My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Axton menghilang!



Tak mau menunggu waktu lama, mereka langsung melanjutkan rencana untuk membawa Axton kembali ke masa lalu.


Sore menjelang malam ini juga Castor mengatur persiapan bersama Nicky yang sudah merencanakan segalanya dengan matang.


Latar utama yang mereka ambil adalah sebuah Hutan yang cukup jauh dari area perkotaan. Nicky memilih Hutan Lambuara yang merupakan hutan yang sama dikala Axton berlatih bertahan di dalam rimba dahulu.


Tentu sebelum menginjakan kaki ke rerumputan lembab itu, Kellen lebih dulu diam mematung melihat ke luar jendela. Ada rasa ngeri dan takut melihat pepohonan yang begitu besar berakar tinggi dengan lilitan benalu yang begitu tua, aroma tua dan eksotis ini bisa ia rasakan jelas.


"Bagaimana? Ini tidak buruk. Bukan?"


"A.. Tidak.. Ini..ini lumayan." jawab Kellen membasahi bibirnya yang kering. Mentari diatas sana hampir mau tenggelam tapi cukup bisa menjadi penerangan.


Berbeda dengan Kellen yang gugup. Axton justru lebih tenang dengan tatapan tajam menembus benteng belukar itu, ia memperhatikan segalanya bak singa yang merindukan rumah lama.


"Kau masih ingat ini. Ax?"


"Apa dia pernah kesini tapi untuk apa?" tanya Kellen pada Nicky yang tengah duduk di kursi kemudi mobil.


Pria itu tampak membayang ke semua akar-akar rindang ini.


"Banyak hal yang terjadi disini. Kau akan tahu ketika masuk ke sana."


"M..Masuk?" syok Kellen terperanjat.


"Yah. Kau harus bermalam disini."


"Kau gila. Ha??" sambar Kellen tak mau. Ia menatap Castor yang hanya diam masih melihat tempat di sekelilingnya.


"Ada apa? Kau takut?"


"Tak mungkin ada yang bisa bermalam di tempat seperti ini. Di dalamnya pasti banyak hewan buas, itu tak akan baik bagi Axton maupun aku." bantahnya tegas dan kekeh.


Senyum remeh Nicky muncul. Nyali Kellen tadi begitu besar tapi jika sudah sampai disini ia malah ciut, sangat tak konsisten.


"Jika kalian mati. Rencananya selesai."


"Aku tak sedang BERCANDA." tekan Kellen emosi. Ini tak masuk akal, tak mungkin Axton dulu bermalam disini bahkan bocah 7 tahunan seperti itu hanya tahu bermain apalagi Keluarga Axton kaya.


"Kau ragu?"


"Bukan begitu. Kau pasti mempermainkanku-bukan? Tak mungkin Axton bermalam disini. Yang benar saja!"


Nicky menaikan bahunya acuh menyikut ringan lengan Castor agar menjelaskan pada Kellen.


Saat pria itu menoleh. Nicky menunjuk dengan dagu ke arah Kellen.


"Jelaskan padanya! Dia tak akan mengerti ucapanku."


"Cih."


"Sama kerasnya dengan Pria di sampingnya itu." umpat Nicky beralih memainkan ponselnya.


Castor beralih melihat Kellen dari kaca spion depan Mobil. Terlihat jelas rasa tak terima di manik ember itu berkilau.


"Kalian bermalam disini tanpa makan, dan senjata apapun."


"Castor! Kau ingin ikut-ikutan juga seperti dia?!"


"Aku tak bercanda."


Jawaban Castor membuat Kellen tercekat diam. Tungkainya sudah lemas berada di dalam mobil ini apalagi kalau sudah turun ke dalam sana.


"Pergilah ke dalam. Kami akan menunggu di luar, jika terjadi bahaya apapun kau tak berhak untuk meminta bantuan."


"I..ini sama saja ujian sebelum kematian." lirih Kellen nanar.


"Bisa di bilang begitu."


"Ya Tuhan." gumam Kellen mengusap wajahnya dengan satu tangan. Tangan kirinya masih di genggam Axton yang masih nyaman begini.


Melihat Kellen yang lemas, Nicky hanya mengulum senyum. Ia membuka pintu mobil lalu turun diringi Castor yang juga sama.


"Sudah bertahun-tahun lamanya. Aku rasa Emon sudah beranak-anak."


"Aku rasa begitu."


Jawab Castor ikut berdiri di samping Nicky yang melenturkan otot lengannya. Mendengar perbincangan mereka tentu Kellen yang masih awam dengan ini semua merasa merinding.


Apanya yang beranak-anak? Mereka hanya menakutimu-kan?


"Kell!"


"A..Ah?" Kellen terperanjat kala Axton menyentak lengannya.


Ia mencoba tetap tenang agar Axton juga tak cemas. Keringan yang mengalir di pipi dan leher Kellen tak luput dari perhatian mata elang Axton.


"Sakit?"


"N..No. I'm Ok " jawab Kellen membiarkan Axton mengusap kening dan pipinya menyingkirkan keringat berlebihan ini.


"Sakit?"


"Tidak, Ax! Aku baik-baik saja. Ayo keluar!"


Axton hanya diam membiarkan Kellen membuka pintu mobil lalu mengikuti pria ini keluar.


Pandangan alam liar ini masih menjadi misteri dengan semak belukar yang padat dan menyimpan bahaya besar.


"Ax! Semoga kau bertemu Emon."


"Siapa Emon?" tanya Kellen dengan intonasi agak ketus.


Nicky berbalik ingin mendekat tapi Castor menahan jangan dulu merusak suasana hati Axton.


"Ok! Aku disini!"


"Jangan merusak ketenangannya."


"Bawa dia masuk ke dalam hutan. Kalian hanya bisa keluar saat suara peluit kami terdengar."


"Apa tak ada tempat yang lain?" tanya Kellen agak sayup terdengar.


"Ada!"


"Dimana? Aku akan kesana?" semangat Kellen membara kembali. Namun, melihat sudut bibir Nicky terangkat licik menandakan pria ini mempermainkannya.


"Kuburan!"


"Aku serius!!! Kau ini memang.."


"Kalian bisa diam. Ha???"


Geram Castor meninju bahu Nicky yang segera meringis. Ia bertolak mundur dati hadapan Kellen.


"Aku mengajak kesini bukan berarti ingin melihat kebodohanmu Nicky."


"Cas! Aku hanya bercanda, kau terlalu kaku." gumam Nicky melenturkan bahunya yang sangat nyeri.


Kellen memiringkan bibir. Saat pertama kali bertemu dulu memang Nicky terlihat profesional, tapi semakin mengenal pria ini. Kellen semakin merasa Nicky pria yang kekanak-kanakan.


"Dan kau!"


"Apa?" tantang Kellen pada Castor yang tak mau membuat Kellen ingin pulang lagi.


"Jalankan tugasmu. Aku sudah mengatakan MAU tak MAU."


"Aku mengerti."


Jawab Kellen masih dengan wajah tak bersahabatnya. Ia menarik Axton menuju semak di sampingnya meninggalkan Castor dan Nicky yang melihat dari kejahuan.


Sebenarnya Kellen ngeri kala aura jahat itu memanggil-manggilnya, tapi ia hanya menguatkan langkah.


"Semoga berhasiiil!!!"


"Kepalamu." maki Kellen bergumam kasar. Ia tetap melangkah maju kedepan menginjak beberapa dedaunan basah dan ranting rapuh itu.


Saat sudah semakin masuk kedalam. Perasaan Kellen begitu tak menentu. Ia ingin berbalik pergi tapi tak mungkin itu ia lakukan.


"Ax!"


"Hm."


"Kau tak usah takut. Aku ada bersamamu." ucap Kellen mengeratkan genggamannya. Langkah Axton spontan terhenti beralih memandang wajah cantik Kellen yang waspada.


Mata ember itu berkeliaran ke sudut gelap semak membayang sore ini. Terselip rasa takut tapi di paksakan juga.


"Takut?"


"Jangan takut. Tak ada bahaya apapun disini, semuanya akan baik-baik saja. Ax!" jawab Kellen beberapa kali melihat kebelakang.


Sudut bibir Axton terangkat melihat reaksi menggemaskan Kellen. Wanita ini punya sesuatu yang berbeda.


"Tetap di sampingku. Kau jangan kemana-mana."


"Hm."


"Kalau berjalan itu tak boleh asal. Kau harus tahu dimana kau berdiri dan siapa saja di sekitarmu."


Axton hanya mengangguk mengikuti Kellen yang beralih mengambil ranting di bawah kaki mereka.


Semakin jauh mereka berjalan maka kepanikan Kellen terasa makin meluap-luap. Peluit Castor juga belum di bunyikan sama sekali.


"Ini dimana? Kenapa sedari tadi tak tembus-tembus?"


Batin Kellen merasa bingung. Suasananya juga tak bisa dikatakan indah, semuanya hanya ada pepohonan besar dan rerumputan liar yang berduri.


"Ax! Aku ingin buang air kecil."


Axton berhenti tepat di sebuah batang besar yang rimbun. Kellen menjepit pahanya pertanda ia sudah tak tahan.


"Ax! Bagaimana ini?"


"Disitu!"


Menunjuk ke arah belakang di dekat batang besar itu.


Kellen refleks membuka ikatan tali mereka lalu berlari ke belakang Axton yang diam di tempat.


"Jangan berbalik tetap begitu!"


"Hm."


Kellen sibuk melakukan kegiatan rutinnya itu membelakangi Axton.


Srekkk..


Suara di balik semak-semak itu membuat Kellen memucat segera menaikan kembali Hotpantsnya keatas pinggang.


"S..Siapa?" tanya Kellen agak gugup. Ia menelan ludah seraya berdiri dan melangkah mundur.


Suara-suara aneh itu perlahan menghilang membuat Kellen keheranan.


"Mungkin hanya binatang biasa." gumamnya berbalik dan..


Degg...


Mata Kellen membulat kala tak menemukan Axton yang tadi berdiri di belakangnya.


"A..Ax!"


....


Vote and Like Sayang..