
Decapan erotis itu. masih terdengar sangat syahdu dengan suara deritan ranjang akibat pergerakan yang tak menentu diantara keduanya.
Kellen tadi membawa Axton kembali ke kamar karna suhu di luar semakin dingin. Tetapi, Axton masih belum mau melepaskan ciumannya hingga Kellen terus melayaninya dengan kelembutan dan mengajari cara berciuman yang benar.
"Jangan digigit!!" pekik Kellen kala bibir bawahnya Axton gigit. Ntah karena gemas atau bagaimana Axton terbiasa melakukannya dengan kasar.
"Kell!"
"Jangan di gigit. Kau ini kebiasaan mengigitku." kesal Kellen beringsut duduk. Memar di dagunya bekas gigitan Axton belum hilang dan bagian jempolnya juga sering di gigit mahluk aneh ini.
Melihat wajah masam Kellen membuat Axton terdiam tak berkedip memandangnya.
"Kell!"
"Apa??" ketus Kellen seraya melihat bibirnya yang bengkak dari kaca meja rias.
"Lagi!"
"Kau itu mengigit. Bisa habis semuanya karna kau."
Axton hanya diam. Namun, bukannya mengerti ia malah langsung mengayun tangannya mencengkram bibir Kellen yang spontan memekik.
"Aaaxxx!!!"
"Hm."
"Kauu!!!" geraman Kellen di tarik Axton hingga kembali jatuh keatas tubuhnya. Ranjang ini tak terlalu besar hingga mau tak mau Kellen harus berdempet mengikis jarak.
Hidung mancung itu berbenturan dengan tatapan mata terpaut dalam. Netra tajam Axton menenggelamkan Kellen dalam cerita Castor tadi.
Apa benar Axton ini penerus Klan Drakness dan anak dari Tuan Founder Houlten? apa setampan itukah sampai menghadirkan pria seperti Axton.
Cup...
Kellen langsung tercekat kala kecupan hangat itu di layangkan ke bibirnya. Pipi Kellen memerah dengan semrawut malu.
"K..kau.."
"Sakit?"
"M..Maksudnya?" tanya Kellen kala Axton memeggang dadanya. Degupan jantung Kellen bisa Axton dengar dan ia anggap Kellen tengah sakit.
"Sakit?"
"A.Ax!"
"Jangan sakit." gumam Axton menggeleng tak suka itu. Ia mengusap pipi Kellen yang tadi siang di basahi air bening itu dan Axton tak mau melihatnya lagi.
"Ax! Jangan di.."
"Jangan menangis."
Lirih Axton menarik kepala Kellen hingga terbaring di dadanya. wajah Kellen termenggu diam mendengar degupan jantung Axton yang terasa seirama dengannya.
"Kau cemas?"
"Hm."
"Kenapa cemas?" tanya Kellen meraba dada bidang Axton yang terdiam tak tahu jawabannya. Ia hanya merasa sangat muak kala Kellen terancam dan ada perasaan marah kala wanita ini meneteskan air matanya.
"Tidak tahu!"
"Kenapa tidak tahu?"
Axton menggeleng. Yang ia rasakan hanya ingin selalu bersama Kellen dan tak mau kemanapun, saat wanita ini tak terlihat di matanya maka timbul emosi dan ingin menghancurkan segalanya.
"Ax!"
"Hm."
"Kenapa kau harus selalu ada di dekatku?" tanya Kellen ingin membuat Axton mengerti jika tak selamanya ia bisa di sisi pria ini.
"Hm."
"Kenapa kau tak mau jauh dariku? Apa yang kau suka?"
Axton menatap Kellen intens seakan mendalami manik kecoklatan ini. Tangan Axton beralih menyentuh dagu lancip Kellen yang spontan mengadah menatapnya.
"Ini..."
Menyentuh dagu beralih ke bibir Kellen yang masih basah. Ia tak berbohong jika semua yang Kellen lakukan akan selalu indah di matanya.
"Ini.."
"A..Ax!"
"Dan ini semua." jawab Axton lugas. Tatapannya tulus tak ada rona kepalsuan sama sekali.
Tentu Kellen semakin berat. Ia ingin menanyakan apa Axton tahu arti dari semua itu? Apa Axton tahu jika ada hal lain selain kata SUKA yang hanya di mengerti olehnya.
"Kau tahu?"
"Hm."
"Seorang pria dan wanita itu tak boleh terlalu dekat dan intim."
"Saat pria dan wanita bersentuhan. Maka, akan ada hal lain yang akan muncul semakin memperkuat ikatan mereka."
"Ikatan."
Kellen mengangguk. Ntah Axton mengerti atau tidak yang jelas ia ingin mengatakannya untuk sekedar meringankan bebannya.
"Saat kau dan aku bersama, tanpa kita sadari ada hal yang akan tumbuh dan itu sangat tak bisa terjadi."
"Kenapa?"
"Karna kita berbeda."
Jawab Kellen menyandarkan keningnya ke dagu Axton yang tak menyahut apapun. Ia mendengarkan dan menjadi seorang perasa yang baik.
"Aku tak pernah berfikir untuk terlibat dalam sebuah Sejarah dan Konspirasi. Mimpiku itu sangat sederhana."
"Apa?"
Kellen menyunggingkan sedikit senyum simpulnya. Impian yang sedari kecil terus ia bayangkan.
"Aku ingin hidup bahagia dengan Daddyku. Dunia yang sangat damai dan hanya ada tawa dan cerita, aku membayangkan jika ada seorang pria yang datang dari Keluarga sederhana."
"Kenapa harus Sederhana?"
Kellen tak menyadari itu. Ia tenggelam dalam nuansa mimpi yang kembali terukir di benaknya.
"Kehidupan sederhana itu sama sekali tak rumit. Tak ada yang akan berniat untuk menghancurkan dan tak ada konspirasi dan rencana. Semuanya aman. Anakku, suamiku maupun Daddyku."
"Tak ada yang lain?"
Kellen berfikir sejenak. Ia ingat jika ada hal yang ingin ia wujudkan sedari dulu dan itu belum terpenuhi sampai sekarang.
"Ax!"
"Hm."
"Aku ingin punya sebuah Yayasan untuk menampung anak-anak yang di tinggal orang tuanya. Jika uangku cukup, aku ingin seluruh Negara ini tahu jika Yayasan itu ada untuk siapapun. Ada nama Mommyku yang akan selalu di do'akan mereka nanti. Itu sangat menyenangkan, bukan?"
Tanya Kellen beralih memandang Axton yang tampak hanya memandangnya datar. Kellen tersenyum karna Axton juga tak akan mengerti.
"Dan jika saat itu tiba, aku mungkin akan melupakan semua yang ku lewati ini."
"Apanya?"
"Tidak ada. Setidaknya kau juga harus punya impian, cepat katakan! Apa yang kau mau?"
Tanya Kellen bersemangat. dagunya bertopang ke dada Axton seraya memandang pria itu.
"Cepat katakan! Kau mau ap.."
"Kau!"
Jawab Axton tegas tapi Kellen menggeleng menganggap Axton bercanda.
"Bukan aku. Ax! Impianmu, coba katakan!"
"Kau!"
Kellen menepuk dahinya lemas kala jawaban Axton tak berubah. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pria ini.
"IMPIAN! Kau paham?"
"Kau!"
"Stoppp!!! Sudah, aku pusing memikirkannya." sambar Kellen membekap kedua telinganya.
Melihat wajah masam Kellen yang menggerutu membuat sudut bibir Axton terangkat. Tangannya refleks menyentuh kepala Kellen yang masih terbaring di dadanya.
"Aku bercerita panjang lebar dan nyatanya kau tak mengerti. Sudahku duga."
"Hm."
"Hm.. Hm.. terserah kau saja."
Jawab Kellen langsung menarik selimut menutupi separuh tubuh keduanya.
"Ax! Kau tidur duluan, aku mau ke kamar mandi."
"Kell!"
"Jangan ikut. Tidurlah duluan."
Axton menggeleng hingga Kellen tak jadi pergi. Ia memilih mematikan lampu kamar ini lalu kembali berbaring di pelukan Axton yang seperti biasa mengurungnya.
"Good Night!"
"Hm."
Jawab Axton merapatkan tubuh keduanya. Kala keduanya melelapkan diri tiba-tiba Ponsel Kellen banyak bertubi pesan masuk dari Joy yang menanyakan kapan ia pulang.
.......
Vote and Like Sayang..