
Semua para pengunjung Restoran yang tadi sibuk makan sekarang bergegas keluar karna mendengar suara perkelahian. Mereka syok melihat seorang pria masih di pukuli sampai darah itu bercecer di bagian aspal yang begitu kasar.
Petugas keamanan Resto yang tadi tengah berkeliling langsung berlari mendekat melerai pemukulan brutal ini.
"Berhenti!!! Lepaskan dia!!!"
5 orang pria berbadan kekar ini mundur menatap puas keadaan Martinez yang sudah babak-belur. Hidung pria itu berdarah dan kemeja putih yang ia pakai juga sudah berlumuran cairan amis yang mengalir hangat dari kepalanya.
"Jangan kau mendekati Nona kami lagi. Atau nyawamu akan hilang."
"Pergii!!! Apa-apaan kalian, ha??" usir Petugas keamanan itu pada mereka. Dari perawakan dan penampilan rapinya. Sepertinya ini bukan dari warga Spanyol asli.
Karna sudah menjalankan perintah Tuannya. Mereka langsung pergi kembali ke arah Mobil yang menunggu mereka.
"Apa yang terjadi?"
"Bukankah itu Tuan Muda Miller?"
"Siapa yang berani melakukannya?"
Desas-desus beberapa orang yang merekam kejadian ini. Mereka sangat syok kala melihat Martinez yang tidak dalam keadaan baik-baik saja tapi pria itu masih setengah sadar.
"Tuan! Tuan kau harus segera ke rumah sakit."
"T..tidak.. Aku.."
Martinez memeggangi kepalanya yang berdarah. Pandangannya mulai berputar pusing melihat ke arah kegelapan malam ini.
Ia berusaha berdiri tetapi kepalanya benar-benar terasa pecah. Mimisan di hidungnya terus keluar membuat Pria di sampingnya kelut.
"Tuan! Izinkan saya mengantar anda pulang."
"M..Mobil.. Mobilku.." gumam Martinez yang kekeh harus mengejar Mobil Miss Barbie. Ia tak punya banyak waktu untuk menunggu disini.
"Tuan! Sangat beresiko jika anda berkendara dalam keadaan seperti ini."
"M..Mobil.."
Gumam Martinez sekuat tenaga berdiri lalu berjalan tertatih-tatih ke arah Mobilnya. Ia beberapa kali menggeleng agar penglihatannya kembali stabil.
Dengan terburu-buru Martinez masuk ke Mobilnya. Ia terdiam sejenak melihat separuh wajahnya sudah di banjiri darah segar dan luka-luka lebam di pelipis dan pipinya.
"Aku...aku akan mengejarmu." gumam Martinez optimis. Ia mulai menyalakan mesin Mobil lalu segera memutar kemudi melaju ke arah Jalan yang cukup ramai.
Ia tadi melihat Mobil yang membawa Miss Barbie pergi ke arah Bandara. Jika sampai wanita itu kembali ke Negaranya maka ia tak akan punya peluang lagi.
Kecepatan ia tambah membelah malam dingin yang terasa begitu menyiksa baginya. Rasa sakit saat ini tak sebanding dengan sakit yang akan ia rasakan ketika Kekasihnya bersanding dengan orang lain. Ia tak akan bisa menahannya.
Setelah beberapa lama mengemudi. Akhirnya Martinez benar-benar memaksakan dirinya yang sudah terlihat pucat masuk ke Area Bandara yang ramai.
"D..dia.. dia pasti belum pergi."
Martinez menghentikan Mobilnya di dekat Lobby lalu segera turun. Ia melepas Jasnya untuk mengusap darah yang terus keluar di kepalanya.
"Tuan!!"
"Kenapa dia?"
Semua orang menatap Martinez dengan pandangan terkejut. Kenapa bisa seperti itu dan datang kesini?
Para petugas keamanan Bandara mendekati Martinez yang masuk ke dalam dengan mata liar melihat keseluruhan keramaian.
"Tuan!"
"Cari.. Cari Miss Barbie untukku. Umumkan namanya!" pinta Martinez menerobos begitu saja.
Mereka tahu jika Martinez adalah Tuan Muda Miller dan mereka tak ingin berurusan dengan Keluarga kejam itu.
"Cepaaaat!!! Dia..dia tak bisa pergi dari Negara ini!!!"
"Baik!"
Mereka berpencar untuk segera menemukan wanita itu. Sementara Martinez pergi ke layanan Bandara yang tampak sangat sibuk.
Di dekat kursi tunggu ini tampak perdebatan yang begitu keras terdengar. Mereka hanya diam kala melihat sosok Model papan atas itu tak perduli lagi dengan keadaan yang ada di sekitarnya.
"Aku ingin menemuinya!"
"Nona!! Ini perintah Tuan Besar." tekan salah satu pria berbadan kekar yang tengah mencengkram lengan Miss Barbie agar tetap menunggu Pesawat mereka untuk tiba.
Hati Miss Barbie sangat cemas dan tak tenang. Ia terus memberontak ingin segera melihat Martinez dan memastikan apa pria itu baik-baik saja atau tidak.
Tapi, salah satu suruhan anggota Daddynya ini tampak begitu kekeh dan tak ingin melepaskannya.
"Lepaass!!! Lepaskan aku!!!"
"Nona. Diamlah."
Pria itu menarik Miss Barbie ke arah rekannya yang lain. Melihat ada darah yang menempel di tinjuan keras mereka Miss Barbie langsung syok menduga jika terjadi sesuatu yang sangat mengerikan.
"Kalian apakan dia. Ha???"
"Bawa Nona segera kembali!" gumam mereka segera menarik Miss Barbie ke arah tempat Penerbangan.
Miss Barbie memberontak keras dengan pikiran melayang pada seorang pria yang tadi sudah membuatnya merasa hilang akal.
"T..tidak.. Aku..aku harus melihat Martin.".
Batin Miss Barbie mencari akal untuk lepas. Kala melihat tangan yang menarik lengannya dengan cepat Miss Barbie mengigit tangan pria itu sampai terlepas dari lengannya.
Mereka syok langsung mengejar Miss Barbie yang berlari menjauh masuk ke Kerumunan. Ia berlari ke arah mana saja yang memungkinkan untuk bisa lepas.
"Nonaa!!!"
Miss Barbie yang memakai Heels benar-benar terasa nyeri di bagian kakinya. Ia tak bisa berlari lebih jauh sampai kakinya terkilir jatuh.
Bughhh..
Ia menabrak tubuh seseorang yang tadi membelakanginya. Lutut Miss Barbie tersungkur ke lantai dengan Tas yang tadi ia peggang sudah jatuh ke bawah.
"M..maaf.. Maaf.."
Gumam Miss Barbie kembali bangkit dengan kepanikan melanda batinnya. Suara pengawal Daddynya sudah bergema di belakang sana membuatnya ingin kembali lari.
"Nonaa!!".
" M..mereka kesini.." gumam Miss Barbie panik ingin pergi kemana lagi. Tetapi, kala suara itu semakin mendekat ke arahnya tiba-tiba ada yang menarik lengannya masuk ke area Toilet Wanita yang tak jauh dari sini.
Mulutnya di bekap bersembunyi di balik pintu Toilet. Matanya terpejam dengan jantung berdebar gugup kala mendengar detakan sepatu masuk ke area Toilet.
"A..aku.."
"Ssuuut!!"
Suara itu membuat mata Miss Barbie terbuka dan seketika ia terkejut melihat siapa yang sekarang tengah mengungkungnya di pintu seraya membekap mulutnya yang ingin berteriak.
Darah? Dia.. Dia berdarah.
Melihat manik indah wanita ini berair dengan tatapan kecemasan itu. Seketika memberikan kehangatan yang tak terjabarkan di dadanya. Terjawab sudah kegelisahan yang beberapa hari ini menyiksa batinnya.
"M..Mar.."
"Suutt!! Mereka masih ada di luar. Sayang!" bisik Martinez melihat dari sela pintu. Ia tak perduli jika sekarang keadaanya tengah tak baik-baik saja asal wanita ini tetap ada bersamanya.
Melihat bagaimana sikap Martinez yang benar-benar terasa berbeda. Hati Miss Barbie bergetar hebat, air matanya turun tak menyangka Martinez akan seperti ini padanya.
"Kau menangis? Maaf, aku membekapmu terlalu kuat." sesal Martinez memelankan suara seraya melepas bekapan tangannya.
Namun. Miss Barbie masih saja menangis membuat Martinez resah dan takut.
.....
Vote and Like Sayang..