My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Keanehan Axton!



Posisi Castor sudah tersudut ke dinding lorong dengan amarah Axton masih belum stabil. Ia bahkan sampai beberapa kali memukul perut pria itu membuat Kellen syok berusaha menghentikannya.


"Aaax!!! Aaax sudah!!!"


Braakk..


Axton menerjang tapi terkena dinding di belakang. Untung Castor menghindar atau tidak dia akan mengalami patah tulang di bagian pinggang.


Melihat sikap Axton yang benar-benar kehilangan kendali menarik rasa muak Kellen yang sudah geram dan tak mampu bernafas normal lagi.


"Baik!!! Terserah padamu!!!" bentak Kellen lalu dengan perlahan melangkah ke arah pintu keluar.


Tentu itu membuat Axton semakin kelut melangkah lebar mendekati Kellen yang memeggangi bagian dadanya yang nyeri.


Dengan sekali sentakan tubuh Kellen spontan berbalik kasar hampir terhuyung ke depan.


"P..pergi.." geram Axton dengan tatapan mata berapi-api.


"Yah! Aku akan pergi. Kau mau apa?"


"P..Pergi.. K..Kell.. P..Pergi!"


Kellen mengangguk dengan sudut bibir berdarah. Memar di dagunya terlihat menyakitkan bahkan sangat menyedihkan.


Tubuhnya sudah remuk redam tapi ia paksakan terus. Tapi, semakin kesini Axton begitu membuatnya lelah.


"Kau mau membunuhnya? Iya?"


"Kell!!"


"Kalau begitu kau bunuh aku sekalian. Ax!! Ayo!!" ucap Kellen meraih tangan kekar Axton yang berdarah ke arah lehernya.


Tatapan mata tajam Axton mengigil dengan perasaan berkecamuk nyata.


"Ayo!!! Tak akan ada yang akan menghukummu, cepat lakukan!!"


Axton hanya diam menatap nanar luka di dagu dan bibir Kellen. Mata ember itu melemahkan bara yang tadi berkobar di batin pria itu.


"Diam? jangan diam saja. Ayo... Ayo pukul!! Bagian mana lagi? Ini.."


Kellen mengarahkan tangan Axton ke kepalanya.


"Ini.. Kau..kau bisa menghancurkannya. Buat mereka semua tertawa dan bahkan berpesta merayakan kematianku!! Ayo Ax, itu yang kau mau . Bukan?"


Tanya Kellen mengeraskan suaranya. Castor yang sudah tergeletak di sudut sana hanya bisa menatap dengan sayu menahan rasa sakit akibat pukulan kasar Axton padanya.


"Pukul!!! Lakukan seperti yang biasa kau lakukan. Ayo.. Pukul.. Pukul. Aaaax!!" ucap Kellen menamparkan tangan kasar itu ke pipinya membuat Axton segera menarik tangannya kasar.


Tatapan mata tajam terlihat sendu dengan wajah kebingungan. Ia menggeleng mundur membuat bibir Kellen bergetar menahan gejolak rasa yang tengah berkecamuk di hatinya.


"Jika.. Jika kau bersikap begini pada orang-orang yang perduli padamu. Maka.. Maka kau tak akan sembuh. Ax! T..tak akan." gumam Kellen bergetar merasa percuma.


Axton diam menatap nanar air mata Kellen yang keluar. Ia mencengkram dadanya yang terasa amat sakit melihat itu.


"K..kau..kau tak sendiri, aku..aku ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin bertemu dadyku, aku ingin pulang. Jika kau seperti ini.. Kapan.. Kapan semuanya selesai. Ha? Kapan?"


"K..kau..."


"Aku khawatir jika dadyku kembali kambuh. Dia sendirian disana.. tanpa aku, bagaimana jika dia sakit? Bagaimana jika dia butuh orang di malam hari mengambilkannya minum, a..aku.."


Kellen segera berbalik mengusap air matanya. Ia berusaha kuat disini agar bisa pulang menemui dadynya. tapi, harapannya terlalu besar untuk itu.


"M..mungkin kau tak merasakannya."


"Kell!"


"Urus dirimu sendiri."


Melihat Kellen ingin melangkah pergi ke pintu keluar. Axton segera melangkah lebar dengan cepat memeluk wanita itu erat.


"Kell!" gumam Axton membelit perut Kellen dari belakang. Wajahnya terbenam ke tengkuk jenjang wanita ini membuat rasa sesak di dada Kellen.


"Lepas!"


"Kell!"


"Lepasss!! Kau..kau tak membutuhkanku. Kau bisa melakukan semuanya sendiri." ucap Kellen berusaha melepas belitan Axton yang menguat hingga sekuat apapun ia memberontak maka itu sangat percuma.


"Lepasss!!!"


"K..Kell." gumam Axton semakin merapatkan tubuh keduanya. Rasa tak ingin dan takut itu memenuhi batinya megalahkan ego tinggi Axton yang sungguh kesepian.


"Kenapa? Kenapa kau tak mau? Ini lebih baik dari pada kau terus memukuli orang lain dan bertindak seakan tak waras. lebih baik kau akhiri kami semua. Ayo!!!" perintah Kellen mendesak tapi Axton menggeleng. Tangannya beralih membekap mulut Kellen yang berhenti bicara menyakiti hatinya.


"K..Kell!"


Kellen diam dengan pergerakan terbatas. Ia membiarkan Axton sejenak lebih tenang dan beralih perhatian.


"Kau mau apa?"


"Kell!"


"Katakan saja. Jika kau mau aku pergi dan tak ambil pusing masalah ini aku bisa, kau tak perlu lagi sibuk me.."


Kalimat Kellen terhenti kala Axton menguatkan bekapannya. Alhasil Kellen terbungkam diam tak lagi bicara.


Melihat keadaan Tuanya yang sudah perlahan stabil menarik rasa lega Castor yang segera berdiri perlahan.


"Hm."


Kellen mengangguk ingin bergerak tapi Axton tak mau melepasnya, bahkan. Sesenti saja pria itu tak mau menjauh dengan wajah mendingin.


Melihat itu Castor mendekat. Tatapan tajam Axton beralih padanya menarik mundur Kellen menjauh ke dinding.


"Sebaiknya undur dulu rencanamu. Keadaan tak mendukung."


Dirasa bekapan Axton mengendur. Kellen langsung menurunkan satu tangan kekar ini dari mulutnya.


"Aku akan bantu mengobati lukamu!"


"Periksa juga luka di tubuhmu."


Kellen mengangguk tapi sayangnya ia tak bisa bergerak. Padahal dadanya sudah sangat sakit karna terbentur tadi.


"Aku ingin keluar. Kau tunggu disini."


"K..Kell." Axton kekeh tak bergerak membuat Castor mengerti.


"Aku duluan. Saat Nyonya pulang aku akan kesini."


"Tapi.."


Kellen berhenti bicara saat tatapan Castor menjawab semuanya. Jika Kellen pergi lagi maka besar kemungkinan Axton akan mengamuk kembali.


"Untuk sementara ini cobalah menurutinya."


"Sampai kapan?"


Castor tak menjawab. Ia memilih menyeret langkah pergi ke arah pintu keluar dimana hanya sunyi yang menyaksikan mereka.


Saat Castro sudah menghilang di ambang pintu. Kellen mulai merasa sulit bernafas hingga berpeggangan ke lengan kekar Axton yang tersentak.


"K..Kell!"


"Emm.. Dadaku." geraman Kellen merasa sesak.


Axton tak tahu harus berbuat apa selain wajah dinginnya bertambah membeku. lama kelamaan Kellen merasa susah untuk mengambil nafas hingga ia menepuk lengan Axton agar melepaskannya.


"A..aku..aku ingin minum."


"M..Minum.."


"A.. Air.."


Axton kebingungan. Ia melihat gerak bibir pucat Kellen yang menelan ludanya sendiri.


"A.. Air.. A..Axx.."


"A..Air. Air.." gumam Axton panik melihat ke semua tempat mencari apa yang Kellen minta. Ia tak tahu apapun.


"A..Aaax. Emm.. Aku.."


"Air.. Air..."


Axton pergi ke samping tapi tak tahu apa yang ingin di ambil. Melihat Kellen yang bersandar lemah di dinding besi itu menarik rasa cemas Axton yang mendingin hebat.


"Aiiir!!! Aiiir!!!" bentak Axton memukul kepalanya sendiri frustasi. Rambutnya ia tarik kasar seraya meliarkan mata ke semua tempat.


"A..Aaax." lirih Kellen memeggangi dadanya.


Axton di desak keadaan. Pria itu mondar-mandir terus bergumam kata 'Air' yang Kellen butuhkan.


"D.. Diluar!! A.. Axx itu..." menunjuk ke arah pintu.


Spontan Axton melangkah cepat ke sana tapi pria itu segera mundur kala cahaya dari luar yang mendaki siang mulai masuk ke dalam.


Axton berdiri di tempat yang agak gelap agar menjahui cahaya yang datang menghadang. Jelas Axton menganggapnya sebuah ancaman.


"A..Air." gumam Axton kembali menatap Kellen yang sudah pucat pasih luruh ke lantai dingin itu.


"A.. Aaax. Aku..aku.. "


Axton menggeleng. Ia merapat ke dinding menjauhi pintu yang terbuka lebar. Tatapan siaganya muncul menyembunyikan tubuh di bagian remang.


Ia sangat asing dengan cahaya ini hingga Axton terus merapatkan diri ke dinding. Bahkan, ia memukul kepalanya yang terasa pusing.


"*Tunggu disini!"


"Jangan!!"


"Hanya sebentar, nanti aku akan kembali*."


Axton linglung menutupi telinganya. Ia menggeleng dengan pandangan kabur dan buram kala suara aneh itu berputar jelas.


"J..Jangan.."


"Aaax!!" gumam Kellen menyeringit melihat Axton seperti ketakutan.


"J..Jangan.. Di..disitu.. I..itu.."


.....


Vote and Like Sayang..