My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Ke Klinik!



Pagi sudah menyapa. Mentari di atas sana tampak cerah dengan semilir angin yang sejuk dan sangat segar.


Suasana ini sangat cocok untuk beraktifitas di luar dan tentu para Masyarakat yang ada di sekitar tempat ini mulai melakukan jalan pagi di sekitar jalan Aspal santai dan membawa anjingnya berkeliling.


Namun. Kali ini tak jadi keberuntungan Axton untuk menemani Kellen berjalan pagi, wanita itu tampaknya sudah rapi dengan Jeans berwarna hitam membalut kaki jenjangnya dengan atasan Tangtop berwarna putih. Ia memakai Jaket Jeans dengan rambut panjang indahnya di kuncir kuda dengan kacamata yang sudah bertengger di bagian dadanya.


"Kau yakin mau keluar?" tanya Axton tengah berdiri di depan pintu Rumah tak melepas tatapan mata dari Kellen yang tampil simpel tapi sangat mempesona, tampaknya Kellen malas memakai Dress.


"Iya. hari ini jadwalku cukup padat, apalagi kemaren aku jarang ke Klinik. Agatha pasti kerepotan."


"Tapi, kau masih belum sehat." gumam Axton dengan raut wajah datar yang menyimpan kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja. Lagi pula aku hanya akan memeriksa Pasean tetap. Tak lebih, Ax!"


Alhasil Axton menghela nafas. Ia merapikan Jaketnya seraya memantau pergerakan Kellen yang tampak memainkan ponselnya.


"Ax! Kau mau mengantar Istrimu?" tanya Castor yang baru saja menyiapkan Mobil.


"Hm."


"Kau yakin dia tak akan muntah lagi?" tanya Castor mendekat berdiri di samping Axton yang sudah mandi 5 kali agar Kellen tak mual dekat dengannya.


"Aku rasa tidak."


"Baiklah. Aku.."


"Selamat Pagi!!"


Suara seseorang dari arah Pagar Rumah. Seketika wajah Axton terlihat semakin dingin melihat Jot datang kembali membawa keranjang berisi buah segar.


Dua anggota yang tampak pura-pura membersihkan taman sana saling pandang merasa pria ini benar-benar mencari mati.


"Pagii!!" sapa Joy lagi mendekat ke arah pintu rumah.


Axton tak beranjak dari tempatnya membuat langkah Joy terhenti. Aura tak bersahabat Axton bisa ia rasakan tetapi, ia tak akan membiarkan pria ini mendahuluinya.


Tentu Joy belum tahu jika Kellen tengah hamil karna saat itu ia tengah di luar dan di usir pergi.


"Kau terlalu menghalangi jalan."


"Aku berdiri dimana-pun aku menyukainya." jawab Axton dengan gestur tenang dan sangat jantan. Ia tak cemas atau khawatir jika pria seperti Joy mencoba menyingkirkannya tapi, pria ini dekat dengan Tuan Benet, itu akan menyusahkan.


"Maaf, tapi kau terlihat tak menyukaiku."


"Hm. kau cukup cerdas."


Melihat Joy yang tampak mulai mengibarkan bendera perang dengan Axton. Kellen segera menghela nafas halus, ia tahu Joy bukanlah tandingan sebenarnya bagi Axton.


"Joy!"


"Kell!" sapa Joy dengan tatapan kagumnya terlempar. ia sangat terpesona dengan wanita cantik ini apalagi Kellen terlihat Enerjik memakai Stelan muda ini.


"Daddy masih di kamarnya. Apa kau bisa membantuku?"


"Tentu." sambar Joy melewati Axton yang tampak hanya menunjukan wajah dingin dan sorot mata tajam pada Kellen.


"Apa yang bisa-ku lakukan untukmu?"


"Begini. Aku mau ke Klinik, dan Daddy pasti tengah lelah, apa bisa kau jaga Daddy sebentar sampai aku pulang?"


Seketika raut wajah Joy yang tadi bersemangat berubah total. Axton menyunggingkan seringaian sangat licik membuat Castor menggeleng.


"A..Apa kau ingin ke Kampus?"


"Tidak. Hari ini aku tak ada kelas."


"Jadi..." gumam Kellen menunggu keputusan Joy yang berusaha terlihat baik-baik saja.


"Aku mengerti. Kau pergilah!"


"Terimakasih. Kau selalu saja membantuku." ucap Kellen terlihat terharu. Joy memerah menghirup aroma Vanilla dari tubuh Kellen, harum wanita ini sangat ia puja.


"Tak apa. Aku senang melakukannya."


"Kalau begitu, baiklah! Aku pergi dulu, tolong jaga Daddy, ya?"


Joy mengangguk tetapi segera menyodorkan buah Apel yang ia bawa.


"Ini!"


"Untukku?" tanya Kellen. Joy mengangguk dengan wajah sangat bahagia, tentu Kellen tak sungkan untuk mengambilnya.


"Terimakasih."


"Sama-sama. Jaga dirimu baik-baik." ujar Joy memandangi Kellen yang melangkah kebarah pintu.


Axton terlihat membuang muka. Sayangnya Joy begitu muda untuk ia ajak bergulat.


"Aku pergi diantar Castor saja. Ya?"


"Kenapa?" tanya Axton mengikuti Kellen yang masih tampak risih membuat Axton kembali mencium aroma tubuhnya.


"Aku sudah mandi berulang kali. Apa masih bau?"


"Ax! Biar aku saja yang mengantar Kellen."


"Tapi, apa yang membuat kau tak nyaman?" Axton masih bertanya-tanya. Kellen berbalik menatap Axton yang berjarak 2 meter darinya.


"Aku tak suka Aroma tubuhmu. Mengerti?"


"Kell!"


"Sudah. Aku sudah terlambat." jawab Kellen segera mendekat ke arah Mobil.


Axton masih diam terkurung dalam kebingungannya. Ia mencoba untuk tetap tenang kembali mendekati Kellen.


"Aaax! Ayolah." kesal Kellen karna masih merasa mual.


Tanpa aba-aba yang pasti Axton segera membekap hidung Kellen yang terkejut kala tubuhnya terpadat ke Mobil.


"Dengan begini aku bisa menciummu." bisik Axton langsung melabuhkan kecupan penuh penekanan ke bibir Kellen meluapkan perasaannya.


"Aaax!!"


Sudah cukup puas barulah Axton menjauh membuat Kellen mengambil nafas dalam. Namun, ia tersentak saat Apel yang di berikan Joy tadi sudah tak ada di tangannya.


"Kauu.."


"Ini tak baik untukmu." ucap Axton melempar buah itu ke luar Pagar.


Kellen benar-benar pusing melihat ini semua. Ia segera masuk ke dalam mobil dengan Castor yang menunggu isyarat Axton.


Saat pria itu mengangguk barulah Castor masuk ke mobil untuk mengemudi.


"Aku pergi!! Jangan mengacau di Negaraku!!"


"Hm." gumam Axton memandangi Mobil yang bergerak stabil keluar Pagar Rumah yang sudah di buka lebar.


Ia memandangi benda itu sampai hilang dari manik tajamnya.


"Tuan." dua anggota di taman sana mendekati Axton yang menatap situasi di tempat ini.


"Kalian jaga disini."


"Kami siap!"


Axton segera memakai maskernya lalu melangkah keluar pagar. tak lama setelahnya ada satu Mobil hitam mewah yang datang tepat berhenti di dekat Axton.


"Maaf, aku terlambat."


"Hm."


Nicky melempar senyuman pada Axton yang tampaknya tengah tak bersuasana hati yang baik pagi ini.


"Aku sudah tahu tentang Kellen. Selamat untukmu!" seraya melajukan mobil pelan.


Axton hanya diam setia dengan sikap dinginnya yang tampak melihat daerah tempat tinggal Kellen. Disini cukup aman dan ada yang menjaga dari simpang jalan.


"Ax! Menurutmu apa Masimo akan datang lagi?"


"Aku tak tahu."


Seketika Nicky menghembuskan nafas kasar. Selalu saja tak mau berbagi dengannya, padahal ia sangat ingin membalas perbuatan Masimo waktu itu.


"Ouh. Aku baru ingat, ini Buku yang semalam kau pinta!"


"Berikan!"


Nicky mengambilnya dari tempat barang dan memberikannya ke tangan Axton. Buku yang tampaknya aneh tetapi Axton serius ingin mempelajarinya.


"Itu edisi lama milik Daddyku. Aku rasa itu berguna."


"Kau yakin?' tanya Axton membuka lembaran pertama yang memperlihatkan apa saja ciri-ciri wanita hamil dan apa yang di rasakan semuanya tampak lengkap.


Nicky mengulum senyum kala Axton terlihat sangat serius membacanya. Ia senang karna hidup Axton sudah jauh berubah.


" Aku juga punya buku cara menjadi Ayah yang benar, apa kau mau?"


"Hm."


"Cih. sebenarnya buku itu hanya berguna untuk para pria sepertimu. Ax!" gumam Nicky yang merasa jika Daddy-Daddy mereka dulu pasti mempelajari sesuatu yang seperti ini dari buku-buku itu.


Lama Axton membacanya sampai mata elangnya menangkap sesuatu yang aneh dari pergerakan Mobil yang tengah melaju di depan sana. Bemper Mobil itu tampaknya bukan dari warga biasa.


"Apa Klinik istriku tengah ramai?"


"Ntahlah. Kau mau kesana?" tanya Nicky dan segera di jawab anggukan datar Axton yang merasa tak tenang melepas Kellen.


"Tapi, aku dengar Klinik istrimu itu sangat berkualitas dan terkenal. Mustahil jika tak ada yang iri dengannya."


"Hm."


.....


Vote and Like Sayang