My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Bukan Kelainan?



Mentari yang tadi bersinar hangat diatas sana sudah menghilang di gantikan rembulan. Sinaran putih yang amat mendamaikan menerobos malam yang semakin pekat.


Kiranya jangkrik dan kelelawar malam ini tampak senang bersorak di area rerumputan. Berterbangan dari pohon ke pohon berusaha memakan buah yang tengah ada di Perkebunan.


Mungkin mereka tak peka, apalagi angin yang juga ikut menari seakan tak perduli akan kesedihan yang masih di rasakan sosok malang itu.


Duduk tak beralih walau waktu berganti. Ia masih meratapi langit malam yang menenggelamkan pikirannya ke ufuk sana.


"Sampai kapan kau mau disini?"


Suara itu membuyarkan lamunannya. Netra ember itu menoleh dengan tatapan yang sendu dan putus asa.


"Ntahlah!"


"Mentari berganti Rembulan. Kau tak jengah melihat itu terus?" tanya Castor yang sedari tadi melihat Kellen yang enggan berpindah.


Ia tahu bagaimana perasaan Kellen yang tengah di landa kekacauan. Walaupun begitu, ia juga tak bisa berbuat banyak.


"Aku tak tahu."


"Kenapa?"


Pertanyaan Castor hanya di jawab keheningan. Wanita bersurai panjang ini kembali fokus pada langit tanpa bintang malam ini.


Cukup lama mereka terdiam. Castor memberikan waktu pada Kellen untuk sekedar berfikir atau hanya berkelana ke Dimensi lain.


"Apa rencanamu kedepan?"


"Aku tak tahu."


Jawab Kellen dengan helaan nafas rendah. ia memandang tak berkedip pertanda pikirannya tak disini.


"Daddymu pasti baik-baik saja."


"Dari mana kau tahu?"


Sambar Kellen dengan intonasi agak kesal. Ia melempar pandangan marah pada Castor yang diam tak lagi melanjutkan kalimatnya.


"Kau pernah melihatnya? Apa kau pernah bertemu dengannya?.." menjeda ucapannya seraya terus menekan Castor.


"Jawab! Jangan hanya asal bicara."


"Maafkan aku." ucap Castor tegas membuat senyum miris Kellen tercipta.


Ia berdecih memalingkan wajah ke arah lain pertanda sangat kecewa.


"Bahkan aku tak tahu apa dia masih bisa bernafas atau tidak."


"Dia akan baik-baik saja. Aku akan mengirim orang untuk melihatnya."


"Dia tak akan tenang. Cas!!" sambar Kellen dengan suara serak. terlihat jelas jika Kellen juga tak bisa tenang disini.


"Dia..dia ingin aku pulang. Aku tahu bagaimana cemasnya dia padaku, dia akan selalu memikirkanku sampai akhirnya.."


Kellen tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia harus membulatkan Tekad untuk tak perduli apapun.


"Dan aku.. Aku harus pulang."


"Tak bisa!"


Tegas Castor membuat Kellen termenggu. Tatapan wanita itu benar-benar kecewa dan sangat tak mengerti pikiran Castor.


"Kau tak bisa pergi!"


"Kenapa?"


"Kau masih di butuhkan untuk.."


"Kau egois!" potong Kellen menggeleng jijik dan sangat muak. Castor ingin ia disini sedangkan Tuan Benet membutuhkannya disana. Tentu Kellen akan memilih pulang ke Negaranya.


"Aku tahu. Tapi kau sudah terlanjur masuk ke sini."


"Daddyku disana tengah sakit!! Dan kau masih menahanku disini???" geram Kellen mengepal.


Castor hanya diam kekeh dengan keputusannya. Walau terkesan egois itu semua ia lakukan untuk menjalankan rencana mereka, hanya Kellen yang bisa melakukan itu.


"Kau datang sendiri kesini. Jangan bertindak semau-mu!"


"Lalu bagaimana dengan hidupku??? Aku tak mungkin selalu disini sedangkan Daddyku membutuhkan aku!!" bantah Kellen mengeraskan suaranya.


Untung saja Perkebunan ini terletak di belakang hingga tak ada penjaga yang mendengar dari depan.


"Aku sudah mengurus Tuanmu itu dan dia juga sudah mau diajak bicara, Tugasku sudah selesai."


"Belum!"


Kellen segera mengusap wajahnya frustasi. Sampai kapan ia akan di buat terjebak dalam masalah semakin dalam.


"Kau belum tahu berurusan dengan siapa."


"Siapa? Hanya wanita itu-kan? Aku bisa melawannya. dia juga tak bisa melawan Axton."


Jawab Kellen dengan ucapan yang sangat polos. Castor menggeleng beralih menunjukan sesuatu di balik saku celananya.


"Aku rasa kau tahu ini!"


Melempar sebuah kartu ke wajah Kellen yang spontan mengambilnya. Sinaran rembulan itu tak begitu jelas menerangi bagian benda ini.


"Ini.."


"Ini Negara kekuasaan Miller! Kau tak akan keluar sebelum mendapatkan Izin."


Tegas Castor beralih menghidupkan senter ponselnya menyinari Kartu di tangan Kellen.


Perlahan dahi Kellen menyeringit melihat Kartu berlogo Tengkorak dengan mulut mengigit pisau berapi. Desainnya sangat menyeramkan dengan perpaduan warna coklat di pinggir, Background hitam dan corak darah di sisi bawahnya.


"Darkness?" tulisan samar yang terlihat menyeramkan.


"Kau..kau berbohongkan?" tanya Kellen agak ngeri karna nama ini Familiar ketika ia sering membaca Artikel lama tentang Klan yang dulu sangat merajalela bahkan sampai sering melakukan pembunuhan di Dapartemen Politik Dunia.


Tapi. Klan itu sudah lama menghilang bahkan sudah tak terendus keberadaanya.


"Kau tahu siapa yang sekarang memimpin setengah dari Klan itu?"


"Si..siapa?"


"Johar Manoch Copra!"


Kellen terdiam, sedetik kemudian ia segera tersentak kala tahu Johar itu siapa.


"Dia itu bukannya Mentri Pertahanan India. lalu kenapa bisa dia bermusuhan dengan kalian dan..."


"Dia adalah kaki tangan Tuan Besar yang berkhianat! Johar adalah salah satu rekan dari Masimo Portugis yang merupakan musuh bebuyutan dari Tuan Fander Houlten Ayah dari Axton Deeze Miller. Dia membuat Konspirasi bersama sekutu wilayah lain yang membuat kami pecah dan sampai sekarang belum tahu apa yang terjadi."


"A..Axton! Bagaimana dia bisa begitu?" tanya Kellen tak mengerti.


Castor sebenarnya tak ingin menceritakan kisah panjang ini. Ia masih menyimpan dendam pada Masimo dan Johar yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


"Axton tak menderita Kelainan sama sekali."


Degg..


Kellen terperanjat akan ucapan Castor barusan. Ia menatap kosong wajah Castor yang terlihat serius dan sama sekali tak bercanda.


"M..Mereka bilang Axton.."


"Dia tak terkena Kelainan apapun. Dia bukan bocah Autis yang di sebarkan oleh Nyonya Verena hanya untuk melindungi Kedok busuk mereka. Axton hanya terkena cacat mental ntah karna apa kami tak tahu, dia terluka parah saat penyerangan siang itu."


Kellen tak lagi bisa berkata-kata. Kenyataan yang ia dengar sekarang itu sangat sulit di terima nalar di terima nalarnya.


Berarti Nyonya Verena juga ikut ambil dalam peristiwa itu. Ia mengatakan jika Axton terkena Kelainan hingga pria itu harus di kurung padahal dia tahu kenapa Axton bisa seperti itu.


"Dan kau.. mau atau tidak kau harus masuk dalam Kegelapan ini. Jika tidak, aku sendiri tak akan memikirkan apapun lagi tentang Daddymu."


"K..kau.."


"Jangan biarkan dia membeku di luar. Kau sudah cukup lama membuatnya menunggu." sela Castor beralih menunjuk seseorang yang sedari tadi duduk di bawah pohon tak jauh dari Kellen.


Pria itu tampak bersandar ke pohon menatap kesini. Dia tak bergerak sama sekali karna cemas jika Kellen mengusirnya lagi, sedangkan ia ingin menemani wanita itu.


"Kau beruntung bertemu dia dalam keadaan seperti itu. Jika tidak, hanya Tuhan yang akan menyelamatkanmu."


Imbuh Castor lalu melangkah pergi. Meninggalkan Kellen dalam perasaan yang kembali diaduk oleh kenyataan.


Ia menatap Axton yang juga memandangnya. Kegelapan ini tak menghalangi mereka untuk menembus hati masing-masing.


"Dia menungguku sampai selarut ini." gumam Kellen merasa bersalah ketika tadi membentak Axton kasar, tapi pria itu sama sekali tak membalasnya.


"Ax!" panggil Kellen menatap Axton yang berdiri akan suaranya.


"Kell!"


"Kesini!"


Melihat Kellen membuka tangannya. Tentu Axton sangat bahagia. Pria itu berjalan cepat mendekati Kellen yang tersenyum langsung meraih bahu Axton yang pasrah mendekapnya penuh kehangatan.


"Maaf. Tadi aku terlalu emosi."


"Hm."


Gumam Axton mengeratkan pelukan. Kellen bisa merasakan kulit Axton dingin karna pria ini hanya memakai Kaos pendek yang termasuk tipis.


"Ayo ke kamar!"


"Kell!"


Axton menahan paha Kellen untuk bergerak. Tatapan netra tajam ini terlihat menginginkan sesuatu dengan bibir yang pucat.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?"


Axton mengangguk menyembunyikan kepalanya ke ceruk leher Kellen. sedari tadi ia menahan denyutan di kepalanya karna rasa itu kembali hadir menghantui benak Axton agar kembali memakainya.


"Kepalamu sakit?"


"Semuanya!"


Jawab Axton dengan nafas berat. Kellen menghela nafas halus merogoh saku Dressnya mengeluarkan permen yang selalu ia bawa mengantisipasi.


"Duduk disini!"


Axton duduk di samping Kellen yang mengusap kepalanya lembut barulah membuka bungkusan benda itu. Axton tampak sudah linglung berpeggangan ke pinggang Kellen yang lebih dulu menyesap permen itu.


"Kau tahu caranya. Bukan?"


"Hm."


"Nanti. Kalau misalnya kau.."


Cupp...


"Ehmmm!!!"


Kellen terperanjat kala Axton sudah lebih dulu menyambar bibirnya liar dan lapar. Kellen mengajarinya untuk mencoba merasakan permen ini seperti benda itu dan bayangkan saja rasanya sama.


Tentu Axton yang sudah menahan tak lagi bisa membendung. Hanya ini yang bisa membuatnya teralihkan agar tak berfikir kesana.


"P..Pelamm.. Pmlmmm!" gumaman Kellen tak jelas karna ciuman ini sangat kasar dan agak tergesa-gesa.


Lama Kellen menenagkan Axton dan barulah ia bisa bernafas tenang kala pria ini mengikuti ritme gerakan pelannya.


Vote and Like Sayang..