellen tak akan sempat menghubungimu. Jangan cemas. Ya?!"
Ucap Kellen memberi kalimat penenang. Tuan Benet mengerti itu hingga sambungan keduanya terputus barulah wajah Kellen berubah suram dan sangat murung.
Ia menatap Wallpaper ponselnya dimana masih ada foto ia dan Tuan Benet yang abadi disini.
"Daddy harus baik-baik saja. Kellen akan berusaha keluar dari dini, demi Daddy."
Gumam Kellen mengecup lama layar benda pipih itu. Perutnya tengah nyeri tapi ia tak bisa terfokus pada rasa sakit itu.
Gumam Kellen merasa takut akan kehadiran Axton yang tadi mengamuk padanya. Ia sudah tak bisa tenang dengan masalah dunia gelap yang kejam ini.
Karna melihat di luar tengah badai. Kellen merasa bimbang apa ia harus lari sekarang atau tidak.
"Di luar tengah badai. Tubuhku juga terluka, aku harus apa?" gumam Kellen mencari ide. Tetapi otaknya tiba-tiba saja buntu dan akhirnya Kellen bertekad nekat.
"Aku harus pergi. Axton tak ada disini dan dia tak akan tahu aku pergi."
Gumam Kellen perlahan bangkit. Ia memegangi perutnya seraya melangkah kearah sofa dimana ada Mantel bulu dan kupluknya.
Kellen menahan sakit di perutnya kala luka itu terasa perih. Namun, tekad Kellen yang tak mau ikut campur lagi sudah bulat sampai memaksakan diri memakai perlengkapan hangat ini.
"Dia..dia tak ada disini. Aku aman."
Kellen memasang kupluk terakhirnya. Setelah dirasa cukup barulah Kellen melangkah perlahan keluar tetapi ia baru ingat pintu ini di kunci.
"Sial!! Aku tak menyangka Axton akan sekasar ini."
Umpat Kellen kesal. Ia beralih ke arah Jendela yang kabur karna serbuk salju di luar menempel kesini.
"Aku rasa ini tak di kunci."
Kellen membukanya dengan sekuat tenaga dan yah, mata ember itu berbinar kala Jendela ini terbuka.
"Syukurlah. Keberuntungan masih memihak padaku."
Rasa lega itu Kellen bawa keluar. Ia perlahan dengan hati-hati memanjat palang Jendela dengan deruan angin yang sangat kuat menerbangkan rambut dan Mantelnya berkibar.
"Dingin."
Gumam Kellen mengigil tapi ia sudah tak mau mundur lagi. Ia berpijak ke bagian atap di bawah yang tertimbun serbuk putih beku ini..
Setelah sekuat tenaga berjuang. Akhirnya Kellen berhasil turun memijaki tumpukan salju diatas atap dengan mata mengawasi beberapa anggota yang ada di bawah sana.
"Aki rasa aku akan membeku." gumam Kellen mengeratkan Mantel ini. Cuaca yang begitu menggila tetapi tekad dan hasrat lepas Kellen cukup menembus badai.
Kellen melanjutkan perjuangannya. Ia sesekali bersembunyi walau sekarang tulang dan persendiannya sudah terasa membeku.
Sementara di seberang sana adalah tempat pengujian Axton. Pria itu tengah berdiri di hadapan Johar yang tak tahu apapun soal kejadian kemaren.
Axton sudah lebih dulu membungkam anggota Johar yang melihat itu. Apalagi Vatco yang sudah bergabung bersamanya.
"Kau bisa mengalahkan beruang yang sudah berpuasa selama 1 minggu itu. Kau sangat luar biasa." pujian Johar menepuk bahu kokoh Axton yang juga memakai pakaian hangat.
Pria tampan dengan wajah datar menyimpan misteri itu sedari tadi menuruti apapun yang Johar mau. Termasuk menghabisi beberapa anggotanya.
Tentu tak ada rasa berat hati karna para anggota yang Axton bunuh, itu anggota yang pernah menatap Istrinya penuh dengan gejolak hasrat.
"Apa yang kau mau?" tanya Axton dengan raut tunduk. Johar sangat puas menopang tubuh dengan tongkat saktinya itu seraya terus melihat Axton yang sangat memberi harapan.
"Kau pantas menggantikanku. Masimo akan senang."
"Siapa Masimo?" tanya Axton menggali informasi. Nicky yang ada di seberang sana tengah melakukan pekerjaannya sesuai percakapan ini.
"Dia pimpinan tertinggi. Dia bisa menjadi apapun yang ada di pikiranmu."
"Sialan ini selalu membuat kepalaku berputar."
Suara Nicky yang hanya bisa di dengar Axton sipenuli dan pembisu. Axton sangat pandai bermain peran di depan Johar yang lupa siapa Ayahnya.
Kala Axton sibuk memancing Johar. Castor yang tengah ada tak jauh dari Axton seketika terkejut kala melihat seseorang yang berjalan labil diatas atap bertumpuk salju sana.
"I..itu..."
Castor sangat syok. ia menyipitkan matanya mencoba memindai apakah Mantel yang di kenakan wanita itu adalah Mantel yang sama dengan punya Istri Tuannya.
"Sss..Siallll!!" geram Castor lagi-lagi di buat jantungan oleh Kellen yang tampak tak bisa memanjat tetapi di paksakan.
Apalagi kondisi atap yang licin membuat wanita itu tergelincir hebat.
"Aaaaaaxxx!!!!"
.......
Vote and Like Sayang..